
"Mereka sudah menikah?" gumam Atifa lirih. Maminya menunjukkan foto foto pernikahan Kendra dan Zayra.
Air mata menetes di pipinya.
Sekarang mereka sudah berada di dalam pesawat. Papinya menyerahkan semua proyeknya yang berhubungan dengan keluarga Kiano Artha Mahendra dan Regan pada adiknya.
Setelah menjalani masa hukuman hampir tiga minggu di dalam sel dan mendapat kabar kalo korban korbannya sudah baik.baik saja, Atifa bisa dibebaskan.
Cukup rumit juga proses prmbebasan putrinya.
Tapi setelah Alvaro berjanji bahwa putrinya tidak akan mengacau lagi, maka Kiano dan Regan mau melepasnya.
Walaupun berat, tapi tentu saja Kiano dan Regan ngga mau kecolongan seperti dulu waktu masalah Claudia. Tanpa setau Alvaro, ada beberapa pengawal yang menyamar untuk mengawasi gerak gerik Atifa. Dan para pengawal itu akan terus mengikuti kemana pun Atifa pergi.
"Kamu cantik dan pintar sayang. Lupakan Kendra. Kamu sayang mami dan papi, kan?" bujuk maminya lembut sambil merengkuh Atifa dalan pelukannya. Sudah berhari anaknya selalu menangis. Semoga ini tangisan terakhir.
*
*
*
"Khanza," panggil Fadli ketika melihat Khanza sedang berjalan sendiri setelah menisahkan diri dari para sahabat konyolnya.
Kata kata Kalil cukup mengganggu pikirannya.
Apa beneran dia akan pergi?
Karenanya dia cukup kaget ketika dokter Fadli menaggilnya.
"Dokter belum pulang?" Khanza menatap heran, bukannya tadi dokter Fadli bersama orang tua dan teman temannya sedang berjalan ke arah pintu keluar.
"Hampir," jawab dokter Fadli dengan seringai tipisnya.
Ketika melihat Khanza memisahkan diri, dia pun pamit pada keluarganya untuk menemui koleganya sebentar.
Khanza tersenyum tipis mendengar jawabannya.
"Aku mau pamit secara khusus padamu, besok aku akan berangkat," kata dokter Fadli sambil menatap Khanza lembut.
"Oh iya, kak. Semoga lancar kuliahnya," do'a Khanza tulus.
Dokter Fadli tersenyum lebar.
"Panggil aku kak terus, ya. Aku senang mendengarnya."
Khanza pun sedikit melebarkan senyumnya. Besok dia akan kehilangan seniornya yang ramah di rumah sakit.
__ADS_1
"Kamu tahun depan ambil spesialisnya di Jerman aja, ya. Aku tungguin," canda dokter Fadli sarat makna.
Khanza tertawa mendengarnya. Dokter Fadli pun ikut tertawa. Rasanya bahagia melihat tawa Khanza yang berderai derai. Ngga disangkanya, Khanza yang bersahaja anak konglomerat. Dokter Fadli jadi sedikit merasa insecure.
Kalil yang sedang mencari keberadaan Khanza, tertegun melihat Khanza yang sedang tertawa akrab dengan dokter yang suka sekali berada di dekat Khanza.
Hatinya terasa panas tiba tiba. Saat dia akan melangkah menghampiri Khanza untuk memaksanya pergi, seseorang menahan tangannya.
"Kalil," tegur Agnes sambil menggenggam tangannya.
"Ada apa?" tanya Kalik datar.
"Kamu mau kemana? Gimana kalo kamu antar aku pulang?" tanya Agnes lembut.
Kalil menatap Agnes dingin. Dia hampir tertipu dengan sikap lembut Agnes. Sejak awal melihatnya, Kalil akui udah suka karena Agnes cantik, seksi, pintar dan anggun. Tutur katanya sangat tertata.
Dia cukup terpesona melihat Agnes mempresentasikan hasil kerja perushaannya. Perfect, itulah poin Kalil pada saat itu.
Dia pun mendekat dan tanpa butuh banyak waktu Agnes menerimanya. Bahkan Agnes kerap mengajaknya ke apartemennya.
Kalil pun dengan senang hati menyambutnya. Mereka memang sudah melakukannya beberapa kali. Kalil ngga pernah memaksanya. Malah Agnes yang selalu memberikannya dengan suka rela. Dan Agnes juga sudah ngga virgin lagi saat mereka melakukannya pertama kali. Dan Kalil ngga memusingkan hal itu. Ngga ada orang yang sempurna.
Tap makin ke sini, perasaan kagum dan suka itu perlahan memudar. Melihat sikap permusuhannya dan selalu merendahkan Khanza membuat Kalil ilfeel.
Dia belum mau terikat. Umurnya juga masih muda. Kalil masih ingin mengejar banyak impiannya.
Hanya dua perempuan yang dia jaga baik baik. Juga sahabat sahabatnya. Zayra dan Khanza. Tapi sekarang Zayra sudah memiliki pawang. Sedangkan Khanza belum.
Suara tawa keduanya yang belum reda membuat Kalil mengalihkan tatapannya pada Khanza lagi dengan kesal.
Harusnya Khalil tenang melihat keseriusan dokter yang ngga pernah dia sukai ini terhadap Khanza. Sekarang pun rahasia kemiskinan Khanza sudah terbuka. Ngga ada lagi alasan orang tua si dokter menolak Khanza.
Tapi sayangnya si dokter sudah dijodohkan. Dan yang membuat Kalil naek darah, melihat sikap si dokter yang tetap memberikan perhatianmya pada Khanza.
"Kalil?" panggil Agnes lagi, masih tetap lembut, walaupun kesal perkataannya ngga didengar Kalil. Kekasihnya itu sekarang malah sedang memandang dokter sahabatnya yang sedang tertawa dengan laki laki lain.
"Aku harus pergi," kata Kalil sambil melepaskan tangan Agnes. Dia sudah ngga sabar menemui Khanza dan mengajaknya pergi menjauhi dokter yang sudah dijodohkan itu, tapi masih saja menebar pesonanya pada Khanza.
"Khalil, dengerin aku sebentar saja," pinta Agnes memaksa.
"Apa?" tanya Kalil ngga sabar.
"Ayo, kita ke apartemenku. Aku kangen," lanjutnya lagi dengan mata sayu.
Kalil terbatuk sebentar. Awal awal Kalil memang senang mendapat tawaran itu. Tapi sekarang sekarang ini dia seperti sudah ngga berminat.
"Aku ngga bisa."
__ADS_1
"Bisanya kapan?" desak Agnes ngga mau nyerah.
"Ngga akan pernah bisa lagi " tegas Kalil.
"Kalil....?" kaget Agnes ngga menyangka akan mendapat jawaban demikian. Dia seperti dihempas ke dalam palung di lautan yang paling dalam. Sesak. Ngga bisa bernafas.
"Agnes, kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Aku ngga pernah maksa kamu," tukas Kalil sangat tenang.
"Kamu juga menikmatinya, kan," tuduh Agnes tercekat. Jawaban Kalil seakan menyatakan kalo dia hanya pemuas na*fs*u laki laki itu saja.
Firasat Agnes mengatakan kalo dia akan segera dibuang Kalil seperti sampah.
"Iya. Aku sudah biasa melakukannya dengan banyak perempuan. Dan rasanya sama saja," jawab Kalil enteng.
PLAK!
Agnes benar benar menampar Kalil dengan sangat keras. Beberapa orang jadi memperhatikan mereka. Khanza pun ikut berpaling ke arah Kalil yang ternyata abis ditampar Agnes. Agak terkejut tapi juga senang.
Rasain, batin Khanza happy.
"Ma... maaf," kata Agnes panik, tak menyangka akan gerak refleknya yang sangat cepat.
"Aku sudah terbiasa," jawab Kalil dengan senyum miringnya. Tangannya menjauhkan tangan Agnes yang akan memegang sudut bibirnya yang agak perih.
"Kalil, maaf," pinta Agnes dengan ketakutan yang luar biasa dalam hati dan suaranya. Dia merasa yakin kalo Kalil akan mengakhiri hubungan mereka saat ini juga.
"Ngga apa apa, Agnes. Aku pantas menerimanya. Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dari aku," kata Kalil langsung membalikkan tubuhnya pergi. Meninggalkan Agnes yang masih berdiri mematung, ngga percaya.
Dia sudah diputuskan.
Dia ditinggalkan begitu saja.
Matanya menatap nanar kepergian Kalil yang menuju ke arah dokter sahabat sialannya. Dia benci. Rasanya ingin menghambur, menahan Kalil. Kalo perlu bersujud agar Kalil menarik kata katanya.
Tapi harga dirinya yang sudah sangat tipis menahannya. Apalagi masih ada beberapa orang yang memperhatikan mereka tadi. Tamparannya membuat banyak spekulasi tentang hubungannya dengan Kalil
Harusnya dia lebih sabar menghadapi Kalil. Harusnya dia ngga memaksa. Kalil pasti ngga akan langsung memutuskannya seperti tadi.
Terlalu banyak kata harusnya bermain di otak Agnes. Matanya memanas. Air matanya siap turun saat melihat Kalil menarik paksa tangan Khanza dan mengajaknya pergi.
♤
♤
Kalo berkenan, bisa baca novel recehku yang lainnya ya... Klik profil ku ....♡♡
__ADS_1