
"Kenapa?" tanya Adeeva heran melihat wajah Kenan yang menahan tawanya setelah menutup telponnya.
Malam ini Kenan sedang berkunjung ke rumah Adeeva. Saat sedang mengobrol santai, Kenan pamit untuk mengangkat telpon
"Tadi Rakha yang menelpon," kata Kenan memberi tau agar Adeeva ngga salah paham.
"Oh, iya," jawab Adeeva mengerti. Dia masih mengingat sahabat sahabat Kenan, juga dengan pasangan pasangan mereka.
"Dia minta agar pernikahan kita setelah dia. Dia mengadu kalo Aqil akan menikah minggu depan," kekeh Kenan. Berita ini cukup mengejutkan. Tapi kemudian Kenan baru bisa tertawa sekarang karena tadi dia kasihan medengar curhatan kekesalan Rakha pada Aqil.
Bagaimana kalo yamg lain mendengar, batin Kenan dalam tawanya. Ini berita terbaru dan terpanas. Orang tuanya sepertinya belum tau. Tapi sepertinya akan segera meledak dengan dahsyat. Dan jelas sudah, korban malang yang akan diketawain adalah Rakha.
"Kenapa, sih, kalian rebutan nikah," kekeh Adeeva sambil menggelengkan kepalanya heran sekaligus takjub.
Dia mengira laki laki seperti Kenan dan teman temanya ngga akan berpikir untuk nikah muda.
"Aneh, ya," jawil Kenan pada ujung hidung Adeeva sambil tertawa.
"Iya."
Kenan melanjutkan tawanya sambil terus menatap wajah cantik Adeeva yang sedang tertawa lepas.
Dulu dia juga ngga kepikir nikah. Tapi setelah Kendra menikah, rasanya jadi ingin ikutan juga.
Kemudian kembarannya yang tengil. Pacaran dengan siapa, tapi malah nikah dengan sahabat mereka, Khanza yang galak. Sangat ngga jelas.
Rakha yang ngebet banget dengan perempuan di luar circle mereka. Juga Aqil yang harus jatuh bangun karena ditolak melulu sama Cyra. Kini dirinya.
Kenan kembali tergelak. Dia pun sama seperti Kalil. Pacaran bertahun tahun tanpa restu, malah kini hampir berakhir dengan sepupu Zayra ( yg benar, sepupu Kendra😁)
Hidup memang aneh, susah diprediksi.
"Sepertinya nikah enak juga," komennya setelah tawanya reda.
"Kayak spageti?" canda Adeeva
"Bukan. Rendang padang," kekeh Kenan gemas. Tangannya lagi lagi menjawil ujung hidung Adeeva. Gadis itu pun terkikik.
"Ada apa ini... Kelihatannya seru," timbrung Om Athar yang sudah berdiri ngga jauh dari keduanya. Istrinya pun berada di sampingnya dengan wajah lembutnya.
"Aqil, om, tante. Mau nikah minggu depan," kekeh Kenan menjawab
"Yang benar," kaget keduanya kompak dan saling pandang.
"Dia menotong jalan Rakha?" Tawa Om Athar pecah, begitu juga istrinya beberapa saat kemudian.
"Seperti dejavu," kilah mama Adeeva dalam tawanya.
"Glen dan Arga ya," sahut Athar dalam tawa gelaknya.
Ganti Kenan yang menatap orang tua Adeeva bingung.
"Kenapa dengan Om Glen dan Om Arga, Ma?" tanya Adeeva kepo.
"Om Glen dulu juga nyalib Om Arga," tawa Athar berderai derai.
"Ooo."
Kembali ruangan itu penuh dengan tawa penuh gelak.
*
*
*
Cyra menatap kesal pada sosok laki laki yang katanya sudah melamarnya pada papanya dan akan menikahinya minggu depan.
Laki laki genit itu sedang bermain basket dengan teman temannya sambil tertawa tawa tanpa dosa.
Sementara banyak sekali para perempuan yang bersorak sorai untuk para laki laki yang suka menjadi pusat perhatian itu.
Cih! Menyebakan! decih Cyra ketika melihat salah satu perempuan cantik yang mendekat dan melap keringat di dahi calon suaminya.
Aqil sama sekali ngga menolak, itu yang membuat hati Cyra geram.
Memalukan! marah Cyra dalam hati. Dia pun berbalik pergi. Hatinya jengkel bukan main.
"Calon istri lo tuh," cetus Kendra yang melihat kepergian Cyra.
__ADS_1
"Mana?" kaget Aqil panik sambil menjauh dari Kania yang masih telaten melap keringatnya
Sial, dia lupa sudah mau nikah, umpatnya dalam hati.
Kebiasaan selalu menerima perhatian manis dari para perempuan perempuan cantik yang selalu menontonnya bermain basket bersama genknya, sulit untuk dihilangkan.
"Batal niat lo nikahin dia minggu depan," ejek Rakha penuh dendam.
Harapannya kalimatnya akan dikabulkan oleh Yang di Atas.
Sedari tadi sahabat sahabatnya selalu meledek kesialannya yang disalib Aqil.
Saatnya pembalasan!
"Gawat ini," reflek Aqil mencari cari keberadaan Cyra.
"Dia ke sana," tunjuk Kendra masih berbaik hati menolong Aqil.
"Makasih, bro," serunya sambil berlari ke luar lapangan.
"Titip tas gue," teriaknya lagi sebelum menjauh dari sahabat sahabatnya.
"Sabar, bro," bujuk Kalil tergelak melihat kemarahan terpendam di wajah Rakha.
"Kesal gue," sahut Rakha sambil melihat kepergian Aqil.
Sahabat sahabatnya kembali tergelak. Sedangkan Kania hanya bisa berdiri bengong mendengarkan percakapan yang begitu jelas di depannya.
Aqil mau nikah? No! Seingat Kania, Aqil masih jomblo. Ternyata dia ketinggalan jauh berita sebesar ini.
Sementara Rakha menatap Aqil yang sedang berlari mengejar Cyra yang sudah menjauh.
Tapi kasian juga kalo sampai ngga jadi nikah, batinnya ngga enak setelah tadi sempat menyumpahi Aqil.
Aqil terus berlari menyusul Cyra. Ngga pake lama, tampak juga punggung gadis itu.
GREP
'Eh," kaget Cyra menyadari sebelah tangannya ditarik seseorang.
Ternyata si player itu! geramnya dalam hati.
"Ngapain dipanggil," sentak Cyra galak.
Aqil mengatur jalan nafasnya dulu sebelum melebarkan senyumnya. Senyun cengengesan khasnya.
Cyra makin melototkan matanya, Tambah kesal.
"Kamu cemburu?" ledeknya.
"ENGGAK!"
Aqil malah terbahak mendengar suara Cyra yang menggelegar.
'Eh, Cyra. Tunggu, dong, jangan ngambek," kejar Aqil lagi dalam tawanya begitu melihat gadis itu berjalan cepat, pergi meninggalkannya.
Cyra menulikan telinganya dan terus melangkah pergi.
"Oke, maafkan aku, ya," bujuk Aqil setelah berhasil menjejeri langkah calon istrinya itu.
Teringat kata kata Rakha membuat Aqil jadi was was juga.
Jangan sampai Cyra membatalkan rencana pernikahan mereka.
Cyra masih menulikan telinganya.
"Cyra sayang," panggil Aqil lagi merayu.
Sayang palamu peyang, maki Cyra tambah kesal.
Cyra semakin yakin kalo laki laki ini banyak memiliki kata kata rayuan gombal yang bisa membuat para perempuan luluh.
Tapi itu ngga termasuk dirinya, batinnya mengeraskan diri.
Aqil menggusar rambutnya sambil tersenyum gemas melihat tingkah marah Cyra. Malah semakin buat dia geregetan.
Akhirnya kembali Aqil menggenggam tangan Cyra yang tadi gadis itu hempaskan.
'Makanya laen kali kalo aku maen basket, kamu nonton, dong. Biar mereka tau kalo aku udah ada yang punya," ucap Aqil sambil menatap lembut penuh senyum wajah kesal di depannya itu.
__ADS_1
Kali ini dia berhasil memaksa gadis itu untuk menghentikan langkahnya.
Cyra mendengus kesal, tapi tatapan player ini memang beda. Hatinya agak bergetar karenanya. Tapi Cyra melengos sebelum dia jatuh parah dalam pesona tukang rayu ini.
"Ayo, kita pergi ke butik mamiku," ajak Aqil sambil menarik tangan gadis yang selalu membuatnya susah tidur tiap malam ini sebelum mendapat kata sah dari KUA.
"Mau apa?" tanya Cyra masih judes.
'Mami udah nyiapin gaun pengantin kamu."
"Secepat ini?" mata Cyra membulat ngga percaya.
"Iya. Mami gerak cepat. Mami juga udah nyiapin baju tidur yang seksi buat kamu," senyum mesum Aqil terpampang jelas.
Cyra ternganga sesaat
"AQIL! Kamu apaan, sih," marah campur malu dan deg degan. Cyra mencubit berulang kali lengan laki laki itu yang terbuka karena Aqil hanya mengenakan kaos kerah lengan pendeknya.
"Auw..... auww... jangan dalam dalam nyubitnya, Cyr. Nanti bekas," ringis Aqil pura pura sakit.
"Biarin! Biariiin.....!" kesal Cyra terus saja mencubit lengan Aqil tanpa henti.
"Cyr, ini sakit beneran.'
"Syukurin."
"Cium loh kalo nyubit lagi," ancam Aqil serius. Ternyata lama lama sakit juga cubitan calon istrinya yang kejam ini.
Tangan Cyra yang akan nyubit reflek ngga bergerak. Mengambang di udara.
Aqil ngga nyia nyiakan kesempatan. Langsung saja disosornya pipi mulus itu. Walau sekilas, tapi rasa yang hadir di dadanya membuatnya hampir meledak.
Cyra mematung, merasakan sensasi aneh yang menyelusup di dadanya.
"Berangkat sekarang, ya. Aku takut ngga kuat buat nyium kamu lagi," bisik Aqil dengan suara bergetar. Dia pun langsung menarik tangan Cyra yang udah ngga membantah lagi.
Jantung Cyra berdebar keras, rasanya mau lepas. Pipimya memanas. Apalagi yang tadi terkena sentuhan bibir magic Aqil.
*
*
*
"Mi, lihat kelakuan Aqil. Wajar, kan, papi bilang takut Cyra hamil sebelum akad," tukas Arga yang sedang mengutak atik rekaman cctv di ruang dapur waktu Cyra berkunjung.
Qonita membelalakkan matanya melihat kelakuan Aqil.
"Apa kamu dulu begitu ya, pi," tuduh Qonita sambil menggelengkan kepalanya shock melihat anaknya yang seperti singa kelaparan.
"Enak aja nuduh. Papi itu kalem, mi," kilah Arga dengan senyum miringnya.
Qonita berdecih. Tapi dalam hatinya mengakui juga kalo Arga ngga semesum itu.
"Kadang aku berpikir kalo anakku ketukar di rumah sakit," cetusnya sambil menghela nafas panjang.
"Aqil maksudnya?" tebak Arga dengan senyum lebarnya. Kemudian dia tertawa melihat Qonita menganggukkan kepalanya membenarkan.
"Kamu ada ada saja," gelak Arga sambil mencubit kecil pipi istrinya yang juga sudah mengembangkan senyumnya.
Ngga mungkinlah ketukar. Saat Aqil dilahirkan, Aqil ngga pernah jauh jauh dari dirinya dan istrinya. Bahkan mereka memiliki perawat khusus untuk mengurus Aqil di saat Qonita masih lemah akibat proses melahirkan.
"Maksudku, ketukar dengan Kenan atau Rakha," kekeh Qonita lepas.
Membayangkan kedua anak kalem itu yang sangat jauh sifatnya dari papi papi mereka, kadang sudah menjadi candaan umum di kalangan mereka.
"Jiwanya yang ketukar, 'kali," timpal Arga semakin tergelak.
Suami istri itu pun semakin ngga bisa lagi menahan suara tawa keras mereka.
'Mi, buat anak lagi, yuk," ajak Arga setelah tawa mereka reda beberapa menit lamanya.
"Bentar lagi kita juga mau dapat cucu," tolak Qonita galak.
"Ya ngga apa...." rayu Arga lagi sambil mengecup lembut lengan bening istrinya membuat jantung Qonita berdebar ngga menentu.
"Kalo kamu begini, aku baru yakin kalo Aqil bener anak kita," seloroh Qonita terkikik.
Arga kembali tergelak mendengarnya.
__ADS_1