After The Heartbreak

After The Heartbreak
Rencana Aqil


__ADS_3

Selepas para laki laki itu bermain basket, mereka kini duduk di kantin. Boby juga ikut bergabung bersama mereka.


Khanza tau mereka sepertinya ingin mencoblangi dirinya dengan Boby.


Gila, pikiran dari mana itu, rutuknya membatin.


"Jadi kamu dokter?" tanya Boby penuh minat.


"Ya," jawab Khanza singkat


"Nanti dia mau kuliah spesialis di sini." Aqil memberikan bocoran. Khanza memberikannya tatapan mengerikan. Tapi Aqil ngga takut. Dia dan Rakha punya misi penting.


"Tiga atau empat bulan lagilah," lanjut Rakha juga memperjelas.


"Oooh.... ya, ya. Spesialis apa?" tanya Boby sambil menatap Khanza dengan mata teduhnya.


"Obgyn."


"Apa tuh?" tanya Boby yang kurang familiar dengan kata yang disebutkan Khanza.


"Spesialis kandungan," jelas Khanza yang disambut anggukan mengerti Boby.


"Ooo," senyumnya agak malu.


"Masa gitu aja lo ngga tau," sarkas Aqil mengejek.


"Yang gue pelajari tiap hari minyak bro," kekeh Boby yang juga diikuti Rakha dan Aqil.


Khanza mengulas senyum tipis sebentar sebelum mendatarkan lagi ekspresinya. Tapi Boby sempat melihat senyum itu.


Manis, batinnya.


Kendra dan Zayra ngga ikut menanggapi, hanya ikut tersenyum saja. Mereka membiarkan komunikasi yang terjalin antara Khanza dan Boby.


Dalam hati Zayra gemas melihat foto foto mesra Kalil yang makin ngga berhenti menghujani sosmed mereka.


Zayra ngga mau Khanza memgalami fase patah hati yang berlarut larut seperti dirinya dulu.


Sementara Aqil dan Rakha menibrung dengan celutukan celutukan kecil.


Mereka pun menikmati roti bakar. Aqil sempat sempatnya meminta anak gadis ibu kantin untuk memfoto keakraban mereka.


Aqil pun mengirimkan langsung pada Kalil.


Aqil


Gimana? Dia cocok, kan, sama Khanza.... wkwkwkwk


Bibir Aqil mengembangkan senyum ketika melihat pesan itu sudah dicentang biru. Sudah dibaca Kalil, tapi ngga dibalas.


"Sudah lo kirim?" bisik Rakha yang satu frekuensi dengan Aqil.


"Sudah. Tapi ngga dibalas dia," kekeh Aqil pelan. Rakha juga ikut terawa senang.


Ngga rela Rakha kalo Khanza sampai patah hati pada si brengsek Kalil.


"Khanza, dari pada bosan nemenin kita kuliah, mending sama Boby lihat lihat kampus spesialis kamu nanti. Boby juga belum ada jadwal kuliah dalam waktu satu jam ini," titah Aqil memberikan perintah.


Rakha menahana senyumnya mendengar pancingan.Aqil.


Aqil sudah hapal kebiasaan Boby yang selalu datang dua jam sebelum jam kuliahnya. Dia pasti menyempatkan dirinya bermain basket dulu. Dan mahasiswa mahasiswa lain akan bergabung ikur bermain dengannya.


"Nggaklah," tolak Khanza sambil mendelikkan matanya.


"Dia ngga gigit, Khanza," canda Rakha membuat Khanza mengirimkan lirikan horornya.

__ADS_1


Boby tersenyum melihatnya.


Dan Khanza pun tetap menolak membuat Aqil dan Rakha ngga bisa memaksanya lagi.


Khanza ngga bisa dipaksa, nanti bakalan ngambek. Agak lama sembuhnya.


Sementara okelah, batin Rakha cukup.puas.


Boby juga ngga kelihatan kesal. Dia hanya tersenyum saja. Agak penasaran juga dengan sikap penuh penolakan gadis itu.


*


*


*


Sudah seminggu setelah hari itu, Kalil ngga mengirimkannya pesan pesan lagi. Juga ngga menelponnya. Anak itu seperti raib ditelan bumi.Walau agak kehilangan, tapi Khanza cukup merasa lega.


Malahan sahabat sahabatnya itu seperi berusaha mendekatkan Boby dengan dirinya.


Seperti siang ini. Mereka menikmati makan siang di kafe langganan dekat rumah sakit Khanza.


Mereka mengajak.Boby ikur bersama. Awalnya Khanza enggan. Tapi dia ngga bisa menolak Zayra.


"Sup Kimlomya memang enak," puji Boby yang juga memesan makanan yang sama dengan Zayra.


"Karena itu Khanza betah makan siang di sini," respon Aqil sambil melirik Khanza dengan sinar mata menggoda.


Khanza hanya melengos membuat Aqil melebarkan cengirannya.


"Mami juga juga sangat menyukai sup Kimlo. Bahkan nurut aku, buatan mami lebih enak dari ini," kata Boby terus terang. Dia tersenyum ketika Khanza menatapnya.


"Wow, satu selera, dong," kompor Aqil senang.


"Boleh. Kapan kapan aku bawakan," kata Boby menawarkan, lalu melemparkan senyumnya lagi pada Khanza yang masih menatapnya dan kini membalas senyumnya. Walau masih tipis.


Zayra melirik Khanza kemudian tersenyum pada Kendra yang sedang tersenyum juga padanya.


Sudah ada progres, batinnya senang.


Semoga aja Boby laki laki yang baik, harap Zayra dalam hati.


Mereka mengenal Boby padq dua minggu kedua perkuliahan Magister.


Awalnya karena selalu melihatnya maen basket dan ditonton tanpa bosan oleh para mahasiswi.


Kemudian Aqil dan Rakha ikut bergabung. Kendra tetap berdiri di samping Zayra. Takut ada yang berani menggoda Zayra istrinya.


Kendra sangat posesif pada istrinya. Dia ngga memberikan celah sedikitpun pada laki laki yang ingin mendaparkan perhatian Zayra.


Setelah itu seakan menjadi rutunitas mereka di kampus. Dan mereka pun menjadi cukup akrab.


"Enaknya diundang makan, Bob ke rumah lo," gurau Aqil terkekeh.


"Kalo kalian ngga sibuk, kapan aja pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian," sahut Boby ringan.


"Oke, nanti kita agendakan," sambung Rakha antusias.


Aqil kembali tergelak di bawah tatapan intimidasi Khanza.


Kendra tersenyum pada Zayra yang dibalasnya dengan manis.


Kelihatannya cukup berjalan lancar, batin Kendra.


Awalnya dia ngga setuju dengan rencana Aqil. Tapi Aqil yang lebih dulu mendapatkan foto foto kedekatan Kalil demgan cewe bule.dari Kenan, mulai mendukungnya.

__ADS_1


Ada beberapa Kandidat yang sudah melalui banyak tahap seleksi. Dan Boby menjadi yang terkuat.


Boby juga anak konglomerat yang perusahaan keluarganya bergerak di bidang minyak bumi. Sesuai jurusan yang dia ambil.


Laki laki itu juga masih single. Aqil sudah menyelidiki larar belakangnya.


Dan yang terakhir Boby sepertinya nurut saja dengan ajakan Aqil dan teman temannya.


Walaupun ngga ada insiden bola terbang itu, Aqil tetap aja akan mengajaknya untuk ikut berkumpul bersama mereka. Seperti hari ini juga, ternyata Boby mau mau saja.makan siang bersama mereka.


*


*


*


Khanza yang sedang berjalan di lorong rumah sakit, dikejutkan pada kehadiran sesorang yang berdiri mematung menatapnya tajam. Kalil.


Kapan dia pulang? batin Khanza bingung. Ngga ada yang mengatakan padanya tentang kepulangan Kalil.


Khanza berjalam tenang mendekatinya.


Kini mereka hanya terpisah dalam jarak dua langkah saja. Khanza menaruh kedua tangannya di dalam saku jas dokternya.


"Kapan datang?" tanya Khanza datar.


"Baru saja. Kamu ngga kangen aku?" tanya Kalil dingin.


"Kenan ngga ikut?" Khanza mengalihkan topik pembicaraan. Dia tau Kalil seperti sedang menahan marah. Entah karena apa.


"Aku pulang sendiri," masih dingin Kalil menjawab.


"Oooh."


Hening.


Khanza sudah kehabisan topik pembicaraan. Apalagi sikap Kalil yang terasa aneh bagi Khanza.


"Kamu serius dengan laki laki itu?' tanya Kalil dengan sorot intimidasi pada Khanza.


"Laki laki mana?" tanya Khanza heran.


"Yang dekat denganmu akhir akhir ini," sarkas Kalil tajam.


Siapa ya maksud Kalil.


"Ooh," jawab Khanza sekenanya. Dia masih berpikir.


Selama ini Khanza hanya dekat dengan dokter Niko karena mereka berdua sangat sibuk dengan ritme kerja dokter Muluk.


Dan Boby, laki laki yang dua minggu ini cukup sering ikit dalam aktivitas mereka.


"Kamu sudah.cocok? Apa.dia baik?" tanya Kalil.dengan nada mengambang.


"Ya, baik," jawab Khanza tenang walaupun bingung tentang siapa yang dimaksud Kalil.


Wajah Kalil tampak lelah. Hampir saja Khanza menawarkan makan di kafe depan rumah sakit. Tapi bayangah kedekatan Kalil dan si bule muncul dan membuatnya enggan.


"Aku harus ngontrol pasien. Kamu pulanglah. Istirahat," kata Khanza sambil membalas tatapan tajam Kalil.


Khanza berjalan melewati Kalil yang masih terdiam, sedikit terkejut akan ketakpeduliannya. Padahal Khanza tau dia baru pulang dari Inggris dan pasti masih mengalami jetflag


Seperti bukan Khanza saja, batinnya sambil membiarkan Khanza pergi. Dia kini hanya menatap punggung Khanza saja dengan perasaan semakin kesal tapi ngga bisa berbuat apa apa.


Semua gara gara Aqil yang ngga ada berhentinya mengirimkan foto foto kedekatan mereka dengan laki laki asing yang selalu dikatakan Aqil sebagai calon Khanza.

__ADS_1


__ADS_2