
Atifa menatap lagi foto fotonya yang dulu sempat viral saat bersama dengan Kendra.
Terlihat mesra dan para netizen maupun guru guru dan teman teman sudah menjadikan mereka couple favorit.
Mengapa laki laki itu berubah drastis setelah Zayra pindah sekolah?
Padahal sikapnya sangat manis dan memberikan Atifa banyak harapan.
Atifa merasa sepertinya Kendra agak menyesali kedekatan mereka setelah Zayra pindah sekolah.
Bahkan Kendra menghindarinya, cenderung mengabaikannya. Atifa merasa sudah dipermainkan dan dicampakkan saat itu.
Tapi berat hatinya untuk membenci Kendra. Dia ngga bisa. Cinta di hatinya untuk Kendra sangat besar. Teman teman kuliahnya yang laki.laki belum ada yang bisa menggetarkan hatinya seperti Kendra.
Di sela sela kuliah bisnisnya di Singapura, Atifa juga sekolah musik. Dan dia memilih alat musik piano sebagai pelipur rindunya pada Kendra.
Dia pun mempelajari notasinya dengan sungguh sungguh. Mengikuti berbagai perlombaan dan meraih berbagai juara, hingga terakhir mendapat pengakuan sebagai pianis berbakat berkat keahliannya memainkan musik klasik komposer dunia dengan sangat indah. Bahkan Atifa sudah menciptakan beberapa karyanya yang sangat eksklusif. Dan beberapanya sudah diakui dan dijadikan lagu wajib pembelajaran musik di suatu sekolah. Prestasinya memang membanggakan orang tuanya.
Sejak kepindahannya ke Singapura, sudah lama dia ngga mendapat kabar tentang Kendra, begitu juga teman-tenannya. Termasuk saingan beratnya dulu Zayra.
Atifa merasa puas dengan pencapaiannya. Sekarang Zayra tampak ngga berarti apa apa jika dibandingkan dengannya.
Kini dia akan kembali. Beberapa pagelaran besar tanah air sudah mengundangnya untuk ikut tampil.
Semoga Kendra bisa terpesona padanya kini. Dia sudah lebih segala galanya dari Zayra atau perempuan lainnya. Dunia internasional saja sudah mengakui bakatnya. Tentu saja juga dengan kecantikannya.
*
*
*
Rupanya Si kembar ikut meeting juga bersana daddy mereka. Perusahaan mereka terlibat kerja sama dengan beberapa perusahaan yang sudah punya posisi di Asia dan Eropa.
"Nanti malam kalian ikut?" tanya Kalil setelah meetimg selesai. Mereka langsung berkumpul bertiga, menjauh dari para orang tua dan peserta meeting lainnya.
"Acara malam ini?" sambungnya lagi.
"Aku malas, tapi papi minta aku ikut," jawab Kendra agak malasan.
"Sama," sahut Kenan.
"Aqil, Rakha, Zayra sama Khanza ikut ngga ya?" tanya Kalil sambil mencari teman teman mereka.
"Ada Dhafi sama Om Riko," tukas Kenan menunjuk dengan matanya memberitau.
Mata Kendra menyorot tajam pada Dhafi yang sedang mengobrol ramah pada dua orang perempuan yang cantik cantik dan penampilan mereka yang cukup seksi.
Salma belum mau cerita padanya soal hubungannya dengan Dhafi, apa cuma sekadar friend zone atau sudah naek tingkat. Tapi ada selintingan yang pernah dia dengar kalo keduanya pacaran.
Dhafi seakan sadar sedang ditatap olehnya. Tapi dia mengembangkan senyum polosnya pada Kendra yang membalasnya dengan kaku.
"Si Dhafi pacaran, ngga, sih, sama Salma?" tanya Kenan berbisik.
"Salma bilangnya nggak."
"Ooh."
"Udah putus, kali," jawab Kalil penuh arti.
__ADS_1
"Mungkin juga," timpal Kendra cukup mengerti.
"Kok, bisa Khanza dan Dhafi wataknya beda banget," decih Kalil. Mengingat Khanza yang galak, apalagi dengan para laki laki. Tap Dhafi malah cassanova.
"Kayak lo dan gue," sarkas Kenan membuat Kalil tersenyum lebar.
Kendra pun tersenyum.
"Hubungan lo sama Zayra gimana?" kulik Kalil ingin tau.
Kendra ngga menjawab. Mereka masih belum ada waktu berdua untuk ngomong dari hati ke hati. Tadi pas di mobil, Kendra sudah telanjur kesal melihat kedekatan Zayra dengan Hafi. Padahal tadi kesempatannya.
"Lo harus cerita yang sebenarnya kejadian enam tahun yang lalu. Biar Zayra ngga salah paham terus. Cewe itu di atas nampaknya tenang, tapi dalamnya... panass bro,. Curiga mulu," kekeh Kalil mengakhiri nasihatnya.
Kenan dan Kendra hanya menyunggingkan senyum tipis. Mengakui kebenaran ucapan Kalil.
Gue aja masih curiga sama hubungan Dhafi dan Zayra. batin Kendra menimpali.
"Eh, daddy manggil kita," ujar Kenan yang melihat lambaian daddynya.
"Bau baunya kita akan dikenalin dengan anaknya mereka," tebak Kalil sambil nyengir.
Kenan dan Kendra hanya mengulum senyum aja.
Mereka pun mendekati papi mereka yang sedang mengobrol dengan relasi mereka. Dhafi juga ikut bergabung.
"Oh, ini putra putranya," sambut salah seorang laki laki yang sebaya dengan papi mereka.
"Alvaro," katanya ramah sambil mengulurkan tanganya pada Kendra dan si kembar.
"Kendra."
"Kalil."
"Dhafi."
Juga ada dua orang relasi lagi yang mengenalkan dirinya dan putrinya.
"Hera."
"Tara."
Ketiganya pun juga saling berjabat tangan.
"Kalian kembar?" tanya papanya Hera-Om Akhsan pada si kembar yang cukup mirip.
"Iya, Om," sahut Kalil.
"Jangan lupa nanti malam datang di pesra Om," kata Alvaro ramah sambil menatap Kendra sesaat. Rasanya pernah melihat wajah itu. Tapi lupa kapan dan dimana.
Dalam hatinya dia ingin mendekatkan putrinya dengan Kendra. Saat melihatnya saja beliau langsung merasa cocok.
Salah satu dari si kembar sebenarnya pembawaannya hampir sama dengan Kendra. Tapi dua yang lainnya, menurutnya agak nakal.
"Ya, kami akan datang," kata Alva sambil menepuk bahu Kalil yang berada di dekatnya. Agar putranya ngga ikut bicara. Karena anak itu sama seperti dirinya suka merusak suasana.
Kembali mereka tertawa dan melanjutkan obrolan tentang proyek yang akan mereka tangani.
*
__ADS_1
*
*
"Zayra, tadi kamu diantar Kendra, ya?" tanya Khanza sambil menjepit ponselnya di antara telinga dan bahunya. Dia sedang mencuci tangannya.
"Kok, kamu tau?" Zayra sampai meletakkan kertas kertas penting yang sedang di pegangnya.
Konsentrasinya selalu buyar jika nama itu disebut.
"Ya tau, dong," tawa Khanza
"Hemm...." katanya sambil melanjutkan lagi kerjaannya. Papinya meminta dia memeriksa kontrak kontrak untuk kerja sama dengan klien perusahaan papinya.
Sampai ke data material dan keuangannya. Jelimet banget.
Tapi kata kata Khanza membuat konsentrasinya buyar sedikit. Mengingat sikap Kendra yang tiba tiba marah, tiba tiba manis. Ada aliran hangat menyentuh hatinya.
"Tante Aruna tadi cerita," masih tertawa Khanza menjawab.
"Oooh."
"Gimana, gimana tadi?" tanyanya heboh.
"Ngga gimana gimana," sahut Zayra ngga ngerti.
"Kamu udah ngga marah lagi, kan, sama Kendra?" tanya Khanza setelah tawanya reda. Kali ini dia mulai serius
Tadi dia yang malah marah, batin Zayra menjawab.
Karena Zayra ngga menjawab, akhirnya Khanza menceritakan kejadian enam tahun yang lalu.
"Jadi itu tuh ulahnya Kalil. Kendra aja bego mau aja nurutin," cerita Khanza menggebu gebu.
Zayra masih terdiam.
"Jadi begitu," jawabnya kemudian.
"Iya. Setelah kamu pergi, Kendra kayak nyesal berat gitu," kata Khanza penuh semangat dalam memberikan bumbu agar Zayra percaya.
"Nyesal kenapa?" tanya Zayra dengan jantung yang berdebar aneh.
"Nyesal udah nyakitin kamu lah," tegas Khanza dengan nada suara yang mantap.
Zayra terdiam. Teringat sikap Kendra yang mengantarnya sampai ke lift.
Mengapa dia ngga jujur aja, ya.
Padahal Zayra ingin dengar langsung dari Kendra. Karena di hatinya maaih belum bisa percaya sepenuhnya pada keseriusan Kendra.
"Nanti malam daddy ngajak aku ikut ke.pesta relasinya. Tapi aku malas. Biar Dhafi aja," cicit Khanza lagi.
"Kata abi, nanti Om Riko sama Tante Meti aja yang datang."
"Oooh iya ya." Khanza malas ikut, biasanya dalam acara begituan, akan ada perjodohan bisnis.
Khanza sudah menegaskan pada daddy dan mamynya akn mencari jodohnya sendiri. Walau sekarang belum ketemu hilalnya.
Tapi gimana juga dia bisa bertemu pangeran pujaannya kalo Kalil dan Rakha selalu mengganggunya.
__ADS_1
Khanza sangat berharap agar keduanya cepat menemukan jodohnya agar dia juga bisa ketemu jodohnya.