After The Heartbreak

After The Heartbreak
Kena Mental


__ADS_3

"Kamu tau, kan, dimana kantinnya?" tanya Kalil saat keduanya berjalan memasuki kampus.


"Nggak," jawab Khanza judes. Gaya Kalil saat memasuki kampus Zayra sangat meyakinkan, seolah dia adalah mahasiswa di sana.


"Kamu pernah ke kampus ini?" tanya Khanza heran karena langkah kaki Kalil menuju ke arah kantin.


"Nggak Aku pake gps," jawabnya dengan senyum manis.


Khanza deg degan melihatnya. Dia melengos. Khanza mulai menyadari mereka menjadi sorot perhatian mahasiswi dan mahasiswi yang berada dalan lintasan jalan mereka.


Mungkin terutama Kalil. Karena dia memiliki pesona iblis yang dapat dengan mudah menarik siapa pun untuk menatap dan terpikat padanya.


Kalil menggandeng tangan Khanza yang hanya diam. Mereka pun melewati lapangan basket tempat Boby biasa bermain.


"Kamu mau lihat aku melakukan long shoot?" tantang Kalil. Ada beberapa mahasiswa yang sedang bermain basket. Tapi Kalil bisa pastikan kalo laki laki yang jadi tujuannya ke sini ngga ada di sana. Kalo ada tadi Kalil akan langsung menantangnya duel, menentukan siapa yang paling banyak memasukkan bola ke keranjang itu.


Khanza mendelik.


"Jangan aneh aneh," larang Khanza kesal.


Kalil tersenyum lebar. Keduanya terus melangkah menuju kantin.


Ketika sampai di depan kantin, keduanya mulai mencari dimana Aqil cs berada.


"Mereka di sana," kata Kalil sambil menarik tangan Khanza agar mengikutinya.


Dia ngga ada? batin Kalil agak kesal karena ngga melihat Boby.


Khanza balas melambaikan tangan pada Zayra yang sudah berdiri dari duduknya.


"Kalian telat," cela Aqil. Saat ini pesanan mereka baru saja diletakkan di atas meja.


"Biasa, nunggu bu dokter operasi," Kalil menyahut santai sambil mendorongkan kursi buat Khanza.


Para sahabat laki lakinya hanya nyengir melihat perlakuan manis Kalil pada Khanza. Sudah tau sejak dulu. Hanya Zayra yang tersenyum lembut pada Khanza.


Ini yang membuat Khanza susah ngga jatuh hati dengan Kalil. Dia selalu memperlakukan Khanza bagai ratu. Dimana pun. Mungkin sudah bakatnya sebagai cassanova.


"Khanza, aku pesankan pangsit buat kamu," kata Zayra sambil menunjukkan pangsit milik Khanza.


"Makasih, Zay," jawabnya dengan bibir mengembangkan senyum.


"Orangnya mana?" tanya Kalil tanpa basa basi. Sudah ngga tahan dia pengen nunjukin ke laki laki itu siapa pemilik Khanza.


"Lo semangat banget," ejek Aqil dengan senyum miringnya


"Iya lah," balas Kalil sombong. Dia meraih mangkok baksonya.

__ADS_1


"Jangan terlalu banyak sambalnya," kata Kalil ketika melihat Khanza akan menyendokkan sesendok penuh sambal.


"Buat kamu," kata Khanza judes sambil menuangnya ke mangkok Kalil.


Yang lainnya pada tergelak.


"Teganya," rajuk Kalil memelas sambil membuang setengah sambal itu ke atas tisu yang dicomotnya. Kalil memang ngga doyan pedas.


Khanza cuek dan ganti menyendokan sambal yang sama banyaknya ke atas mie ayamnya.


Lagi lagi Kalil memgambil separoh sambal itu dan membuangnya ke atas kertas tisu.


"Ngga lucu, kan, waktu operasi tiba tiba kamu sakit perut," candanya saat melihat mata Khanza yang melotot padanya.


"Ini ngga ada rasanya," protes Khanza yang maniak pedas.


"Ngga boleh. Kamu ngga boleh makan pedas pedas sekarang. Nanti anak kita judes," larang Kalil.


Kembali yang lainnya pun ngakak.


"Putusin aja, Khanza. Belum nikah udah kasih banyak peraturan," kompor Rakha masih dalam tawa.


"Tapi sambal di sini lumayan pedas, Za," kata Zayra agak membela Kalil.


"Sedikit lah," sambung Kendra.


"Tuh, dengerkan?" kata Kalil mulai merasa di atas angin karena ada yang mendukung larangannya.


Teman temannya pun sama menikmati makanan mereka masih sesekali.diselingi denga obrolan.


"Kalil? Lo kuliah di sini? Bukannya di Inggris?"


Kalil dan yang lainnya sama mendongak dan melihat dua orang gadis cantik dan modis, yang salah satunya menyapa Kalil. Wajahnya khas indo Jerman


Dua orang gadis itu terlihat surprise dan sangat senang melihat Kalil.


Zayra mulai menatap Kalil kesal. Ngga nyangka ketemu mantan(?) atau fansnya Kalil (?)


Sudah sangat menyebar ternyata.


Kalil langsung merengkuhkan tangannya di bahu Khanza yang agak terkejut karena ngga menyangka Kalil akan melakukannya.


Dipikir Khanza, Kalil akan mendekat dan melakukan cipika dan cipiki pada kedua gadis itu.


"Gue lagi cuti, spesial nemenin calon istri gue," jawab Kalil spontan.


"Calon istri?" Kedua saling pandang dan menatap Khanza penuh lekat. Seakan sedang membandingkan kecantikan mereka dengan Khanza yang hanya diam saja. Bahkan terus memasukkan pangsit yang terlilit sumpit ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Iya, gue akan menikah bulan depan," kata Kalil to the point.


Aqil dan Rakha tersenyum miring mendengarnya.


Zayra bisa bernafas lega. Kendra mengggengam tangan Zayra di bawah meja. Tadi dia sempat merasakan kekesalan Zayra akan kedatangan dua gadis tadi.


"Menikah?"


Kali ini kembali mereka lagi lagi mendongakkan kepala pada suara bariton yang terdengar terkejut. Boby.


Khanza hanya tersenyum tipis pada Boby yang intens bergantian menatapnya dan Kalil.


"Ya, kami akan menikah," Kalil yang menjawab tegas.


Matanya pun ngga kalah tajam menyorot pada Boby. Yang dia nantikan datang juga.


"Duduk, Bob," kata Aqil menawarkan, tapi Kalil menatapnya dengan tatapan protes.


"Kami juga boleh bergabung, kan," kata gadis yang menyapa Kalil duluan.


"Sudah penuh," tolak Kalil kurang ramah. Situasi ini jauh dari harapan.


"Ngga ada salahnya, kan, kita ikut merayakan hari bahagia kamu, Kalil," kata temannya sambil menarik kursi di dekat Aqil. Dia pun menarik temannya agar duduk di sampingnya.


Sebenarnya dia ingin temannya duduk di samping Kalil, tapi laki laki yang juga diajak bergabung itu sudah mengambil posisinya.


Aqil dan Kalil saling pandang, seolah saling menyalahkan.


Kendra menghembuskan nafas panjang dengan situasi yang mulai ngga kondusif.


"Gue Shania, ini teman gue, mantan terindah Kalil, Evelin," kata Shania dengan gayanya yang agak menyebalkan.


Kalil hampir saja membanting sendoknya kalo ngga mendengar suara Rakha.


"Kalian anak manajemen?" Rakha sepertinya pernah melihatnya waktu lagi maen di kampus Fika, anak manajemen yang sempat dia dekati.


Shania menatap Rakha berusaha mengingat. Kemudian dia tersenyum senang.


"Iya. Sebentar, gue ingat. Kalian yang sering maen basket, kan?" serunya antusias.


"Ya," jawab Aqil mencoba membawa percakapan menjauh dari area sensitif.


"Lo Kendra, Boby, Aqil dan lo Rakha," katanya mulai mengabsen keempat laki laki tampan yang biasa dilihatnya di lapangan basket. Bukan dia aja. Banyak yang suka nonton kalo mereka berempat lagi maen. Permainan basket mereka pun keren.


Hanya Kendra yang ngga menyambut ramah antusias gadis yang bernama Shania.


Dia menatap Zayra ngga enak, tapi Zayra memberi isyarat dengan matanya kalo dia ngga apa apa.

__ADS_1


"Kalian sudah kenal lama? Oh ya, gue Boby," ucap Boby sambil melihat Kalil dan Khanza bergantian. Dia merasa cukup heran. Baru kemarin kemarin dia seakan di beri jalan. Tapi mengapa sekarang diberi garis batas kuning hitam sky line.


"Gue Kalil. Begitulah," jawab Kalil singkat. Segala kata katanya yang sudah dia persiapkan untuk menjatuhkan mental Boby hilang ngga tau kemana. Yang ada dia malah kena mental karena kedatangan dua orang gadis itu, yang salah satunya pernah jadi teman tidurnya beberapa kali. Tapi itu dulu. Sekitar dua tahun yang lalu.


__ADS_2