
"SAH!" seru teman teman Kendra lantang saat pak penghulu bertanya setelah akad ijab kabul diucapkan Kendra dengan sangat lancar.
Kembali sorak sorai terdengar.
Kendra tersenyum sambil melirik Zayra yang menunduk malu.
Setelah proses akad selesai, keduanya pun dibawa ke kamar ganti untuk mrengganti gaun dan naik ke atas panggung resepsi.
"Kalo capek berdiri kalian duduk saja," titah Aruna yang disetujui Dinda.
"Kamu capek?" tanya Kendra penuh perhatian.
"Engga kok," sahut Zayra lembut.
"Oke, kalo capek bilang, ya," ucap Kendra penuh arti.
Zayra yang ngga mengerti ada maksud lain dibalik ucapan penuh perhatian Kendra mengangguk dan tersenyum.
"Biar nanti malan ngga ketiduran," sambung Kendra yang dibalas wajah manyun Zayra karena merasa terjebak.
"Aku mainnya pelan dan lembut," bisik Kendra membuat bulu kuduk Zayra meremang.
Kenapa, sih, ngomong ke arah sana terus, batin Zayra kesal dan ngga tenang, juga takut.
"Apa kamu udah sering?" tuduh Zayra dengan tatapan curiganya.
"Belum sampai *******," jawab Kendra ambigu kemudian nyengir membuat Zayra melengos kesal.
"Percaya, kamu yang pertama buat aku," bujuk Kendra lembut.
Zayra masih kesal dan tentu saja ngga percaya. Apalagi setelah mendengar kata kata Kendra tadi.
"Kamu ngga percaya?" goda Kendra dengan smirkmya. Senang rasanya melihat wajah manyun Zayra. Mengingat dulu dulu sekali susah sekali bagi Kendra untuk mengetahui perasaan gadis itu padanya. Zayra terlalu pintar menyembunyikannya.
Tapi sekarang istrinya sudah mulai membuka sedikit demi sedikit rahasia hatinya.
"Nggak," pelan Zayra membantah.
"Ya udah. Nanti kamu buktiin aja ntar malam," senyum Kendra makin melebar melihat wajah Zayra yang nampak ciut
"Ngga usah takut dan jangan pernah mikir yang aneh aneh. Aku hampir gila selama enam tahun kamu tinggalkan," ungkap Kendra sambil menggenggam tangan Zayra.
Hati Zayra bergetar mendengarnya. Dia menunduk kala netra Kendra menatapnya dalam.
__ADS_1
"I love you so much, Zayra," ucap Kendra lagi dengan senyun tampannya.
Zayra merasa salting jadinya.
Apalagi kedua orang tua mereka nampak tersenyum senyum melihat tingkahnya dan Kendra.
Kendra ngga peduli, dia terus saja menatap Zayra dengan tatapan penuh cintanya. Ngga sabar rasanya menunggu malam tiba.
Sementara itu Kalil sedang berkumpul dengan para sahabatnya, kecuali Zayra. Ada Agnes di sampingnya.
Orang tua Agnes juga diundang, dan Kalil bertemu Agnes saat di pesta.
Tadinya Kalil pergi bersama Kenan untuk menjemput Khanza. Tapi kata mami dan papinya, Khanza sudah menginap.di rumah Zayra.
Beberapa kali Kalil melihat sekelilingnya tapi dia ngga melihat gadis itu
Dia di mana?
"Eh, itu dokter yang di rumah sakit, kan?" tunjuk Aqil ke arah Khanza yang sedang tertawa dengan dokter Fadli.
Kalil dan yang lainnya mengikuti arah yang ditunjuk Aqil.
"Oh iya, itu dokter Fadli. Beberapa hari lagi dia akan berangkat ke Jerman," jelas dokter Verli.
"Rasanya Khanza lebih cantik dari biasa," bisik Kenan di telinga Kalil.
"Ya." Kalil pun belum bisa mengalihkan tatapannya dari Khanza.
Gadis itu memang samgat jarang memegang alat alat kosmetiknya. Rambut panjangnya pun diikat seadanya. Tapi kali ini Khanza menggerai rambutnya yang sedada dan tampak ikal di bagian bawahnya. Kebaya yang dia gunakan pun membuatnya sangat anggun sekali. Make upnya tipis saja tapi sudah sangat menonjolkan kecantikannya.
"Kalil?" panggil Agnes ngga suka melihat tatapan Kalil ngga beranjak dari teman dokternya itu.
"Hemm....," jawab Kalil ngga acuh, tetap dengan sikapnya sehingga membuat Agnes tambah kesal.
"Eh, itu orang tua dokter itu, ya?" tanya Aqil yang melihat pasangan orang tua dokter Fadli yang mendekati mereka bersama dengan seorang gadis cantik.
"Iya. gadis itu gosipnya mau dijodohkan dengan dokter Fadli," jelas Verli lagi.
"Oooh. Kirain dokter Fadli suka sama Khanza," kata Rakha sambil melirik penuh ejekan pada Kalil.
"Rahasia, ya," ucap Verli perlahan membuat para lelaki itu tertarik untuk tau, termasuk Kalil dan Agnes.
"Apa?" kejar Aqil ngga sabar.
__ADS_1
"Kabarnya orang tua dokter Fadli hanya ingin berbesanan dengan keluarga pengusaha yang selevel mereka. Makanya dokter Khanza keluar dari list calon menantu mereka."
"Apa?" kaget Aqil dan Rakha bersamaan ngga percaya. Sedangkan Kenan dan Kalil mengerutkan kening, heran.
Apa mereka ngga tau siapa orang tua Khanza?
"Calon dokter Fadli itu katanya anak pengusaha batu bara," tambah Verli lagi.
"Apa orang tua dokter Fadli juga pengusaha?" tanya Rakha kepo.
"Iya. Katanya orang tua mereka sudah lama jadi rekan bisnis. Dokter Fadli ngga bisa nolak, padahal kelihatannya dokter Fadli naksir sama Khanza," sambung Verli lagi.
"Wajarlah pengusaha nyarinya pengusaha. Profesi dokter juga bukan jaminan jika orang tuanya orang biasa aja," timpal Agnes dengan hati senang karena bisa menjatuhkan Khanza.
Verli agak tercekat mendengarnya. Sebenarmya sekaya apa orang oramg yang berada di sekitarnya. Karena cara bicara gadis yang bernama Agnes terdengar sangat sombong.
Menurutnya profesi dokter adalah idaman calon mertua, karena sangat bergengsi. Apalagi kalo sudah dapat predikat spesiallis.
Tapi memang orang tua dokter Fadli kurang respek dengan dokter Khanza. Hal itu cukup terlihat.
Verli sebenarnya iri melihat Khanza bisa bersahabat dengan mempelai pengantin dan juga para laki laki tampan yang kini berada di dekatnya.
Untuk dokter Aruna pun, Khanza seperti memiliki tempat spesial di hatinya. Semua rekan medis tau siapa suami dokter Aruna yang terkenal sangat kaya raya dan merupakan cucu dan anak dari konglomerat yang terkenal sampai benua Amerika dan Eropa, karena bisnisnya yang menggurita.
Dam tentang para sahabatnya pun pasti juga berasal dari keluarga yang sangat kaya raya.Verli pernah melihat mobil mobil mewah yang mereka kendarai saat ke rumah sakit. Penampilan mereka semua juga TOP, ngga jauh dari barang barang branded.
Tapi dokter Khanza, hanya menggunakan mobil tipe honda dengan sepuluh tahun yang lalu dan pakaian yang biasa saja.
Karena itu Verli seperti mendapat durian runtuh saat salah satu sahabat dokter Khanza yang sangat kaya raya itu menyatakan ketertarikan padanya.
Entah bagaimana Khanza bisa bersahabat dengan dengan mempelai wanita berikut mempelai laki laki dan para laki laki tampan ini.
"Orang biasa?" sarkas Rakha dengan senyum mengejeknya.
"Iyalah. Dia bisa mendapat undangan karena bekerja di rumah sakit dokter Aruna, kan, mamanya mempelai laki laki," tegas Agnes menjawab dengan nada sombong dan meremehkan.
Verli dapat melihat senyum mengejek dari para laki laki itu. Dan hatinya mendadak merasa aneh.
"Orqng tua Dokter Khanza sepertinya ngga tinggal di sini. Dokter Khanza tinggal di apartemen. Aku pernah nginap di sana. Ada satu kamar, dapur dan ruang tamu. Ngga gitu luas, tapi nyaman," cerita Verli. Malah dia lebih betah tinggal di apartemen dokter Khanza dari pada tempat kostnya. Walaupun cukup mewah tetapi tetap aja lebih wow kalo tinggal di apartemen walaupun hanya tipe studio.
"APARTEMEN?" Kalil, Kenan, Aqil dan Rakha berseru kaget. Mereka baru tau kalo Khanza juga tinggal.di apartemen. Malamgnya apartemen tipe studio. Khanza benar benar memalukan Om Glen!
Setau mereka apartemen yang dimiliki Dhafi adik Khanza sangat mewah dan berada di tengah kota yang sudah pasti sangat mahal harganya!
__ADS_1
Apa yang barusan mereka ketahui tentang Khanza memukul jiwa mereka.yang terdalam. Selama ini mereka ngga mengenal Khanza yang seutuhnya. Hanya cepisannya saja.