After The Heartbreak

After The Heartbreak
Masih bersama calon pengantin


__ADS_3

Sekarang Khanza dan Salma ikutan nyalon, efek nemenin Zayra dan Kendra. Kendra pun hanya melakukan perawatan rambut saja. Mereka akhirnya berpisah sebentar.


Sementara Zayra dan Salma masih menaksa Khanza untuk ikut semua perawatan sampai luluran. Seperti yang akab di lakukan Zayra. Awalnya Khanza menolak. Dia agak risih jika harus dilulur orang lain. Khanza sudah biasa melakukannya sendiri di rumah, tepatnya di kamar mandi. Seminggu sekali dia pasti luluran dengan lulur yang dijual di supermarket.


"Aku creambath sama manipedi aja," tolak Khanza.


"Ngga apa, Kak. Kita ambil paketnya semua. Biar manglingi nanti pas acaranya," kata Salma enteng. Dia sudah terbiasa melakukannya. Begitu juga spa dan message. Terutama setelah capek latihan dan tanding. Biar pegal pegalnya tubuhnya cepat hilang dan bugar kembali.


"Ngapain juga aku manglingi, Salma. Kan, bukan aku yang jadi pengantinnya," cela Khanza dengan senyum lebar.


Ada ada saja, batinnya.


"Ngga apa, Kak Khanza. Biar nanti kita langsung dapat pacar, kak. Tamunya ntar high class semua loh," lanjut Salma mempengaruhi.


Khanza dan Zayra jadi tertawa mendengarnya.


"Yang jomblo," kekeh Zayra menggoda. Salma.pun tertawa.


"Namanya juga usaha, Kak," kekeh Salma.


Akhirnya karena malas mendebat Salma lagi, Khanza pun setuju dan mengikuti semua perawatan yang akan dilakukan Zayra.


Bukan karena mau dapat pacar. Bukan, bantah Khanza dalam hati mengoreksi persetujuannya.


Hampir dua jam mereka membuat Kendra menunggu.


Tapi laki laki tampan itu ngga marah. Dia tersenyum senang melihat wajah Zayra yang tampak lebih bening dan bersinar.


Cantiknya, batinnya memuji.


"Kita makan dulu, ya," ajak Kendra sambil melihat jam di tangannya. Mereka sudah cukup terlambat dari jam makan siang.


"Oke."


Mereka pun mampir di restoran mewah yang terletak ngga jauh dari salon bonafide itu berada.


Saat keempatnya sedang menikmati makanan yang sudah tersedia, sapaan Kalil membuat keempatnya menoleh.


Kalil sedang bersama dengan teman bisnisnya yang tentu saja mengenal Kendra dan Zayra. Karena perushaan mereka pernah terlibat dalam kerjaan yang sama beberapa kali.


"Baru makan siang?" tanya Kalil sambil melirik Khanza yang terlihat lebih cantik dari biasanya.

__ADS_1


Mengapa dia kelihatan lebih segar? Selidik Kalil dalam hati.


Dia pun menarik kursi ke sebelah Khanza yang tetap cuek dengan hidangan seafoodnya.


"Iya. Nih baru selesai. Kalian meeting di sini?" tanya Kendra pada teman Kalil, Robi yang seusia dengan mereka.


"Iya. Ini kamu sama siapa aja?" tanya Robi ramah, sambil menarik kursi ke samping Kendra.


"Ini adek gue Salma. Dan ini sahabat kita, Khanza," ujar Kendra memperkenalkan.


"Oooh," senyum Robi pada Salma dan Khanza.


Salma dan Khanza hanya mengangguk kecil membalas senyum Robi. Mereka masih berkonsentrasi penuh dengan seafood masing masing.


"Nih," kata Kalil sambil melepaskan capit kepiting dengan gunting khusus. Dia pun memberikannya pada Khanza.


"Makasih," sahut Khanza singkat sambil menerimanya tanpa malu malu.


"Hati hati makannya. Itu masih ada cangkangnya," kata Kalil mengingatkan.


"Iya tau."


Kening Robi agak mengernyit melihatnya. Perlakuan Kalil terhadap sahabatnya yang bernama Khanza sangat lembut. Terkesan istimewa.


Sahabat rasa pacar? batin Robi geli.


"Kalian pesan aja," kata Kendra menawarkan pada keduanya.


"Gue udah kenyang," tolak Kalil sambil membuka lagi capit kepiting dan menyerahkannya pada Khanza yang selalu saja menerimanya. Karena memang sudaah kebiasaan Kalil, jika mereka makan seafood, dia akan membantu Khanza membuka capit kepiting yang merupakan kesukaan Khanza.


"Gue juga udah," sahut Robi sambil melirik Khanza.


Dia semakin tertarik. Bukan dia ngga kagum dengan Salma yang juga sangat cantik, hanya saja gadis itu terlihat jauh lebih muda. Robi merasa juga pernah melihatnya. Tapi dia lupa melihatnya dimana.


Tapi sikap Kalil pada Khanza yang beda membuat dia lebih tertarik dan mencoba menilai gadis ini.


Walau terlihat aura judes yang sangat jelas, tapi kecantikannya terpancar utuh. Ngga perlu harus menggunakan make up tebal. Hanya sedikit bedak dan lipstik warna pink saja sudah membuat gadis di depannya sangat menarik.


Robi juga dapat melihat sikap lembut dan penuh perhatian Kendra pada calon istri dan adiknya. Sama seperti Kalil, Kendra pun membukakan capit kepiting untuk Zayra dan Salma. Begitu juga dengan udang galahnya. Kendra pun melepaskan kulitnya dan memberikan udang bakar tanpa kulit itu pada keduanya.


Tentu saja masih jelas dalam ingatan Robi, gosip panas yang sempat mengusik hubungan keduanya. Bahkan keduanya sampai harus masuk rumah sakit atas perbuatan seseorang yang begitu dalam mencintai Kendra.

__ADS_1


Wajar banyak yang cemburu melihat keduanya. Robi pun terkejut dengan pilihan Kendra. Ngga disangkanya Kendra bisa menyukai tipe seperti Zayra. Tapi Zayra memang cantik sekali. Wajar kalo Kendra naksir berat. Ditambah katanya mereka sahabat sejak kecil.


"Khanza juga mengurus perusahaan?" tanya Robi mencoba mengakrabkan diri.


Kalil sampai menolehkan kepalanya dan menatap Robi atas pertanyaan yang keluar dari mulut rekan bisnisnya itum


Kenapa dia kepo, batin Kalil mendadak ngga suka.


"Kak Khanza dokter," kata Salma memberitau.


"Ooo," respon Robi kagun dengan senyum di bibirnya. Nilainya jadi bertambah di mata Robi.


"Dia kakaknya Dhafi," kata Kendra lagi memperjelas status Khanza.


Mata Robi sedikit mengerjap ketika tau siapa Khanza.


"Kenapa lebih milih jadi dokter dari pada bantu Dhafi di perusahaan?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Robi sedikit berharap kalo Khanza yang akan menjawab.


"Cita citanya," malah Kalil yang menjawab, padahal Khanza sudah siap untuk membuka mulutnya untuk menjawab.


Robi menahan sedikit rasa kecewanya. Perasaannya aneh karena merasa Kalil begitu


posesif pada Khanza.


"Kalil, lo ngga balik ke perusahaan?" tanya Robi sambil melihat jam tangannya. Dia juga harus kembali ke perusahaannya.


"Oh iya. Oke, Kenan, Zayra, Khansa, Salma. Gue masih ada kerjaan lain," pamit Kalil sambil meletakkan gunting khusus itu. Sudah ada beberapa capit kepiting yang diia bukakan untuk Khanza.


"Oke. Hati hati di jalan," ucap Kendra. Sedangkan Zayra dan Salma hanya tersenyum tipis. Khanza malah nampak ngga peduli.


"Hati hati bibir kamu nanti bengkak, Khanza," canda Kalil.l sambil melangkah pergi. Ada senyum di bibirnya ketika melihat wajah manyun Khanza. Itu semua ngga lepas dari pengamatan Robi.


"Kalian seperti orang pacaran," cetus Robi ketika keduanya sampai di samping mobil masing masing yang hanya bersebelahan letaknya.


Kalil tertawa menanggapinya sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Sudah banyak.yang menduga begitu bro, batinnya jumawa.


Moodnya berubah jadi senang dan bahagia ketika melihat Khanza tadi.


Tadi keduanya sedang membahas anggaran biaya yang harus dipangkas sambil akan berjalan keluar dari resto. Agar proyek yang mereka kerjakan lebih optimal. Tapi Kalil malah melihat kehadiran Khanza. Makanya dia putuskan untuk menghampiri, karena ada Kendra, Zayra dan Salma juga.

__ADS_1


__ADS_2