
"Jadi kalian sudah kenal lama?" tanya Boby saat sedang bersama Aqil.
Setelah kepergian Kalil dan Khanza, Rakha, Kendra dan Zayra juga langsung pergi karena ada jadwal kuliah.
Tapi Aqil ditahan Boby yang ingin tau lebih banyak tentang Khanza dan calon suaminya.
"Orang tua kita bersahabat. Jadi kita terbiasa bersama sejak bayi," kekeh Aqil.
Boby tersenyum samar.
"Calon suami Khanza....?"
"Namanya Kalil, dia punya kembaran namanya Kenan."
"Kembar identik?"
"Iya, tapi kalo kamu sudah ketemu keduanya, pasti bisa membedakannya," kekeh Aqil lagi sambil membayangkan wajah si kembar.
"Khanza dan Kalil udah pacaran lama?" Boby semakin penasaran.
"Baru baru ini aja. Seperti yang aku bilang kami sudah lama bersahabat. Sepertinya Kalil.dan Khanza terjebak friend zone."
"Oooh."
Bisa juga, sih, batin Boby.
"Kalil cemburu sama lo."
Eh? Apa? batin Boby kaget.
Aqil merubah ekspresi santainya menjadi serius.
"Begitu tau lo deketin Khanza, dia langsung pulang dari Inggris."
Boby terdiam, dia merasa dimanfaatkan.
"Sejujurnya gue dan teman teman gue lebih suka lo yang sama Khanza. Tapi mau gimana lagi. Khanza memilih Kalil yang brengsek."
Boby terdiam. Dia pun ngga bisa memungkiri perasaan gadis itu yang terlihat apa adanya saat bersama Kalil.
"Memang terlihat jelas, ya, Khanza menyukai Kalil," katanya tanpa sadar. Senyum, tawa dan marahnya Khanza terlihat natural.
"Lo suka Khanza?" tanya Aqil jadi ngga enak.
"Tertarik mungkin. Tepatnya penasaran," senyum Boby. Apalagi mengingat wajah dan sikap Khanza saat menikmati sup kimlo darinya. Tidak ja-im.
__ADS_1
"Dia aslinya memang gitu. Galak banget. Suka ngomel. Kalo marah lama banget sembuhnya," tambah Aqil terus terang, sengaja menjelek jelekkan Khanza agar Boby ilfeel.
Boby tersenyum lagi mendengarnya.
"Nanti gue kenalin dengan sahabat gue yang lain. Ngga kalah cantik dari Khanza," janji Aqil sambil menepuk bahu Boby yang kali ini membalasnya dengan tawa.
"Nanti aja, sekarang gue lagi patah hati walau dikit," tolak Boby masih dengan tawa yang berderai derai.
Ya, hatinya agak luka setelah tau Khanza lebih memilih Kalil.
*
*
*
Dhafi menonton secara langsung pertandingan voli Salma. Gadis itu tampak semangat sekali. Dhafi selalu suka melihatnya di lapangan.
Tapi ada satu.hal yang mengganggu pikiran Dhafi. Salma akan mengambil cuti satu semester karena kesibukannya bertanding.
Padahal dengan otak encernya, harusnya Salma ngga terganggu. Semester ini dia tinggal menyusun skripsi saja. Tapi ngga tau kenapa malah memilih cuti.
Dhafi sempat mendengar obrolan Tante Aruna dengan maminya di dapur tentang Salma.
Dulu Dhafi selalu punya waktu untuk menonton Salma bertanding. Latihan pun ditongkrongi juga.
Tapi sejak membantu daddy mengurus perusahaan, perhatiannya ke Salma jadi jauh berkurang. Begitu juga Salma.yang sibuk kuliah dan jadwal tanding dan latihan.
Jarak membuat celah. Dhafi mulai iseng. Watak iseng sebelum pacaran dengan Salma muncul lagi. Setelah benar benar ngga dimaafkan Salma, Dhafi frustasi. Dia semakin membuat Salma marah dan makin membencinya.
Tapi akhir akhir ini dia merindukan gadis itu lagi. Tapi Salma sepertinya sudah menutup hati buat kembali padanya.
Dhafi mulai sering lagi menonton pertandingan Salma. Dia sangat gampang mengetahui jadwal.gadis itu karena adiknya Shakila selalu memberitaunya.
Tapi kali ini dia harus bicara dengan gadis tomboy itu. Salma harus bisa menyeimbangkan karir atlet dan kuliahnya. Sayang untuk otak seencer itu di sia siakan begitu saja.
Dhafi yang hanya mengenakan kemeja biru dan celana kain hitam menjadi pusat perhatian penonton di situ. Walau sudah bersikap cuek, selalu saja para perempuan itu mendekatinya.
Dhafi ngga bisa bersikap kasar, bibirnya selalu saja tersenyum menerima perhatian itu. Itu memang kelemahan sekaligus kelebihannya.
Setiap tender yang lawannya perempuan, mereka selalu terkesima padanya dan bisa dia kalahkan dengan mudah. Jika dia mendapat owner perempuan, pekerjaannya menjadi amat sangat mudah. Apalagi kalo mereka di temani minum teh, lunch atau dinner.
Dhafi juga ngga terlalu gila. Paling sun dikit dikit aja yang dia lakukan. Dan Salma beberapa kali pernah memergokinya. Selalu dimaafkan. Yang ketiga kali, harapannya pupus. Salma langsung menalaqnya.
Tapi sejak di talaq sama Salma, Dhafi menjadi kesetanan. Dia sengaja memanas manasi hati Salma. Agar Salma mau kembali padanya. Tapi Salma malah benci dan tambah menghindarinya.
__ADS_1
Sekarang Dhafi malah sudah bosan melakukan phisical touch dengan para perempuam. Sikap Salma yang semakin menjauh, membuat Dhafi tanpa sadar berubah menjadi semakin dingin.
Menghadapi para perempuan yang mendekatinya kini pun, Dhafi hanya tersenyum tanpa berniat beramah tamah. Dia ngga mau konsentrasi Salma buyar mengetahui kelakuan nakalnya.
"Nonton siapa, mas?" tanya salah satu perempuan itu yang akhirnya geregetan melihat kekakuan Dhafi. Padahal penampilannya sudah sangat menarik.
"Pacar."
Perempuam itu bersama dua temannya saling pandang dengan senyum kecut.
"Ooh." Mereka pun terdiam.
Dhafi merasa bersyukur karena ngga ada lagi pertanyaan dari mereka.
Ketika pertandingan selesai, senyum Dhafi mengembang mengetahui skor Salma dan teman temannya ngga bisa di lewati lagi oleh lawan mereka.
Dia pun bergegas turun ke lapangan. Para perempuan tadi semakin speechless melihat siapa yang dihampiri laki laki yang sangat keren ini. Primadona lapangan Voli, Salma Ameena.
Dhafi reflek menempelkan handuk kecil yang dibawanya di kening Salma. Kehadirannya membuat teman teman Salma surprise dan heboh, karena sudah lama ngga melihatnya menghampiri Salma secara langsung. Beberapa yang sempat melihat kehadiran Dhafi di pertandingan pertandingan sebelumnya, laki laki ini langsung pergi begitu pertandingan selesai tanpa menghampiri Salma.
"Aku ingin bicara. Penting," tegas Dhafi ngga mau dibantah.
Salma yang terkejut melihat kehadirannya menjadikan jantungnya yang bodoh berdetak kencang lagi.
Salma ngga menyahut. Dia menggunakan handuk yang diberikan Dhafi untuk melap keringat di dahinya dan menuruti Dhafi yang mengajaknya duduk di kursi tempatnya menaruh tas yang berisi perlengkapan gantinya.
"Aku ngga mau kita balikan," desis Salma tajam.
Dhafi menghela nafas panjang.
"Kenapa kamu mau cuti? Aku dengar obrolan mami kamu sama mami aku," kata Dhafi dengan tatapan menuntut penjelasan.
Salma terdiam. Rupanya soal yang lain. Dia sudah negative thinking aja.
"Bukan urusan kamu," katanya sambil mengambil botol minuman kemasannya.
Tapi Dhafi cepat meraihnya dan membuka tutupnya, kemudian memberikannya pada Salma.
Salma menerima dengan ngga acuh, kemudian meneguknya cepat cepat.
"Pelan pelan kalo minum," kata Dhafi sambil menghapus lelehan air yang tumpah di bibir Salma.
"Biarin," ketus Salma setelah botol itu kosong. Kemudian melemparnya ke tong sampah yang jaraknya tiga meter. Dan masuk.
Dhafi hanya tersenyum melihatnya. Dulu tiap Salma memamerkan keahliannya, Dhafi selalu bilang, kalo dia cocoknya maen basket, bukan voli.
__ADS_1