
"Zayraaa!" seru Khanza senang saat melihat sahabatnya akhirnya membuka kedua matanya perlahan. Hampir dua jam Khanza menunggu Zayra sadar. Air matanya mengalir begitu saja. Dia sangat bahagia dan sangat bersyukur melihat sahabatnya sudah sadar kembali.
"Zayra," panggil Dinda penuh haru. Putri sudah berhasil melewati masa kritisnya. Dia pun sangat ngga tenang menanti kesadaran Zayra. Baru kali ini Zayra mengalami luka separah ini. Bahkan sampai dioperasi.
Tamara, Qonita, Rain, dan Aruna yang menunggu pun terlihat mengusap mata mereka yang basah.
Mereka tadi cukup cemas karena Zayra masih belum bangun juga. Kendra pun ngga henti hentinya menanyakan keadaan Zayra membuat situasi agak menegangkan.
Regan dan sahabatnya yang sekarang berkumpul menghela nafas lega. Akhirnya kedua calon pengantin sudah sadar.
"Gue ngasih tau ke Kendra dulu, ya," pamit Kiano yang diangguki Aruna.
"Pasti Kendra sangat senang," tukas Regan dengan senyum lepas. Selepas jiwanya yang sudah terbebas dari beban sangat berat.
"Pasti," balas Kiano sumringah. Dari tadi anak lelakinya rewel sekali menanyakan keadaab Zayra.
Putrinya sudah sadar, operasinya berhasil. Zayra dan Kendra butuh waktu untuk memulihkan kesehatan mereka. Luka yang keduanya alami cukup parah. Bahkan putrinya mengalami trauma karena kepalanya mengalami benturan beberapa kali.
Kiano beranjak diikuti Alva dan Glen.
Zayra mengerjap ngerjapkan matanya, terlihat bingung mengapa dia berada di ruangan penuh bau obat. Bahkan salah satu tangannya diinfus. Kepalanya pun masih terasa pusing.
"Kenapa, sayang? Pusing?" tanya Dinda cemas
Zayra menganggukkan kepalanya. Kemudian dia memejamkan matanya sebentar, dan membukanya lagi perlahan.
"Khanza," panggil pelan saat menatap sahabatnya yang masih berlinangan air mata
"Lain kali kamu jangan sok baik sama orang," cela Khanza dalam isaknya.
Zayra tersenyum. Begitu juga yang lainnya.
Zayra mulai mengingat OB perempuan yang akan dibantunya, tapi malah mendorongnya jatuh.
Dendam apa yang dimiliki OB itu padanya sampai bisa berlaku jahat. Pikiran Zayra masih belum menemukan jawabannya.
Setahunya abi dan omnya memperlakukan para pegawainya dengan baik.
"Sekarang dia sudah dipenjara bersama bosnya, sayang," kata Regan lembut.
"Bos?" tanya Zayra belum mengerti dengan suara perlahan
"Atifa nenek sihir itu yang menyuruhnya," sambar Khanza cepat. Ngga sabar Khanza menunggu vonis nenek sihir psikopat itu.
Semoga selamanya, do'anya dalam hati.
Zayra terdiam. Kaget dan sama sekali ngga nyangka.
"Sudah, jangan kamu pikirkan," ucap Dinda lembut. Baginya Zayra harus cepat memulihkan kesehatannya dulu.
"Iya, umi," jawabnya pelan.
"Kendra video call," ujar Aruna yang sudah mendekati Zayra.
"Kendra dirawat di sebelah," jelas Khanza yang lagi lagi membuat Zayra bingung.
Kendra sakit?
__ADS_1
"Dia ditembak Atifa," sambung Khanza lagi.
DEG
DEG
Apa lagi ini? Bukannya Atifa sangat menyukai Kendra? batinnya bingung dan membuat rasa pusingnya muncul lagi.
"Pusing lagi?" tanya Aruna sambil memberikan ponselnya pada Zayra. Dinda pun menatap putrinya khawatir.
Zayra mengangguk dan menatap miris pada wajah Kendra yang juga terlihat agak pucat.
Zayra dapat melihat kalo Kendra berada di ruang yang sama dengan dirinya. Juga ada jarum infus, sama juga seperti dirinya.
Hati Zayra terasa sedih melihat keadaan Kendra. Laki laki itu berbaring dengan posisi tubuh menyamping.
"Aku ngga apa apa," kata Kendra lembut ketika melihat sepasang mata Zayra yang sudah menggenang air mata.
"Syukurlah," jawab Zayra lirih.
"Kepala kamu masih pusing?" agaknya Kendra mendengar kata kata mamanya tadi.
"Iya."
"Hai, Zayra! Bentar lagi kita ke sana nengokin kamu," timbrung Aqil yang tiba tiba muncul di layar video call.
Bahkan Zayra bisa melihat Rakha dan Kenan yang bergantian muncul di layar video call sambil melambaikan tangan dengan wajah usil.
Zayra mengembangkan senyum melihat ulah sahabat sahabatnya. Kendra pun ngga terlihat terganggu, bahkan dia tertawa kecil.
Para orang tua pun saling pandang dan juga tersenyum lebar melihat kelakuan tengil anak anak mereka.
Kata mamanya, kepala Zayra terbentur beberapa kali setelah didorong si pelaku yang menyamar jadi OB sampai ke lantai bawah tangga darurat.
Atifa sangat kejam, batin Kendra masih ngga abis pikir dan geram.
"Kamu juga."
"Tentu."
"Daag Zayra, Khanza," timbrung ketiganya lagi sambil melambaikan tangan. Kendra hanya tersenyum.geli melihat tingkah ketiga sahabatnya.
Zayra tersenyum tipis. Khanza juga begitu. Sambungan telpon pun terputus.
"Kamu istirahat, ya, sayang," ucap Dinda saat menerima uluran ponsel dari Zayra.
"Iya. Kamu istirahatlah," sambung Khanza sedikit memerintah.
"Biar cepat sembuh. Trus nikah sama Kendra," sambung Khanza membuat yang ada di ruangan tergelak.
Wajah Zayra merona.
"Kendra udah ngga sabar halalin kamu, sayang," kekeh Regan.
"Apa seperti kalian berdua dulu aja, akadnya di rumah sakit, resepsi nyusul," timpal Reno tambah membuat yang lain terus tergelak.
Zayra dan Khanza saling pandang, baru tau kalo oramg tua Zayra menikah di rumah sakit.
__ADS_1
"Sudah, sudah. Biarkan Zayra istirahat," lerai Aruna karena melihat kernyitan di kening Zayra.
"Oke oke," sahut Reno masih dengan tawa yang berusaha dia redakan. Begitu juga yang lain.
"Tidurlah sayang," kata Dinda lembut.
"Ya, umi."
Zayra pun memejamkan matanya sambil menggenggam jemari Khanza. Pusing di kepala terasa lagi.
Cepatlah sembuh, Zayra, pinta Khanza dalam hati.
Kajadian ini memang ngga pernah disangka sangka. Ngga pernah dia pikirkan Atifa akan nekad dan berlaku kejam. Sampai menembak Kendra yang katanya sangat dia cintai.
Salah minum obat pasti, umpat Khanza membatin sinis.
*
*
*.
"Hukuman Atifa paling lama setahun," kesal Aqil.
"Alasannya karena kamu dan Zayra selamat. Bisa bisanya, ya," decih Kalil sewot.
"Papi-papi kita lagi berdiskusi," tambah Rakha memberitau.
"Bisa bisanya mendapatkan hukuman ringan," kecam Kenan emosi.
"Betul," sambut Rakha cepat.
"Atifa akan sangat berbahaya jika dia bisa bebas murni," tukas Kendra ngga tenang. Dia dan Zayra adalah target utama Atifa untuk.dihancurkan.
"Betul. Dia seperti sedang sakit jiwa. Aku melihatnya, seperti psikopat," tandas Kenan.
Aqil, Rakha dan Kalil mengangguk setuju.
"Bahkan dia tega menembakmu yang katanya sangat di cintaimya, Ken," cicit Rakha masih ngga dapat menemukan jawabannya kenapa Atifa bertingkah seperti itu
"Ngga nyangka Atifa jadi begitu," tukas Aqil cepat. Kendra sudah menceritakan apa yang sudah dilakukan Atifa padanya.
Aqil mau muntah ketika mendengarnya.
Ternyata Atifa sudah menyiapkan obat perangsang untuk mendapatkan Kendra dengan segala cara. Sangat mengerikan. Apalagi cara memberikannya melalui suntikan. Benar benar Atifa sudah merencanakannya dengan matang.
Untung Kendra bisa menahannya, batin Aqil kagum. Padahal kandungan obat yang diberikan Atifa dalam kadar dosis tinggi.
Gadis itu membuang semua penghargaan yang dia dapatkan dengan susah payah.
Karir bagusnya hancur seketika hanya demi obsesi ngga jelasnya pada Kendra.
Sangat kasian.
Aqil sendiri ngga yakin bisa menahannya jika dia berada di posisi Kendra.
Untungnya Atifa gagal masuk ke ruangan Kendra. Setidaknya Kendra punya kesempatan untuk melarikan diri. Jika saja papinya Kendra ngga menjemput, Kendra pasti akan dirudapaksa Atifa.
__ADS_1
Memang gila. Harusnya pelaku rudapaksa adalah pria. Dalam kasus Kendra, pelakunya perempuan, Atifa.