
"Kendra, nanti malam kita akan menghadiri undangan relasi papi. Kamu bisa, ya," ujar Kiano setelah menyelesaikan sarapan nasi gorengnya.
Kendra masih menunggu lanjutan omongan papinya sambil menyuap sendok terakhir nasi gorengnya. Dalam hati dia ngga berminat.
"Katanya dalam rangka menyambut kedatangan putrinya yang baru saja mendapat penghargaan sebagai pianis berbakat di kompetisi Internasional di Singapura," sambung Kiano lagi menjelaskan.
"Hebat juga, ya," puji Aruna tulus.
"Iya. Katanya, sih, anaknya maen piano terinspirasi oleh seseorang yang berkesan gitu, yang," tambah Kiano lagi.
Aruna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Oooh, pacarnya, kali, ya, pap," respon Salma lalu menggigit telor ceploknya.
Kendra yang baru saja menyelesaikan sarapannya menatap papinya agak malas.
"Kan, papi sama mami udah datang. Apa Kendra masih perlu ikut juga," tolaknya sambil mengambil tissu.dan mengusap bibirnya.
"Ini undangannya bersama keluarganya. Teman teman kamu juga kayaknya diundang," sambung Kiano lagi.
"Coba kamu tanya mereka," ujar Aruna sambil memberikan segelas air mineral pada Kiano, suaminya.
"Iya, mam."
"Kamu mau jemput Zayra?" tanya Aruna ketika melihat putranya sudah berdiri bersama suaminya. Mereka akan segera berangkat ke tempat kerja masing masing.
"Cie cieee.... " goda Salma yang sudah rapi sambil melirik nakal kakak super gantengnya.
"Kamu, ini," larang Kiano-papanya sambil menggelengkan kepalanya.
Salma melebarkan cengirannya. Sungguh dia penasaran dengan hubungan Kakaknya dengan Kak Zayra. Saat mengobrol malam itu, semuanya ngakak mendengar cerita Kak Kalil, tapi kakaknya dan Kak Zayra hanya tersenyum sangat tipis.
Aruna hanya tersenyum melihat sikap putri bungsunya yang menggoda kakak laki lakinya.
Kendra terdiam. Setelah pertunangan mereka malam kemarin, hubungan Kendra dan Zayra malah semakin canggung. Mereka bahkan belum sempat ngobrol berdua.
Apalagi Khanza dan yang lainnya juga selalu menimbrung ikut ngobrol dengan mereka. Malah akhirnya Khanza dan Kalil cs yang asyik sendiri dengan topik mereka.
"Kendra telpon dulu, mam," katanya sambil mengambil ponselnya dan menekan nomer Zayra.
"Ya, sayang," sahut Aruna dengan senyum senangnya. Kendra memang anak yang penurut dan ngga pernah membantah dirinya.
"Emm... kamu udah berangkat?" tanya Kendra begitu telpon sudah tersambung. Kendra berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.
"Belum....." jawab Zayra agak ragu. Jantungnya berdebar kencang begitu tau Kendra menelponnya.
Enam tahun mereka ngga bertemu dalam perpisahan yang rumit Kini mereka bertemu dan langsung bertunangan. Rasanya agak aneh karena setelah sekian lama ngga mendengar suara Kendra di telpon.
"Oke, aku jemput, ya," putus Kendra kemudian menutup sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban Zayra.
Kendra juga gugup, selain itu dia juga harus buru buru ke perusahaannya. Papimya mengajaknya untuk ikut meeting.
"Mami, papi, Kendra jemput Zayra dulu, ya," pamitnya sambil menyalim tangan keduanya.
"Oke, hati hati," balas Aruna. Kiano hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu jangan salah diagnosa pasien," ledek Kendra pada Salma-adiknya .
"Ya enggak lah," bantah Salma pe-de.
Kendra tersenyum sambil mengacak poni adiknya sebelum berbalik pergi membuat Salma menampilkan bibir manyunnya.
"Udah rapi, Kak," sungutnya sambil merapikan lagi rambutnya.
Sementara Zayra menatap ponselnya lama, dengan debaran yang masih terasa di dadanya. Padahal Kendra sudah menutupn telponnya sejak tadi. Bahkan dia belum bilang ya atau engga tapi Kendra sudah langsung menutup telponnya.
Gimana, ni? batinnya mendadak gugup. Zayra menatap resah cincin bermata berlian kecil di jari manisnya. Warna cincinnya mendekati pink. Terlihat sangat indah di jati tangannya yang berkulit putih bening.
"Sayang, Hafi jemput, tuh," ucap uminya-Dinda sambil menunjuk ke arah Hafi yang sedang berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Emm... Kendra mau jemput, Umi," ucap Zayra malah jadi bingung.
Ngga enak kalo harus menolak Hafi yang udah datang tanpa memberitahukannya lebih dulu, tapi bentar lagi Kendra akan datang menjemput.
Gimana ya?
"Oooh, Kendra mau jemput?" tanya Dinda dengan senyum menggoda karena melihat Zayra yang tampak malu malu.
"Iya, umi."
"Oh, ngga pa pa kalo gitu. Syukurlah. Aku agak khawatir aja kalo kamu nyetir sendiri," jawab Hafi yang sudah mendengar obrolan keduanya.
Dia pun menyalim tangan umi Dinda.
"Maaf ya, Fi," ucap Zayra agak ngga enak hati karena terpaksa menolak.
"Ngga pa pa. Jadi aku ngga perlu khawatir lagi sama kamu. Kalo ada apa apa, kamu bisa hubungi aku," jawab Hafi lugas.
"Terima kasih, ya, Hafi," ucap Dinda lembut.
"Sama sama tante. Saya pamit dulu kalo gitu," pamit Hafi sambil berbalik dan melangkah ke luar rumah. Tempat mobilnya di parkir. Zayra menjejeri langkah Hafi.
Ketika Hafi sudah sampai di depan mobilnya dan akan membuka pintu mobil, mobil Kendra memasuki halaman rumah Zayra.
Hafi ngga jadi masuk ke dalam mobil dan mengikuti arah pandangan Zayra.
Mobil Kendra pun parkir persis di belakamg mobil Hafi. Laki laki itu pun.dengan tenang keluar dari mobilmya dan menghampiri Zayra yang berada di dekat Hafi.
Saat kedua laki laki tampan itu saling berhadapan, Hafi langsung mengulurkan tangannya bersahabat pada Kendra yang tampak berdiri kaku.
Kendra pun memyambuti uluran tangan itu.
"Hafi."
"Kendra."
Kembali keduanya bersitatap penuh makna.
"Iya, hati hati," sahut Zayra dengan senyum tipis di bibirnya.
Mobil Hafi pun bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah Zayra.
"Kamu udah sarapan?" tanya Zayra saat melihat wajah Kendra yang masih fokus melihat kepergian mobil Hafi.
"Udah. Kenapa kamu ngga bilang mau pergi sama dia? Aku ngga apa apa, kok," sahut Kendra kini menatap Zayra lekat.
Penampilan Zayra masih seperti dulu..Tetap cantik dan modis dengan hijabnya. Setelan kerja yang dia gunakan tampak membuatnya lebih cantik dan dewasa.
"Enggak tau tadi tiba tiba jemput aja. Katanya takut aku belum hapal jalan, makanya mau ngantarin" jawab Zayra pelan dan hati hati agar Kendra ngga salah paham.
"Oooh."
"Tasnya, nona," ujar Bik Lani sambil memberikan tas tangannya.
"Terima kasih, bik." ucapnya lembut sambil meraih tas itu.
"Eh, Kendra udah datang," sambut Dinda yang baru saja mendekati mereka.
"Tante," ujar Kendra sambil menyalim tangan Dinda-uninya Dinda.
"Om udah berangkat, tante?" tanya Kendra yang ngga melihat Regan-abinya Dinda.
"Iya, pagi pagi banget tadi. Maklum, kan, udah lama banget ngga ke perusahaan," senyum Dinda agak melebar.
Kendra.ikut tersenyum.
"Ayo, kita berangkat," tukas Kendra pada Zayra.
"Berangkat dulu, umi," pamitnya sambil menyalim tangan uminya.
__ADS_1
"Hati hati sayang," ucap uminya sambil mengecup kening putrinya yang menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Kendra pun membukakan Zayra pintu mobilnya dan memegang bagian atas pintu mobilnya untuk melindungi kepala Zayra agar ngga terbentur.
Zayra tersipu. Kebiasaan Kendra yang dulu masih belum hilang ternyata.
Dinda pun tersenyum hangat melihatnya. Dirinya jadi teringat masa mudanya dulu saat Regan juga seperti itu padanya. Terkesan melindungi.
Mobil Kendra pu meninggalkan halaman rumah Zayra disertai lambaian tangan uminya dan Zayra.
Sepanjang perjalanan mereka masih saja diam. Kendra melirik Zayra yang hanya menatap ke arah luar jendelanya.
Saat mobilnya tadi memasuki rumah Zayra, perasaan Kendra tadi ngga enak dan sedikit gusar karena melihat laki.laki itu lagi sedang bersama Zayra. Laki laki yang dipikir Kendra adalah suami Zayra karena keduanya terlihat akrab.
"Hafi sama kamu kelihatan dekat. Kenal dimana?" tanya Kendra ngga bisa menyembunyikan rasa ingin taunya.
"Anaknya teman umi. Dia sempat beberapa tahun ke Inggris juga," jelas Zayra sambil menatap Kendra yang sudah fokus menatap ke depan.
"Oooh.... Kuliah juga di Inggris?" agak ketus Kendra menanggapi.
Pantasan akrab.
Dalam hati Kendra kesal. Selama enam tahun Zayra tanpa kabar dengannya, ternyata malah nempel dengan laki laki lain.
"Iya," jawab Zayra agak kaget mendengar nada suara Kendra yang terdengar sinis(?)
"Sering berangkat bareng?" tuduh Kendra mendadak tambah kesal.
"Bertiga. Hafi dengan calon istrinya," jelas Zayra lembut.
"Oooh," ujar Kendra datar, berusaha menyimpan rasa malunya karena sudah mencurigai Zayra memiliki hubungan dekat dengan Hafi.
Kini mobil Kendra sudah berhenti di depan perusahaan Om Regan.
"Di sini aja atau di basemen?" tanya Kendra lembut, karena tadi masih merasa bersalah.
"Di sini aja," ucapnya deg degan karena Kendra menatapnya lekat.
Karena kalo berhenti di sini, sangat dekat ke lobi perusahaan.
"Maaf," ucap Kendra pelan.
Zayra yang sedang membuka seatbeltnya jadi menoleh dna menatapnya bingung.
Kenapa minta maaf?
"Jangan keluar dulu," tahan Kendra ketika Zayra akan membuka pintu mobil.
Kendra pun memutuskan keluar duluan. Dengan gayanya yang menawan dan tentu saja menjadi pusat perhatian, Kendra membukakan pintu mobilnya untuk Zayra.
Wajah Zayra merona mendapat perlakuan istimewa dari Kendra.
Bahkan Kendra menjejeri langkah Zayra dan mengantarkannya sampai ke lift karyawan biasa. Karena Zayra akan sama seperti dirinya dan teman teman mereka. Mereka akan bekerja sebagai karyawan biasa untuk memahami ritme perusahaan keluarga mereka.
Karyawan di lobi pun ngga ada yang berani menegur, malah mereka memandang terpesona pada pasangan muda yang sangat tampan dan cantik ini.
Bahkan sekuriti pun ngga ada yang berani menyalahkan Kendra, karena mobilnya yang diparkir di halaman depan perusahaan, yang biasa ditujukan untuk CEO atau tamu tamu penting perusahaan. Karena mobil yang dipake Kendra adalah seri Lamborghini terbaru dengan warna kuning terang dan sangat mewah.
Dalam hati pun mereka sudah menduga duga siapa gadis muda berhijab yang sangat cantik dan modis ini. Karena tadi pagi ada kabar kalau putri pemilik perusahaan akan mulai bekerja.
Kendra menunggu sampai pintu lift terbuka.
"Mau diantar sampai atas?"
Zayra tersenyum sangat manis sambil menggelengkan kepalanya. Dia sudah cukup melayang akibat sikap manis Kendra. Zayra sampai lupa dengan niatnya umtuk membentengi hatinya agar ngga jatuh lagi dalam.pesona Kendra. Tapi rasanya sulit.
"Di sini aja. Kamu hati hati, ya," kata Zayra sambil melambaikan tangannya. Keduanya terus bersitatap sampai pintu lift tertutup.
Kemudian dengan cuek Kendra meninggalkan lobi perusahaan dan berjalan ke arah mobilnya.
__ADS_1
Sama sekali ngga mempedulikan tatapan para pegawai perempuan yang menatapnya memuja dan para pegawai laki laki yang iri dan kagum.
Padahal Kendra hanya memakai kemeja lengan panjang tanpa dasi dan jas, serta bercelana kain. Tapi pesona tampannya sudah tumpah ruah kemana mana.