
Salma mencoba datang kembali ke perusahaan Dhafi. Setelah terakhir melihat Dhafi berciuman dengan model untuk kesekian kalinya, dia trauma ke sini lagi.
Tapi dia ingin berterimakasih karena Dhafi sudah sangat membantu skripsinya. Ngga nyampe dua minggu, sekarang tinggal mengajukan bab tiga saja.
Bahkan tadi Dhafi sudah mengirimkan sepuluh lembar yang sudah dia ketik untuk pembahasan awal.
Salma sangat terbantu di sela latihannya yang cukup menguras energi dan waktu.
Salma melewati resrpsionis begitu saja. Mereka pun sudah hapal dengannya.
Dia segera memasuki lift. Di tangannya ada tentengan paper bag yang berisi makan siang buat Dhafi.
"Tahan," seru seseorang. Reflek Salma menahan tombol liftnya.
"Terimakasih," katanya dengan nafas terengah karena tadi berjalan lebih cepat untuk sesegera mungkin masuk ke.dalam lift.
"Sepertinya kita pernah ketemu, ya?" ucapnya berusaha mengingat gadis muda yang tampak enerjik di depannya.
"Kak Robi, kan? Temannya Kak Kalil?" tukas Salma cepat. Daya ingatnya memang jempolan.
"Kamu Salma, kan." senyum Robi melebar. Ingat gadis muda yang dulunya ditemuinya bersama Kalil dan Khanza.
"Iya." Salma.pun membalas senyum Robi
"Nyari siapa?" tanya Robi heran.
Anak ini sebenarnya siapa? Kok, dia bebas banget naek lift petinggi perusahaan, benak Robi penuh tanda tanya.
"Dhafi."
"Oh iya. Kenal sama.adik Khanza, ya," ucapnya mengerti.
Apa mereka ada hubungan? Batinnya menebak.
"Iya."
Akhirnya lift mengantar mereka menuju lantai ruangan Dhafi berada.
"Kak Robi mau ketemu Dhafi?" tanya Salma karena melihat laki laki itu melangkah ke arah yang sama dengannya. Ruangan Dhafi.
"Iya, ada berkas yang ketinggalan."
"Ooo."
Robi melirik gadis di sampingnya. Dia akui sangat cantik untuk ukuran gadis biasa. Tapi kelihatan sedkit kekanakan. Mungkin itu yang membuatnya terlihat menarik.
Salma menatap datar pada sekertaris Dhafi yang baru keluar dari ruangan Dhafi. Kelihatan terburu buru.
"Eh, Pak Robi," sapanya beralih pada Salma.
"Nona muda, Pak Dhafi sakit. Saya mau panggil dokter," lanjutnya lagi. Dia harus menjelaskan agar mantan kekasih bosnya ngga salah paham.
Robi terkejut mendengar panggilan itu. Dia pun menoleh pada Salma.
"Nona muda?" gumamnya. Seingatnya hanya ada beberapa putri relasinya yang dipanggil begitu.
Salma ngga mempedulikan. Dia langsung masuk ke ruangan Dhafi dengan perasaan khawatir. Laki laki itu tampak terbaring di sofa dengan mata terpejam.
Robi pun menyusul.
Salma melihat kening Dhafi yang berkeringat.
Dia.memegang kening Dhafi, terasa sangat panas.
"Dhafi, kamu sakit?" ucapnya sambil membasahi sapu tangannya dengan sedikit air mineral yang dibawanya. Sebelumnya Salma sudah menghapus keringat Dhafi dengan tisu, kemudian baru menempelkan sapu tangan lembab tadi ke keningnya.
"Salma?" lirih suara Dhafi memanggil. Kelopak matanya terbuka sedikir.
"Lo kenapa, Dhaf?" Robi kali ini mendekat. Tadi memang dia melihat Dhafi selalu memijat keningnya. Tapi keadaannya masih cukup baik.
"Lo .... ngapain?" tanya Dhafi agak terbata, heran.
"Berkas gue ketinggalan," kata Robi sambil mengambil berkasnya.
"O..."
Sementara itu Salma mengambil satu piring plastik yang dibawanya dan mengisinya dengan air mineral.
Kemudian Salma kembali membasahi sapu tangannya lagi, memerasnya dan mengompresnya pada krning Dhafi.
"Kamu udah makan belum?" tanya Salma saat melihat netra yang tertutup sebagian oleh kelopak matanya itu menatapnya sayu.
__ADS_1
Dhafi menggelengkan kepalanya
Ana, sang sekertarisnya pun masuk kembali dan menatap apa yang dilakukan mantan pacar sang bos.
Tadi Ana juga menawarkan akan mengompres, tapi bosnya menolak. Dia memintanya memanggil dokter saja.
Salma menuliskan nama obat penurun panas pada notes yang selalu dibawanya. Juga plester penurun panas. Kemudian merobeknya dan mengulurkan pada sekertaris Dhafi.
"Belikan obat ini. Sekarang," titah Salma tegas.
"Ba baiklah," agak gugup Ana menjawab.
Kemudian memandang kertas di tangannya sebelum pergi.
Apa obat ini manjur? batinnya ngga percaya.
Tapi melihat bosnya diam saja, Ana memutuskan untuk membelinya.
"Itu obat apa?" tanya Robi heran.
"Penurun panas." Salma menata makanan yang dibawanya ke atas meja.
Untung dia tadi beli sop iga langganan mereka dulu.
Dhafi harus makan sebelum minum obat.
"Kamu tau dari mana?" Robi semakin heran karena tadi dia melihat gadis itu menulis dengan nama nama yang aneh
"Aku kuliah kedokteran," sahutnya tanpa melihat Robi.
Robi menatap ngga percaya.
Ternyata calon dokter.
"Dhafi, kamu makan dulu, ya," ucapnya pelan. Dhafi menganggukkan kepalanya.
Robi pun membantu Dhafi untuk duduk. Dhafi pun menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Salma menghancurkan nasi, kentang dan wortel, juga mencubis daging pada iga. Kemudian dia pun menyuapkan Dhafi yang menatapnya masih dengan sayu. Di keningnya pun ada kompresan
Dhafi mengunyahnya perlahan sambil menatap wajah Salma. Ngga disangkanya Salma telaten juga mengurusnya. Terbayang pengkhianatan pengkhianatan yang dulu pernah dilakukannya. Perrasaan bersalah begitu dalam mendera hatinya
Ngga lama kemudian sekertaris Dhafi pun datang dengan membawa kantong plastik kecil, pesanan Salma.
Salma pun mengambil kompresan berupa plester .
Tanpa ragu dia menempelkannya di tengkuk Dhafi dan juga di keningnya.
"Makan lagi, ya," kata Salma lembut sambil mendekatkan sendok yang berisi makanan di dekat mulut Dhafi.
Robi dan sekertaris Dhafi merasa seperti obat nyamuk. Ngga dianggap.
"Pak Dhafi, nona muda, Pak Robi, saya keluar dulu, ya. Kalo butuh apa apa, panggil aja," pamitnya.
Setelah mendapat anggukan dari ketiganya, Ana pun pergi dengan perasaan lega.
Setelah sekertaris Dhafi pergi, Robi juga bangkit dari duduknya.
"Gue pamit, ya, Dhaf, Salma. Mau ketemu klien. Kalo masih parah, lo opname aja di rumah sakit," saran Robi sambil pamit
Begitu melihat anggukan keduanya, Robi pun segera ngacir sambil menghembuskan nafas lega.
"Ana, ada hubungan apa Dhafi sama Salma?" tanya Robi kepo ketika sampai di depan meja sekertarisnya.
"Pak Dhafi lagi berusaha balikan, pak, sama nona muda Salma," jelas Ana yang merasa paling tau situasi bos nya.
"Mereka pernah pacaran?" nada suara Robi agak ditekan karena terkejut.
"Iya, pak. Tapi Pak Dhafi diputusin sama nona muda Salma. Trus nyesal. Sekarang lagi usaha buat balikan. Tapi Pak Robi jangan bilang ke Pak Dhafi, kalo tau cerita ini dari saya, ya, Pak. Nanti saya bisa dipecat," pinta Ana memohon. Dia keceplosan. Seharusnya dia bisa menjaga rahasia bosnya.
Kembali.dia menyesali wataknya yang mirip bagaikan lambe murah.
Robi hanya tersenyum.
"Ada imbalannya kalo mau minta dirahasia in," kata Robi licik.
"Apa pak?" tanya Ana penasaran.
"Temenin saya malam ini," kata Robi ringan.
Ana terdiam. Dia memang suka berpenampilan seksi. Tapi dia bukan cewek BO.
__ADS_1
"Cuma temenin? Kalo ngajak tidur ogah, pak," tolaknya cepat.
"Kamu ngga pernah tidur sama Dhafi?" Robi mengerutkan keningnya.
"Nggak," jujur Ana.
"Yang benar?" Robi benar benar ngga percaya.
Isu diluaran mengatakan kalo Dhafi suka gonta ganti pasangan gimana?
Masa sekertaris yang selalu berpenampilan seksi ngga pernah sekalipun diajaknya tidur?
Otak Robi rasanya blank.
"Pak Dhafi suka maen sama model aja, pak. Ups! Pak Robi jangan nanya nanya lagi," kesal Ana karena lagi lagi dia keceplosan membuka aib bosnya.
Robi menggelengkan kepalanya, ngga percaya.
Sekertaris Dhafi juga secantik model.
Gila Dhafi. Barang bagus dianggurin.
"Ya udah, temenin saya minum aja," putus Robi sebelum pergi.
"Ya, pak. Minum aja, ya," tukas Ana memberi batas. Hatinya lega, bisa terselamatkan dengan mudah.
"Ya," sahut Robi sambil terus melangkah pergi
Sementara itu di dalam ruangan Dhafi.
Dhafi masih menurut, hingga pada suapan ke lima dia menggelengkan kepalanya.
"Aku mual," katanya pelan. Tapi dia sudah merasa cukup kuat, ngga lemah seperti tadi.
"Makasih," ucapnya perlahan dengan tatapan semakin lekat.
"Ya, sama sama. Kamu kecapean, ya, buat skripsi aku." Salma menanggapinya dengan senyum tipis.
"Nggak, kok Kerjaan dari Daddy lagi banyak banget," sangkal Dhafi.
"Ya. Tapi tetap harus makan dan istirahat yang cukup," kata Salma sambil menuangkan sirup obat penurun panas pada sendok takar.
Dhafi lagi lagi menurut ketika Salma memintanya menelan obatnya. Kemudian dia meminum air putih yang diberikan Salma.
"Sal......"
"Hemm..."
"Balikan, yuk. Biar kalo aku sakit, ada kamu yang akan merawat."
Dhafi menggenggam tangan Salma lembut.
"Kamu pacaran sama suster aja," tolak Salma datar.
"Saaal, aku minta maaf. Aku janji ngga akan ngulangi lagi," rengek Dhafi seperti anak kecil.
"Kalo kamu ngulang lagi?"
"Aku ngga akan ngulang lagi, Sal. Aku minta maaf atas perbuatan ku dulu."
Salma terdiam, ngga menyahut.
"Sal, kasih aku kesempatan, ya. Ini yang terakhir," mohon Dhafi. Hawa panasnya mengalir ke kulit Salma melalui genggamannya.
"Sebaiknya kamu tidur," kata Salma pelan.
Dhafi menarik tangannya dari Salma dan menggusar rambutnya frustasi.
Hening.
"Tapi kalo kamu ketahuan lagi, aku beneran ngga mau kenal kamu lagi," ucap Salma serius setelah beberapa menit kemudian. Memecah kesunyian yang tadi tercipta.
Dhafi yang tadinya sudah merasa harapannya pupus, jadi bersemangat lagi. Seolah mendapatkan suntikan surga yang paling memabukkan.
"Aku janji Salma. Aku janji," katanya berulang ulang dengan bibir mengembangkan senyum penuh syukurnya.
Salma hanya membalasnya dengan senyum hangatnya.
Salma ingin mencoba sesekali bertaruh untuk masa depannya. Apakah akan berhasil atau ngga. Jika gagal, dia akan menjauhi Dhafi selamanya.
Lagi pula hatinya yang bodoh masih belum bisa melupakan Dhafi.
__ADS_1