
Rakha yang baru keluar dari kamar mandi, menyembunyikan senyumnya ketika melihat Fika sudah berdiri di dalam kamarnya dengan tubuh terlihat bergetar.
Dengan ngga acuh, sambil menggosok rambutnya pake handuk, Rakha menatap penampilan gadis itu.
Sesuai requestnya. Hanya saja dia menggunakan jaket untuk menutupi lengannya yang terbuka. Bahkan untuk kelancaran misinya, dia meminta sekertarisnya menjemput Fika.
"Buka jaketnya," titahnya masih dengan aktifitasnya mengeringkan rambut basahnya.
Dengan malu Fika melepas jaketnya, hingga tampaklah lengan yang putih itu.
Rakha pun sengaja menyuruh Fika memakai dres bertali spageti selutut yang dibawakan sekertarisnya. Dia yang sudah memilihnya sendiri di butik omanya.
"Mau langsung ngga pake baju atau pemanasan dulu?" tantang Rakha . Hatinya senang dengan kegugupan Fika.
Fika yang terkejut melihat Rakha yang hanya mengenakan handuk saat keluar dari kamar mandi merasa tubuhnya bergetar hebat saking takutnya.
Bahkan setelah dia menurut, laki laki dengan kurang ajar menatap seluruh tubuhnya. Sebenarnya laki laki kurang ajar ini sudah pernah mera*ba dan mere*mas semuanya waktu menolongnya dulu.
"Aku ngga bisa memberikan keper*awanku, tapi kamu boleh minta yang lain," kata Fika dengan suara bergetar karena merasa takut yang amat sangat.
"Oke, deal."
Dan belum Fika sempat berpikir, Rakha sudah melempar handuk yang digunakannya untuk mengeringkan rambutnya ke lantai.
Dan dengan cepat langsung memeluk dan menc*ium bibirnya.
Rakha melakukannya dengan terburu buru. Dia takut gadis ini akan berubah pikiran dan menarik kata katanya. Dia malah melupakan janjinya sendiri untuk melakukanya dengan lembut
"RAKHA!!"
Suara menggelegar maminya membuatnya menjauhkan bibirnya dari Fika.
Maminya kini berdiri dengan bertolak pinggang, menatapnya garang. Sementara daddynya menampilkan senyum miringnya.
Kalo Kalil adalah kloningnya Alva, maka Rakha adalah kloningnya.
Fika terkejut setengah mati melihat ada dua orang tamu yang bisa dia pastikan adalah orang tua Rakha, berdiri di depan pintu kamar yang ngga dia tutup.
Walau merasa malu yang amat sangat, Fika sangat bersyukur. Dia kembali mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Daddy nunggu kamu dan teman wanitamu di ruang tamu," kata Reno sambil membimbing Rain yang terlihat sangat shock dengan perbuatan putranya.
Melihat ekspresi sedih gadis itu, Rain seakan de ja vu. Mengingat kembali perbuatan yang pernah Reno lakukan dulu padanya.
"Minumlah," kata Reno lembut sambil memberikan segelas air putih pada istrinya
Reno pun seperti tau apa yang dipikirkan istrinya. Rakha memang seratus persen kloningnya. Perbuatan putranya yang sekarang pun hampir sama dengan perbuatannya dulu. Memaksa seorang gadis.
"Apa kamu cerita kalo akan ke apartemenku malam ini?" tuduh Rakha dengan nafas memburu.
__ADS_1
Teriakan maminya telah membuat keinginannya untuk menyentuh Fika lagi hilang sudah.
"Enggak," sanggah Fika jujur.
"Hemm... " Rakha pun berjalan ke lemarinya. Dan tanpa malu melepas handuk yang hanya menyisakan boxer, kemudian mengenakan baju dan celana setelututnya.
Fika sampai memalingkan wajahnya saat Rakha berganti pakaian.
"Rapikan dresmu," kata Rakha mengingatkan ketika gadis itu masih terdiam bingung.
"Eh, i iya." Dengan gugup Fika membetulkan tali spageti yang sudah merosot di lengannya.
Dia bersyukur saat ketahuan tadi, Rakha melindunginya dengan tubuhnya. Hanya wajahnya saja yang terlihat.
"Pake jaketmu," perintah Rakha lagi dan langsung dituruti Fika.
Kemudian tanpa kata Rakha berjalan ke luar dari kamar dan di susul Fika.
Fika hanya menunduk malu sedangkan Rakha nampak tenang dan santai
Daddymya ngga kelihatan marah, hanya maminya saja.
Aman, batinnya sedikit lega.
Karena daddynya sangat pintar membujuk maminya agar cepat hilang marahnya.
"Mami, jangan marah, ya. Aku berniat nikahi dia nanti," kata Rakha membuka suara, memecah kesunyian.
Fika sampai menoleh ke arah Rakha, terkejut, ngga menyangka kata kata itu yang akan keluar dari mulutnya.
Dia sungguh sungguh?
Jantung Fika berdebar ngga menentu. Ini di luar dugaannya. Di kiranya Rakha hanya ingin mempermainkannya. Dan akan menbuangnya jika dia sudah merasa bosan, dan mendapatkan yang baru.
Tapi kenapa laki laki ini ingin menikahinya?
Bukannya dia membencinya? batin Fika penuh tanya .
Rain sampai menutup mulutnya yang menganga saking ngga percayanya.
Reno terkekeh mendengarnya.
"Kamu jangan becanda!" sergah Rain antara senang dan curiga.
"Aku serius, ma. Cuma gadis ini yang aku suka," katanya kemudian duduk di pinggiran sofa mamanya. Dia pun menyandarkan kepalanya di bahu Rain dengan manja sampai Rain ngga bisa berkata apa apa lagi.
Reno hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kekanakan putra pertamanya. Padahal adik perempuannya ngga semanja ini.
Fika juga ngga percaya menatap tingkah manja Rakha pada mamanya. Tampak sangat lembut.
__ADS_1
Kenapa saat bersama dengannya jauh berbeda? Kasar, pemaksa, tegangan tinggi, decih Fika kesal membatin.
"Kamu ngga punya keluarga yang lain selain nenek kamu?" tanya Reno mengalihkan perhatian pada gadis yang sedang duduk di depannya sambil menunduk.
"Ngga ada, Om," sahut Fika pelan.
Reno dan Rain saling tatap.
"Nama Om, Reno. Ini istri Om, namanya Rain. Kami orang tua Rakha," ujar Reno ramah membuat gadis itu mengangkat wajahnya.
"Saya Fika."
"Om dan tante sudah tau."
Sementara Rain menatap gadis itu dengan seksama.
"Saya akan mengganti seluruh biaya pengobatan nenek saya. Tapi saya hanya bisa mencicil. Tolong kasih saya waktu," ucap Fika dengan nada memohon.
Rain dan Reno jadi mengerti kenapa gadis ini ada di apartemen putranya.
Pasti putra mereka meminta pembayaran dengan cara yang ekstrim
Memikir sampai di sana, Rain menatap Reno kesal.
Reno pura pura ngga ngerti, menatap Rain dengan polos seakan bertanya kenapa?
"Ngga perlu.dicicil, kita akan segera menikah," jawab Rakha masih dengan posisi menyandarkan kepalanya pada maminya.
"Kamu mau menikah setelah Kalil?" tanya Rain mulai menantang keseriusan putrnya.
"Boleh, mam. Tapi lebih baik setelah nenek Fika sembuhlah," jawab Rakha nyantai.
"Oke. Oke. Fix setelah nikahnya Kalil," timpal Reno setuju.
Fika menatap heran karena keputusan sudah ketok palu, padahal dirimya belum ditanya.
"Tapi Rakha, kamu ngga boleh maksa maksa Fika lagi kayak gini," marah Rain seakan memberikannya peringatan keras.
"Siap mami ku sayang," balas Rakha kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Rain yang terpaku dengan jantung seakan mau melompat keluar dari rongga dadanya.
Serius mereka mau dinikahkan?
"Fika, kamu setuju, kan, kalo nikahnya sekitar tiga minggu lagi?" tanya Rain lembut.
"Iya, tante."
Ingin rasanya memaki mulutnya yang asal bilang iya. Kalo sudah begini, berarti dia sudah setuju lahir batin untuk menikah dengan Rakha. Padahal Fika ngga yakin dengan keseriusan Rakha. Bisa aja dia bilang begitu agar orang tuanya ngga memarahinya.
Kepala Fika mendadak jadi pusing. Obrolan malam ini sudah terlalu jauh. Rakha ngga pernah bilang apa apa soal pernikahan. Entah apa yang ada dalam pikiran kotornya. Fika sama sekali mgga bisa membaca maksud ucapan Rakha.
__ADS_1