
Zayra agak terburu buru membereskan meja kerjanya. Kendra baru saja mengirim pesan kalo dia hampir tiba di lobi perusahaannya.
Saat dia sedang berjalan terburu buru, sapaan abinya menahan langkahnya.
"Kamu mau pulang sama siapa?"
Kepala Zayra terdongak. Abinya rupanya sudah berada di depannya bersama Om Reval.
Zayra dengan agak bergegas menyalim tangannya abi kemudian Om Reval.
"Sama Kendra, abi."
"Oooh, tunangan sudah jemput?" goda Om Reval dengan senyum nakalnya.
Zayra tersipu.
"Lagi otewe katanya."
Regan tersenyum melihat binar di mata putrinya yang ngga bisa dia sembunyikan.
"Ehem ehem...." Reval masih memggoda keponakannya dengan pura pura batuk. Senang aja melihat reaksi malu malunya.
"Sudah jangan diganggu terus," tukas Regan melarang, tapi ikut melebarkan senyumnya.
"Mungkin Kendra udah sampai," kata Regan melanjutkan lagi ucapannya agar Zayra segera menjauh dari omnya yang jahil.
"Oh iya. Duluan ya, abi, om," pamitnya sambil pergi tanpa menunggu jawaban dari abi dan apalagi omnya yang terus saja menatapnya penuh ledekan menggoda. Membuatnya tambah salah tingkah.
"Hati haty lady," seru Reval lalu terkekeh. Regan hanya menggelengkan kepalanya sambil.menahan tawanya.
Regan tau, pasti sekarang hati putrinya sedang berdebar debar ngga tenang karena akan menemui Kendra. Dia sudah mengalami masa masa indah itu dulu.
"Kamu kapan ngenalin aku dengan pacar kamu," sindir Regan sambil melangkah pergi.
Adik tirinya masih saja suka bermain tanpa ada niat serius. Gen flamboyan papi mereka begitu melekat di dalam darahnya.
"Aku, kan, masih muda, masih belum puas lah. Mumpung belum ada yang bisa marah dan ngekang," bantahnya ringan, masih dengan kekehannya.
"Hemmm," dengus Regan sambil menggelengkan kepalanya.
Ya, asal kamu jangan kayak papi, sampai punya istri tiga, tawanya dalam hati.
*
*
*
Selama berada di dalam lift jantung Zayra berdebar ngga menentu.
Dia berusaha berdiri dengan tenang, diapit beberapa pegawai abinya.
Apa dia akan rutin mengantar jemput dirinya?
TING!
__ADS_1
Begitu pintu lift terbuka dengan agak bergegas Zayra melangkahkan kakinya keluar sambil matanya mencari cari dengan gelisah.
Yah, belum datang, batinnya kecewa. Zayra pun menghembuskan nafas panjang.
Ya, ngga apa lah, kasian juga kalo Kendra nunggu, batinnya lagi sambil melangkah kali ini dengan lebih tenang ke arah lobi.
Tapi kemudian tubuhnya terpaku melihat Kendra yang baru melangkah melewati pintu masuk dan netranya sedang menyorot dalam ke arahnya.
Seakan ada ombak yang bedeburan di sana. Wajah Zayra merona karena rasa senang yang terpancar dari hatinya. Dengan gugup, Zayra mendekati Kendra yang juga melangkah cepat ke arahnya.
Lagi lagi mereka menjadi santapan puluhan pasang mata para pegawai yang ada di sana.
Kemeja Kendra sekarang sudah dia keluarkan. Lengannya pun sudah dilipat hingga siku. Wajah lelahnya tetap tampan. Kesan laki laki maskulin begitu melekat di penampilannya sekarang.
"Hai," sapanya setelah berada di depan Zayra.
"Hai," balas Zayra berusaha senatural mungkin. Tapi rona merah di wajahnya ngga bisa membohongi Kendra, kalo dia saat gugup sekarang.
Kendra tersenyum. Laki laki ini pun sebenarnya sudah kehilangan ketenangannya. Hanya saja Zayra ngga menyadari kalo Kendra pun culup grogi berada di dekatnya.
"Makan, yuk," ajak Kendra sambil meraih tangannya dan menggandengnya sambil melangkah santai ke luar dari lobi perusahaan.
"Ya," sahut Zayra juga dengan membalas senyum Kendra. Jantungnya rasanya mau melompat. Zayra ngga mengira setelah berpisah selama enam tahun, mereka bisa langsung sedekat ini. Seperti dulu lagi sebelum ada sekat berita pertunangan yang membuat mereka berdua jadi canggung.
Seperti tadi pagi, Kendra pun memarkirkan mobil kuningnya di halaman perusahaan. Dan seperti tadi pagi juga, Kendra memperlakukan Zayra seperti putri yang dengan sangat hati hati saat akan masuk ke dalam mobil.
Para pegawai perempuan sampai menutup mulutnya yang akan berseru iri melihat adegan romantis di depan mata.
"Pacarnya sangat tampan."
"God, aku meleleh."
"Siapa ya, laki laki yang jadi pacar putri bos?"
"Tapi putri bos pun sangat cantik, pantaslah berpasangan dengan laki laki itu."
Bisik bisik iri dan kagum terdengar bagai dengungan lebah.
Riko yang sedang duduk duduk santai di lobi setelah bertemu dengan kedua saudara tirinya hanya bisa menahan senyum lebarnya.
Keponakannya saking gugupnya ngga melihat keberadaannya. Pikirannya hanya tertuju pada laki laki muda tadi. Kendra Artha Mahendra.
*
*
*
Kendra mengajaknya ke ruang privat di sebuah kafe yang sering dikunjungi para pebisnis muda.
Zayra belum pernah ke sini.
Sepertinya kafe baru, pikirnya dalam hati.
Karena dulu mereka juga sering keliling kafe waktu jaman mereka SMA.
__ADS_1
Sekarang suasana camggung kian kerasa. Dulu aja mereka ngga pernah berdua. Selalu bersama. Terasa rame dengan celotehan Khanza, Kalil, Rakha dan Aqil. Juga nanti Kennan dan Kendra akan menimpali sesekali. Dan tawa mereka akan berderai derai.
"Kapan kapan kita bareng mereka," kata Kendra seakan tau isi pikiran Zayra.
Kendra juga butuh sahabat sahabatnya itu untuk menghangatkan suasana.
Ucapannya tadi setidaknya sudah membuat kekakuan mereka mulai mencair. Zayra juga sudah mengembangkan senyumnya.
"Iya."
Ngga lama kemudian pesanan mereka pun datang.
Nasi gurih dengan ayam kampung bakar dilengkapi lalapan selada dan sambal tomat serta es jeruk segar.
Dalam setiap menyuap makanannya Kendra selalu menatap Zayra. Enam tahun dia kehilangan gadis ini tanpa berita.
Tapi sepertinya ngga ada yang berubah dari Zayra. Dia tetap sederhana. Makan seperti dulu menggunakan tangannya seperti dulu. Penampilannya pun jauh dari yang merk puluhan hingga ratusan juta. Padahal keluarganya lebih dari mampu.
Jiwa sosialnya juga tinggi. Saking tingginya jiwa sosialnya saat mereka menurutinya membantu ibu ibu yang menjadi korban ditabrak lari, mereka sempat dikira penabraknya. Hampir saja mereka semua diangkut ke kantor polisi. Untung ada saksi yang melihat kalo mereka bukan pelakunya. Tapi tetap saja Zayra ngga pernah kapok. Kendra dan teman temannya pun anehnya tetap saja mendukungnya dan membantu niat baiknya.
Itu yang membuat Zayra sangat menarik di mata Kendra. Dan di hatinya.
"Kok, senyum senyum?" tanya Zayra agak grogi karena dipandangi Kendra sejak tadi. Bahkan kini sambil tersenyum senyum.
"Jadi ingat kejadian dulu, saat bantu kamu tapi malah hampir dibawa ke polisi."
"Oh, yang itu?" kekeh Zayra hingga lesung pipinya tercetak jelas.
Tentu saja masih terekam jelas dalam ingatanya betapa paniknya Khanza dan Aqil saat ada polisi yang ingin membawa mereka ke kantornya.
"Endingnya kita malah diajak makan makan di restoran sama bapak kapolda," gelak Kendra berderai derai.
Zayra ngga akan pernah melupakan kejadian itu. Aqil yang awalnya takut dan akan menelpon daddynya akhirnya malah makan paling banyak.
Beberapa menit kemudian.
"Kamu nanti malam ikut ke pesta?" tanya Kendra setelah mereka menyelesaikan makan mereka.
"Ngga. Om Riko yang akan pergi sama Tante Meti. Diandra dan Exel akan ikut." Dinda dan Exel adalah sepupunya, putra putri Om Riko dan Tante Meti.
"Oooh," keluh Kendra agak kecewa.
"Papi memaksa ikut, karena yang memgundang relasi papi dalam kerja sama baru ini," jelasnya membuat Zayra mengerti.
"Pergi aja. Kamu harus banyak mengenal orang orang yang berhubungan dengan perusahaan, kan."
"Iya, sih. Hanya aku malas saja. Apalagi katanya acara ini menyambut kedatangan putrinya."
DEG
Rasanya hati Zayra kurang nyaman saja mendengarnya. Tapi dia berusaha menepis dugaan buruknya.
Lagian undangan seperti itu yang hal sudah biasa, kan? batinnya.
"Bisa jadi jodoh buat yang lain, dong," candanya.
__ADS_1
"Semoga," senyun Kendra sambil membayangkan wajah Kalil dan Kenan. Dia belum tau Aqil dan Rakha apakah akan ikut atau ngga.
Dia kan udah punya tunangan, batinnya agak tenang.