
"Gue jadi iri sama Kalil," kata Aqil sambil matanya terus menyorot Cyra yang sedang mengobrol dengan kekasih kekasih mereka yang lain.
"Iri karena keduluan?" kekeh Rakha.
Kendra dan Kenan juga terkekeh.
"Begitulah," respon Aqil santai. Dia pun tertawa kini.
Dalam hati Aqil merasa iri. Sahabat sahabatnya juga sudah memastikan hati kekasih mereka. Sedangkan dia masih harus berjuang menaklukkan hati Cyra. Sudah berlalu beberapa hari begitu saja dalam perjanjian mereka.
Kadang muncul pikiran gila dalam dirinya untuk menyemprotkan benih unggul dan terpercayanya ke rahim Cyra, agar gadis itu ngga bisa menolaknya lagi.
"Kenan, emang lo udah bisa ngelupain Crystal? Beneran lo udah move on?" Rakha malah penasaran dengan hati Kenan.
Secepat itu dia bisa berpaling pada Adeeva.
Keduanya memang sangat cantik dalam ke-khas-an masing masing. Juga kultur budaya yang beda.
"Aku menghargai pilihan Crystal. Dia ngga mau login, begitu juga gue yang ngga mau log off. Kita sudah pisah baik baik, dan perasaan gue langsung bisa terima," jelas Kenan apa adanya.
"Tapi kapan itu Crystal bun-dir, untung masih selamat. Dia ingin kembali ke lo," sergah Aqil cepat.
"Bahkan dia mau login," kekeh Kenan. Kendra pun terkekeh juga.
"Lo ngga mau? Kan, itu yang lo harapkan agar Tante Tamara setuju," sambung Rakha ngga sabar.
"Ngga tau kenapa, saat melihatnya begitu, gue udah hilang rasa. Apa karena gue ngelihat mami sangat bahagia, ya, sekarang gue udah bersama Adeeva," jujur Kenan sambil melemparkan senyumnya pada Adeeva yang sedang kepergok menatapnya. Gadis itu membalas senyum Kenan dengan salah tingkah.
Kenan suka melihatnya. Gemas aja. Membuatnya ingin membawa gadis itu pergi menjauh dan mulai mengeksplorasi bibirnya.
"Mungkin juga. Mami juga bahagia waktu lihat gue sama Zayra. Dan itu rasanya yang paling penting," cetus Kendra menimpali.
"Gitu maksud gue," tambah Kenan.
Rakha dan Aqil ngga berkomentar lagi. Hanya manggut manggut.
Mereka jadi ingat reaksi mami mereka sangat mengenalkan kekasih terakhir mereka padanya.
Maminya sangat bahagia. Kapan lagi membahagiakan mami setelah banyaknya kelakuan mereka yang membuat para mami mereka naek darah.
"Anak anak kita mau djodohin, nggak?" tanya Aqil memecah lamunan mereka.
"Lo mau kita besanan?" kekeh Rakha membuat Kenan dan Kendra pun tergelak.
"Apa salahnya. Seperti Om Kiano dan Om Regan. Atau Om Glen sama Om Alva," kilah Aqil.
"Masih jauh banget, Qil. Kita aja bahkan belum nikah, malah mikir mau nikahin anak," tawa Kenan berderai derai mengejek Aqil.
__ADS_1
Kendra dan Rakha juga ikut terkekeh geli.
Ada ada aja, si Aqil, batin keduanya.
Ngga jauh dari situ, Agnes masih mematung. Menatap Kalil dan Khanza dengan tatapan ngga suka
Sangat di luar dugaannya Kalil akan menikahi Khanza.
Dia beneran patah hati. Padahal dia sudah merasa bisa menggenggam Kalil. Tapi gagal karena Khanza.
"Lupakan," ucap papanya lembut. Ada mama di sampingnya.
Agnes hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu akan dapat yang lebih dari Kalil," bujuk mamanya getir. Dalam hati agak menyesal kenapa Agnes ngga sabar untuk mengikat Kalil.
Akhirnya lepas, kan.
"Lebih baik kita pulang. Kita ngga perlu lah salaman sama pengantin," kata papanya sambil menarik tangan Agnes untuk pergi.
Agnes menoleh lagi pada Kalil. Kalo nurutin hati dan rela malu, Agnes akan menemui Kalil dan Khanza di pelaminan. Dia akan memeluk dan mencium Kalil di depan Khanza.
Mungkin sakit hatinya akan terpuaskan saat itu. Tapi efek lanjutannya adalah jejak digital yang ngga bisa dihilangkan selamanya.
Tapi langkahnya terhenti melihat seorang gadis bule yang mendekati pelaminan.
Tapi Agnes melihat seseorang mendekatinya dan menariknya turun.
DEG
Orang itu mirip sekali dengan Kalil.
Peristiwa ini cukup menghebohkan. Karena gadis bule itu sedikit histeris.
Selain yang mirip Kalil membawa gadis itu pergi, Agnes melihat teman teman Kalil ikut membantu membawa gadis itu pergi.
"Kalil punya kembaran, Pa?" tanyanya sambil menatap papanya yang masih terfokus menatap ke arah keributan kecil itu.
"Iya, namanya Kenan." Papanya menatapnya dengan bibir tersenyum.
"Kamu tertarik?" tanya beliau melanjutkan.
Agnes hanya balas tersenyum tipis.
Tapi senyumnya memudar saat melihat seorang gadis cantik yang menghampiri Kenan yang sudah masuk lagi ke ruangan bersama teman temannya setelah mengusir gadis bule itu.
Kenan menyambutnya dengan mesra sambil merangkul pinggangnya.
__ADS_1
"Lupakan saja," kata Mamanya sudah ngga semangat lagi.
Dia pun menarik tangan putrinya untuk cepat pergi meninggalkan pesta yang membuatnya ngga nyaman.
*
*
*
"Kalil, apa kita akan melakukannya?" tanya Khanza gugup. Saat ini mereka sudah berada berdua saja di dalam kamar.
Sebenarnya Khanza sudah sangat lelah. Dia ingin mandi, setelah itu tidur.
Tapi Kalil sepertinya ngga satu pikiran dengan Khanza.
Kalil tersenyum jahil. Mama mama mereka sudah melepaskan segala aksesoris yang ada di tubuh Khanza. Sekarang gadis ini hanya mengenakan kimono mandi saja.
Kalil sengaja ngga menjawab. Sengaja ingin melihat reaksi panik Khanza. Dia malah membuka jasnya perlahan. Menaruhnya di kursi. Kemudian melepas kancing kancing kemejanya.
Tapi saat dia akan menurunkan celananya, istrinya menjerit.
"Stop, Kalil. Stop." Wajah Khanza dilanda kepanikan melihat aksinya.
Kalil menahan tawanya dan menatap Khanza tanpa dosa.
"Kenapa?" Tangannya meloloskan celana panjangnya begitu saja membuat Khanza berpaling, menjauhkan tatapannya dari Kalil yang sekarang hanya mengenakan boxernya saja.
Kalil pun mendekat dan duduk di samping Khanza. Detak jantungnya ngga beraturan. Ingin langsung menerkam Khanza, tapi berusaha dia tahan. Dia ingin melakukannya secara perlahan dengan Khanza. Gadis jutek yang sudah jadi istrinya harus memiliki kenangan yang manis tentang malam pertamanya ini.
Tangan Kalil meraih dagu Khanza agar menatapnya. Jarak mereka cukup dekat. Dia dapat merasakan kegugupan Khanza. Wajah Khanza sangat merah merona.
Kalil semakin mendekat, mata Khanza terpejam. Dia me*lum*at bibir yang sudah membuatnya candu setelah beberapa kali menyentuhnya. Bibir yang selalu membuatnya gemas karena sering manyun akibat kesal.
Dia melakukannya lebih lama dari biasa. Kalil dapat merasakan jantung Khanza yang keras memukul dadanya. Demikian juga jantungnya.
Kalil akan membuat Khanza menyerah tanpa harus dipaksa.
Sebelah tangannya pun mulai bergerak perlahan. Melakukan tugasnya dengan baik, membangkitlan pusat sensitif Khanza hingga Khanza pun mengeluarkan des*aha*nnya.
Bahkan kini kedua tangan Khanza sudah mengalung di lehernya. Kepalanya mendongak, memberikan izin pada Kalil untuk melakukan apa pun yang dimaunya.
Tangan Kalil yang memergang dagu Khanza kini sudah berada di tali kimonomya. Dia pun menarik simpulnya dan kimono itu pun terbuka dengan bebas.
Kini hanya de*sa*han keduanya yang terdengar, saling saut menyahut. Bahkan Kalil beberapa kali mengeluarkan geramannya seperti harimau lapar.
Ranjang pun bergoyang tanpa henti. Kalil terus melakukannya sampai pagi.
__ADS_1
♡♡♡