
"Lho, ada Kak Dhafi?" Kevin jadi rikuh. Padahal dia diminta papinya buat mengantar Salma pulang.
Ngga nyangka ada Dhafi yang menatapnya kurang ramah.
Dhafi dan Salma masih terdiam, ngga nyangka dengan kedatangan Kevin.
Mereka berdua masih duduk diam diaman setelah Salma melemparkan botol minumannya.
"Sal, kalo gitu lo pulang sama Kak Dhafi aja, ya," kata Kevin lagi dan bermaksud pergi karena kedua orang yang disapanya masih bungkam.
"Eh, Kev, nunggu. Gue pulang bareng lo," seru Salma sambil meggantungkan ranselnya ke punggung.
"Kita harus bicara," tahan Dhafi sambil memegang lengan Salma dan menatapnya tajam.
Kevin yang sudah curiga dengan hubungan keduanya, bermaksud menghindarkan dirinya dari pertengkaran suami istri.
"Sal, lo sama Kak Dhafi aja. Papi gue ngirain lo pulang sendiri. Aku titip Salma, kak," pamit Kevin langsung kabur.
"Kevin!" seru Salma kesal.
Dasar pengecut!
Gue lapor lo ke Om Aris, batinnya dendam.
Terdengar suara tawa perlahan Dhafi yang ikut berdiri. Dia pun mengambil tas di punggung Salma dan langsung mencangklongkannya ke bahunya.
"Mau mandi dulu ngga?" tanya Dhafi masih dengan sorot mata tenangnya. Sisa tawa membuat wajahnya semakin tampan.
"Ngga!" tolak Salma judes.
"Kamu mau bicara apa. Sekarang aja!" lanjut Salma dengan tampang judesnya.
"Nanti aja setelah makan. Kita makan ditempat biasa," kata Dhafi kemudian menatap nakal penampilan seksi gadis itu dalam balutan kaos voli dan celana pendeknya.
"Beneran kamu ngga mau ganti?"
Jantung Salma jedag jedug ngga karuan. Karena manusia di depannya semakin tampan saja jika bertingkah jadi penjahat.
Salma benci dengan hatinya yang gampang goyah. Tapi engga, dia harus kuat. Kuat menolak laki laki ini masuk dalam hidupnya lagi. Salma sibuk bermonolog dalam hati.
"Oke oke. Aku mandi sama ganti baju dulu," katanya sambil melengos pergi
Dhafi tersenyum sambil mengikuti langkah kaki mereka.
Mereka ngga sadar sudah menjadi pusat perhatian.
Dhafi membuka ponselnya melihat sosmednya sambil menunggu Salma mandi dan mengganti pakaiannya.
Hampir satu jam!
__ADS_1
Memang begitu kebiasaannya. Dhafi sudah hapal. Sekarang Salma sudah berdiri.di hadapannya dalam keadaan segar. Rambut panjangnya masih belum terlalu kering. Wang shampo dan sabun yang digunakan Salma masuk bergantian dalam penciumannya.
"Sudah?" tanya Dhafi sambil meraih tas yang dipegang Salma dan kembali mencangklongkannya di bahu.
Tanpa menunggu jawaban Salma, Dhafi melangkahkan kakinya beranjak pergi dan diikuti Salma dalam diam.
Mereka masih saja diam sampai mobil Dhafi memasuki parkiran sebuah kafe yang cukup besar.
Tanpa kata laki laki ini keluar dari mobilnya dan tanpa menunggu Salma, dia berjalan duluan memasuki kafe.
Salma ngeredek kesal.
Lo cuek, gue bisa lebih cuek.
Dengan menahan marah, Salma mengikuti laki laki itu yang ternyata sedang memesan makanan. Salma pun bersikap ngga peduli. Dia berjalan meninggalkan Dhafi yang meliriknya karena berjalan melewatinya.
Bibir Dhafi tersenyum smirk. Dhafi pun memesan makanan kesukaan gadis itu. Setelahnya pergi ke arah gadis itu yang sudah memilih tempat.
"Kamu ngga boleh cuti, Sal. Mau skripsi, kan. Cepat lulus, trus ko-as," kata Dhafi langsung setelah duduk. Kalimatnya seperti perintah yang ngga bisa dibantah.
"Jadwal tanding aku padat. Juga jadwal latihan. Ngga sempat mikir buat skripsi," tolak Salma cuek, tanpa melihat Dhafi, sibuk dengan ponselnya.
Bibirnya mulai tersenyum karena banyak yang memberi ucapan selamat padanya karena timnya memenangkan pertandingan tadi.
Mami dan papinya juga sudah mengucapkannya lewat pesan suara. Kalo mamanya akan masuk ke ruang operasi, karena ada pasien yang harus segera dipasang ring pada jantungnya, sedangkan papinya sedang meeting.
Berita kemenangan tim mereka cukup cepat tersebar.
Hal itu membuat Salma semakin kesal.
"Aku bantu," kata Dhafi sambil memperhatikan lekat wajah Salma.
"Anak teknik mau bantu anak kedokteran? Ngga salah?" sindir Salma sambil melirik malas.
"Apa, sih, yang aku ngga bisa. Yang penting kamu cepat ajuin skripsi kamu tentang apa. Nanti aku yang nyari data datanya," janji Dhafi tenang.
Salma akan menjawab tapi pesanan mereka keburu datang.
"Ngga kebanyakan?" Salma yang mau ngebantah malah heran melihat banyaknya makanan yang terhidang di meja.
Soto ayam bening, sate padang, mi goreng, jus alpukad, dan salad buah.
"Gue lapar," kata Dhafi cuek. Padahal aslinya buat Salma. Dia tau Salma akan makan banyak jika abis bertanding.
Dhafi masih teringat pesanan makanannya di kantin rumah sakit, yang sayangnya ngga diabiskan. Karena telanjur marah mungkin, melihatnya diajak ngobrol dokter cantik.
"Aku ngga mau, ya, setelah dapat judul skripsi kamu ingkar janji. Kamu, kan, sering gitu," ungkit Salma sambil meraih satu tusuk satenya. Matanya menatap Dhafi yang sedang mengaduk soto ayamnya.
"Kali ini engga."
__ADS_1
"Kalo kamu ingkar janji, aku langsung tinggalin skripsinya," ancam Salma yang kini beradu tatap dengan Dhafi.
Kembali jantungnya jedag jedug. Dia pun melengos membuat Dhafi tersenyum miring.
"Oke.Deal, ya," tegas Dhafi merasa menang.
"Hemm...."
Salma pura pura menyibukkan dengan satenya tanpa mempedulikan Dhafi yang kini terus menatapnya dengan penuh senyum.
Ngga terasa Salma sudah menghabiskan sate padang, mi goreng dan jus alpukadnya. Sememtara Dhafi hanya menghabiskan soto ayam dan jus alpukadnya saja.
"Salad buahnya makan di mobil aja," kata Dhafi sambil memanggil pelayan agar mengemas salad buahnya.
"Hemm..."
Dhafi merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak mewah kecil berbentuk persegi panjang.
Salma meliriknya sekilas. Kemudian sibuk dengan ponselnya lagi.
"Eh, kamu ngapain?" tanya Salma kaget ketika Dhafi menarik tangannya.
Dhafi ngga menjawab, sebelah tangannya membuka kotaknya dan tampaklah untaian gelang tipis.
"Aku belinya waktu kita ketemu di toko perhiasan," kata Dhafi yang kini mulai memasangkan gelang itu di tangan Salma.
Salma terdiam seolah sedang dihipnotis.
"Ini cukup kuat dipake.buat latihan atau tanding," kata Dhafi membuat Salma tersadar.
Mata Salma mengerjap.
Jadi waktu itu dia beli perhiasan bukan buat sekertaris seksinya yang centil itu? decih Salma dalam hati.
"Ini bukan sogokan, kan? Pokoknya aku ngga mau kita balikan," tegas Salma menahan perasaannya yang mulai campur aduk.
Ngga lagi untuk Dhafi, dia mengeraskan hatinya yang gampang lumer.
"Sure," jawab Dhafi tenang. Dia tau kesalahannya sulit untuk dimaafkan. Dia akan pelan pelan melunakkan hati Salma lagi.
Salma tersenyum saat melihat gelang yang terbuat dari berlian itu.
"Aku akan melepasnya kalo lagi latihan atau tanding," katanya sambil menggoyang goyangkan tangannya yang dihiasi gelang itu.
Bisa patah bahkan hancur nih gelang pas lagi ngeblok bola ntar, batinnya dengan senyun senang.
"Jangan khawatir. Duit aku banyak. Nanti aku belikan lagi," tukas Dhafi santai dengan sinar matanya yang lembut.
Salma menjebikkan bibirnya.
__ADS_1
Selalu begitu. Sombong, makinya dalam hati.