After The Heartbreak

After The Heartbreak
Bertenu di rumah sakit


__ADS_3

Begitu meninggalkan gerbang rumah Adeeva, sebelah tangan Kenan meraih tangan Adeeva satu persatu, melingkarkannya di pinggangnya.


"Aku mau ngebut," katanya sambil tersenyum di balik helmnya.


Kenan dapat merasakan debaran jantung Adeeva memukul keras punggungnya.


Dan tanpa menunggu jawaban Adeeva, Kenan pun melajukan motornya mendadak membuat pelukan Adeeva semakin erat di pinggang Kenan.


Dan motor pun memasuki parkiran rumah sakit membuat Adeeva heran.


"Kenapa kita ke sini? Kamu sakit?" tanya Adeeva sambil melepaskan helmnya. Dia pun merapikan rambutnya dengan melihat spion dengan tanpa sadar mendekatkan tubuhnya di dekat Kenan.


Jantung Kenan makin kencang berdetak ketika mencium harum dan segarnya parfum yang dipake Adeeva.


Yes Strawbery. Kenan yakin sekali.


Kenan terus saja tersenyum melihatnya. Entahlah, bibirnya sangat betah untuk tersenyum. Perempuan di depannya sangat cantik walau dandanannya sangat minimalis. Teringat pada pertemuan pertama mereka. Saat gadis itu berada dalam pelukannya dengan dress tali spagetinya. Jantung Kenan jadi berpacu karenanya.


"Aku mau kenalin kamu sama saudara kembarku," sahut Kenan sambil meletakkan helmnya. Tangannya pun menyisir rambutnya.


"Kamu punya saudara kembar?" tanya Adeeva ngga percaya. Agak kaget dan terkesan takjub.


'Dia lagi nemenin calon istrinya kerja," ucap Kenan lagi.


"Dokter?"


"Iya."


"Tante aku juga dokter."


"Ohya? Di rumah sakit mana?" tanya Kenan tertarik ingin tau.


Adeeva tersenyum tipis.


"Aku lupa. Kalo tiap pulang ke sini cuma sebentar aja. Waktu sepupu aku nikah, aku ngga bisa datang," jelas Adeeva lagi.


"Oooh, ya ya," jawab Kenan maklum.


"Kamu tinggal di negara mana?" tanya Kenan lagi. Dia lupa belum tau di negara mana Adeeva tinggali bersama Keluarganya.


"New York."


"Aku lagi kuliah di Inggris," kata Kenan penuh makna.


"Oooh," senyum Adeeva mengerti dan wajahnya tampak merona.


"Kapan kapan aku akan menjengukmu di sana," ucap Kenan membuat pipi itu tambah merona.


Kenan merasa aneh dengan dirinya. Ini terlalu cepat. Di dekat Adeeva, bibirnya begitu mudah melontarkan kata kata rayuan.


Dia ngga dikejar progres karena cuma jomblo sendirian, kan? Otak encernya sulit menganalisa apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


Rakha dan Aqil katanya sudah punya gandengan di nikahan Kalil. Dia malah baru putus. Dalam hati Kenan mengetawakan nasib malangnya sekaligus nasib mujurnya.


Kemudian tangan Kenan dengan santai menggandeng tangan Adeeva memasuki lorong rumah sakit.


Adeeva hanya terdiam dengan aliran darah yang terasa hangat akibat genggaman Kenan.


Kenan memang sangat tampan, menghipnotisnya. Susah untuk menolak ajakannya. Padahal mereka baru kenal. Dia bahkan sampai menolak ajakan mama dan papanya untuk ke rumah tantenya. Untung mama dan papanya mengijinkannya pergi. Tapi mungkin tantenya nanti akan kesal karena lebih mengutamakan laki laki yang baru dikenal dari pada bertemu keluarga sendiri. Dan sepupu laki lakinya akan semakin ngamuk kali, ya.


Adeeva tanpa sadar tersenyum.


Kenan melirik Adeeva yang sedamg mengukirkan senyumnya. Entah karena apa. Tapi senyum Adeeva sangat menyejukkan.


Kenan lagi lagi merasa dia ngga waras.


Sepanjang jalan pun mereka menjadi pusat perhatian. Terutama pada paras Kenan yang sangat mirip dengan calon suami dokter Khanza.


Beberapa dari mereka yang ngga tau, tampak mengasihani dokter Khanza yang dikhianati saat saat akan menikah.


Mereka terus melangkah santai dengan berbagai prasangka dari yang melihat.


Ngga jauh di depannya, nampak Kalil dan Khanza sedang berjalan beriringan. Keduanya saling pandang.


"Itu Kenan, kan? Dia pulang?" tanya Khanza yang langsung menyamakan ritme jalan cepat Kalil.


"Aku juga ngga tau kalo dia udah pulang," sahutnya. Dia agak reflek saja melajukan kakinya.


Selain terkejut melihat kehadiran Kenan, dia juga ingin memastikan perempuan yang digandeng Kenan.


Keempatnya kini saling berhadapan. Orang orang yang tadi memperhatikan dan sempat berprasangka buruk jadi melongo, ngga nyangka calon suami dokter Khanza punya kembaran.


Adeeva sudah bisa membedakan walaupun keduanya kembar identik. Tapi kembaran Kenan terlihat lebih brengsek(?)


"Kapan lo balik?" tanya Kalil dengan senyum lebar sambil melirik genggaman Kenan.


"Tadi sore. Hai, Khanza," sapa Kenan membuat senyum Khanza melebar.


Dalam hati Khanza mengomel, gampang sekali dia dapat gandengan baru.


"Hai, ini siapa?" balas Khanza sambil melihat Adeeva ramah


"Aku Adeeva," sahut Adeeva juga ramah.


"Aku Khanza. Ini Kalil, kembaran Kenan," ujar Khanza mengenalkan calon suaminya.


"Kalian mau pulang?" tanya Kenan mengalihkan basa basi ini.


"Iya. Kita diminta ke rumah Kendra sama Zayra. Katanya ada tamu penting."


"Lo ikut juga Kenan. Mami sama Daddy juga udah ada di sana," sambung Kalil.


Kendra? batin Adeeva. Tapi kemudian ngga terlalu memikirkan. Dia merasa salah dengar saja karena memikirkan sepupunya itu sekarang pasti sedang mengomelinya.

__ADS_1


"Oke. Kamu mau, ya. Sekalian kenalan sama mami dan daddyku," kata Kenan sambil menatap Adeeva penuh harap


"Tapi...." ucap Adeeva mengambang. Dia sebetulnya merasa sungkan dan ngga enak hati saja. Padahal tantenya menunggu nunggu kedatangannya, tapi dia malah pergi ke acara orang lain.


Bahkan berkenalan dengan orang tua Kenan


Apa ngga terlalu cepat?


"Ngga apa apa. Seru lo," kata Khanza sambil meraih tangan Adeeva sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kalil.


Dia tau ada yang ingin dua kembar itu bicarakan. Terpancar jelas dari sorot mata Kalil dan Kenan.


Lagian ngapain Kenan repot repot bawa gandengan barunya ke rumah sakit. Pasti dia udah ngga sabar menunggu Kalil.


Kalil mengucapkan terima kasih pada Khanza lewat sorot matanya. Ini yang Kalil paling suka dari Khanza. Dia selalu tau apa yang Kalil pikirkan.


"Itu siapa? Kenal dimana? Gila lo ya, baru datang udah bawa perempuan baru aja," kekeh Kalil dengan berondongan pertanyaannya setelah Khanza membawa Adeeva menjauh.


Kenan pun terkekeh. Keduanya berjalan perlahan menyusul Khanza dan Adeeva.


"Beneran lo mutusin Crystal? Wow, mami pasti senang banget," tawa Kalil lagi.


Kenan pun membalasnya dengan tawa juga.


"Ada salam dari Stefanie," kata Kenan pelan setelah tawa mereka mereda.


"Huuh," dengus Kalil ngga suka.


"Dia bolak balik nelpon gue. Udah gue blokir, tapi dia terus aja telpon dengan nomer yang baru," keluh Kalil kesal.


Kenan tau, betapa menyebalkannya Stefanie. Perempuan itu selalu mencarinya hanya untuk menanyai kabar Kalil. Kapan Kalil akan kembali.


"Crystal waktu diputusin ngga apa apa? Lo malah kelihatan baik baik aja," sarkas Kalil agak kepo.


"Dia bisa menerima. Lagian dia katanya mau dijodohkan juga " cerita Kenan ringan.


Kalil tergelak mendengarnya.


"Trus, yang itu ketemu dimana?" tanyanya di sela tawa senangnya.


"Di bandara. Ngga sengaja kita tabrakan. Langsung gue ajak kenalan," tawa Kenan dibalas Kalil.


Tangannya bahkan menepuk nepuk bahu Kenan seolah bangga dengan pencapaian kembarannya.


"Lo hati hati. Sepertinya Stefani bakal nyari lo ke sini," kata Kenan mengingatkan.


Kalil mendengus kesal.


"Terserah dia saja. Gue ngga peduli," balas Kalil enteng.


Well, yang penting dia sudah menyampaikan kekhawatirannya.

__ADS_1


Kini Kenan melemparkan senyumnya saat menatap Khanza dan Adeeva yang sedang menatap dia dan Kalil.


__ADS_2