
"Lo serius sepupu lo itu punya rekamannya?" tanya Cyra dengan wajah stres.dan frustasi.
"Iya," bohong Lala terpaksa.
Maaf, tapi itu salah lo yang punya hobi aneh, lanjut Lala membatin.
"Dia mau menyebarkannya?" tanya Cyra tambah stres dengan dugaannya sendiri.
"Ya," bohong Lala lagi agak bingung. Hal itu ngga pernahmereka bicarakan. Bahkan Lala ngga berpikir sampai sejauh itu.
"Kalo papi gue tau gimana, nih. Gue takut banget, nih," keluh Cyra kalut.
"Katanya dia pengen lo mastiin kalo dia ngga impoten," susah payah Lala mengatakannya. Di bagian ini dia merasa berdosa karena akan menjerumuskan sahabatnya sendiri ke mulut buaya lapar.
Walau pun ngga punya rekaman, Lala yakin kalo sepupunya itu akan melakukan hal nekat. Lala yakin kalo Aqil sudah terobsesi dengannya. Hanya Cyra yang pernah menolaknya.
Apalagi kalo menyangkut imagenya sebagai laki laki sempurna tanpa cacat. His future.
Masa ganteng ganteng lemah syahwat.
"Haaah! Gimana cara mastiinnya? Gue ngga mungkin ngasih dia sari sari gue, kan," sergah Cyra hampir berteriak.
Untung aja mereka berada di ruang privat kafe. Terserah Cyra sampai mau jungkir balik pun bebas, ngga ada yang lihat.
"Enggak perlu! Lo mungkin nari nari aja di depan dia. Kalo lo lihat celananya udah menggembung, lo bisa berhenti. Gitu perjanjiannya," tukas Lala menjelaskan.
"Gitu doang?" tanyanya memastikan. Tapi juga ngga bisa percaya, ingat kejadian malam itu yang dia diterkam. Untuk bisa melarikan diri.
"Iya."
"Ngga mungkin," geleng Cyra berkali kali.
"Dia itu mengerikan, La. Dia ngga cukup ngelihat aja. Dia pasti maksa gue lagi kayak malam ini," cicit Cyra merinding. Teringat betapa agresif dan dominannya laki laki yang ternyata sepupu Lala.
Memang sangat tampan dengan aura badboynya. Bohong kalo Cyra ngga menikmatinya. Dia sempat terlena sebelum akhirnya tersadar.
Gila! Cyra merasa dirinya sudah benar benar ngga waras karena membayangkan kejadian malam itu.
Lala pun ngga bisa menjaminnya.
"Nanti gue pastiin kalo dia ngga macam macam," janji Lala. Kali ini dia serius akan membantu. Si Aqil ngga boleh macam macam dengan sahabatnya. Atau dia akan melaporkan pada tante dan omnya agar segera dinikahkab saja.
*E*h, Lala tertawa dalam hati karena sudah berpikir terlalu jauh.
"Gimana caranya?"
"Nanti gue pikirkan."
"Janji, ya. Bantu gue," pinta Cyra penuh harap.
"Ya."
"Thank's. Lo sahabat terbaik gue." Saking senangnya Cyra sampai memeluk Lala yng langsung mendorongnya.
"Gue masih normal," jawabnya membuat Cyra berdecih mengejek.
"Normal tapi ngga punya pacar," ejek Cyra terkekeh. Hatinya telanjur senang akan janji sahabatnya.
Walaupun sepupu Lala sangat tampan, tapi dia ngga mau dijadikan mainannya. Apalagi buat dicoba coba.
__ADS_1
"Biarin," cibir Lala cuek. Teringat tiba tiba dengan laki laki yang namanya Boby.
Apa dia serius?
*
*
*
"Gimana, dia mau?" tanya Aqil penuh semangat. Sengaja dia mendatangi sepupunya ke rumah. Untung om dan tantenya ngga ada di rumah. Kalo engga di akan di olok olokkan keduanya. Ditanya kapan jadinya mau nikah.
Apalagi kalo bukan masalah perjodohannya.
"Hemm...," jawab Lala ngga acuh.
Ngga sabar amat, ejeknya dalam hati. Saat ini Lala sedang menikmati me timenya di halaman samping rumahnya, dengan secangkir teh dan tablet serta pennya.
Dua sudut bibir Aqil ketarik ke atas. Dengan hati senang dia pun duduk di sebelah sepupunya. Dia melirik tablet yang sibuk dicoret coret dengan pen oleh sepupunya.
"Buat baju lagi lo? Udah gue bilang gambar underwear yang seksi. Penuh renda gitu. Pasti keren banget," saran Aqil tapi kemudian ngakak ketika Lala mengancamnya dengan penggaris besinya.
Lala melirik wajah sepupunya yang tampak senang.
Mencurigakan, batinnya penuh selidik.
"Lo beneran suka atau cuma nyuruh dia buat ngetes aja," pancing Lala menyindir.
"Dua duanya," gelak Aqil.
"Huuh,' dengus Lala sebal melihat reaksi Aqil yang tampak sangat senang dan bahagia.
Lala menghembuskan nafas panjang.
"Wow, udah akur, nih?" tegur Zizi yang baru datang bersama Reval-adik tiri bungsu Regan.
Lala hampir menjatuhkan tabletnya karena kaget melihat kehadiran kakaknya dengan pacarnya. Yang masih ngga jauh jauh juga dari circle pertemanan orang tua mereka.
"Eh, Om Reval?" kaget Aqil ngga nyangka Om Reval, Omnya Zayra, ada di sini bersama Zizi-kakaknya Lala.
Mereka pacaran?
"Cie cie yang mau dijodohkan. Kapan jadinya mau nikahnya?" goda Zizi terkekeh senang.
Tuh, kan, batin Aqil kesal. Yakin dia, jika keluarga Lala atau keluarganya akan mengatakan hal itu jika melihat mereka bersama.
"Nikah apaan, sih. Lo, kali, kak, yang duluan," manyun Lala.
"Eh, Om Reval, diam diam udah jadian aja sama Kak Zizi," sela Aqil dengan senyum smirknya.
Reval tersenyum lebar. Dia pun ngga nyangka bisa jadian dengan Zizi yang super cerewet. Apa lagi Zizi selama ini memamggilnya Om, padahal usia mereka ngga jauh beda. Seperti Lala dan Aqil, juga anak anak teman abangnya Regan, memanggilnya Om.
"Masih dipanggil Om, ngga, nih?" sindir Aqil terkekeh.
"Yayang Reval, dong," sambar Lala juga terkekeh.
Reval dan Zizi juga tertawa mendengarnya. Ngga membantah.
"Gimana dengan kalian?" tanya Zizi setelah puas tertawa.
__ADS_1
"Ngga gimana gimana. Biasa aja," sahut Lala ringan.
"Apa kita nanti bakal nikah bareng?" tanya Zizi lagi penasaran melihat keduanya anteng anteng aja.
Tumben, biasanya sengit, batin Zizi heran.
Lala sepertinya sudah bisa berdamai dengan keadaan dan menerima Aqil, pikir Zizi lagi.
"Mungkin," jawab Aqil sambil melirik nakal Lala.
Nah, Aqil juga sepertinya sama, Zizi mulai membuat kesimpulan.
*Laki laki mungkin begitu gampang merubah mindsetnya.
Perempuan yang cantik akan lebih cepat mendapat kekasih dari pada perempuan kucel*, analisa Zizi melihat perubahan adiknya yanh sejak kuliah sudah mulai senang merawat diri dan akrab dengan alat alat kosmetiknya.
Padahal Lala melakukannya demi pekerjaan yang disukainya. Ngga mungkin dia kalah cantik dan modis dengan model model yang menggunakan desainnya.
Lagian Lala juga harus bisa membuat klien percaya padanya. Salah satunya membuatnya jadi tampil cantik dan wangi.
Dan memang benar, dengan penampilannya yang sekarang, ditunjang nama besar papanya di dunia bisnis, keinginannya semakin mudah dia raih.
"Huuuh," dengus Lala sambil mengacungkan penggaris besinya pada Aqil yang sedang tergelak gelak kesenangan
"Lala, lo bisa dapat ancaman hukuman kdrt," tegas Zizi mengingatkan. Adiknya terlalu ringan tangan.
"Biarin," dengus Lala ngga peduli. Sikap terakhir Aqil bisa menimbulkan tafsir lain di kepala kakaknya.
Yang bikin Lala gemas, Aqil cuek aja, seolah ngga peduli dengan apa yang dipikir Zizi.
Reval hanya tertawa melihat kelakuan ketiganya.
Menurutnya Zizi walaupun lebih muda setahun darinya, tapi dari segi sikap dan watak, sama aja kekanakannya dengan Lala dan Aqil. Mungkin itu yang membuatnya tertarik dan menjadikannya kekasih hati.
"Om, kapan mau nikahnya?" tanya Aqil setelah reda tawanya.
"Setelah Kalil Khanza aja. Iya, kan, Zi?" Reval menatap Zizi minta pendapat.
"Yo'i," respon Zizi dengan mata berbinar.
"Katanya Rakha juga mau nikah setelah Kalil Khanza juga," cetus Reval yang ikut menjadi pendengar saat Reno cerita waktu datang ke ruangan abangnya Regan.
"Iya, ngga disangka anak itu, cepat aksinya." Aqil menggeleng gelangkan kepalanya. Karenamya dia juga harus cepat cepat memastikan si seksi itu mau jadi miliknya
Aqil merasa heran dengan dirinya yang terlalu menggebu gebu saat menginginkan Cyra. Padahal jelas jelas gadis itu menolaknya. Bahkan sudah menyakiti junior kebanggaannya.
Aqil seolah tertantang untuk menaklukkannya. Gadis yang sangat liar itu sudah menarik hati dan pikirannya hanya tertuju padanya.
Baru kali ini ada perempuan yang menolak dirinya. Seorang Aqil yang tampan dan perkasa. Padahal perempuan perempuan yang pernah ditidurinya selalu meminta lagi dan lagi.
Hanya Cyra, perempuan yang membuatnya membutuhkan sepupunya untuk diajak kerja sama demi mendapatkannya.
"Kalian kapan?" tanya Reval ikut kepo.
"Mungkin setelah Kalil Khanza juga," jawab Aqil cepat tanpa berpikir.
TUKK!
Lala pun memukul gemas kepala sepupunya dengan penggaris besinya.
__ADS_1