After The Heartbreak

After The Heartbreak
kekhawatiran Aqil


__ADS_3

Aqil memaki habis habisan atas kebodohannya. Bisa bisanya dia dikalahkan perempuan yang sudah jelas jelas hampir dia taklukkan.


Roki menahan tawanya saat mengikuti Aqil berlari mencari gadis bachelor party itu


Ngga disangka, gadis itu sangat kuat.


Roki mendapat firasat kalo malam ini adalah malam terakhir dia bertemu gadis bachelor party itu.


Tau kalo Roki ingin mengetawakannya, dengan kesal, dia pun berlalu ke arah mobilnya.


Rasa nyeri akibat tendangan gadis tadi masih cukup terasa.


Aqil kembali mengumpat dalam hati.


Dia harus memeriksanya. Tapi ngga mungkin ke dokter biasa karena ini sangat sensitif. Pikirannya cuma satu. Khanza. Hanya Khanza yang boleh melihatnya. Walau malu dia terpaksa. Mungkin Kalil akan menonjoknya lebih keras dari yang dulu.


Biarpun nanti Khanza akan mengomelinya, dia ngga peduli. Dia harus pastikan kalo juniornya tetap baik baik saja. Masa depannya sedang dia pertaruhkan. Jika terjadi apa apa dengan juniornya, gadis itu harus bertanggung jawab.


Hilang ke mana pun akan dicarinya. Walaupun ke.lubang semut, akan di galinya. Ke palung Marina akan dia suruh orang orang daddynya untuk menyelam dan menyeretnya keluar.


Sialaaaaan!!!


Aqil meraih ponselnya dan membaca status Khanza. Bibirnya menyunggingkan senyum. Khanza sedang membantu melakukan operasi.


Kemarahannya berganti dengan harapan, semoga juniornya baik baik aja. Dia pun menggeber mobilnya dengan sangat kencang.


Ternyata Kalil sedang berada di ruangan Khanza saat dia memasukinya. Jantungnya sedikit keras berdebar.


Kalil yang mengira kalo Khanza yang datang, bangun dari posisi tidurannya.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Kalil heran, ditambah lagi melihat sikap Aqil yang ngga tenang.


"Aku mau nemuin Khanza," kata Aqil sambil berpikir. Kata kata apa yang akan mengurangi kerasnya pukulan Kalil padanya.


"Ada apa?" Sebelah alis Kalil terangkat.


"Lo sakit?" tanyanya lagi dengan raut wajah ngga percaya.


"Iya." Aqil terlihat gelisah.


Dalam hati berharqp Khanza cepat datang. Kalil pasti akan menginterogasinya sampai dia mengaku.


Dia memang harus mengaku, tapi di depan Khanza. Bukan di depan Kalil.


"Sakit apa?" Kalil semakin curiga saja saat melihat kegelisahan Aqil.


"Nanti kalo ada Khanza baru gue bilang," katanya sambil melihat ke arah pintu


Kelegaan langsung terasa karena mendengar suara Khanza yang sedang berbicara dengan beberapa perempuan. Mungkin perawatnya.


Langkahnya yang akan menjemput Khanza, disalib oleh langkah Kalil yang lebih dulu mendekati calon istrinya.


"Kenapa lama banget. siiih," omel Kalil gemas campur cemburu. Kaena Khanza bekerja sama dengan dokter yang dia ngga suka.


"Ngga nyampe sejam juga," protes Khanza.


"Masa? Perasaan aku nunggunya lebih dari sejam," ngotot Kalil.


"Hemm," dengus Khanza sebal.


"Dokter yang udah aku kalahkan itu dekat dekat kamu ngga tadi?"


Khanza menatap Kalil horor sebelum mengalihkan tatapannya pada Aqil yang sedang menatap risi.


Aqil hanya bisa menghela nafas melihat calon pasangan suami istri yang selalu saja berdebat.


Mungkin kalo mereka punya bayi, mereka pun akan berdebat siapa yang akan mengganti popoknya.


Eh, ingatan bayi membuat senjatanya jadi ngilu.


"Aqil? Kamu ngapain di sini?" tanya Khanza mengalihkan topik.

__ADS_1


"Dia sakit katanya." Kalil menjawab dengan kesal karena tadi pertanyaannya ngga dijawab Khanza.


"Kamu sakit apa?" tanya Khanza sambil duduk di meja periksanya.


Sebenarnya dia ingin pulang, tapi mendengar Aqil sakit, jiwa dokternya menuntutnya ngga mengabaikan pasiennya


"Sakit gue agak sensitif," katanya sambil melirik Kalil. Seakan mengusir, tentu saja Kalil ngga terima.


"Lo ngusir gue?" tantang Kalil.


"Bukan gitu," bantah Aqil bingung cara memberikan penjelasan terbaik untuk sakitnya ini.


"Kamu sakit apa?" tanya Khanza menyela.


"Khanza, ciri ciri laki laki impoten itu gimana?"


"Kambing Lo! Maksudnya apa nanya nanya gitu sama calon istri gue," geredek Kalil naik darah.


"Dia, kan, dokter. Gue nanya sama dia lah," bela Aqil mulai bersiaga dengan serangan mendadak yang mungkin akan Kalil lancarkan padanya.


"Lo bisa nanya gugel, Sapi," maki Kalil lagi. Dia terpaksa menggunakan kata makian yang sopan karena berada di dekat Khanza.


"Gugel ngga akurat. Lagi pula gue punya sahabat dokter. Pasti lebih tokcer lah dari pada gugel yang kadang salah," bantah Aqil lagi.


Kalil akan memaki Aqil lagi tapi langsung mingkem karena isyarat mata Khanza.


"Tanda yang paling jelas, senjata lo ngga bakal bisa berdiri kalo lo er*eksi." Khanza harus mengatakannya terus terang karena menganggap Aqil adalah pasiennya.


Kalil sampai menganga, ngga nyangka bahasa Khanza cukup vu*lg*ar.


"Ap apa bisa disembuhkan?" tanya Aqil cepat, ngga peduli dengan kekagetan Kalil.


"Tergantung penyebabnya juga," Kali ini Khanza ngga sengaja melirik ke arah bagian sensitif celana Aqil.


Kalil yang menyadari itu jadi tambah kesal. Tapi dia ngga bisa menyalahkan Khanza. Karena dia dokter, pasti dia reflek tadi karena instingnya. Yang perlu disalahkan dan dihajar di sini adalah Aqil!


"Lo impoten?" nyolot Kalil meremehkannya sekaligus curiga.


Seorang Aqil yang sering mengaktifkan senjatanya tiba tiba bertanya hal hal di luar nalar. Sangat mencurigakan!


"APA!!" Kali ini bukan hanya Khanza yang terkejut dengan jawaban Aqil, Kalil juga.


"Khanza, tolong periksa gue. Ini masa depan gue!" kata Aqil langsung melepas ikat pinggang celananya.


Khanza sampai berdiri saking kagetnya.


"An*j*iiing. Lo mau ngapain!" sentak Kalil yang sudah ngga bisa menahan diri lagi melihat tingkah Aqil sehingga melupakan kata kata makian sopannya di depan Khanza.


"Kalian jangan salah paham. Gue serius," seru Aqil frustasi melihat kemarahan Kalil.


"Kenapa harus Khanza. Lo bisa ke dokter laki laki, Syeitaaan!" Mata Kalil sudah dipenuhi dengan api kemarahannya.


"Gue bukan jeruk makan jeruk!" bentak Aqil marah. Ngga rela dia senjatanya di elus tangan yang juga memiliki senjata.


Walau shock, Khanza berusaha tenang. Aqil adalah pasien keempatnya. Tapi waktu itu dia menyuruh perawatnya yang memegang senjata para pasiennya itu.


"Apa yang terjadi?" tanyanya untuk menengahi pertengkaran keduanya yang sudah hampir sampai ke puncak.


"Tadi ada cewe sialan yang nendang senjata gue."


Kalil yang akan meluapkan kemarahannya jadi tertawa terbahak bahak penuh syukur.


Ngga ada rasa kasian dalam hatinya.


"Apakah luka? Berdarah?" tanya Khanza serius.


"Aku belum lihat," kata Aqil jujur. Dia pun langsung memerosotkan celananya di depan Khanza. Sudah ngga ada malunya lagi. Kalil terbelalak melihatnya, tawanya langsung berhenti. Mulutnys kembali memaki.


Tapi Khanza melarangnya. Dia tau Aqil pasti panik.


"Nggak!. Ngga Khanza!" serunya lega setelah memperhatikannya dengan seksama.

__ADS_1


"Memar? Atau bengkak?" tanya Khanza ikut mengamati membuat Kalil ingin meledak.


"Sepertinya enggak. Tapi kenapa aku masih merasa ngilu?"


"Kamu bisa mengompresnya.dengan air hangat begitu sampai di rumah," kata Khanza menutup sesi tanya jawabnya. Dia melirik wajah Kalil yang sudah mengelam menahan marah.


Gimana dia ngga marah dan mau membanting Aqil yang seenaknya saja membuka celananya di depan Khanza.


Bahkan Khanza belum pernah sekali pun melihat miliknya!


"Oke, jadi aku masih bisa menghasilkan anak, kan, Khanza," ucapnya dengan senyum lebarnya sambil menaikkan lagi celananya.


"Tergantung."


Gerak Aqil yang akan memasang tali pinggangnya jadi terhenti.


"Maksudnya?" tanyanya kembali ketar ketir.


"Kalo membuat anak tergantung kualitas ****** lo," kali ini Kalil yang menjawab.


"Masa gitu aja lo ngga tau," ejek Kalil lagi dengan perasaan dongkol yang amat sangat.


"Eh, iya, ya," kekeh Aqil lega. Rasa ngilu dan pegal pada senjatanya semakin berkurang. Mungkin efek dari kekhawatirannya yang sudah menghilang akibat bertemu Khanza.


"Harus diistirahatkan dulu," tukas Khanza penuh makna.


"Oke. Makasih, Khanza," tawanya senang. Dada dan pikirannya sudah plong sekarang.


"Sudah, jangan layani dia lagi," sergah Kalil sambil mengajak Khanza pergi.


Rasanya dia sudah ngga tahan untuk memukul Aqil jika mereka masih lama lagi berada di sini.


Khanza menurut. Dia ngga mau ruang kerjanya berantakan akibat kemarahan Kalil.


Mereka berjalan dalam diam ke arah parkiran. Sementara Aqil masih belum kelihatan menyusul.


"Kamu kenapa, sih, marah?" tanya Khanza jadi kesal karena Kalil yang mendiamkannya.


"Hemm..."


"Aku nih dokter, terpaksa melihat apa pun keluhan pasien," kata Khanza mencoba membujuk.


"Sudah berapa kali?"


"Apanya?"


"Itu.... kamu melihat senjata laki laki?" tanya Kalil jengah.


"Ooo." Senyun Khanza mengembang.


"Jawab Khanza," kesal Kalil.


"Aqil yang keempat."


"APPAAA?!" Kalil ngga bisa terima ini.


"Apa apanya? Kan cuma lihat aja," ketus Khanza juga ngga terima dengan sikap Kalil.


Kalil menghentikan langkahnya. Kemudian menghadapnya sambil memegang kedua bahu Khanza. Mata Kalil terlihat serius.


"Kita harus ke apartemen kamu atau ke apartemen aku sebentar."


"Mau apa?"


"Kamu harus lihat punyaku sekarang, Khanza, sebelum kamu melihat lebih banyak lagi."


Khanza terkejut, ngga nyangka Kalil akan berkata begitu. Alih alih marah, Khanza malah tertawa keras. Dia pun melepaskan pegangan Kalil pada bahunya. Dan berjalan cepat meninggalkan Kalil.


"Khanza, aku serius."


Khanza masih tertawa.

__ADS_1


"Khanza, ini menyangkut harga diriku. Woooiiiyyy.... Khanzaaa......," seru Kalil memecah kesunyian lorong rumah sakit sambil menghentakkan kaki sebelum mengejar Khanza.


Sementara Aqil yang berniat memejamkan mata sejenak malah ketiduran di sofa yang tadi ditiduri Kalil.


__ADS_2