After The Heartbreak

After The Heartbreak
Cerita Kenan


__ADS_3

Kenan pulang. Dia melangkah keluar dari terminal kedatangan sambil menggeret satu kopernya dengan santai.


Matahari sudah condong ke arah sore hari dengan pancaran teriknya sedikit melembut.


Kenan ngga mengabari satu pun anggota keluarganya. Dia pun pulang tiga hari lebih cepat dari rencana awalnya.


Kenan hanya ingin membuat surprise setelah beberapa minggu ini membuat maminya kesal.


Tamara ngga merestui hubungannya dengan si bule Crystal. Mereka juga beda keyakinan. Baik Crystal maupun dirinya ngga ada yang goyah. Akhirnya dengan berat hati Kenan memutuskannya.


Kepulangannya pun untuk menghindari Crystal dan sahabatnya Stefanie yang terobsesi pada Kalil.


BRUKH


"Aduh," jerit seorang perempuan yang hampir saja terjatuh karena bertabrakan dengannya.


Kenan yang melamun dan perempuan itu yang sibuk dengan ponselnya pun bertabrakan.


Tapi Kenan dengan sigap menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Menghindarinya dari terjatuh.


Keduanya saling tatap ketika perempuan itu menengadahkan kepalanya.


Cantik banget, batin Kenan terkesima.


Perempuan itu pun sama terkesimanya dengannya. Bahkan tangannya bergelayut manja di leher Kenan.


"Eh... emm... maaf," kata perempuan cantik itu sambil melepaskan tangannya dari leher Kenan.


"Aku yang salah. Maaf tadi ngga lihat," kata Kenan sambil melepaskan rangkulannya.


Tapi sorot matanya ngga bisa lepas dari sosok di depannya.


Seperti model. Rasanya pernah lihat, batin Kenan.


"Kenan," katanya sambil mengulurkan tangannya pada si cantik di depannya.


Tubuh tinggi langsingnya terbalutkan dres ketat selutut yang bertali spageti.


Ada cardigan tersampir di bahunya.


Setelah Crystal, Kenan rasa gadis inilah yang tercantik yang pernah dia lihat.


"Adeeva," ucapnya pelan dengan pipi merona.


Pelukan laki laki tadi sangat erat membuatnya merasa betah dan terlindungi.


"Emm... maaf, aku harus pergi," katanya sambil melihat tangannya yang masih digenggam Kenan.


"Eh, iya," senyum Kenan tersadar.


"Boleh minta nomer telpon?" tanya Kenan sambil melepaskan genggamannya.


"Sure," sahutnya sambil mengotak atik ponselnya, kemudian memberikannya pada Kenan.


Kenan tersenyum menerimanya. Dia pun mengetikkan nomernya dan menekan tombol call.


Setelah yakin ponselnya bergetar, Kenan pun menuliskan namanya di ponselnya perempuan yang bernama Adeeva itu.


"Aku harus pergi sekarang," katanya setelah menerima ponselnya kembali.


"Oke. Nanti aku telpon," kata Kenan ketika Adeeva akan pergi


"Okey," senyum Adeeva tampak malu malu sebelum pergi.


Kenan tersenyum mengiringi kepergian Adeeva. Sepatu heelsnya yang tinggi seakan ngga membuatnya kesulitan berjalan cepat.


Cantik sekali. Kenan beruntung tadi ngga menyia nyiakan kesempatan meminta nomer ponselnya. Matanya pun masih terpaku sampai Adeeva ngga terlihat lagi karena sudah berbaur dengan penumpang lainnya.


Dadanya berdebar aneh. Rasanya berbeda saat dia bersama Crystal.

__ADS_1


Apa kali ini dia benar benar jatuh cinta?


*


*


*


"Kenan!" kaget Tamara melihat anaknya memasuki gerbang rumah mereka dengan berjalan kaki.


Alva yang berada di sampingnya pun menoleh. Menatap anak tengilnya dengan senyum miring.


Dia mengira Kenan akan pulang bersama bule kecintaannya. Tapi ternyata dia pulang sendiri.


Sudah putuskah? batin Alva menebak. Kalo iya, dia salut karena Kenan menuruti permintaan maminya.


Kenan tersenyum lebar sambil menatap maminya yang tampak bahagia melihat kepulangannya.


Dia pun mempercepat langkahnya.


"Maafkan, Kenan, mam," katanya sambil memeluk maminya.


Tamara tersenyum dengan mata yang berkaca kaca.


"Kamu sudah putus?" tanya Tamara langsung saat menguarai pelukannya.


Alva tergelak mendengarnya.


"Sudah, mam," jawab Kenan juga ikut tergelak.


"Mami senang dengarnya," tukas Tamara lega. Sangat lega.


Alva menepuk perlahan bahu putranya. Ganti memeluknya.


"Makasih sudah menuruti pernintaan mami," bisiknya bangga.


"Iya, dad."


Alva pun ngga mungkin membiarkan putranya menikah dengan perempuan yang berbeda keyakinannya dengannya. Bagaimana cara dia mendidik anaknya kelak. Belum lagi kalo Kenan kepengin pindah ke keyakinan istrinya. Dia bisa kehilangan asetnya yang akan mendo'akannya jika dia dan Tamara sudah meninggalkan dunia ini.


"Kalil mana mam, dad?" tanyanya karena ngga melihat kembarannya.


"Biasa, lagi jemput Khanza," daddynya yang menjawab.


Kenan ganti tergelak mendengarnya.


Sudah sesayang gitu Kalil ke Khanza.Sampai dijemput segala, tawanya dalam hati.


"Kamu kenapa ngga kasih kabar kalo mau pulang. Mami sama daddy, kan, bisa jemput," omel Tamara masih dengan senyum senangnya.


Kepulangan putranya dan kabar putusnya sangat membahagiakan hatinya.


"Kan, mau kasih surprise, mam," kilah Kenan juga tergelak.


Tamara tertawa sambil mengusap rambut putranya.


Alva pun tertawa melihatnya. Sudah beberapa minggu ini wajah Tamara selalu cemberut dan uring uringan karena Kenan belum ngasih keputusan apa apa tentang hubungannya bersama Crystal.


Syukurlah akhirnya Kenan mengambil keputusan yang tepat. Patah hati bentar ngga apa apa. Paling ngga lama lagi juga akan sembuh.


Alva pun yakin kalo putranya belum terlalu serius. Beda dengan Kalil yang sudah mentok ke Khanza.


*


*


*


"Mau kemana?" tanya Alva heran melihat Kenan yang sudah rapi saat akan makan malam.

__ADS_1


"Mau ngajak cewe jalan, dad," jawabnya kemudian terkekeh. Dia pun mengambil makan malam yang sudah dibuatkan Tamara-maminya di atas meja makan.


"Cewe mana? Kamu, kan, baru pulang?" tanya Tamara sedikit curiga.


"Tadi ngga sengaja tabrakan di bandara, mam. Trus aku minta aja nomer telponnya. Langsung dikasih," ceritanya ringan.


Lihat, kan. Ngga butuh waktu lama buat dapat cewe baru, kekeh Alva dalam hati.


Tamara hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Dia dulu beneran cinta, ngga, sih, sama.si bule, omel Tamara dalam hati.


"Nanti aku bawa ke sini, buat dikenalin sama mami," sambungnya lagi setelah menelan makanannya.


"Bawa pas nikahnya Kalil aja. Nanti mami ngasih kebaya juga. Apa posturnya seperti Khanza?" tanya Tamara penuh semangat.


Alva tersenyum melihatnya. Dia suka melihat Tamara yang tampak penuh semangat dan bahagia lagi. Karena Kenan adalah kesayangannya. Bukan berarti Tamara ngga sayang dengan Kalil. Tamara menyayangi keduanya. Tapi porsinya lebih banyak ke Kenan.


Karenanya Tamara sempat kecewa karena Kenan sempat ngga langsumg nurut pada.keinginannya untuk memutuskan si bule yang beda keyakinan.


"Dia agak kurus, mam. Besok atau lusa aja aku coba bawa dia fitting kebaya," janji Kenan.


"Oke, sayang. Mami tunggu kabar kamu, ya," balas Tamara dengan senyum yang ngga pernah kering dari bibirnya.


"Sip, mam."


Ngga lama kemudian Kenan pun sudah berangkat dengan motor balap kesayangannya menuju rumah Adeeva yang sudah mengshare lokasinya.


Rumahnya mewah juga. Dan Adeeva sudah menunggu di teras.


"Hai," sapa Kenan setelah membuka helmnya.


"Hai," balas Adeeva dengan senyum manisnya.


Kenan bengong sesaat.


Cantiknya, batinnya kagum.


Adeeva saat ini mengenakan kaos lengan tiga perempat dan celana panjang kain yang modis.


Tapi saat nge chat, Kenan mengatakan akan membawanya jalan jalan dengan motor kesayangannya.


"Duduk dulu. Aku mau pamit ya," katanya ramah.


Kenan menurut.


"Oke."


Ngga lama setelah Adeeva masuk, dia pun keluar bersama kedua orang tuanya.


"Ma, Pa, Deeva pergi dulu, ya," pamitnya.


Kenan pun menyalim tangan kedua orang tua Adeeva yang masih terlihat cantik dan tampan. Sepertinya ngga jauh beda dengan usia kedua orang tuanya.


"Hati hati, ya, Kenan," kata Papa Adeeva yang terlihat mengamati Kenan dengan seksama.


"Iya, Om, Tante," balas Kenan santun.


Mama Adeeva menganggukkan kepalanya dan tersenyum hangat.


Kenan pun menaiki motornya, diikuti Adeeva. Kemudian motor pun perlahan meninggalkan rumah Adeeva.


"Aku seperti pernah melihat wajahnya. Tapi lupa," kata Papa Adeeva setelah keduanya meninggalkan gerbang rumah.


"Sama. Rasamya kenal banget. Apa perasaanku aja, ya," balas Mama Adeeva masih berusaha mengingat. Tapi sama seperti suaminya. Gagal.


"Ya udah. Nanti pasti ingat sendiri. Ayo kita temui Aruna sama Kiano. Harusnya Adeeva ikut kita. Tantenya pasti nanti akan mengomel," tawa Papa Adeeva.


Mama Adeeva juga balas tertawa.

__ADS_1


Sebenarnya berat melepas putri tunggalnya pergi, tapi entahlah, putrinya seperti agak memaksa. Dan ini bukan kebiasaannya. Pergi dengan laki laki asing.


Tapi Mamanya ngga begitu khawatir, karena beberapa pengawal akan mengikuti mereka.


__ADS_2