After The Heartbreak

After The Heartbreak
Masih tentang Rakha


__ADS_3

Siang ini setelah jam makan siang, Rakha sengaja menyempatkan waktu untuk melihat keadaan nenek Fika. Ini adalah hari ketiga. Besok adalah hari bahagianya. Dia akan semakin mengintimidasi gadis itu agar takluk padanya.


"Ehem," batukmya ketika melihat Fika sedang tepekur di samping tubuh ringkih neneknya yang


sedang tertidur pulas.


Fika hampir saja jatuh dari kursi saat mendengar batuk sombong yang sangat dikenalinya.


"Ngga perlu terlalu bersemangat menyambut kedatangan penolongmu," sindir Rakha dengan mengulum senyum melihat adegan Fika yang hampir saja jatuh tadi.


Baginya apa pun yang dilakukan Fika sangat menggemaskan. Baru sekarang Rakha menyukai seorang gadis apa adanya. Juga baru kali ini Rakha merasa kesal karena sudah beberapa kali ditolak olehnya.


"Nenek kamu gimana sekarang?" tanya Rakha yang berjalan mendekati ranjang nenek Fika. Berdiri tepat di bagian ujung kaki ranjang.


Fika pun sudah berdiri dengan resah.


"Sudah mendingan."


"Hemm.... syukurlah."


Hening menyelimuti mereka.


"Besok lo mau datang jam berapa?" tantang Rakha dengan senyum miringnya.


Wajah Fika langsung pucar. Sedari tadi dia sudah deg degan menunggu pertanyaan ini.


"Emm... begini, aku sangat berterimakasih atas apa yang udah kamu lakukan. Tapi aku mohon, biarkan aku mencicilnya," mohon Fika dengan suara bergetar.


"Sampai kapan kamu akan mencicilnya? Sampai aku punya anak, terus anak aku punya anak lagi, gitu?" sarkas Rakha. Sebenarnya dia ngga tega. Hanya dia telanjur kesal dengan sikap sombong gadis ini padanya.


Hanya ingin mencecap sedikit saja, ngga lebih.


Fika sampai bengong mendengarnya.


"Pokoknya aku ngga mau tau. Besok jam tujuh malam kamu harus datang ke apartemen aku," kertak Rakha galak.


Tubuh Fika gemetar saking takutnya.


Dia ngga mungkin menyerahkan milik satu satunya yang paling berharga dalam dirinya.


"Aku ngga bisa. Aku mohon," bahkan Fika hampir menangis karenanya.


Rakha tersenyum kejam


"Terserah. Sekarang juga akan aku cabut semua fasilitas yang akan aku berikan jika kanu berani ingkar janji," katanya mengancam. Walau sebenarnya ngga sampai hati juga.


Tapi harga dirinya sudah terluka. Di mana mana banyak perempuan yang mendambanya, tapi gadis yang sudah beberapa kali ditolongnya, selalu menolaknya dengan angkuh.


"Aku akan lebih bekerja keras. Tolong percayalah," kata Fika sambil mengusap air matanya.


Rakha mendengus kesal. Sebenarnya dia sudah frustasi harus memakai cara apalagi untuk membuat gadis ini jadi miliknya.


Dia bahkan sudah pernah menolongnya dari preman. Memberikannya perhatiannya dengan beberapa kali maen ke fakultasnya. Bahkan kini memberikan fasilitas terbaik untuk pengobatan neneknya.


Apa lagi yang kurang!

__ADS_1


Perempuan lain di luar sana pasti sudah memberikan nyawanya bahkan kalo bisa padanya.


"Aku ngga mau tau. Alamat dan kode pintu apartemennya sudah aku kirimkan. Besok malam kamu harus datang," katanya ngga peduli dengan air mata Fika yang tumpah.


Rakha mengusapnya, jarak keduanya sangat dekat. Rakha mendekatkan wajah yang basah oleh air mata itu dan mengecup bibirnya. Karena ngga ada perlawanan, Rakha melakukannya dengan kasar.


"Kamu milikku!" katanya setelah menjauhkan wajahnya dan melangkah pergi.


"Ingat. Besok malam," kata Rakha sambil membuka pintu, menatap gadis.yang masih terpaku dengan bibirnya yang agak bengkak akibat perbuatan Rakha.


Rakha pun langsung pergi tanpa menunggu jawaban. Hatinya sangat senang karena gadis tadi ngga menolaknya.


Besok malam akan dilakukannya dengan lebih lembut, janjinya dalam hati.


Sementara Fika memegang bibirnya yang terasa perih dan bengkak. Tadi laki laki sombong itu sempat menggigitnya.


Kata katanya membuat ada perasaan yang aneh dalam dadanya.


Maksudnya apa?


*


*


*


Rakha berjalan dengan senyum selalu terkembang di bibirnya. Membuat para perempuan yang ada di sana sampai menghentikan langkahnya hanya untuk melihat ke arahnya.


"Rakha?"


Rakha terdiam ketika melihat dokter Verli sedang berjalan menhampirinya.


"Apa kabar?" tanya Verli berusaha menghilangkan kegugupannya melihat sikap dingin Rakha.


Sejak tau Rakha yang menanggung biaya perawatan pasien seorang nenek dari seorang gadis cantik ini membuat dokter Verli penasaran.


Kekasihnya yang baru?


"Baik," jawab Rakha datar.


"Emm.... kamu masih marah?" tanya dokter Verli sedih.


"Marah kenapa?" tanya Rakha tetap datar. Sudah ngga ada respek lagi dalam dirinya terhadap dokter Verli.


Dia memang menyukai perempuan perempuan cantik, Verli termasuk salah satunya. Tapi dia ngga suka perempuan yang suka menghujat perempuan lain, apalagi itu Khanza, sahabatmya.


"Ke kenapa kamu ngga pernah menghubungi aku lagi?" Walau gugup,tetap Verli katakan. Karena dia butuh jawaban langsung dari laki laki ini.


"Untuk apa? Untuk berci*nta lagi?" sindir Rakha.


Karena memang itu yang mereka lakukan. Perempuan ini terlalu mudah menyerahkan dirinya padanya.


Tanpa pernah Rakha perlu bersusah payah.


"Rakha...." kaget dokter Verli ngga nyangka kalo ucapan itu yang akan keluar dari mulut laki laki yang sangat dipujanya.

__ADS_1


Tapi memang sejak awal, dia yang selalu agresif memberikan miliknya dan Rakha akan menerimanya dengan senang hati.


Dia merasa mengikat Rakha dengan itu akan membuat Rakha ngga akan berpaling darinya. Apalagi yang diberikannya adalah yang paling diidamkan laki laki. Kepera*wa*nanmya.


Tapi kenapa sekarang dia merasa terhinakan sekarang? Kenapa dulu dulu enggak?


Rakha kemudian melangkah pergi meninggalkan dokter Verli yang bergeming dalam keputusasaannya.


*


*


*


"Khanza, siapamya Rakha nenek itu?" Aruna bertanya heran ketika tau ada seorang pasien yang sudah berusia lanjut, yang menjadi tanggungan Rakha.


Karena Aruna mengenal seluruh anggota keluarga Reno Rain. Ngga mungkin kerabatnya, kan? Karena setaunya ngga ada keluarga Rakha yang hidup di bawah garis kemiskinan.


"Kayaknya Rakha lagi pedekate dengan cucunya, tante," jawab Khanza yang sangat yakin dengan kecurigaannya.


"Oh ya?" kekeh Aruna langsung tergelak.


Reno dan Rain tau ngga ya?


"Tapi Rakha ngga mau ngaku, tante," sambung Khanza lagi dengan senyum di wajahnya


"Ya, ya."


Ada ada aja, batin Aruna merasa geli.


"Cucunya sudah yatim piatu, tante. Dia hanya tinggal berdua sama neneknya. Sepertinya gadis itu yang menghidupi dirinya dan neneknya, tante," lanjut Khanza memberikan segala informasi yang dia ketahui.


"Gadis hebat," puji Aruna dengan sisa tawa di wajahnya.


"Tapi dari mana Rakha mengenalnya, ya," tanya Aruna lagi.


"Kalo itu Khanza ngga tau tante," jawab Khanza jujur.


Aruna mengangguk anggukkan kepala. Teringat kembali dulu dia dan Kiano menbantu papanya Rain waktu sakit parah. Setelah akhirnya diambil alih Reno.


*


*


*


"Rakha melakukan itu?" tanya Rain ketika Aruna mampir ke rumahnya setelah pulang dari rumah sakit.


"Kamu ngga tau?"


Rain menggelengkan kepalanya.


"Rakha udah lama ngga pulang ke rumah. Katanya banyak kerjaan, jadi dia tidur di apartemen di dekat perusahannya," kata Rain menjelaskan.


Aruna mengangguk mengerti. Dulu sebelum menikah dengan Zayra, Kendra juga begitu. Lebih suka tidur di apartemennya dari pada pulang ke rumah.

__ADS_1


"Besok malam aku akan ke apartemennya dengan Reno. Tapi Kak Aruna, aku senang sekali mendengarnya. Akhirnya anak itu bisa serius juga," tawa Rain senang. Aruna pun ikut tertawa. Dia pun senang mendengarnya, bahkan sejak tau dari Khanza.


"Aku udah ngga sabar mengatakannya pada Reno," kata Rain yang ngga bisa lagi menyembunyikaan ekspresi bahagianya.


__ADS_2