
Baru saja Khanza selesai mandi dengan air hangat, terdengar suara ketukan pintu dan panggilan maminya.
"Ada apa mi?" tanya Khanza yang masih mengenakan bathrope dan rambut yang dililitin handuk ketika membuka pintu.
"Kamu baru selesai mandi?" tanya Armita-maminya heran. Hampir satu jam. Seperti bukan kebiasaan Khanza saja.
"Iya, mi. Ada apa?"
"Ada Kalil di depan."
Khanza menatap maminya malas. Masih ingat kejadian tadi dengan jelas.
"Bilang aja udah tidur, mi."
Armita tersenyum lebar.
"Kasian. Katanya udah tiga hari ngga ketemu sama kamu. Kangen katanya," akhirnya Mami Khanza ngga dapat menahan tawanya.
Ada ada saja alasan Kalil. Saat mendengarnya langsung, dirinya dan Glen pun tergelak. Glen sekarang sedang menemani Kalil.
Hiiii, kangen. Ji-jai. Dasar muna, decih Khanza dalam hati.
Padahal tadi sengaja keramas lama buat ngilangan perasaaan kesalnya sama Kalil, sekarang perasaan itu bertengger lagi di kepalanya.
"Bilangin Khanza mau tidur, mi. Malas ketemu Kalil," jawabnya sambil melenggang ke walk closetnya untuk mengambil baju tidurnya
"Kasian, temui bentar, ya," bujuk maminya sambil membuntutinya.
"Nggak, mami sayang. Besok aja kalo mau ketemu pas mau makan siang. Kalo ngga datang, ngga usah sok sok nyari lagi," jawab Khanza dengan nada kesal. Ada nada mengancam.yang tanpa Khanza sadari terucap di sana.
Besok hari terakhir Zayra dan Kendra di rumah sakit. Dia dan yang lainnya akan makan siang bareng bareng lagi, kemudian mengantar Zayra dan Kendra pulang.
Dua hari lagi keduanya akan menikah. Gile bener. Khanza bahkan sudah minta ijin selama dua hari untuk membantu Zayra menyiapkan pesta pernikahannya.
Tepatnya melepaskan Zayra untuk Kendra. Sahabatnya. Zayra pasti nanti akan sedikit mengabaikannya karena Kendra. Sekarang Kalil pun begitu.
Eh, nggak. Bodoh amat sama Kalil, batinnya lagi lagi membantah keras.
Rakha yang selama tiga hari ini sedang survey dokter dan perawat saja ngga terlalu mengganggunya. Tapi kenapa setelah melihat Kalil dengan pacarnya membuat hatinya selalu kesal dan marah?
Maminya tertawa sambil membantu Khanza mengenakan daster bunga bunga.
"Kamu kenapa? Lagi marah sama Kalil?" tanya mami Khanza dengan sisa tawa di bibirnya.
Kini beliau membantu Khanza mengeringkan rambutnya.
"Engga, mam. Biasa aja," jawab Khanza cepat.
Dia mulai berpikir, apa dia sudah berubah aneh? Rasanya dia tetap Khanza yang judes.
"Ngga baik juga tidur dengan rambut yang masih basah. Besok bisa pusing, loh," kata mami masih gencar membujuk.
"Nih udah mau kering, mam. Lagian Khanza capek banget. Ketemu Kalil malam malam gini mau ngapain coba," tolak Khanza tetap ngeyel dengan berjuta alasan. Intinya tetap ngga mau ketemu Kalil. Titik.
__ADS_1
"Okelah kalo gitu. Mami suruh Kalil pulang, ya," kata mami menyerah.
"Iya, mami sayang," jawab Khanza senang dengan senyum terkembang lebar.
CUP
Maminya tersenyum ketika Khanza mengecup pipinya.
Beliau pun membantu menyelimuti Khanza.
KLIK
Setelah mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu tidur yang remang remang, mami Khanza pun meninggalkan Khanza yang sudah memejamkan mata.
Kangen apa an. Sana urus saja pacar kamu, batin Khanza makin marah.
Dia kesal. Jengkel. Semua perasaan ngga menyenangkan ada di sana.
Khanza pun ngga mengerti sebenarnya apa yang ada dalam hatinya.
Seharusnya Khanza senang melihat Kalil mulai bucin dengan pacarnya. Berarti dia ngga akan player lagi, kan.
Tapi kenapa rasanya ngga rela saja.
Jangan serakah, Khanza. Kalil ngga mungkin selamanya jadi sahabat kamu, batinnya mengingatkan.
Khanza melakukan inhale dan exhale untuk mengendurkan ketegangan dalam dirinya.
*
*
*
"Maaf, ya, Kalil. Khanza katanya udah mau tidur," kata mami Khanza saat menemui Kalil yang sedang mengobrol asyik dengan suaminya.
"Udah bilang ke Khanza kalo Kalil kangen?" kekeh Glen diikuti Armita, istrinya.
Dasar anak Alva, batinnya geli.
"Sudah," jawab istrinya sambil duduk di sampingnya.
Kalil hanya tersenyum. Sudah diduganya kalo Khanza marah. Tapi Kalil merasa tenang karena Khanza sudah sampai di rumah lebih dulu darinya.
Ngga tau kenapa setelah kepergian Khanza, Kalil jadi ngga konsen menanggapi obrolan Agnes.
Apalagi melihat laki laki yang tadi menjemput Khanza. Sayangnya dia ngga bisa menemukan dimana Khanza dan laki laki itu berada ketika dia juga mengajak Agnes kembali ke meja mereka.
Agnes tadi sempat menginterogasinya tentang Khanza
"Kok, bisa temenan sejak kecil?"
"Bisa aja. Bukan Khanza aja. Ada Zayra juga yang mau nikah sama Kendra. Ada Aqil, Rakha.dan kembaranku Kenan," jelas Kalil mengabsen para sahahatnya.
__ADS_1
"Ooh. Aku kita hanya berdua aja," kata Agnes lega.
"Ya enggaklah," balas Kalil dengan tawa yang agak dipaksa. Kalil ingin cepat cepat menuntaskan pembicaraan ngga penting ini karena ingin tau dimana Khanza dan laki laki itu mojok.
Setelahnya barulah Agnes mau kembali ke meja mereka. Sejauh mata memandang, Khanza dan laki laki itu sudah ngga kelihatan lagi. Kalil hanya bisa menghembuskan nafas kecewa.
Karena itu setelah mengantar Agnes pulang, Kalil ngebut ke rumah Khanza untuk memastikan kalo Khanza sudah diantar pulang oleh laki laki yang mungkin saja dokter tadi.
"Kalo gitu Kalil pamit dulu, Om, Tante," kata Kalil kemudian mencium tangan kedua orang tua Khanza.
Ketika Kalil akan menuju pintu, mami Khanza baru teringat akan pesan Khanza.
"Kalil, sebentar," ucapnya sambil bangkit.
Glen yang ikut berdiri menatap istrinya bingung.
"Ada apa sayang?"
"Aku mau nyampein pesan Khanza," ucap istrinya kemudian menatap Kalil yang kini tubuhnya sudah menghadap mereka.
"Khanza nitip apa, tante. Ntar Kalil cariin," respon Kalil cepat.
"Bukan itu," kilah mami Khanza dengan senyum lebarnya.
Gimana dia dan suaminya ngga sering menuduh kalo Kalil dan Khanza sama sama saling tertarik. Bahkan Tamara sempat mengusulkan setelah pernikahan Kendra dan Zayra, anak anak mereka menyusul.
Bagi Tamara, Khanza akan bisa menghandle Kalil. Laki laki seperti Kalil butuh pendamping yang tegas seperti Khanza.
Walaupun ada juga Rakha yang kadang juga suka bikin bingung dengan sikapnya terhadap Khanza. Tapi rasanya agak beda dengan intensitas perhatian Kalil. Rakha lebih ke arah seperti adik saja memperlakukan Khanza.
"Jadi apa tante?" tanya Kalil ngga ngerti dan penasaran.
Apa aja asal Khanza mau menemuinya, batin Kalil.
"Kata Khanza, kamu besok harus ikut acara makan siang di kafe depan rumah sakit. Kalo engga, kayaknya Khanza bakalan marah berat lo," canda Mama Khanza menggoda.
Glen pun tergelak mendengarnya.
Putrinya itu, selalu saja sesuka hatinya, batinnya sangat geli.
Kalil ikut tertawa sambil menggaruk rambutnya yang ngga gatal.
Ancaman serius nih, batin Kalil waspada.
"By the way, besok Kendra sama Zayra pulang, kan?" ucap Glen sambil berjalan bersama istrinya mengantar Kalil ke mobilnya.
"Iya, om."
"Ya, udah, besok aja ketemunya kalo gitu," sambung Glen lagi memutuskan.
"Iya, Om, tante. Kalil pamit, ya," kata Kalil sambil membuka pintu mobil.
"Hati hati," balas Glen dan Armita bersamaan.
__ADS_1