
Qonita tersenyum melihat anak tengilnya mengenalkannya pada seorang gadis yang sangat cantik. Dan modis.
Rupanya seperti ini yang bisa memikat hati Aqil, batinnya lega.
"Cyra, tante," ucap Cyra sambil menyalim tangan Qonita membuat sudut bibirnya ketarik.
Hati Qonita senang, akhirnya Aqil mengenalkannya pada seorang gadis cantik yang masih ada etika sopan santun. Karena selama ini anaknya ngga pernah membawa seorang gadis pun ke rumah.
Hanya tau cerita kegilaannya saja saat di luaran.
Karena itu dia setuju saja akan niat Arga yang ingin menjodohkannya dengan Lala, ponakannya yang juga masih jomblo.
Matanya mengerling pada Arga yang juga tersenyum penuh syukur.
"Cantikkan, mam?" puji Aqil dan dengan nakal mengecup pipi Cyra di depan kedua orang tuanya.
Cyra tentu saja malu dan jadi kurang nyaman dengan dada penuh debar akibat perbuatan Aqil yang tiba tiba itu.
"Aqil," kata maminya memberinya peringatan ketika melihat rona merah di wajah Cyra.
Arga hanya tertawa melihatnya. Sekali lihat saja Arga tau kalo Aqil sudah tergila gila dengan gadis yang dibawanya.
"Tante sedang buat puding di dapur. Ayo," kata Qonita sambil menarik tangan Cyra menjauh dari putranya.
Cyra menurut tanpa protes. Walaupun masih malu atas sikap Aqil tadi.
Tapi perhatian Qonita membuatnya terharu, karena Cyra sudah ngga memiliki mama sejak dia dilahirkan.
Mamanya meninggal dunia saat melahirkannya. Papanya menduda hingga sekarang. Kesibukan papanya untuk mengalihkan kesepiannya mengakibatkan kelakuan Cyra sempat ngga terkontrol. Karena kurang perhatian.
"Aqil nakal, ya," senyum Qonita ketika mereka sudah berada di dapur.
Cyra hanya tersenyum tipis, ngga mengiyakan, juga ngga membantah.
Lebih aman, karena ngga mungkin Cyra akan jujur menceritakan keganasan Aqil di depan maminya. Aibnya juga pasti akan turut terbongkar.
Ternyata tante Qonita memintanya memotong puding yang baru saja di keluarkan dari kulkas.
Tapi ngga lama kemudian, ponsel mami Aqil berdering.
"Tante tinggal, ya, sebentar, Cyra," ucapnya sambil menjauh. Mamanya yang menelpon
Cyra hanya bisa mengangguk. Dia menatap dapur mewah yang tampak elegan itu dengan kagum.
Dalam hati bersyukur karena mami Aqil ngga memintanya untuk memasak. Dia hampir ngga pernah memasuki dapur di rumahnya. Malah sekarang berada di dapur orang lain.
Cyra tersenyum miris, merasa lucu dengan hidupnya.
Tangannya yang memegang pisau mulai memikirkan bagaimana harus memotong untuk puding cantik mami Arga. Tapi malah dia ngga tega. Puding ini terlalu indah.
DEG
Dua tangan melingkar di pinggangnya. Harum maskulin yang tercium membuatnya yakin siapa pelakunya.
Bahkan dua tangan itu merayap makin ke atas membuatnya ngga bisa hanya diam saja. Aliran darahnya terasa cepat.
"Aqil, aku pegang pisau loh," ancamnya dengan suara serak, berusaha menahan diri atas apa yang diperbuat Aqil.
__ADS_1
"Hemm... potong aja pudingnya," bisik Aqil sambil memghembuskan nafas panas di leher Cyra. Bahkan kedua tangannya mulai menekan lembut bagian lunak yang menonjol itu.
Mati matian Cyra menahannya, tapi akhirnya des*ah*annya lolos juga saat dua tangan Aqil mencubit puncaknya.
Aqil pun melengkapinya dengan mengecup lembut tengkuk, pundak dan leher Cyra.
Suara langkah kaki yang mendekat membuat Aqil melepaskan Cyra yang sudah tampak pasrah dan menyerah.
Aqil sangat tau kelemahan Cyra. Dia yakin, Cyra ngga akan bisa melepaskannya jika satu bulan sudah berakhir
Cyra menghembuskan nafas lega setelah Aqil pergi. Tubuhnya masih bergetar akibat perbuatan laki laki mesum itu tadi.
Padahal dia masih memakai pakaian lengkap, tapi sentuhan laki laki itu terasa sangat kuat menyentuh sampai menembus ke kulitnya.
*
*
*
Shakila masih sibuk memotret bunga bunga yang ada di tamannya sampai lensa fokusnya menangkap sosok laki laki tampan yang sangat dingin.
Shakila menurunkan kameranya ketika laki laki itu mendekat.
"Qabil?" tegur Shakila kaget. Hatinya berdecak senang.
Qabil-adik Aqil memperhatikan outfit Shakila dengan seksama. Kemudian menghela nafas. Hanya mengenakan tank top dan hot pants.
Dasar. Untung di rumah.
"Tante ada?" Tangannya membawa paper bag.
Lebih muda setahun darinya, tapi selalu tampak serius.
"Kemarin," jawabnya sambil terus mendekat. Dan langsung mendekap Shakila erat.
"Aku kangen."
Shakila tersenyum. Membalas pelukan Qabil.
"Iya, adikku yang manis," candanya dengan jantung berdebar kencang.
"Hemm," gumam Qabil sambil melepaskan pelukannya.
"Ayo, temuin mami," kata Shakila dengan senyum sumringahnya sambil menarik tangan Qabil yang lebih muda setahun darinya.
Itu juga yang membuatnya ragu menerima Qabil jadi kekasihnya.
Tapi Qabil cuek saja dengan penolakan.dari bibirnya. Karena Shakila ngga pernah menolak jika Qabil memeluk bahkan menciumnya.
Armita dan Glen tersenyum melihat kehadiran Qabil.
"Tante," sapanya sambil menyerahkan paper bag yang dibawanya.
"Makasih, sayang," sambut Armita sambil memeluknya.
"Gimana kabar planet? Ada tambahan lagi?" goda Glen gantian memeluk Qabil setelah Armita melepaskannya.
__ADS_1
Qabil hanya tersenyum tipis. Sudah biasa Omnya menggodanya begitu.
"Qabil, nanti kamu copelan sama Kila ya,"ucap Armita sambil memyerahkan paper bag yang berisi jas dan kemeja batik.
"Ya, tante," senyum Qabil.
"Mau dicoba sekarang?" tawar Armita hangat.
Dia menyukai Qabil.yang lebih terkesan anak baik baik dibanding kakaknya Aqil dan putranya sendiri, Dhafi.
"Di rumah aja, tante," tolak Qabil sopan.
"Oke."
"Kuliahmu gimana? Mau tetap lanjut ngecek planet lagi atau bisnis?" tanya Glen sambil merangkulnya dan mengajaknya duduk di sofa.
"Dua duanya, Om."
"Pintanya Daddy kamu, ya, di bisnis?" kekeh Glen.
"Iya, Om."
Karena putranya hanya dua, Arga meminta Qabil juga tetap membantu Aqil-kakaknya mengurus bisnis keluarga.
"Kamu mau pergi sama Kila?" tanya Armita menyela.
"Iya, tante, om. Sekalian mau kenalin Kila dengan pacarnya Bang Aqil."
"Aqil udah punya pacar?" kaget Glen tertarik.
Akhirnya anak bengal itu punya pacar juga, tawanya dalam hati.
"Serius abangmu punya pacar?" Armita menatap takjub pada Qabil.
"Iya, tante."
Senyum Qabil terlihat melebar membuat Shakila terpana. Karena sangat jarang Qabil tersenyum begitu. Ketampanan hakikinya sangat terpancar. Brondong tampannya yang manis dan mempesona.
Akhirnya ada kabar gembira juga dari Aqil. Sontak pasangan suami istri itu tergelak.
Karena tinggal Aqil yang belum pasti jodohnya dari circle anak anak mereka. Sedangkan Kenan secara kilat sudah bertemu dengan anak kakak Aruna, tanpa di duga sama sekali.
Malah kedua orang tua mereka sudah mulai musyawarah menentukan kapan keduanya menyusul Kenan. Setelah Rakha tentunya.
"Aku jadi ingin melihat seperti apa anak gadis yang bikin Aqil mau serius," sela Glen dalam tawanya. Istrinya pun makin tergelak menyahutinya.
Shakila hanya menggelengkan kepalanya melihat reaksi bahagia kedua orang tuanya.
"Trus, kamu dengan Kila kapan?" canda Glen masih terus tertawa. Tapi matanya mengerling pada putri bungsunya yang terlihat memanyunkan bibirnya.
"Saya terserah putri om aja," jawab Qabil diplomatis.
"Kamu gimana Kila?" goda Glen terkekeh lagi karena putrinya selalu saja bersikap malu malu pada Qabil yang lebih muda setahun. Tapi Glen tentu saja merestui Qabil jadi mantunya, karena kedewasaannya dan yang paling utama jauh dari kata player.
"Tau ah, dad. Masih gelap," jawab Shakila cuek sambil manyun.
Glen dan Armita pun tergelak lagi. Bahkan Qabil kembali melebarkan senyumnya.
__ADS_1
Sudah biasa dengan penolakan bibir Shakila.