
"Kalil gila juga," komentar Kendra sambil berdiri di sampimg Zayra. Mereka.akan pulang sekarang.
"Sudah ngga ada yang ketinggalan?" tanya Zayra mengalihkan topik. Dia ngga mau nanti nama Khanza akan terbawa bawa.
"Ya. Udah aku cek tadi," balas Kendra lembut. Sadar Zayra ngga mau membahasnya.
"Padahal pacarnya itu sudah bela belain dia dapatkan dengan sering mangkir dari acara kita," dengus Aqil kembali ke topik awal.
"Gue juga kaget ngelihat Kalil sangat tertarik sama Agnes waktu pertama kali ketemu. Belum pernah dia kayak gitu," sambung Kenan.
"Tapi cepat juga dia dapatnya," sarkas Rakha.
"Cepat dapatnya, cepat bosannya," ganti Aqil menyindir kemudian tergelak.
"Gue rasa rasanya yakin kalo Kalil sukanya sama Khanza. Sama kayak Rakha," sindir Aqil lagi dalam kekehannya.
Rakha hanya tertawa. Dia suka dengan Khanza. Tapi lebih ke sayang. Seperti dengan Zayra. Rakha menyayangi kedua sahabat perempuannya itu.
Beda saat dia bersama perempuan lain, yang bisa dia sentuh dengan bebas. Tapi terhadap Khanza dan Zayra, Rakha sungkan dan memang ngga ada keinginan untuk itu.
Apalagi kalo sampai dia nekad mencium Khanza, bisa habis dia dihajar bahkan mungkin di smackdown gadis itu.
Dan memang dari hatinya yang terdalam, ngga ada keinginan seperti itu. Makanya dia sangat santai merayu Khanza. Kalo Zayra jelas ngga berani. Kendra bisa menjadikannya samsak.
"Kalian kenal dengan Agnes?" ngga tahan juga Zayra menahan rasa ingin taunya tentang hubungan Kalil dan Zayra.
Kendra sampai tersenyum.saat meliriknya.
Penasaran ya yang? batinnya tertawa.
Aqil pun dengan lancar memceritakannya.
"Kalil sama Kenan ketemu Agnes waktu ngebahas kerjasama alat berat. Kemudian gue sama Rakha juga ikut. Karena alat berat yang dimiliki perusahaan Agnes lebih komplit dan harganya kompetitif."
"Si Kalil lihat yang bening gitu, kan, ngga tahan. Tapi Agnes agak beda dengan mantan mantan Kalil. Sedikit ja-im. Gue rasa itu taktik Agnes biar Kalil penasaran," kekeh Aqil melanjutkan.
"Gue rasa juga begitu," timbrung Kenan.
"Sepimikiran," timpal Rakha.
Baginya, ngga ada perempuan yang bisa menolak pesona mereka. Sikap Agnes yang sok sok ngga suka tentu saja membuat jika penakluk Kalil berkobar.
"Tapi se ja-im ja-imnya Agnes, tetap takluk juga dalam waktu singkat," sarkas Aqil lagi.
Sudah jelas, kan, tegas Rakha dalam hati.
Si penakluk yang ngga pernah lama mendapatakan mangsanya, sinis Rakha lagi dalam hati.
"Kalil bahkan cerita sudah beberapa kali maen ke apartemen Agnes. Ngapain lagi, kalo bukan nganu.... Heh, ngapa lo marah!" Lagi senang senangnya cerita, Rakha menjitak jidatnya.
Di sensor goblok, makinya dalam hati sambil melirik Zayra yang kelihatan ngga nyaman dengan cerita Kalil.
Sementara Kendra malah tersenyum melihat Zayra yang agak kesal. Dia pun menggenggam tangan Zayra lembut.
Kenan memijat kepalanya.
__ADS_1
Kalo Aqil cerita ya begitu, lost control.
CEKLEK!
Pintu terbuka dan menampilkan sosok Kalil seorang diri.
Keadaan sempat hening, karena orang yang sedang digibahin sudah muncul.
"Kalian kenapa? Seperti lihat hantu," sapanya memyadarkan mereka yang kemudian tersenyum saja.
"Pacar lo ngga diantar?" tanya Aqil menyindir. Dia masih mengusap jidatnya yang mungkin sekarang sudah berwarna merah.
"Nggak. Tadi gue ke sini pake mobil dia."
Zayra hanya menggelengkan kepalanya melihat betapa ngga pekanya Kalil.
Dalam hati Zayra sangat berharap kalo Khanza ngga ada feeling dengan Kalil. Bisa sakit hati ntar sahabatnya itu.
"Da nggak marah?" tanya Rakha ambigu.
"Khanza?" tanyanya agak menjeda. "Sama.sekali ngga," sambung Kalil lagi.
"Bukan Khanza. Agnes lah," semprot Aqil gemas.
Tuh, kan. Di pikirannya selalu Khanza. Dia yang laki aja curiga, apa lagi Agnes, omelnya kesal dalam hati.
"Ooo...." Kalil malah terkekeh.
Salah paham dia.
"O palamu, Lil," geram Kenan sambil mengurut dada. Kembarannya terlalu suka membuat mereka jadi berprasangka.
"Ngga usah didengerin, Zay," ujar Kendra dengan senyum di wajahnya.
"Hemm....."
Kamu terlalu terus terang, batin Rakha mengunpat.
"Sudahlah. Ngga usah dibahas lagi. Kita pergi sekarang," putus Kendra sambil menggandeng Zayra yang sudah nampak.gerah.
Jika.masih di sini, obrolan ngga berfaedah Kalil akan semakin melebar.
"Oke," respon Kenan langsung tanggap.
Pembahasan ini memang harus dihentikan, batinnya setuju.
"Kalian berdua bentar lagi jadi penganten," tukas Aqil sambil mengikuti langkah sahabat sahabatnya.
"Lo kapan nyusul?" cibir Rakha.
"Setelah lo lah," balas Aqil mengejek. Keduanya pun tertawa.
"Kalo gue ntar ngga nemu cewe yang pas, gue bakal ajak Khanza aja buat nikah," celutuk Rakha membuat langkah semuamya terhenti dan menatapnya aneh.
"Kenapa? Kan ada filemnya teman tapi menikah. Kelihatannya seru," lanjut Rakha santai.
__ADS_1
Zayra menghela nafas panjang. Kendra tersenyum melihatnya.
"Rakha becanda," bisiknya pelan.
"Hemm...."
Kendra tersenyum lagi melihat wajah susah hati Zayra.
"Ditolak lah sama Khanza," tawa Aqi penuh ejekan. Rakha pun tertawa.
"Ngga bisa," seru Kalil tiba tiba.
"Lah, kenapa bro?" sambar Aqil dengan tatapan meremehkannya.
"Pokoknya ngga bisa," ngeyel Kalil tanpa mau menjelaskan.
"Ck ck ck.... Khanza mana mau dipoligami," tandas Kenan tajam.
"Siapa yang mau poligami." Alis Kalil menaut.
"Pacar boleh banyak. Tapi istri cuma satu," sambung Kalil enteng.
"Gue tendang juga lo sampai ke parkiran," gerutu Aqil jengkel.
Kalil terkekeh mendengarnya.
Tapi Aqil sadar, prinsip Kalil sama seperti prinsipnya. Mungkin Kenan dan Rakha juga sama.
"Jangan dipikirkan, yang. Kalil sudah agak miring otaknya sejak lahir," bisik Kendra enteng.
Zayra hanya tersenyum walau hatinya mulai resah.
*
*
*
Khanza sengaja memisahkan diri dari teman temannya sesama dokter.
Hari ini dia apes banget. Bahkan sampe dua kali melihat dua sahabat tengilnya berciuman di arena publik.
Mereka sudah gila! Apa ngga malu kalo dilihat orang?
Ini, kan, rumah sakit. Tentunya akan banyak orang yang akan lalu lalang. Baik itu tenaga medis, pasien bahkan keluarga pasien.
Kenapa perasaannya agak aneh waktu melihat Kalil balas memeluk dan mencium Agnes, ya?
Padahal dirinya juga melihat hal yang sama yang dilakukan Rakha pada Verli. Rasanya biasa saja karena sudah sering lihat
Begitu juga Kalil. Laki laki brengsek itu sudah biasa membawa teman perempuannya di hadapannya.
Mungkin Khanza agak ngga terima saja kalo Kalil nanti ngga akan memiliki banyak waktu dengannya lagi.
Juga Rakha. Mereka pasti akan memprioritaskan pacar pacarnya dibandingkan dengan dirimya nanti.
__ADS_1
Zayra saja sudah menikah. Yang lain pasti menyusul. Sementara dia belum punya kekasih. Nasibnya cukup buruk.
Tapi tetap saja Khanza merasa sangat marah dengan Kalil. Lebih dari Rakha. Apalagi pacar Kalil sangat ngga ramah padanya. Agnes bahkan selalu menatapnya bagai hama yang harus dimusnahkan.