After The Heartbreak

After The Heartbreak
Rencana Aqil /ex pat 3


__ADS_3

"Sialan!" maki Aqil kesal. Rakha juga memutar bola matanya kesal.


Kenan, Kalil dan Kendra terbahak bahak mengetawai kedua sahabat mereka.


Kalil dan Kendra tentu langsung menanyai Kenan dengan beredarnya foto foto seolah olah Kenan dan Adeeva sudah melakukan foto preeweed.


Ditambah Khanza dan Zayra yang juga memaksa suami suami mereka untuk cepat menanyai Kenan. Karena setau mereka, ini bukan karakter Kenan. Kalo Kalil mungkin iya.


Tapi nyatanya? Kenan juga ternyata memiliki watak jahil Kalil.


"Tenanglah, gue ngga akan ngelangkahi lo," ucap Kenan dalam tawanya yang semakin tergelak.


"Memang nggak. Tapi lo sudah mencuri startnya," umpat Rakha geram. Kini berita pernikahannya tumpang tindih dengan Kenan. Malah banyak yang penasaran dengan kabar kapan Kenan akan menyusul kembarannya menikah dari pada dirinya. Karena itu Rakha jadi kesal.


Tiga puluh menit kemudian tawa ketiganya pun mereda.


"Sudah yakin kalian akan kuliah di sini saja?" tanya Aqil mengganti topik agar ngga membuatnya semakin gerah.


"Kata Zayra, Khanza sudah setuju," jawab Kendra.


"Iya, daddy juga lagi sibuk sibuknya. Kata mami sempat sakit. Jadi aku dan Kenan mutusin kuliah di sini aja," sambung Kalil


"Calon istri lo juga?" tanya Rakha sambil melihat Adeeva.


"Iya, dia juga udah setuju."


"Syukurlah, jadi kita barengan lagi kayak dulu," tandas Aqil dengan wajah senang.


"Kapan target pembibitan lo ke Cyra?" tanya Kalil dengan seringai mengejeknya.


"Pembibitan?" Sarkas Aqil sambil mengerutkan keningnya.


"Pembenihan yang benar," kekehnya kemudian mengoreksi.


Rakha yang berada di dekatnya menahan tangannya agar ngga mengetok kepala Aqil agar ngga semakin bernilai zero.


"Sukses malam perrtama lo, ya," ejek Aqil ngga peduli kalo leluconnya dianggap garing.


Kalil ngga menjawab. Tapi dari cengiran di wajahnya, mereka yakn kalo sukses besar.


"Bahagianya wajah lo," ejek Rakha ngakak.


"Kenapa dari dulu ngga lo halalkan aja," komen Kendra heran. Dia masih ngga nyangka kalo Kalil Khanza sudah saling menyukai sejak lama.


"Lo malah celup sana sini. Kasian Khanza dapat sisa," kata Aqil prihatin.


"Kayak lo ngga aja," sarkas Kalil membalas membuat Aqil nyengir.


"Rencana lo sama Cyra gimana?" tanya Kalil masih penasaran.


"Gue udah nyuruh papi sama mami ngelamar dia. Biar dia ngga bisa nolak. Gue beneran suka sama dia. Awalnya cuma penasaran aja. Tapi.gue rasa, si Cyra harus tau kehebatan gue di ranjang," ungkap Aqil jujur dengan mimiknya yang sangat serius.


Sunyi.

__ADS_1


TUK!


'Apaan, sih lo. Sakit tau!" kesal Aqil karena jitakan Rakha memecahkan kesunyian mereka.


Rakha yang udah ngga tahan lagi akhirnya dengan sepenuh hati menjitak juga kepala Aqil.


"Otak lo ngga jauh jauh dari onderdil," maki Rakha kesal.


"Sesekali tunjukin kehebatan lo di perusahaan. Biar dia kagum," nasihat Kendra


"Isi otak lo mesum semua. Cyra mungkin ngeri dekat dekat dengan lo," sambung Kenan.


Bukan hanya Aqil yang merasa tertohok dengan pernyataan Kenan. Rakha juga. Dia ingat saat awal mengerjai gadis itu.


"Lo beda sama gue. Biar otak gue kosong, Khanza tetap suka sama gue," cetus Kalil bangga.


Kini tatapan kesal dilayangkan Aqil pada Kalil.


"Lo ngga mungkin bisa dapatin Khanza kalo ngga karena gue," ungkit Aqil. Ingat rasa sakit yang dia terima dari Kalil yang hanya diobati dengan kata maaf.


"Sampai nonjok lo ya, Qil," kekeh Rakha diikuti Kenan dan Kendra.


"Iya, gue ngaku. Lo paling berjasa. Tenang, gue akan bantu lo," kekeh Kalil membuat Aqil mendengus.


"Ngga perlu. Bantuan lo menyesatkan," tolaknya mentah mentah.


Kembali tawa pun pecah. Hanya Aqil yang kini sibuk harapannya.


Semoga berhasil.


"Cyra, papi udah terima lamaran Aqil," kata papinya ketika melihatnya keluar dari kamarnya.


Langkah Cyra terhenti. Dia yang baru saja pulang kuliah jadi bengong, pikirannya seakan sulit mencerna.


"Cyra," panggil Farel-papinya mengagetkannya.


"Eh, iya pi. Em... Apa tadi Pi? Aqil ngelamar Cyra?" tanyanya beruntun. Ngga percaya.


"Iya. Orang tuanya baru aja pulang," kata.Farel tenang sambil menatap mata terbelalak putrinya.


"Kenapa papi langsung terima tanpa nanya Cyra?" protes Cyra dengan mencebikkan bibirnya. Dia pun mendekat ke arah papinya yang tumben ada di rumah.


"Kata orang tuanya kalian sudah serius. Jadi mereka khawatir, karena...." Farel terdiam. Dia sedang mencari kata kata yang tepat.


"Karena apa, pi?" tanya Cyra dengan jantung mendadak berdetak kencang.


Apa Aqil cerita tentang kelakuannya di club?


Wajah Cyra memucat. Dia takut papinya marah. Dia sendiri tau kelakuannya aneh. Dan gilanya setelah bersama Aqil, hasratnya untuk menggoda laki laki yang mau menikah hilang, lenyap seperti asap yang tertiup.angin.


"Kata orang tua Aqil, dia takut kalo putranya bertindak lebih jauh. Jadi sebelum kamu emm... hamil, kamu akan dinikahkan seminggu lagi," putus Farel tegas.


Farel seperti tertampar sendiri akan ucapannya. Dulu dia menghamili maminya Cyra sebelum dia nikahi. Tentunya dia ngga ingin putri tunggalnya bernasib sama seperti maminya. Farel terlalu menyayangi putrinya sampai ngga ingin memberikannya mami tiri. Mungkin setelah Cyra menikah, dia baru memikirkan keinginan juniornya yang selama ini terabaikan.

__ADS_1


"Seminggu lagi?" kaget Cyra berseru. Dia juga sempat ternganga mendengar ucapan frontal papinya.


"Terlalu cepat," sambungnya lagi sambil menggelengkan kepalanya.


Bagaimana ini? Pasti laki laki mesum itu sudah merencanakan ini sejak lama, batin Cyra panik.


"Ngga pa pa, sayang. Kami sudah sepakat dan sudah mendapatkan WO yang bisa mengerjakan acara dadakan seperti ini dengan sempurna. Jangan khawatir. Pesta kamu tetap akan sangat mewah nantinya," jelas Farel penuh semangat. Ngga diperhatikanya wajah putrinya yang tambah shock mendengarnya.


Cyra langsung berpegang pada kursi yang ada di dekatnya. Tubuhnya terasa limbung.


Tapi lagi lagi Farel ngga memperhatikannya. Dia malah melihat jam tangannya.


"Papi pergi dulu, ya, ada operasi dua jam lagi. Takut macet. Besok Aqil akan menjemput kamu buat fitting gaun pengantin," kata papinya baru menoleh ke arahnya.


Dia tersenyum melihat wajah manyun putrinya.


"Kenapa? Bukannya kamu suka sama Aqil?"


"Kamu gugup, ya? Biasa gitu kalo menjelang pernikahan," kekeh Farel menggoda putrinya. Tangannya pun mengusap lembut kepala putrinya.


Cyra ngga bisa menjawab. Dia bingung mengekspresikan bagaimana perasaannya terhadap Aqil.


Dia baru mengenal player itu. Cyra ngga yakin Aqil serius, karena laki laki itu masih saja membalas senyum gadis gadis yang menyapanya. Membuat Cyra geregetan.


Tapi dia ngga bisa memungkiri kalo sentuhan Aqil membuatnya nyaman dan ngga bisa menjauh.


Gila. Dia sudah gila, umpatnya dalam hati. Karena saat ini yang terbayang adalah mata sayu laki laki itu yang sedang melahapnya.


"Mami Aqil terlihat sangat sayang sama kamu. Itu yang membuat papi rela menyerahkan kamu pada Aqil," ucap Farel lembut.


Dia tau betapa bremgseknya Aqil. Mungkin sama seperti dirinya dulu waktu muda. Tapi nyatanya dia bisa berubah. Padahal setelah kehilangan istrinya pun, keinginan liar seperti dulu sudah ngga ada lagi. Karena dia hanya ingin membesarkan Cyra dengan seluruh kasih sayang yang dia punya. Apalagi dia juga sibuk di rumah sakit. Jika dirinya menikah lagi, Cyra akan terabaikan.


Cyra tau perkataan papinya benar. Mami Aqil sangat menyayanginya. Juga adik Aqil. Cyra sangat diterima di dalam keluarga itu.


Tapi laki laki itu terlalu mesum padanya. Mungkih dia akan langsung hamil setelah malam pertama.


Wajah Cyra merona sangat merah membayangkannya. Kembali dia.merutuki pikirannya yang jadi mesum jika membayangkan Aqil.


"Papi pergi dulu, ya, sayang." Setelah mengecup kening putrinya, Farel pun pergi meninggalkannya.


Ternyata papinya pagi ini belum berangkat kerja karena membahas pernikahannya, keluhnya gemas. Padahal jarang sekali papinya punya waktu luang begitu.


Setelah papinya menghilang, Cyra terduduk di lantai. Kakinya sangat lemas.


"Non kenapa?" tanya Bi Asti kaget ketika melihatnya duduk menjelepok di lantai dengan tatapan mata kosong.


"Non kaget, ya, karena mau nikah minggu depan? Sama non, bik Asti juga kaget," ucap Bik Asti sambil membantunya berdiri.


Cyra ngga menyahut. Saat ini dia membutuhkan Bik Asti untuk memapahnya ke kamar.


"Tapi calon suami non, kan, ganteng banget. Yang pernah datang ke rumah, kan, non," cerocos Bik Asti senang.


Cyra ngga menjawab. Kepalanya tiba tiba pusing. Berat memikirkan minggu depan dia akan bersanding dengan Aqil.

__ADS_1


__ADS_2