
Aqil berjalan dengan langkah pelan melewati lorong kelas. Segala apa yang dibicarakan daddy dan maminya masih terngiang ngiang di telinganya.
"Biarpun Kalil salah, kamu harusnya jangan membiarkan Kendra menurutinya," omel Qonita gemas setelah mendengar pengakuan jujur putranya.
"Sudahlah. Semuanya udah telanjur. Disesali juga ngga guna," kata Arga menenangkan.
"Malamun, bro," seru Kalil mengagetkan.
Si biang masalah, batin Aqil sambil menyorot sinis.
"Kenapa lo? Salah makan obat?" ledek Kalil sambil nyengir.
"Lo diomelin juga?" tanya Kenan setelah melihat Aqil hanya diam saja, ngga menanggapi kata kata kembarannnya. Tapi malah melihatnya dengan kesal.
"Kalian engga?" sinisnya lagi.
Kali ini Kenan tersenyum miring.
"Engga apanya. Tapi apa benar, ya, Zayra ngga balik lagi," respon Kalil dengan wajah sedih.
Gimana dengan Khanza?
Setau Aqil, hanya Zayra teman satu satunya Khanza. Gadis itu malas berteman akrab dengan yang lain.
"Katanya enggak," jawab Kenan.
Kendra yang berdiri di balik punggung ketiga temannya semakin merasakan dadanya nyeri.
Ternyata benar yang papinya katakan tadi malam.
"Kita memang salah," timbrung Rakha yang kini menjejeri langkah Kendra.
"Khanza masuk nggak?" cetus Rakha.
"Gue juga belum ke kelas," jawab Kenan. Khanza dan Zayra sekelas dengannya.
Saat sampai di pintu kelas, ternyata dua bangku yang letaknya di tengah itu masih kosong. Bangku Zayra dan Khanza.
"Kata daddy, Khanza demam kemarin," info Aqil.
Mereka pun sama terdiam.
"Kendra?" panggil Atifa menghentikan langkah mereka.
Sosoknya kini sedang berjalan di depan Kendra cs. Saskia juga berada di dekat Atifa.
"Katanya Zayra pindah, ya?" tanyanya lembut.
Aqil mencibir dengan sikap sok perhatiannya Atifa.
Kendra menatap datar.
"Ya."
Atifa menahan hatinya untuk bersorak.
"Kenapa?" tanyanya seakan ikut bersimpati.
"Sengaja," jawab Kalil sekenanya.
__ADS_1
Atifa melayangkan tatapan ngga mengertinya pada Kalil.
"Mereka, kan, mau tunangan. Tapi kalo di sini, udah ngga mungkin lagi. Jadi Zayra sama Kendra akan tunangan di Turki," celoteh Kalil ringan, sangat enteng dan tanpa beban.
Wajah Atifa langsung pucat. Ngga nyangka akan dapat jawaban begitu. Pikirnya setelah kepergian Zayra, pertunangan mereka batal. Masalah selesai.
Ternyata engga. Mereka tetap lanjut. Tubuh Atifa langsung lemas. Untung ada Saskia yang memegang pundaknya. Menahanmya agar ngga jatuh
Aqil dan Rakha tersenyum miring. Kenan sama seperti Kendra yang menatap ke arah lain. Malah kini keduanya terus melangkah pergi diikuti ketiga temannya yang lain.
Ngga boleh! Ngga boleh, marah Atifa dalam hati.
Sebelum pergi dia menatap nanar punggung Kendra.
Rasanya sakit sekali dicampakkan seperti ini.
Di balik tembok pembatas kelas dan laboratorium, Khanza tersenyum tipis.
Maminya sudah menceritakan padanya secara detil saat membujuknya agar ngga pindah sekolah.
Apalagi mendengar kata kata Kalil membuat perasaannya tambah lega. Dia menatap langit, seolah ada wajah Zayra di sana.
Zay, lo dengarkan kata kata Kalil si tukang bikin masalah.
*
*
*
"Zayra, kamu ngga apa apa, kan, dengan keputusan Abi?" tanya Regan hati hati.
Zayra berusaha menyimpan rasa sedih dalam hatinya. Baginya yang paling berat berpisah dengan Khanza.
"Abi ngga mau kamu dibully abis abisan. Kamu tau haters, kan? Sekali mereka berkata, kamu akan seumur hidup sakit hati," kata Regan lagi memberikan pandangannya.
"Apa yang dikatakan abi memang benar. Kami mau lihat kamu tertawa terus, bukan muram karena memikirkan kata kata haters yang ngga jelas," timpal Dinda lembut.
Zayra tau, setelah vidio yang kedua sangat viral, para netizen pasti sudah sangat mendukung hubungan keduanya.
Jika ada yang mengexpose (pastinya Atifa) berita pertunangan mereka, pasti dirinya akan jadi bulan bulanan para haters dengan sebutan pelakor, tukang rebut pacar orang, cewe ngga punya malu, atau mungkin lebih kejam dari itu.
Membayangkannya sendiri saja sudah membuat Zayra merinding.
Khanza pasti akan kena juga imbasnya. Karena sahabatnya itu pasti akan selalu membelanya.
"Abi yakin, Kendra pasti ngga berpikir sampai sejauh ini. Abi rasa Kendra hanya iseng," tambah Regan yakin.
Tanpa sadar bibir Zayra menjebik mendengar kata kata abinya.
Regan tersenyum melihatnya, begitu juga istrinya.
Dalam vidio itu, Regan dapat melihat berkali kali Kendra melirik ke arah lain setelah menyambut mesra apa yang Atifa lakukan.
Dari situ saja, sebagai mantan laki laki brengsek, Regan sudah tau kalo Kendra sengaja membuat Zayra cemburu.
Sepertinya berhasil. Sejak pesawat lepas landas hingga mereka dua hari tiba di Turki, wajah Zayra selalu saja murung.
Jika kedua eyangnya tidur, Regan pernah menangkap sorot mata penuh rindu Zayra yang menggerakkan slide foto foto di ponselnya.
__ADS_1
Foto foto kebersamaannya dengan Khanza dan lima laki laki tengil anak teman temannya.
Mereka masih terlalu muda untuk mengetahui perasaan mereka masing masing.
Seperti dulu Kiano terhadap Aruna. Kini putra mereka pun melakukan hal bodoh yang sama.
Jarak dan waktu akan membuat mereka dewasa.
Baru kali ini mereka terpisah dalam waktu yang ngga tau sampai kapan untuk bisa bertemu lagi.
Sekarang Zayra sudah ngga di samping Kendra, ngga ada alasan lagi untuk Kendra bemesraan lagi dengan Atifa.
Seiring berjalannya waktu, gosip itu akan menghilang. Walaupun jejak digitalnya akan tetap ada.
"Kami juga punya kabar gembira buat kamu, sayang," ucap Regan sambil melirik Dinda yang sedang mengembamgkan senyum manisnya.
Zayra menatap keduanya penasaran.
"Kamu akan dapat adik."
Tawa Regan pun pecah setelah mengucapkannya. Dinda juga terkekeh.
"Ini serius?" Zayra takut kena prank.
"Ya seriuslah," sela Regan yqng menjawab dalam tawanya yang belum juga kunjung usai.
Senyum bahagia pun terukir di.wajahnya yang sering muram.
"Kapan umi? Kok, Zayra baru tau," tanya Zayra antusias.
Kebayang di benaknya akan punya adik setelah belasan tahun menjadi anak tunggal.
Dia pun jadi mengingat Khanza yang selalu saja mengomel tentang kelakuan nyebelin adik adiknya.
Apalagi kalo nyinggung soal adiknya Dhafi. Anak SMP yang sudah punya banyak pacar tapi direstuin sama daddynya, Om Glen.
Zayra ingin merasakan seseorang memanggilnya kakak.
"Sudah tiga bulan yang lalu. Mau surprise sama yang lain, tapi ngga jadi," jawab Dinda lugas.
"Umi ngga mungkin bisa hamil dengan tenang kalo tau kamu dibully," tambah Regan dengan sisa tawanya.
Zayra mengangguk mengerti.
Benar juga. Bisa bisa dia akan kehilangan calon adiknya.
"Karena itu abi membawa kalian semua di sini," sambung Regan lagi.
Dinda menarik tangan Zayra agar menempel di perutnya.
"Enam bulan lagi dia akan lahir sayang."
Zayra tersenyum senang. Rasanya ingin sekali bercerita dengan Khanza. Pasti Khanza akan memberikannya trik trik jitu untuk menghadapi kelakuan adiknya ntar.
"Iya umi. Zayra senang mendengarnya," katanya antusias dengan wajahnya yang sangat ceria.
"Nanti kalo ketemu Kendra, gimana kalo kalian langsung nikah aja," goda Regan kembali terkekeh karena melihat rona merah menyala di kedua pipi putrinya.
"Nggak... Siapa tau Kendra udah punya pacar yang lain," tolaknya salah tingkah.
__ADS_1
Dinda pun tertawa mendengarnya, menimpali tawa Regan yang tambah keras.