
"Yeeey.... Yang udah sah," goda Khanza pada Zayra. Paras Zayra langsung merona.dibalik blush onnya.
"Kamu kapan nyusul?" walau malu Zayra balik menggoda Khanza.
"Aku masih lama. Lagian nyusul sama siapa?" bibir Khanza berkedut.
"Kamu tinggal milih Khanzaaa," kata Kendra ikut menggoda Khanza. Pandangannya terarah pada empat laki laki.muda jomblo ngga jelas yang menatap Khanza sambil cengar cengir.
"Ayo foto foto. Udah banyak.yang antri," titah Aqil sambil mengatur teman temannya.
Dengan santai Kalil berdiri di samping Khanza sambil merengkuh bahunya.
"Nyusul, nyusul," seru Rakha sumringah. Tatapann nakalnya membuat Khanza sebal.
"Tuh, pacar kamu aja yang dirangkul," protes Khanza sebal.
Kalil ngga menjawab, tapi bibirnya tersenyum lebar. Teringat rekaman cctv yang membuat hatinya selalu merasa senang.
"Smile smile.... Ayo bilang cheesee...." seru Aqil memberi komando.
"Cheesee....." seru mereka kompak di depan kamera sang fotografer.
"Lageee," seru Rakha penuh semangat.
Mereka pun tertawa sambil mengubah gaya. Kadang seperti detektif, kadang lebay seperti BTS, grup musik.dari korea.
"Cheesee......"
Mereka melakukannya sampai beberapa kali, hingga Kiano dan Regan mengusir mereka turun.
Khanza berusaha tetap ketus pada Kalil yang sepanjang foto selalu saja menatapnya, bukan ke arah kamera. Bahkan ada beberapa foto jari jari tangan Khanza yang sengaja menjauhkan wajah Kalil yang selalu saja berada di dekatnya. Kalil dan yang lainnya pun tergelak termasuk dua mempelai melihat reaksi Khanza yang cukup berlebihan menanggapi godaan Kalil.
*
*
*
"Akhirnya bisa istirahat," seru Kendra lega sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur yang sangat sangat empuk
Zayra menatapnya ragu dan bingung. Mereka berdua masih menggunakan aksesoris pengantin lengkap.
Dia memilih duduk di depan meja riasnya. Dan mematap pantulan Kendra di kaca rias. Suaminya sedang memejamkan mata. Kendra tampak sangat tampan. Tanpa sadar bibir Zayra melengkung manis.
Kendra membuka matanya dan balik menatap Zayra dalam pantulan kaca riasnya. Keduanya saling pandang, dan Zayra yang kaget ngga nyangka Kendra membuka mata dan kini sedang menatapnya, jadi menunduk. Malu, grogi, salah tingkah berbaur di dalam hatinya.
Kendra tersenyum lebar melihat kegugupan Zayra.
Ngga lama, pintu kamar mereka terbuka. Aruna dan Dinda masuk ke dalam menemui keduanya.
"Kendra, kamu mandi duluan," perintah Aruna sambil mendekati menantu idamannya.
"Ya, mam," sahut Kendra patuh. Kemudian dia masuk ke kamar mandi dan melepas pakaian yang dia kenakan.
"Mam," panggil Kendra sambil membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengulurkan pakaian pengantin yang tadi dia kenakan.
Aruna pun menerimanya. Kendra kembali menutup pintu dan memilih berendam di bath up untuk menyegarkan tubuhnya demgan aroma therapi yang sudah disediakan.
"Kita ganti ya, pakaian kamu, sayang," kata Dinda sambil melepaskan mahkota dan kerudung Zayra.
"Kendra pasti semakin ngga bisa berpaling nanti lihat kamu tanpa kerudung," goda Aruna.
"Kamu cantik sekali," puji Aruna lagi dengan kagum.
__ADS_1
Mama Dinda tertawa kecil.
"Ya, sayang. Kamu cantik sekali," puji Mama Dinda di sela tawanya.
Zayra tersenyum malu. Baru kali ini ada yang melihatnya tanpa kerudung selain keluarganya. Tapi mama Aruna sekarang juga sudah menjadi bagian keluarganya.
Jantung Zayra berdebar aneh saat membayangkan Kendra nanti melihatnya tanpa kerudung.
Apa benar dia akan suka? batinnya cemas.
Nggak lama kemudian Zayra mengunci pintu kamarnya setelah kedua mamanya melepaskan atributnya.
Bersamaan dengan itu pintu kamar mandi terbuka.
"Zayra?" panggil Kendra saat melihat seorang gadis yang sangat cantik dengan rambut tergerai indah sepinnggang yang sedang mengenakan jubah mandinya.
Dia bengong, dan berusaha meyakinkan kalo.yang berada di depannya adalah Zayra, perempuan yang tadi dia nikahi.
Kendra menatap tajam.pada wajah yang tampaknya juga kaget dan merona.
Mama mamanya sudah menghapus make upnya, sehingga pipi Zayra sangat jelas terlihat warna merahnya.
Jantung Zayra berpacu kencang saat Kendra menghampirinya. Tubuhnya terasa kaku ngga bisa digerakkan.
"Kamu cantik sekali," ucap Kendra dengan suara seraknya. Matanya berkabut menatao mata Zayra juga yang tampak sayu.
Tanpa diduga Zayra, Kendlra langsung mengangkat tubuhnya, dan menggendongnya ala bridal. Kedua tangan Zayra pun reflek mengalung di leher Kendra.
Zayra dapat merasakan hawa panas dari nafas segar Kendra di wajah dan lehernya.
"Ini yang ingin aku lakukan sejak dulu."
Zayra memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya karena menahan sensasi aneh yang terasa di sekujur tubuhnya.
Bibir Kendra tersenyum dengan gairah yang semakin penuh.
"Kita mandi dulu, ya, sayang," bisik Kendra di telinga Zayra yang semakin membangkitkan sensasi anehnya.
Zayra hanya sesekali berani menatap Kendra dengan tatapan sayu, tapi lebih sering menutup matanya karena ngga tahan dengan perlakuan lembut Kendra.
Ada yang mendesak dalam tubuhnya sampai dia merasakan air hangat membasahi tubuhnya yang kini sudah berada di dalam bath up dengan Kendra juga ikut masuk ke dalamnya.
Kendra belum pernah melakukannya. Selama Zayra pergi, dia bagai orang gila menyelesaikan kuliahnya dan bekerja ngga kenal waktu. Hanya sesekali mengikuti sahabat sahabatnya di club. Tapi hanya memperhatikan apa saja yang sahabat sahabatnya lakukan.
Bukan ngga ada yang mendekatinya. Kendra pun ngga pernah menghitungnya. Tapi ingatan akan ciumannya pada Zayra membuat ngga mempedulikan mereka.
Sekarang dia menyalurkan hasratnya berkali kali pada Zayra. Dia memandang Zayra tanpa pernah merasa puas. Rambut dan kulit yang selalu tertutup itu diciuminya tanpa jeda.
"Zayra, kamu hanya milikku."
Kata kata itu lah yang terus dia gaungkan sambil mencecap bibir, wajah dan seluruh tubuh Zayra.
*
*
*
Dhafi terus memandangi Salma yang sedang mengobrol dengan Kevin, putra pertama Aries.
Tangannya terkepal saat melihat Kevin merapikan rambut Salma.
Dan hal ini pun di sadari Kevin. Dia sengaja melakukannya untuk membuat Dhafi kepanasan.
__ADS_1
Salma heran menatap Kevin yang memgembangkan senyum lebarnya tiada henti.
"Kenapa?"
"Ada yang marah," sahutnya sambil memberi kode hingga membuat Salma mengerti.
"Ngga mungkinlah. Aku udah putus," sangkal Salma tanpa mau melihat Dhafi.
Kevin malah tertawa lepas.
"Malah ketawa," kesal Salma tapi kemudian ikut tertawa juga dengan hati ngga yakin.
Salma tau, Dhafi ngga cukup hanya dirinya seorang. Karena itu lebih baik Salma yang pergi. Dari pada sakit hati terus.menerus.
*
*
*
"Lusa aku berangkat," kata Kenan memberi tau.
"Kalil juga?" tanya Aqil sambil melirik Khanza yang juga menatap Kalil.
"Gue di sini aja. Gue udah bilang sama daddy. Di kampus Lo dan Rakha aja."
"Tumbem kalian mau dipisahkan," ejek Rakha sambil tertawa.
"Gue ngga mau ninggalin seseorang," kata Kalil penuh arti.
Khanza tanpa.sadar mencibir.
Pasti ngga mau jauh jauh dari Agnes, batinnya kesal.
Kalil tersenyum ketika ujung matanya menangkap cibiran Khanza.
Dia pun bingung dengan perasaannya, rasanya berat untuk ninggalin Khanza. Padahal masih ada Aqil dan Rakha yang akan melindunginya.
"Khanza, kalo aku bareng Kenan ambil masternya, kamu ngga apa apa?" tanya Kalil tiba tiba dengan mode serius.
Aqil, Kenan dan Rakha pura pura menyibukkan diri mereka dengan ponsel. Tapi bibir ketiganya sama sama menampilkan senyum miring.
"Kenapa tanya aku? Pacar kamu, kan, Agnes. Tanya dia aja," kilah Khanza heran.
Kalil tertawa pelan.
"Iya, ya, lupa," jawabnya sambil melirik Khanza yang memutar bola matanya dan terlihat kesal.
"Oke, kalo gitu, aku ikut Kenan aja," putus Kalil tiba tiba.
"Haah! Serius lo?" Kaget Kenan. Begitu juga Aqil dan Rakha.
Begitu cepatnya dia merubah keputusannya.
"Iya. Khanza ngga apa kayaknya gue tinggal. Lo berdua jagain dia buat gue," titah Kalil membuat Khanza kembali mencibir.
"Dia udah besar, ngga perlu dijagainlah," balas Rakha cuek.
"Iya. Khanza pasti senanglah kalo lo pergi," kompor Aqil membuat Kenan dan Rakha tergelak saking senangnya.
"Pada ngawur," sentak Khanza kesal. Tapi dalam hati ngerasa ada yang hilang jika si kembar beneran kuliah di luar negeri.
Berkurang lagi, batin Khanza agak kecewa.
__ADS_1