After The Heartbreak

After The Heartbreak
Karena Dhafi


__ADS_3

"Aduuuh," keluh Khanza ketika melihat ban mobilnya seperti gembes.


"Kurang angin atau bocor halus, ya?" gumamnya pelan.


Padahal dia sudah mau pergi ke tempat Zayra, ngga mungkin kan ke bengkel dulu ngurusin ban.


Selagi masih mondar mandir di depan mobilnya, Khanza melihat Pak Man, salah satu supir keluarganya yang lewat depan garasi.


"Pak Man," panggil Khanza sambil melambaikan tangannya.


"Iya, nona muda," sahit Pak Man ketika mendekat.


"Pak, tolong bawakan mobilnya ke bengkel ya. Tambah angin," kata Khanza sambil menyerahkan kunci mobilnya.


"Bannya gembes ya, nona muda?" tanya Pak Min sambil melihat kasian pada ban depan nonanya yang jadi masalah.


"Iya, Pak. Oiya pak, bilang Dhafi kalo Audinya saya bawa, ya," ucap Khanza dengan senyum manis di bibirnya.


"Oh iya, nona muda. Nanti saya sampaikan," kata Pak Man menyahuti.


"Makasih, ya, pak," ucap Khanza lagi sebelum pergi ke arah Audi yang terpakir ngga jauh dari mobil daddynya.


"Sama sama nona muda. Hati hati muda," balas Pak Man mengingatkan.


Khanza mengangguk.dengan bibir yang melengkung manis.


Pak Man terus menatap putri majikannya yang kini sudah masuk ke dalam mobilnya melajukan meninggalkan garasi.


Seingatnya mobil Audi milik nona mudanya sangat jarang bahkan hampir ngga pernah dipake. Malah tuan muda dan adik bungsu nona mudanya yang sering menggunaka mobil Audi itu. Nona muda Khanza malah lebih suka kemana mana dengan mobil yang sudah cukup uzur. Mungkin karena kepaksa aja nona mudanya menggunakan mobil Audinya.


Pak Man sudah bekerja sejak Glen-daddymya Khanza masih SMA. Walaupun selalu semaunya, tapi Glen sampai ke putra putrinya selalu sopan dengan orang orang yang membantu di rumah.


Menurutnya mereka semua hanya manja saja, tapi adab kesopanan pada yang lebih tua tetap dijaga.


Karena itu beliau betah. Bahkan istri dam putranya juga ikut bekerja dengan Tuan Glen. Putra tunggalnya disekolahkan dan sudah bekerja di perusahaan Tuan besarnya.


Sekarang tugas Pak Man mencari tuan muda Dhafi untuk menyampaikan pesan nona mudanya agar nanti ngga mencari mobil Audi yang sudah dibawa pemiliknya.


Ternyata tuan mudanya sedang berada di ruangan gymnya.


"Maaf mengganggu tuan muda," panggil Pak Man ketika melihat tuan mudanya baru saja mengelap keringatnya.


"Ya, Pak Man?"


"Tadi nona muda Khanza nitip pesan agar disampaikan ke tuan muda kalo mobil Audinya dibawa nona muda."


"Oooh, oke. Makasih, Pak," sahut Dhafi sambil mengelap keringat di lengannya.


"Saya permisi, tuan muda. Mau bawa mobil nona muda ke bengkel," pamit Pak Man.


"Mobil kakak kenapa, Pak?" tanya Dhafi tertarik. Ngga biasanya kakaknya meminta orang lain untuk menghandle mobilnya. Pasti kakaknya sedang terburu buru.

__ADS_1


"Ban depannya gembes, tuan muda."


"Oooh," senyum Dhafi mengiringi kepergian Pak Man.


Ngga nyangka, kakak perempuannya teliti banget dengan mobilnya. Mobil kesayangannya tepatnya.


Drrrt! Drrrrt! Drrrrt!


Dhafi pun meraih ponselmya yang bergetar. Ternyata sekertarisnya.


"Pak, jangan lupa meeting jam sepuluh pagi ," kata sekertarisnya mengingatkan.


"Iya," sahut Dhafi kemudian menutup sambungan telponnya. Kemudian dia melirik jam dinding di ruangan gym. Dua jam lagi.


Yah, masih cukup waktu, batinnya kemudian berjalan santai ke luar ruangan gym. Tapi baru tiga langkah, geraknya melap keringatnya terhenti. Bahkan handuk kecil itu pun jatuh ke lantai.


"Adoooh!" seru Dhafi sambil menepuk jidatnya.


Laptop buat meeting ada di dalam mobil Audi!


Dan mobil itu sudah dibawa kakaknya, sang pemiliknya!


Dhafi pun menelpon kakaknya. Tapi sudah berkali kali ngga tersambung. Sudah jelas kakaknya ngga mau diganggu!


Dhafi memijat kepalanya yang terasa mulai pusing.


Dengan perasaan segan dia pun mencoba menelpon Kak Zayra. Dan telponnya pun ngga diangkat.


Habislah dia!


Dia pun mencoba menelpon Kak Zayra lagi. Walaupun terkesan ngga tau diri, tapi dia terpaksa melakukannya.


"Halo."


Dhafi rasanya ingin salto saking senangnya karena telponnya diangkat juga oleh kak Zayra. Untuk kesekian kalinya.


"Maaf, kak, aku terpaksa banget mengganggu kakak," sambar Dhafi cepat dan penuh rasa bersalah.


"Ngga apa apa. Maaf juga ya, kakak baru tau kalau kamu nelpon. Bahkan udah tiga kali. Pasti penting banget, ya."


Pantas Kak Kendra kesengsem banget dengan Kak Zayra. Harusnya Kak Zayra merasa kesal seperti kakaknya itu, karena pasti merasa terganggu banget dengan panggilan panggilan telponnya. Padahal dai pasti sedang sibuk sibuknya karena besok akan menikah. Tapi Kak Zayra sangat sabar dan lembut. Malah meminta maaf padanya.


Sayang sekali, perempuan sesabar dan selembut ini cuma ada satu saja stoknya dan bentar lagi akan dimiliki Kak Kendra. Kak Kendra memang sangat beruntung.


"Iya, kak. Gini, nanti Kak Khanza, kan, ke rumah Kak Zayra. Minta tolong Kak Khanza antarkan laptop yang ada di mobilnya ke perusahaan Kak Kalil, ya, kak. Aku mau meeting di sana jam sepuluh," jelas Dhafi panjang lebar.


"Kalil?"


"Iya, kak. Laptopku ada di dalam mobil yang Kak Khanza bawa. Padahal aku ada meeting dua jam lagi di perusahaan Kak Kalil. Sekarang aku mau siap siap mandi, Kak. Aku ngga bisa ambil di rumah Kakak, pasti telat ntar," ujar Dhafi setengah memohon.


"Oke, oke. Nanti kakak sampaikan."

__ADS_1


"Makasih, ya, Kak Zayra. Aku minta maaf banget, nih, sudah merepotkan Kak Zayra. Pasti Kak Khanza bakal ngomel ngomel ntar."


Terdengar tawa renyah Zayra


Itu sudah pasti. Apalagi sampai harus ketemu Kalil, batin Zayra agak prihatin sebenarnya.


"Ya udah. Kakak tutup dulu, ya. Umi udah manggil."


"Oke, kak. Makasih banget ya. Semoga lancar acaranya, ya, kak," do'a Dhafi tulus. Dia benar benar merasa terbantu. Pasti Kak Khanza akan menurut pada Kak Zayra.


Telpon pun ditutup Zayra. Karena tadinya dia hanya berniat sebentar saja masuk ke kamarnya. Ngga nyangka ada telpon yang sudah berkali kali dari Dhafi.


Hatinya gundah. Gimana caranya ngasih tau Khanza. Pasti Khanza akan nolak banget ketemu Kalil.


Ngga lama kemudian Khanza pun datang. Dan benar saja, Khanza menolak mentah mentah untuk mengantar laptop adiknya ke Kalil.


Bahkan sekarang Khanza sedang mengomeli adiknya di telpon. Zayra meminta wakru sebentar pada uminya untuk menemeni Khanza, agar bisa meredam kemarahannya.


"Oke, akan aku suruh ojek online yang antar," putus Khanza dalam emosinya.


Gimana Khanza ngga kesal. Setelah sekian lama ngga pake mobilnya sendiri, sekalinya dipake malah ketiban apes seperti ini.


"Ngga bisa, kak. Laptopku bamyak file rahasianya," sahut Dhafi panik. Ngga mungkin dia membiarkan laptopnya di bawa ojek online. Kalo hilang, dia ngga bakal bisa mempertanggungjawabkan pada daddy mereka.


"Kak, aku beneran minta maaf. Tapi aku mohon, kakak yang langsung antarkan. Setelah itu kakak minta apa pun aku turutin. Sujud pun aku mau, kak," mohon Dhafi mengiba.


"Huhhh!" Biarpun kekesalannya sudah naek di ubun ubun, Khanza ngga tega juga mendengar kata kata memelas adiknya.


"Ya udah, aku pergi sekarang. Aku cuma kasih laptop ke kamu, kan," kesal Khanza mengalah.


"Iya, kak. Kalo aku belum sampe, titip ke Kak Kalil aja."


BLARR!


Khanza langsung merinding mendengar nama Kalil.


"Hemm....!" dengusnya kesal sambil menutup telpon.


"Zayra, aku pergi dulu, ya. Setelah ngantar laptop, aku segera kembali," pamit Khanza.


"Supir rumah sedang pergi di suruh umi. Apa abi aja yang ngantar, ya? Kayaknya abi mau ke perusahaan juga bentar. Kan, ngelewatin perusahaannya Kalil," usul Zayra memberi alternatif. Zayra sangat mengerti kalo Khanza pasti ngga mau ketemu Kalil, apalagi dia sendirian.


"Enggaklah. Aku sendiri aja," tolak Khanza tegas. Ngga mungkin dia minta tolong Om Regan. Pasti sangat ngga sopan. Apa ntar kata daddynya.


"Aku temanin, ya," kata Zayra menawarkan. Dia agak khawatir aja.


"Nggak. Kamu ngga boleh pergi pergi. Aku bisa sendiri," tolak Khanza lagi.


Khanza ngga akan merepotkan Zayra. Sangat beresiko jika Zayra ikut dengannya menjelang satu hari lagi pernikahannya.


Hal hal buruk bisa saja terjadi

__ADS_1


"Tapi kamu hati hati, ya," ucap Zayra ngga tega juga melepas Khanza.


"Tenang. Aku hanya pergi nemuin Kalil. Bukan pergi tawuran," kekeh Khanza membuat Zayra pun tertawa.


__ADS_2