After The Heartbreak

After The Heartbreak
Rakha yang mencurigakan


__ADS_3

Setelah kejadian menghebohkan tadi malam, pagi ini seperti biasa Khanza melakukan visit ke pasiennya.


Saat ini dia sudah berada di pasien ketiga yang berada di kamar super eksklusif. Pasien titipan Rakha. Seorang nenek yang berusia hampir enam puluh tahun dengan banyak penyakit komplikasi.


Baru hari ini dia bertemu dengan keluarga dari pasien itu.


Pantas ditolong, decih Khanza dalam hati.


Dari kemarin dia penasaran, ngga mungkin Rakha berbaik hati menolong dengan sangat total dan ikhlas hanya karena alasan dia melihat pasien itu seperti neneknya sendiri.


"Anggap dia nenek kamu Khanza, lagi sakit, ngga ada biaya. Cucunya hanya bisa memberikan perawatan seadanya. Apa kamu tega membiarkannya?" alasan Rakha saat dia memberikannya banyak pertanyaan yang mengandung kecurigaan.


"Cucunya cantik?" todong Khanza langsung.


"Cantik tapi masih kecil," ngeles Rakha.


"Siapa tau aja kamu sengaja menolong nenek ini karena mengharapkan cucunya," skak mat Khanza.


"Ya enggaklah. Aku menolong atas dasar peri kemanu-sia-an," tegas Rakha. Sangat meyakinkan.


Walau apa pun alasan Rakha, nenek ini memang sangat membutuhkan pertolongan.


Tapi sekarang kebuktikan, kalo Rakha menolong nenek ini karena mengharap sesuatu. Ada udang dibalik bakwan yang sering dia makan di kantin rumah sakit.


Keduanya saling bertatapan. Gadis itu cukup cantik dalam kesederhanaannya. Dari penampilannya, dia seperti seorang pengajar.


Khanza pun mengalihkan pandangannya saat perawatnya memberikan laporan tensi yang sudah diukur.


"Hemm," gumam Khanza.


Masih tinggi, batinnya lagi


"Dokter, saya Fika, ini nenek saya," katanya mengenalkan diri. Agak gugup. Membuat Khanza merasa curiga.


Apa hubungannya dengan Rakha, ya?


"Khanza," sahut Khanza ramah.


Fika nampak lega mendapat sambutan ramah dari dokter muda dihadapannya.


"Dokter, bisa kita bicara sebentar," tanya Fika dengan pelan. Gesturnya tampak ngga nyaman.


"Ya?" Khanza langsung mengajaknya agak menjauh dari kedua susternya.


Khanza kini diam menunggu apa yang akan disampaikan gadis itu padanya.


"Bisakah saya memindahkan kamar yang biasa saja untuk nenek saya?" tanyanya penuh harap. Seperti sedang tertekan membuat Khanza curiga kalo sahabat tengilmya sudah melakukan sesuatu hal yang buruk padanya.


Tapi Khanza sedikit ragu, ngga mungkin Rakha mendapat kesulitan yang berarti dengan gadis ini. Rakha itu pakar. Dia setipe sama yang lainnya.


Tapi mengingat keadaan Aqil tadi malam, Khanza sedikit menyangsikan kepakaran keduanya sekarang.


"Kenapa? Bukannya biaya nenek kamu sudah ditanggung oleh teman kamu. Emm... siapa, ya, namanya.... Kok, saya agak lupa?" pancing Khanza seolah benar benar lupa.


"Rakha, dokter. Namanya Rakha," sahut Fika cepat.


"Ya, itu dia," kata Khanza berlagak baru ingat. Padahal dalam hati dia tertawa.


Ngga mungkin dia bisa lupa sama sahabat tengilnya. Dia hanya akting saja.


"Saya merasa ngga enak dengannya, juga nanti apa kata keluarganya. Dia menghamburkan uangnya untuk kami," ucap Fika memberikan alasan yang secara psikologis mengena di hati Khanza


Ya, apa kata Tante Rain dan Om Reno jika tau putranya sangat perhatian merawat seorang nenek dari seorang gadis.


Pasti keduanya langsung bersuka cita karena anak laki lakinya sudah tobat dan berniat memberikan mereka seorang menantu.


"Saya rasa keluarganya ngga apa apa. Mungkin anda berpikir terlalu jauh," sanggah Khanza tenang.


"Tapi.... " katanya mengambang. Ini sudah hari kedua. Jika sampai besok dia ngga bisa membayar, laki laki itu akan meminta pertanggung jawaban di hari kempat.


Dengan uang beasiswa yang belum turun saja, ditambah uang tabungannya, belum juga bisa membayar harga kamar ini per malamnya.


Tapi dia ngga mungkin menuruti keinginan ngga wajar laki laki itu.


Padahal, kan, bisa dicicil dengan uang. Memang agak lama. Tapi ini, kan, bukan keinginannya. Kenapa laki laki itu egois sekali.

__ADS_1


Padahal dia bisa mendapatkan perempuan mana pun yang dia mau. Kenapa harus dirinya?


Khanza dapat melihat kebingungan dan kepanikan di wajah Fika. Semakin yakin kalo Rakha pasti punya tujuan tertentu.


"Apa kamu satu satunya keluarga dari nenek ini?" Dia menatap iba pada cucu nenek yang dibilang Rakha masih anak kecil. Padahal Khanza yakin, mereka memiliki selisih umur yang ngga jauh beda.


"Iya, dokter. Cuma saya keluarga satu satunya."


"Ngga punya orang tua atau saudara?"


"Orang tua saya sudah meninggal setahun yang lalu. Kecelakaan lalu lintas. Kami hanya tinggal berdua saja," jelas Fika lagi


Khanza melirik perawatnya yang memberikan isyarat kalo sudah menyelesaikan tugasnya. Dia pun masih harus berkeliling.


"Saya mengerti dengan ketakutan anda. Tapi tentu anda ingin mendapatkan perawatan terbaik untuk.nenek anda, kan? Apalagi sudah ada yang menanggung. Maaf, saya harus visit ke pasien yang lain. Jika ingin memgobrol, bisa datang ke ruangan saya," kata Khanza sambil melihat dua.orang perawatnya yang sudah mendekat.


"Oh, iya, dokter. Maaf sudah mengganggu waktunya,"kata Fika maklum.


Khanza hanya tersenyum sambil beranjak pergi dengan banyak tanya. Sebenarnya dia ingin bertanya lebih jauh tentang hubungan cucu nenek itu dengan Rakha. Tapi tugas visitnya menghalanginya.


Semoga aja gadis itu mencarinya ke ruangannya.


Baru saja dia merampungkan tugas visitnya, ternyata Zayra dan Kendra sudah menunggunya di depan ruangannya.


"Haaiii," sapa Zayra riang ketika Khanza sedang berjalan mendekat.


"Gimana kabar ponakan, tante?" tanya Khanza ngga kalah senangnya bertemu dengan Zayra.


"Alhamdulillah dia baik baik saja. Kita baru aja dari dokter Gita," sahut Zayra sambil ikut masuk ke dalam ruangan Khanza. Kendra juga mengikuti dalam diam.


"Syukurlah, aku senang dengarnya."


"Mau lihat fotonya? Td sempat di cetak hasil usgnya," kata Zayra sambil mengulurkan amplop berwarna coklat.


Khanza tersenyum.


Paling hanya biji kacang yang bisa dilihat, batinnya tertawa.


Tapi demi ngga mengecewakan sahabat terdekatnya, Khanza pun melihatnya dengan senyum terkembang.


Kendra menahan tawa melihat ekspresi bahagia Zayra yang dibalas sabar oleh Khanza. Tentu Khanza tau kalo yang sekarang belum berwujud anak. Tapi demi kebahagiaan Zayra, Khanza melayaninya dengan tulus.


Sekarang aja orang tua mereka sudah merasa amat sangat bahagia. Apalagi nanti kalo cucu mereka sudah hadir ke dunia.


"Oh iya, tadi malam Aqil ke sini," cicit Khanza setelah Zayra menyimpan foto usg calon bayinya dam Kendra.


"Ngapain dia ke sini?" tanya Kendra akhirnya bersuara.


Khanza tersenyum, baru tersadar kalo topik ini kurang pantas dia sampaikan. Kecuali kalo hanya berdua Zayra saja. Dia terlupa ada Kendra.


"Tanya Klalil aja, ya. Biar dia yang kasih tau," tawa Khanza agak malu.


"Kenapa bukan kamu aja yang menyampaikan, Za?" tanya Zayra pemasaran.


Khanza menggeleng cepat dalam tawanya.


"Kalil juga tau?" tanya Kiano mulai tertarik. Rasanya lebih seru kalo dengar dari Kalil.


"Iya, Kalil juga ada di sini waktu Aqil datang," jelas Khanza.


"Kamu nanti aja aku wa," bisik Khanza pada Zayra yang terlihat kecewa.


Senyum pun kembali terkembang lebar di wajah Zayra.


"Kamu belum ngidam apa apa?" tanya Khanza mengalihkan topik.


"Belum."


"Ngidam pentahouse aja," kikik Khanza. Zayra ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


Ada ada aja, batinnya.


"Boleh, kan, Ken?" tanya Khanza dalam tawanya.


"Boleh. Apa aja boleh," jawab Kendra sambil mencubit gemas sebelah pipi Zayra.

__ADS_1


Wajah Zayra merona dalam tawanya.


*


*


*


Khanza


Si Aqil tadi malam hampir ditonjok Kalil.


^^^Zayra^^^


^^^Kok, bisa?^^^


Khanza


Dia minta aku cek batangnya, impoten apa engga


^^^Zayra^^^


^^^Astaghfirullah^^^


^^^Ada ada aja^^^


Khanza


Katanya tadi malam batangnya ditendang sama cewe pas mau buat anak


(Khanza sengaja menambahkan beberapa kata dalam chatnya biar tambah seru)


^^^Zayra^^^


^^^Ya Allah^^^


^^^Anak itu ngga kapok kqpok. Padahal udah sering diingatin jangan ML sebelum nikah^^^


Khanza


Semoga abis ini dia kapok. Tadi malam Aqil kelihatan stres banget.


^^^Zayra^^^


^^^Semoga. Tapi kenapa Kalil mau nonjok Aqil?^^^


Khanza


Aqil maen buka celana aja. Minta aku cek batangnya


^^^Zayra^^^


^^^Ya, ampun, Khanza.^^^


^^^Wajarlah kalo Kalil marah hahaha.....^^^


Khanza


Hahahaha.....


"Kenapa, yang, kok, ketawa?" tanya Kendra heran sambil melirik Zayra. Mereka baru saja keluar dari parkiran rumah sakit.


Begitu masuk ke dalam mobil, ponsel Zayra terus berdentang. Ada notifikasi pesan yang masuk.


"Khanza ngirim pesan kalo itunya Aqil ditendang sama cewe, Ken," jelas Zayra agak malu. Dia pun mengganti kata batang dengan yang kebih terdengar wajar.


Sekarang dia baru ngerti kenapa tadi Khanza ngga mau cerita. Pasti malu karena ada Kendra. Dia aja yang istrinya sebenarnya malu pas ngasih taunya.


Hanya saja kalo ngga dikasih tau, takutnya akan membuat Kendra berpikir aneh aneh dan jadi curiga padanya.


Kendra tergelak mendengarnya. Dia belum sempat menanyakan pada Kalil, tapi rasanya udah ngga perlu lagi.


"Aqil takut jadi impoten," tambah Zayra lagi dengan senyum yang terkembang, dan rona wajahnya yang memerah malu.


"Ada ada aja, si Aqil," sambungnya lagi.

__ADS_1


Tawa Kendra makin ngga bisa berhenti. Apalagi jika dia membayangkan wajah menderita dan malunya Aqil.


Bisa bisanya ditaklukkan cewe. Jadi pengen tau cewe yang udah mengkick juniornya Aqil. Tawa Kendra pun terus menguar tanpa henti.


__ADS_2