After The Heartbreak

After The Heartbreak
Akhr Drama Kalil


__ADS_3

Kalil terus menatap pintu luar bandara dengan penuh harap. Walau dia sudah sangat pesimis. Karena di detik detik mendekati akhir, bayangan Khanza juga belum terlihat.


Kalil sadar selama dekat dengan Khanza, dia belum pernah mengeluarkan kalimat sekejam itu padanya.


Lagi pula kenapa dia yang harus marah marah. Mungkin benar yang dikatakan Aqil, Khanza berhak memilih yang lebih baik darinya.


Dia memang laki laki brengsek yang egois. Harusnya Kalil sadar jika dia ngga berhak marah jika Khanza menemukan laki laki yang bisa menjadi rumahnya.


Dulu bahkan Kalil pernah memikirkan kalo Khanza adalah rumahnya untuk pulang. Tapi ternyata rumah itu sudah bukan miliknya lagi sekarang.


Terdengar panggilan yang meminta penumpang untuk segera masuk ke boarding room.


Kalil menghela nafas panjang. Kendra dan Rakha bahkan merangkul bahunya. Mungkin untuk menguatkan hatinya.


Ya, dia akan mencoba menerimanya walau masih berat karena Khanza belum juga memberi maaf.


"Nanti Om suruh nyusul ke Inggris aja," kata Glen mencoba menghiburnya.


Kasian melihat wajah Kalil yang ditekuk dan terlihat sangat kecewa karena putrinya belum juga kelihatan.


Ngga nyangka juga Glen kalo Khanza bisa membuat Kalil patah semangat begini.


Dalam hati dia bingung juga, tentang apa yang menjadi penyebab pertengkaran keduanya. Kalil kelihatan merasa sangat bersalah sekali.


Kalo sekedar perempuan perempuan yang berada di dekat Kalil, selama ini ngga gitu jadi masalah buat mereka. Itu sepengetahuan yang dilihat Glen. Kalil masih tetap tenang dan santai saat bersama Khanza. Khanza punnadem ayem saja. Tapi kini Kalil seperti mati kutu.


Kalil tersenyum getir.


"Iya, Om."


Rasanya sedih banget karena Khanza sudah ngga menganggapnya lagi. Sampai datang ke bandara pun, Khanza ngga mau.


Mungkin kata katanya terlalu menyakiti hati Khanza.


Kalil memghembuskan nafas berat.


"Kita pamitan, ya. Salam buat istri istri kalian. Juga Regan," ucap Alva sambil memeluk sahabat sahabatnya.

__ADS_1


"Oke;" sahut Kiano. Yang lainnya pun tersenyum.


"Lama lo di sana?" tanya Arga sedikit meledek.


"Tergantung," jawab Alva sambil melirik putranya yang tampak ngga bersemangat karena Khanza ngga juga datang.


Arga terkekeh pelan. Sejujurnya saat tau putra mereka gelud, dia cukup terkejut. Tapi setelah tau pokok masalahnya apa, malah membuatnya ngakak dan istrinya-Qonita sampai menggeleng gelengkan kepalanya.


Aqik memang paling bisa nyari gara gara. Kalil yang santai dan cuek bisa semarah dan sengamuk itu akibat ulahnya.


"Oke, bye," kata Alva sambil melambaikan sebelah tangannya. Sebelah tangannya yang lain memeluk pinggang Tamara.


Kalil mengikuti langkah orang taunya di belakang mereka, sesekali dia menoleh, berharap Khanza akan datang. Tapi ngga juga kelihatan bayangannya. Harapan Kalil sudah pupus. Jika sudah berada di boarding room, ke tempat pesawatnya pun hanya menunggu menit saja untuk tinggal landas.


Daddy sempat memgomelinya kenapa ngga naek jet pribadi mereka saja. Sekarang dia baru menyesal sudah bersikeras menolak keinginan daddynya.


Saat itu Kalil berpikir kalo Khanza pasti akan datang, karena Kalil naek pesawat komersil. Jamnya pasti ngga bisa seenaknya saja berubah. Ternyata dia salah.


"KALIL!"


Suara teriakan itu begitu menggelegar. Mereka semua yang ada di situ menoleh, termasuk Kalil yang langsung membalikkan badan.


Tapi yang membuat senyum Kalil terkembang, ada Khanza di sampimg Aqil. Aqil melambai lambaikan tangan padanya.


"Sebentar, dad, mam," ujar Kalil sambil pergi tanpa menunggu jawaban keduanya.


"Oke," jawab Alva senang karena melihat raut bahagia Kalil. Tamara pun tersenyum lega


Terima kasih, Khanza, batinya sambil menatap putra manjanya yang kini berlari cepat ke arah Khanza yang sudah ada di sekitar sahabat sahabatnya.


Tadi Tamara sempat melihat betapa sumringahnya wajah Kalil.


"Dia memang ngga jauh beda dari daddynya," cemooh Reno terkekeh.


"Betul sekali," sambung Glen yang juga terkekeh. Arga dan Kiano juga tersenyum melihatnya. Mereka ikut senang melihat senyum Kalil yang sudang mengembang sangat lebar


"Khanza," panggil Kalil setelah jarak mereka tinggal dua langkah. Langkah kaki Kalil tiba tiba teehenti begitu saja. Saat ini dia melihat Khanza sedang menghapus keringatnya dengan tisu dan nafasnya yang agak tersengal. Mungkin tadi Aqil menariknya sambil berlari.

__ADS_1


"Aku maafkan," kata Khanza langsung setelah mengatur ritme nafasanya menjadi lebih tenang.


Matanya kini saling beradu tatap dengan Kalil.


"Aku khilaf," aku Kalil jujur.


"Ya," jawab Khanza tiba tiba merasa aneh dengan situasi hening yang melingkupi mereka.


Saat Khanza menoleh ke samping, para sahabatnya sudah mundur beberapa langkah meninggalkannya. Bahkan Aqil yang tadi menarik narik tangannya membuatnya jadi berlari lari juga sudah ada ngga jauh di belakangnya. Dia ditinggalkan berdua dengan Kalil. Mereka seolah memberinya dan Kalil kesempatan untuk berbicara.


Khanza menatap wajah Kalil yang bilur bilur dan sudut bibirnya yang juga terluka. Ternyata masih mendingan wajah Kalil di bandingkan Aqil.


Tanpa sadar Khanza tersenyum mengingat wajah Kalil yang terlihat lucu.


Harusnya tampang begini yang di jadikan foto profil, cela Khanza dalam hati.


"Kenapa?" tanya Kalil heran melihat senyum miring Khanza.


"Ngga pa pa. Ya udah, kamu berangkat," sahut Khanza setengah mengusir ketika melihat isyarat Om Alva dan Tante Tamara yang sudah berada di dekat pintu masuk boarding room. Panggilan untuk penumpang kembali bergema.


Khanza agak grogi, apalagi tatapan daddy dan sahabat sahabatnya agak aneh di matanya. Jangan tanyakan sikap Aqil dan yang lainnya. Mereka memamerkan senyum miring mereka seakan sedang meledeknya.


Khanza mau marah jadi bingung. Situasi ini membuat jantungnya tambah ngga sehat.


Kalil tersenyum. Kini rahangnya sudah ngga kaku lagi.


"Oke. Aku berangkat, ya. Aku ngga akan pulang setelah lulus," kata Kalil dan tangan kanannya sudah ringan sekali mengacak acak rambut Khanza.


Dia merindukan momen momen ini.


Ngga bisa disangkal, Khanza senang mendapat perlakuan itu dari Kalil. Wajahnya merona walau berusaha disembunyikan dengan sikap galaknya.


"Ya udah, sana pergi," usir Khanza lagi sambil menepis kasar tangan Kalil.


Kalil tertawa lepas. Rasanya benar benar sudah lega sekarang. Maaf Khanza sangat berarti buatnya.


"Aku pergi, ya," katanya sambil pergi. Tapi suara tawanya masih terdengar saat dia setengah berlari ke arah mami dan daddynya.

__ADS_1


Tamara bahkan melambaikan tangannya pada Khanza sebelum masuk ke boarding room dengan wajah penuh rasa terima kasih.


__ADS_2