
Atifa menyuruh anak buahnya mendobrak pintu ruangan pribadi Kendra. Sekarang sudah ngga ada penghalang lagi. Jalannya mendapatkan Kendra terbuka sangat lebar.
"Zayra, rasakan kesedihanmu," bisiknya senang sambil melangkah masuk ke dalam ruangan pribadi Kendra yang sudah dibuka paksa.
"Dimana dia?" kagetmya karena ngga melihat keberadaan Kendra.
Tapi bunyi mesin helikopter yang sangat keras menyadarkannya.
Dengan cepat Atifa berlari ke arah jendela.yang terbuka dan tirainya yang berkibar kibar.
Matanya terbelalak ngga percaya melihat Kendra sedang bergelantungan di tangga tali yang terulur dari dalam helikopter.
Dia ngga mungkin melompat ke arah Kendra karena jaraknya sudah cukup jauh.
"Aaarrrghh!" pekiknya frustasi. Kenapa dia harus gagal di detik detik terakhir. Dua kali dia membuang kesempatan emas di depan matanya.
Atifa sama sekali ngga nyangka kalo Kendra akan punya plan seperti ini.
Melarikan diri dengan helikopter!
Atifa melihat dengan sorot penuh kesakitan pada Kendra yang sedang memanjat tangga tali itu.
"Aku tidak bisa mendapatkanmu. Zayra juga tidak!" serunya sambil mengacungkan pistolnya pada Kendra.
DORRR!
DORRR!
DORRR!
DORRR!
DORRR!
DORRR!
BUK BUK BUK
"Aaarrgghh!" seru Atifa menahan nyeri di lengannya setelah dia melepaskan tembakannya pada Kendra.
Kendra sempat berkelit. Tapi peluru tetap menembus punggungnya.
Matanya terpejam. Wajah merona Zayra terbayang.
Maaf.
Saat dia hampir melepaskan pegangannya pada tangga talinya, laki laki yang berada di dalam helikopter yang tadi menembak tangan Atifa, segera meraih tubuh Kendra yang tinggal berapa anak tangga lagi sampai masuk ke dalam helikopter.
Laki laki paruh baya yang masih gagah itu dengan nekat meluncurkan badannya ke bawah. Ternyata sebelah kakinya sudah terikat pada sling. Dia sudah menduganya.
"Papi....," seru Kendra lemah menyadari papinya yang berhasil menangkap tangannya. Hampir saja dia meluncur deras ke bawah.
"Syukurlah, papi ngga telat," seru Kiano sambil mencengkeram tangan Kendra, berusaha menariknya ke atas.
Rasanya nyawanya hanpir terbang melihat peluru menembus punggung putranya. Dia tetap saja telat menembak tangan Atifa yang memegang senjata sebelum senjata itu meletus.
Keduanya bergelantungan dalam posisi yang cukup berbahaya.
Temannya yang juga seusia dengannya dengan cepat membantunya mengangkat tubuh Kendra.
"Lo gila, Kiano," omel temannya yang ternyata Alva saat berhasil menarik keduanya ke atas. Kini ketiganya tergeletak di dalam helikopter.
__ADS_1
"Syukurlah, kalian selamat," tukas Glen yang sedang mengendalikam kemudi helikopter lega.
"Kendra terkena tembakan," kata Kiano cemas sambil menarik kepala putranya ke atas pahanya. Saat ini dia sedang duduk bersandarkan punggung Alva.
"Tubuhmu kenapa, seperti orang demam?" tanya Kiano heran sekaligus cemas ketika meraba kening anaknya yang terasa panas.
"Perempuan... gila... Itu... menyun...tikkan... obat..." terpatah patah Kendra menyahut.
"Obat perangsang?" tebak Alva cepat. Ingat pengalamannya dulu. Kondisi Kendra persis seperti yang dia rasakan. Sangat terbakar.
Kendra mengangguk lemah.
Kiano menatap geram ke arah Atifa dan para pengawalnya yang kini sedang diringkus Regan, Arga dan Reno bersama para pengawal mereka.
"Aku akan mendarat di root top rumah sakit Aruna. Kabari keadaan Kendra, Kiano," sergah Glen menyadarkan Kiano yang membisu.
"Oke," tukas Kiano sambil meraih ponselnya.
"Bertahanlah," pinta Kiano yang diangguki Kendra.
"Ya sayang."
Kiano yang meloadspeaker suara telponnya saling pandang dengan kedua temannya. Suara Aruna terdengar cemas.
"Kamu kenapa?" reflek Kiano bertanya. Muncul rasa cemas dalam dirinya. Ssperti satu kejadian buruk yang sudah terjadi.
"Aku sedang mempersiapkan operasi untuk Zayra."
DEG
DEG
DEG
Pikirannya jadi ngga karu karuan mendengar kata kata maminya di telpon.
"Ada apa dengan Zayra?" tanya Kiano ngga kalah khawatirnya
"Seseorang mendorongnya di tangga darurat."
APA!!
"Sayang, aku tutup dulu telponnya. Zayra harus segera dioperasi."
"Sebentar, sayang. Kamu juga harus mempersiapkan kamar operasi lagi buat anak kita!" seru Kiano hampir berteriak.
"Kendra? KENDRA KENAPA?" Kali ini ganti Aruna yang berteriak panik.
"Atifa menembak punggungnya. Dia juga dikasih obat perangsang."
Ngga terdengar jawaban.
"Aruna!" panggil Kiano karena takut telponnya terputus. Karena dia sedang berada di dalam helikopter. Sinyal naik turun.
"Ya, iya," sahut Aruna serak. Dia sangat terguncang, dan air mata bergulir begitu saja di pipinya.
"Helikopter akan mendarat di root top rumah sakit Siapkan segalanya, ya, sayang. Jangan khawatir. Kendra kita ngga akan apa apa," jawab Kiano berusaha menguatkan hati Aruna.
"Oke, aku tutup dulu telponnya."
Sambungan telpon mereka pun terputus.
__ADS_1
"Apa Atifa melakukan ini semua?' Seakan dejavu, Glen mengingat kejadian yang dulu pernah menimpa Kiano dan Aruna dulu.
"Mungkin," jawab Kendra ngga yakin. Masih jelas dalam ingatannya kalo Alvaro beberapa jam yang lalu mengatakan akan kembali ke Singapura bersama istri dan putrinya.
Kendra memejamkan mata, berdo'a dan berharap agar Zayra baik baik saja.
"Terulang lagi," kata Alva sambil menghembuskan nafas kesal.
Glen terdiam dan fokus dengan kemudi helinya. Dalam hati mengumpat kesal dan geram.
Dia harus secepatnya sampau di root top rumah sakit Aruna. Keadaan Kendra melemah.
Tadi siang dirinya, Alva, Regan, Reno, dan Arga menikmati makan siang di perusahaan Kiano.
Begitu selesai menyantap makan siang yang dikirim dari kafe perusahaan Kiano, mereka mengobrol santai. Membicarakan persiapan pernikahan Kendra dan Zayra.
Tapi suasana santai itu berubah ketika mendengar suara panik Kiano di telpon.
"Ada apa?" tanya Regan setelah Kiano menutup ponselnya.
"Ada banyak orang mengamuk di depan ruangan Kendra. Aku harus ke sana," kata Kiano sambil mengambil pistol di dalam laci mejanya yang selalu terkunci.
Melihat pistol yang dipegang Kiano, suasana berubah tegang.
Mereka bergegas menuju lift.
"Ngga akan ada waktu kalo kita semua turun lewat lift," kata Glen penuh arti.
Mereka saling tatap dan mengerti.
"Heli ada di atas, kan?" tanya Alva langsung connect.
"Oke. Aku, Arga dan Reno akan turun. Kalian naik," perintah Regan.yang diangguki sahabat sahabatnya.
Dia dan keempatnya langsung masuk ke dalam lift sebelah yang juga sama sama sedang terbuka.
"Oke. Fight," tegas Kiano yang berjalan masuk ke dalam lift sebelahnya bersama Alva dan Glen.
Helikopter yang membawa ketiga laki laki paruh baya dan masih gagah itu datang tepat waktu.
"Itu Kendra," seru Kiano seraya melempar tangga tali dan heli pun terbang merendah dan mendekat ke arah Kendra yang sudah membuka jendela ruangan pribadinya.
"Gerakan Kendra agak aneh," komen Glen yang melihat Kendra ngga sesigap seperti biasanya.
"Iya," sahut Kiano dan Alva serentak sambil menatap Kendra yang terlihat agak susah payah melompati jendelanya ke arah balkonnya.
TEP
Tali helikopter menyentuh dinding balkon yang segera ditangkap Kendra.
Helikopter mulai meninggi dengan Kendra yang sangat kesusahan memanjat anak tangga.
Sekarang Kiano baru mengerti kenapa Kendra jadi begitu. Obat perangsang itu sangat mempengaruhi tubuhnya. Mengganggu kewarasannya dengan amat sangat.
Saat ini Kiano masih merasakan tubuh Kendra semakin panas. Darahnya pun semakin banyak mengalir membasahi kemeja biru mudanya.
"Bertahanlah, Ken. Zayra juga sedang berjuang," ucap Kiano menyemangatinya.
Kendra mengangguk lemah.
"Ya papi."
__ADS_1