
Khanza dan rekan rekan dokternya tersenyum melihat kedatangan orang tua dokter Fadli dan calon istrinya.
Khanza dan rekan rekan dokternya sudah cukup mengenal tunangan dokter Fadli. Namanya Irena. Dia menjadi model beberapa produk lokal yang sudah cukup terkenal.
"Kapan tante diresmikan?" tanya dokter Hari dengan senyum lebarnya.
"Maunya tante sebelum Fadli berangkat," sahut mama dokter Fadli mengerling penuh arti pada Khanza.
Khanza hanya tersenyum dengan perasaan ngga enak. Akhir akhir ini sikap mama dokter Fadli berubah seratus delapan puluh derajat padanya. Yang biasanya ramah, kini hanya ngomomg sepatah dua patah kata jika bertemu dengannya. Nadanya pun seperti menyindir. Senyumnya pun kadang dirasakan Khanza cukup sinis. Anehnya itu berlaku hanya untuknya saja.
Terhadap.yang lainnya sikap mama dokter Fadli tetap seperti biasa.
"Yang nikah teman Khanza, ya? Pantas Khanza cantik sekali," puji Mama dokter Fadli setengah menyindir.
"Iya, tente."
Kembali Khanza merasakan suara sinis mama dokter Fadli.
"Iya, dokter Khanza malam ini cantik sekali. Saya sampai pangling," puji dokter Mutia kagum. Yakin dia kalo segala yang dikenakan Khanza malam ini sangat branded.
"Saya sampai pangling," puji dokter Niko juga kagum. Dari tadi netranya ngga bisa berpalimg dari Khanza.
Walaupun keseharian dokter Khanza sudah cantik dengan penampilan standardnya. Tapi malam ini sungguh penampilan yang luar biasa.
"Betul," tambah dokter Hari setuju.
"Khanza memang sudah cantik, ma," koreksi dokter Fadli membela Khanza.
Dia tau mamanya menyindir Khanza. Untungnya teman temannya ngga memperhatikan.
Fadli sangat tau kenapa mamanya ngga menyukai Khanza sekarang. Itu karena perkataannya beberapa bulan yang lalu kalo dia menyukai dokter Khanza.
Sejak itu mamanya mulai menyelidiki siapa Khanza dan tau kenyataan kalo dokter Khanza hanya orang biasa, jauh dari standar kekayaan keluarganya.
Papanya sendiri terserah mamanya saja. Walaupun ngga akan menentang siapa pun pilihan putranya. Dan demi istri juga anaknya ngga bertengkar, beliau pun mengenalkan putri rekan bisnisnya yang langsung disetujui istrinya. Tapi ngga anaknya. Hanya saja putranya terpaksa menurut
Mungkin juga Fadli belum terlalu serius memikirkan pernikahan. Karena lebih memikirkan kuliah spesialisnya yang sudah telat setahun dari yang seharusnya.
Dan istrinya makin mangkel karena penyebab keterlambatan itu karena dokter Khanza, begitu pengakuan putra pertamanya
"Om juga pangling," kekeh papa dokter Fadli diikuti yang lain. Hanya ingin mencairkan wajah ngga ramah istrinya. Walaupun memang pujian darinya terdengar tulus.
__ADS_1
"Kamu beruntung Khanza, memiliki sahabat anak konglomerat yang tajirnya sangat melintir," ucap Mama dokter Fadli yang kali ini terang terangan menyindir.
Kali ini rekan rekan dokter Khanza mulai menyadari atmosfir ngga enak yang sudah ditebarkan mama dokter Fadli.
Walau mereka mengakui kebenaran kata kata mama dokter Fadli, tapi dalam hati mereka hal tersebut ngga perlu diungkapkan dengan sangat jelas. Apalagi di depan orangnya langsung.
Dokter Hari bahkan bisa menangkap sinar jengkel dari mata dokter Fadli pada mamanya.
Khanza kembali tersenyum walau hatinya mulai sewot.
"Iya, tante. Saya memang beruntung," jawabnya dengan senyum manis seolah perkataan mama dokter Fadli sana sekali ngga menyakitinya.
Dikira aku ngga modal apa? omelnya dalam hati ngga terima.
Tapi demi kesopanan dan menghormati yang lebih tua, Khanza menahannya. Lagian ini memang pilihannya. Hidup jauh dari fasilitas keluarganya. Padahal.adik adiknya selalu mengomelinya dan mengatakannya sebagai teman setan karena selalu saja membuang buang apa yang sudah seharusnya dia miliki.
Mobil mewah ngga dipake, dianggurin. Dikasih apartemen mewah di samping Dhafi ditolak malah dipilih apartemen kumuh. Begitu juga baju, sepatu, jam puluhan juta dan aksesoris mahal lainnya hanya bertahan di lemari. Bakal lapuk kalo adik adiknya ngga menggunakannya
"Papa dan mama mau gabung dengan teman teman dulu, ya," ucap papa dokter Fadli sambil menggandeng istrinya. Sekaligus memutus suasana yang ngga enak karena perkataan istrinya. Tapi istrinya menahan tangannya.
"Sebentar, pa. Orang tua kamu datang Khanza?" tanya mama dokter Fadli yang sangat ingin melihat penampilan kedua orang tuanya.
Beliau ngga mempedulikan isyarat larangan dari suaminya.
"Mana? Tante pengen kenalan," tanya mama Fadli menuntut.
"Mana ya?' jawab Khanza sudah mulai mendidih isi kepalanya.
Fadli tau rekan rekannya sudah mulai gerah. Mamanya sudah terang terangan mengintimidasi Khanza. Dia merasa bersalah, karena pengakuannya yang tanpa dipikir matang jadi jauh begini akibatnya pada Khanza
"Kalian udah lama datang, ya?" tanya Irene mencoba mengembalikan suasana kembali hangat.
"Sudah. Kita tadi barengan, minus dokter Fadli sama dokter Khanza," jawab dokter Tina sangat ramah. Bener bener ingin mengembalikan suasana yang sudah terasa canggung.
Kembali hening. Seakan ngga ada yang bisa menggali topik pembicaraan yang barun
"Maaf mengganggu, tapi saya ingin bawa dokter cantik ini pergi," tukas Dhafi yang tiba tiba muncul hingga membuyarkan kesunyian yang sempat mengukung di antara mereka.
Perhatian semua orang kini beralih pada sosok tampan yang sangat memukau. Bahkan laki laki muda itu langsung meraih tangan Khanza.
Khanza yang sudah menddih langsung melayangkan tatapan horornya akibat perkataan adik lucnutnya.
__ADS_1
Tapi Khanza memilih ikut dengan adiknya saja, keluar dari suasana yang sudah membuatnya ingin mengamuk.
"Saya permisi," pamit Khanza yang hanya bisa diangguki mereka yang masih bengong melihat kepergian Khanza bersama laki laki tampan itu. Bahkan laki laki tampan itu ngga segan mengalungkan lengannya di bahu Khanza sambil melangkah pergi. Keakraban mereka pun terasa nyata karena Dhafi yang ngga henti hentinya tertawa.
Dokter Fadli, dokter Hari dan dokter Niko saling pandang. Begitu juga para dokter perempuan.
"Bukannya itu Dhafi Adiswara?" tanya Irena sambil melihat kedua orang tua Fadli yang juga nampak bengong menatap kepergian Khanza.
"Iya, itu putra kedua Glen Adhiswara," jawab papa Fadli setelah cukup bisa mengingat. Karena putra kedua Glen cukup sering wara wiri dalan majalah bisnis sebagai pengusaha muda yang berbakat.
Skak math.
Jantung Mama Fadil rasanya mau melompat.
Keluarga Glen Adhiswara sangat jauh sekali tingkat kekayaannya dibandingkan dengan keluarganya. Bahkan bersama keluarga pengantin, mereka adalah konglomerat yang sangat disegani.
Mereka pacaran? Ngga salah? batin mama Fadil ngga bisa mempercayai kenyataan ini.
"Itu pacar dokter Khanza?" pertanyaan yang sama keluar juga dari mulut dokter Mutia. Kagum sekaligus iri. Selain bersahabat dengan para laki laki berkualitas tinggi, pacarnya juga sama highnya.
"Mungkin," jawab Fadli sambil menatap mamanya puas. Karena mamanya yang paling terlihat shock.
Sementara itu Dhafi terus mengomeli kakaknya.
"Daddy mau ngenalin kamu sama rekan rekan bisnisnya. Malah ngilang ngilang aja."
"Ngapain juga, sih. Gue dokter, bukan kayak lo yang memang harus dikenalin," sambar Khanza pedas.
Dhafi tertawa lepas mendengar sindirran kakaknya yang memang sangat tepat. Karena itulah dia lebih mudah terjun di dunia bisnis dan melobi proyek.
Keakraban mereka pun ngga lepas dari tatapan Kalil cs.
"Apa Dhafi pacaran sama dokter itu? Oh iya, laptopnya pernah tertinggal di mobilnya, kan," respon Agnes sinis. Dia merasa kasian pada Kalil.
Rasanya senang sekali bisa membuka aib dokter yang menjadi sahabat kekasihnya itu.
Kalo pun Kalil suka dengan sahabatnya itu, tapi sudah ngga mungkin, kan. Dokter itu sudah punya pacar!
"Laptop?" tanya dokter Verli agak bingung dan ngga percaya. Lagi pula dokter Verli ngga mengenal Dhafi. Tapi dia langsung tau kalo laki laki yang disebut teman perempuannya ini sangat tampan dan berkelas sekali. Seperti para laki laki yang berada di sekitarnya. Auto branded.
"Iya. Aneh, kan?" tanya Agnes minta pendapat Verli yang tampak mendukungnya.
__ADS_1
"Hemm..." jawab dokter Verli sungkan, karena para laki laki ini mulai kelihatan gerah karena celotehan Agnes.