
Khanza tersenyum melihat wajah Kalil yang sedang pulas tertidur.
Dia memang sangat tampan kalo lagi begini, puji Khanza sambil duduk di samping Kalil.
Ngga di sangka wajah setampan ini adalah player kelas kakap. Dan dia pun dengan bodohnya mau menjadikannya sebagai suami.
Tapi menurut daddynya ada kalanya mereka akan berhenti jika menemukan perempuan yang tepat. Berhenti jadi player.
Seperti daddymya yang bertemu dengan maminya.
Juga Om Alva yang katanya jadi jinak karena sudah ketemu pawangnya, Tante Tamara.
Juga Om Reno dan Om Regan. Ngga terkecuali papinya Kendra. Pengecualian pada Om Arga dan Tante Qonita.
Tante Rain, Tante Dinda dan Tante Aruna. Mereka semua adalah perempuan perempuan yang membuat teman teman daddynya ngga mau berpaling.
Tapi apakah Kalil juga sama?Apakah dia bisa berharap jadi perempuan yang tepat dan terakhir untuk Kalil? Khanza bermonolog dalam.hati.
Walau dia berusaha cuek, tapi tetap saja selintas rasa ngga percaya kadang kadang menyelusup dalam pikirannya.
Tanpa sadar Khanza menghela nafas panjang.
Perasaan itu tambah membuatnya semakin lelah. Dia pun menyandarkan kepalanya di bahu Kalil dan langsung terlelap saat memejamkan mata.
Kalil tersadar karena merasa ada yang membebani bahunya. Hidungnya menghirup harumnya shampo stroberi yang biasa digunakan Khanza. Setelah mengintip bentar untuk memastikan kalo benar Khanza yang ada di sampingnya, dia pun memejamkan mata lagi dengan bibir mengulaskan senyum. Perasaannya sangat nyaman dengan Khanza berada di sampingnya.
Tamara yang sedang berkunjung ke rumah sakit. Sekarang bersama Aruna, dia ingin menemui Khanza yang kata perawatnya sudah kembali ke ruangannya. Dia ingin menunjukkan konsep pernikahan yang akan diselenggarakan nanti.
Tamara butuh persetujuan Khanza, karena dia ingin konsep pernikahan ini adalah impian yang akan di kenang Khanza, sekali seumur hidupnya.
Mama Khanza, Armita setuju saja dan menyerahkan apa pun pada keputusan Khanza. Sedangkan Kalil sudah setuju, apa pun yang direncanakan maminya. Bagi Kalil yang penting bisa menikah dengan Khanza.
Bibir keduanya sama tersenyum lebar melihat Khanza yang tertidur dengan menyandar pada Kalil yang juga sedang terlelap.
"Kapan Kalil ke sini? Dia sama sekali ngga mengatakan mau pergi menemui Khanza," komen Tamara gemas dengan kelakuan bujangnya.
Aruna terkekeh pelan.
"Mereka menggemaskan," bisik Tamara dengan hati sangat bahagia, melihat posisi tidur mereka berdua yang terlihat nyaman.
"Iya," balas Aruna dengan senyum lebar di wajahnya.
Tamara pun memfoto mereka beberapa kali dengan ponselnya tanpa blitz.
"Aku senang akhirnya Kalil bersama Khanza," katanya masih dengan bibir mengukir senyum.
"Aku pun begitu."
__ADS_1
"Lihat status Kalil," kata Tamara sambil menunjukkan layar ponselnya pada sahabatnya.
Aruna menahan tawanya. Dalam hatinya ngga abis pikir karena Kalil bisa menuliskan kalimat kalimat lebay itu. Seingatnya Kalil sangat gengsian.
Tapi foto Khanza yang ada di sana sangat manis.
"Ya, biarkan saja mereka tidur. Nanti saja menemui mereka," putus Aruna sambil melangkah keluar dari ruangan Khanza.
"Oke."
Begitu sampai di luar, Aruna langsung menatap dua perawat yang menunduk hormat padanya.
"Jangan ijinkan siapa pun masuk ke ruangan ini," titah Aruna membuat Tamara tertawa kecil tapi dalam hati setuju dan kata kata Aruna
"Baik bu," jawab dua perawat itu patuh.
"Apa kamu yakin Kalil ngga bakalan ngapa ngapain Khanza," kekehnya sambil berlalu. Dia sangat mengenal anaknya. Sama laparnya seperti daddynya, Alva.
Dan dia yakin tadi Kalil sudah terjaga, dia berpura pura tidur.
Tamara ingin rasanya mengetok jidat putra nakalnya itu, tapi dia takut akan membangunkan Khanza yang terlihat sangat lelah.
"Aku percaya sama Kalil, selama ini dia sudah menjaga Khanza dengan baik," kekeh Aruna membalas.
Aruna pun tau kalo Kalil pura pura tidur. Terlihat dari kelopak matanya yang sedikit bergerak.
"Oh ya? Syukurlah," balas Tamara sangat senang. Dia pun lega melihat sahabatnya sudah merasa bahagia dengan keputusan Salma.
"Menurut kamu, mungkin ngga Salma ada hubungannya dengan Dhafi?" tanya Tamara agak curiga.
Siapa tau saja anak anak mereka saling berhubungan yang lebih dari sekadar teman biasa.
Aruna terdiam, memikirkan sejenak apa yang sudah dikatakan Tamara.
"Ngga tau juga. Tapi kalo mereka memiliki hubungan spesial, aku ngga akan melarang," jawab Aruna dengan senyum tipisnya.
"Hubungan kita pun akan semakin dekat," kekeh Tamara.
"Iya ya," balas Aruna juga terkekeh. Karena Dhafi adalah adiknya Khanza.
*
*
*
Khanza membuka matanya perlahan karena merasa diawasi.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun?" tangan Khanza menutup mulutnya yang masih menguap. Rasanya dia baru terlelap sebentar.
"Ya," jawab Kalil dengan senyum di bibirnya.
"Kalo masih ngantuk tidur aja lagi," kata Kalil sambil membelai puncak kepala Khanza lembut.
"Kamu kelihatan capek banget," katanya lagi sambil terus menatap mata Khanza beberapa kali memgerjap, untuk memperkuat kesadaramnnya.
"Iya, agak banyak ibu ibu yang melahirkan dengan operasi," kata Khanza sambil menegakkan tubuhnya.
"Kamu kalo lahiran pilih normal atau operasi?" tanya Kalil sambil tangannya ngga henti hentinya membelai rambut Khanza.
"Aku maunya normal, jadi cepat bisa beraktivitas lagi," jawab Khanza serius.
"Bukannya kalo operasi di bius? Kan ngga sakit?" Kalil menatap Khanza ngga ngerti.
"Setelah biusnya hilang baru akan terasa. Juga harus lebih lama banyak bedrest. Kalo lahiran normal, tiga hari juga udah sembuh sakitnya," jelas Khanza panjang lebar.
Maklum saja, Kalil pasti mana ngerti. Dia mungkin taunya hanya tanam benih saja. Khanza mengomel dalam hati.
"Oooh, begitu. Aku terserah kamu aja. Kan, kamu ntar yang lahiran," tukas Kalil kemudian tersenyum lebar melihat Khanza menatapnya kesal.
'Pokoknya aku mau punya anak satu aja," ketus Khanza galak. Tiba tiba dia merasa nyerti pada bagian sensitifnya. Membayangkan kalo bayinya yang akan keluar dari sana.
Kalil menggeleng cepat, ngga setuju.
"Jangan. Kasian dia ngga punya saudara. Aku yang berdua dengan Kenan aja rasanya masih kurang. Seperti kamu aja ya, tiga," bujuk Kalil.
"Engga mau, kebanyakan," tolak Khanza tiba tiba merasa takut.
"Duanya kembar. Satunya engga. Kan, kamu jadi dua kali aja hamilnya," atur Kalil masih ngga lelah membujuk.
"Enggak Kalil. Enggak! Satu aja," kata Khanza keukeh dengan pendapatnya.
"Tiga Khanza," ngeyel Kalil tetap keras kepala.
'Satttuuuu," balas Khanza ngga mau mentolerir keinginan Kalil.
"Huuuh." Kalil menghembuskan nafas kesal. Terpaksa dia mengalah dulu.dari perdebatan yang ngga tau kapan selesainya. Lagian mereka belum nikah. Belum bisa produksi. Nanti kalo sudah nikah, Kalil akan atur strategi agar Khanza ngga bisa menolaknya sampai memdapatkan tiga anak darinya.
"Oke, oke," kata Kalil pura pura mengalah dengan tampangn sememelas mungkin agar Khanza ngga curiga.
Senyum Khanza merekah senang mendengarnya.
Dasar masih bocah, ejek Kalil dalam hati. Tapi senyum di bibirnya pun terbit melihat kebahagiaan Khanza karena mengira dirinya benar benar mengalah.
Khanza memang berbeda jauh dari mantan mantannya yang selalu mengalah untuknya. Bahkan tanpa opsi penolakan sedikit pun.
__ADS_1
Mungkin kalo Kalil ngajak mereka nyebur ke laut dalam, pasti mereka akan patuh dan langsung nyebur juga.