
Air mata Khanza mengalir begitu saja ketika dia sudah berada di dalam lift.
Khanza segera menghapusnya dengan gusar.
Kenapa dia harus marah? Kalil dan Agnes pacaran, kan.
Batinnya mengingatkan.
Khanza benci dengan hatinya yang jadi lemah.
Khanza sengaja langsung turun ke basemen tempat mobilnya berada. Dia ingin cepat cepat pergi dari situ.
"Khanza," panggil Kenan. Kembaran Kalil menatapnya heran karena Khanza terlihat sangat tergesa gesa berjalan bahkan sampai ngga sadar sudah melewatinya.
"Eh, Kenan," kaget Khanza agak tergugu. Dia kembali dengan gusar menghapus air matanya yang tumpah lagi.
"Kamu kenapa?" tanya Kenan panik. Ngga biasanya Khanza menangis. Biasanya ada kejadian yang sangat mengguncang perasaannya. Seperti waktu Zayra mau dioperasi, Khanza menangis.
"Ngga apa apa," bantah Khanza ingin cepat cepat pergi dari sini. Bahkan Khanza sudah menekan remote kunci mobilnya.
Dia takut Kenan bisa mengetahui apa yang terjadi. Karena Kenan sangat peka.
"Oke oke. Kamu mau kemana. Biar aku antar," kata Kenan mengalah. Dia menahan pintu mobil yang akan dibuka Khanza.
Tentu Kenan ngga akan membiarkan Khanza menyetir sendiri dalam suasana hatinya yang buruk begini. Kenan ngga bisa membiarkan Khanza karena mungkin saja akan terjadi sesuatu di jalan. Dan dia akan menjadi orang terakhir yang disalahkan.
"Ngga apa Kenan. Aku bisa sediri. Kamu kan mau meeting," tolak Khanza lagi lagi mengusap air matanya.
"Kamu kenapa?" tanya Kenan lembut.
"Aku ngga apa apa," sangkal Khanza yang semakin kesal karena lelehan air matanya yang ngga mau berhenti mengalir.
Reflek Kenan menarik Khanza dalam pelukannya.
"Menangislah. Aku akan jaga rahasiamu."
Khanza tersenyum getir mendengarnya.
"Aku ngga nangis," bantahnya lagi tapi masih dengan lelehan air mata yang tetap mengalir di pipinya
"Iya, kamu ngga nangis," senyum Kenan ketika merasakan kemejanya mulai basah oleh air mata Khanza.
Dan Khanza ngga menyahut lagi. Tapi menenggelamkan wajahnya di dada Kenan. Ada sesak yang ngga bisa dia ungkapkan.
Kenapa?
Kedua tangannya pun balas memeluk Kenan. Saat ini Khanza memang butuh sandaran. Dia sedikit oleng.
Kalil terpaku melihat Khanza dalam pelukan Kenan. Matanya ngga bisa dialihkan. Dia pun melihat Kenan yang membimbing Khanza dan membukakan pintu mobil. Kemudian Kenan pun setengah berlari ke arah pintu sebelahnya.
Dan seperti mendapatkan kekuatannya lagi, Kalil berlari sangat kencang menghampiri Kenan.
"Biar gue yang antar," katanya sambil merebut kunci mobil yang berada di tangan Kenan.
__ADS_1
Nafasnya agak memburu.
"Lo?" kaget Kenan sambil melirik Khanza penuh arti yang nampak terkejut dengan kehadiran Kalil.
Insting Kenan langsung bereaksi. Bibirnya tersenyum miring.
"Oke oke," katanya mengalah tapi penuh makna
Khanza pun segera keluar dari dalam mobil dengan tergesa gesa.
"Lo apaan, sih, gue maunya diantar Kenan," seru Khanza marah sambil menghampiri si kembar.
Dia berusaha merebut kunci di tangan Kalil yang sengaja menjauhkannya dan mengangkat tangannya yang memegang kunci tinggi tinggi.
Tapi wajah Kalil nampak terkejut melihat sisa air mata di sana yang sepertinya belum kering.
"Kamu nangis?"
"Apa, sih. Kembaliin ngga kunci gue," sentak Khanza jadi emosi. Dia malu karena ketahuan nangis sama Kalil.
"Gue antar lo pulang," kata Kalil membujuk sambil terus menjauhkan kunci itu dari Khanza.
Kenan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya melihat aksi keduanya.
Dia yakin kalo Khanza abis ngelihat Kalil lagi melakukan adegan h**ot dengan Agnes. Karena saat itu juga dia melihat Agnes yang keluar dari dalam lift.
Dia senang keributan. Senyum miring masih bertahan di bibirnya. Dia menunggu babak terseru dari drama ini.
Gimana ngga kesal, Kenan seakan senang melihat dia sedang disusahkan kembarannya.
"Udah, kamu pulang sama Kalil aja," putus Kenan sambil melangkah pergi. Dia tau Agnes mendekat.
Kenan sengaja melakukannya. Dia ingin melihat ketegasan Kalil. Siapa yang akan dia pilih.
"Enggak!" tolak Khanza sangat kesal. Dia benci sama keduanya sekarang.
Kalil pun masih menjauhkan kunci mobilnya. Khanza tau akan sia sia karena tubuh Kalil lebih menjulang darinya.
Saking kesalnya, Khanza pun menonjok perut Kalil dengan sepenuh hatinya membuat tubuh Kalil.terhuyung seperti mau jatuh. Wajah Kalil pun meringis.
Kenan tergelak melihatnya.
Khanza, Khanza. Hajar terus aja, kompornya dalam hati.
"Sakit Khanza," seru Kalil ngga menyangka akan dipukul Khanza.
Rasain, umpat Khanza dalam hati. Melihat kesempatan emas, Khanza pun segera mengambil kunci mobilnya.
Tapi Kalil terlalu kuat menggenggam kunci mobil Khanza. Ketika Khanza berusaha merampas kunci mobil itu dengan seluruh tenaganya, Kalil ngga bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Dia akan jatuh bersama Khanza di lantai basemen. Dengan nekat Kalil memeluk pinggang Khanza sebelum keduanya benar benar terjatuh.
BUGHH
__ADS_1
KLIK KLIK KLIK
Kenan memfoto adegan itu sebanyak tiga kali dengan kamera ponselnya.
Khanza menahan suaranya agar ngga menjerit ketika keduanya jatuh dalam.keadaan berpelukan.
Keduamya bersitatap dalam, sebelum jeritan Agnes mengagetkan keduanya.
"KALIILL!"
DUG
"Auww... Khanza, dua kali kamu mukul aku," seru Kalil meringis lagi karena merasakan sodokan kaki Khanza.pada perutnya.
"Syukurin," balas Khanza tanpa kasian dan malah lega karena kini kunci mobilnya sudah berada di tangamnya.
Dia pun segera bangkit dari atas tubuh Kalil.
Tapi lagi lagi Khanza terjatuh di dada laki laki itu karena rambutnya nyangkut di kancing jas Kalil.
Ada ada aja!
Dengan terus mengomel, Khanza pun bangkit lagi sambil berusaha melepaskan untaian rambutnya. Kalil masih meringis, dan membiarkan Khanza berusaha melepaskannya sendiri dengan tubuh Kalil yang masih terbaring di lantai basemen.
Tubuh Agnes bergetar melihatnya. Ingin rasanya dia menarik putus rambut Khanza saat ini juga. Darahnya sangat mendidih.
"Hufth... Lepas juga," gumam Khanza sambil bangkit dari tubuh Kalil yang juga ikutan bangun dengan seringai tipis di bibirnya.
Kenan tambah melebarkan senyum mirimg di bibirnya melihat wajah Kalil yang seperti mendapat durian runtuh.
Saat Khanza melewatinya, gadis itu meluapkan kemarahannya pada Kenan yang ngga mau membantunya. Malah sempat sempatnya tertawa dan mengambil fotonya. Khanza sengaja membenturkan bahunya pada lengan Kenan dengan sorot membunuhnya. Tapi Kenan membalasnya dengan senyum simpatiknya melihat aksi khas Khanza.
"Kamu ngga apa apa, yang?" tanya Agnes memecah keheningan yang sempat terjadi. Dia pun menghampiri kekasihnya yang masih memegang perutnya.
"Khanza, setidaknya kamu cek dulu keadaan Kalil sebelum pergi," cegah Kenan ketika melihat Khanza akan masuk ke dalam mobilnya.
"Nggak Perlu!"
Kenan hampir tergelak kalo saja ngga melihat wajah mematikan Khanza.
Bukan hanya Khanza yang menjawab. Agnes juga. Malah Agnes menatap horor pada Khanza yang sama sekali ngga melihat ke arahnya.
"Kamu bisa aku laporkan ke polisi karena sudah memukul Kalil dua kali, Khanza," sambung Agnes emosi melihat sikap Khanza yang seenaknya.
"Laporin aja," sahut Khanza ngga peduli. Dia pun masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukannya hingga menyisakan bau bensin pada mereka.
Uhuk Uhuk Uhuk
"Sialan," maki Agnes di sela batuknya.
Sementara Kalil dan Kenan menatap kepergian mobil itu sampai menghilang sambil menyeringai.
Kalo melihat keadaan Khanza sekarang, Kalil dan Kenan yakin, Khanza akan selamat sampai ke tempat Zayra.
__ADS_1