After The Heartbreak

After The Heartbreak
Kegilaan Atifa


__ADS_3

Atifa menatap nanar undangan dengan desain gold di tangannya.


Nama laki laki yang tertera di halaman undangan itu membuat dia hampir pingsan.


Mamanya menatap sendu.


"Ma, apakah tidak ada cara untuk menggagalkan pernikahan mereka?" ucapnya dengan bibir bergetar.


Dia ngga akan rela melepas Kendra.


"Laki laki itu tidak pernah mencintaimu. Lupakan dia," tukas papanya yang tiba tiba muncul di dekat mereka.


Atifa terdiam. Dia tau papanya ngga akan mau membantunya. Sekarang harapannya hanya tinggal mamanya saja.


Mamanya tau apa yang dipikirkan putri kesayangannya.


Langkah langkah awal mereka sudah gagal. Beliau agak takut untuk memberikan saran dan bantuan, karena suaminya sudah menentangnya.


"Kalo perlu kita kembali ke Singapur. Jangan sia sia kan bakat dan penghargaan yang sudah kamu dapatkan," kata papanya lagi. Lebih lembut.


Mamanya masih melirik putrinya yang terlihat tidak puas dengan kata kata suaminya.


"Ngga semua orang beruntung dengan cinta pertamanya. Nanti berjalannya waktu, akan ada cinta yang lain yang lebih indah yang bisa kamu dapat," sambung papanya lembut sambil mengusap rambut putrinya. Beliau pun kini sudah duduk.di sebelah Atifa.


Atifa menatap papanya ngga yakin.


Ngga mungkin bisa melupakan Kendra, batinnya sedih.


Bertahun tahun Atifa memendam harapnya pada Kendra. Kini harapannya kandas lagi lagi karena orang yang sama.


"Pa, bisakah papa mengabulkan keinginanku? Aku akan menuruti apa pun keinginan papa," kata Atifa sambil memandang wajah papanya.


"Katakan, apa keinginan kamu," tanya Alvaro-papa Atifa lembut.


Atifa menarik menghela mafas panjang.


"Aku mau ketemu Kendra, Papa. Setelah itu aku akan ikut papa ke Singapur," pinta Atifa penuh harap.


Alvaro terdiam.


"Bukan papa ngga mau mengabulkan. Tapi permintaan kamu agak susah direalisasikan," tolak papanya lembut.


Mata Atifa sampai membesar karena ngga menyangka penolakan papanya.


"Kenapa, pa?"


"Iya. Kenapa?" Mamanya bahkan ikut bertanya gusar.


Padahal dengan kekuasaannya, suaminya pasti bisa melakukan keinginan putri mereka.


"Papa ngga mau mempermalukan putri papa di depan laki laki yang terang terangan sudah menolakmya," sahut Alvaro penuh makna.


Dada Atifa mencelos mendengarnya. Sakit. Dia tau, dia sudah ditolak Kendra sejak dulu. Tapi keinginan dalam dirinya ngga pernah pudar untuk memiliki Kendra.


"Bersiaplah, nanti sore kita berangkat," ucap Alvaro sambil bangkit dari duduknya. Berlaku meninggalkan putri dan istrinya yang masih tepekur ngga meresponnya.


Setelah papanya pergi, Atifa menatap mamanya dengan tatapannya yang berkaca kaca.

__ADS_1


"Ma....."


"Nanti mama kabari," kata Syarifa cepat. Dia akan mengusahakannya.


*


*


*


Kendra yang sudah mengantarkan Zayra ke perusahaannya kaget ketika melihat Atifa sedang berdiri di depan pintu ruangannya


Sekertarisnya Ana menatapnya ngga enak. Dalam hati Ana bersyukur karena calon istri bosnya ngga ikut bersama bosnya


"Maaf, pak, Ibu Atifa memaksa bertemu bapak," ujar Ana agak takut karena melihat sorot penuh kilat dari sepasang mata elang Kendra.


"Kendra, bisa kita bicara sebentar?" tanya Atifa tanpa menunggu respon Kendra


"Bicaralah," jawab Kendra datar. Dia masih kesal dengan publikasi penuh kebohongan yang dilakukan oleh Atifa selama ini.


"Bisa kita ke ruangan kamu? Aku agak sungkan kalo kita bicara di sini," ucap Atifa menawar.


Masa dia harus berbicara di depan sekertarisnya yang selalu menatapnya kepo.


"Ngga perlu. Di sini saja," tandas Kendra. Dia ngga mau mencari masalah di hari hari akhir menjelang pernikahannya dengan Zayra.


"Masa di sini?" tukas Atifa ngga terima lalu melirk sinis sekertarisnya yang masih kepo memperhatikannya.


"Saya pergi pak, agar ngga mengganggu," kata Ana tau diri karena gadis di depannya seakan memberi peringatan untuk mengusirnya. Dia pun bangkit dari duduknya.


Ana menatap keduanya silih berganti.


"Ken, biarkan dia pergi," seru Atifa ngga suka.


"Katakan sekarang, atau kamu bisa pergi," sahut Kendra dingin, ngga peduli dengan protes Atifa


"Baik lah. Baik!" tukas Atifa jengkel.


Atifa pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Aku mau pamit," katamya cepat.


Kendra masih ngga bereaksi.


"Kamu ngga merasa kehilangan?" tanya Atifa kecewa. Dia pikir, Kendra akan sedikit memperhatikannya setelah mendengar kata katanya.


Kendra tetap diam. Dia malah memainkan ponselnya.


Kalo boleh jujur, Kendra sudah pegal berdiri berhadapan dengan Atifa dan ingin cepat cepat masuk ke ruangannya.


"Kendra?" panggil Atifa sedih.


"Sudah, ya, aku banyak kerjaan," kata Kendra sambil membuka pintu ruangannya.


Tapi tanpa diduga, Atifa memeluknya dari belakang.


"Apaan, sih!" kesal Kendra sambil melepas paksa tangan yang melingkar di pelukannya.

__ADS_1


Tapi Atifa makin kalap, dia malah mengeratkan pelukannya dan dengan nekat menyuntikkan jarum suntik halus ke lengan Kendra.


"Sialan," maki Kendra sambil menepis kasar Atifa hingga terjengkang dan mencabut jarum suntik di lengannya yang tinggal setengah.


Kepalanya mulai terasa pusing dan tubuhnya memanas. Ada gairah aneh yang timbul.


Kendra tau dia dalam keadaan bahaya besar.


Dengan cepat dia menutup pintu ruangannya dan menguncinya ketika.melihat Atifa yang akan bangkit berdiri.


"Sialan," umpat Atifa ketika hampir menabrak pintu ruangan Kendra yang terbanting di depan matanya.


Dia terlambat.


Atifa membuka paksa pintu itu dan mengetuknya dengam keras. Tapi pintu itu tetap utuh di depannya.


Ana masih terperangah kaget melihat kejadian di depannya. Tapi menyadari bosnya dalam bahaya dan melihat Atifa semakin lapar, Ana segera memanggil sekuriti melalui telpon di mejanya.


Tapi kedatangan empat orang pengawal Atifa yang berbadan kekar tambah membuat Ana cemas dan nyalinya ciut


Salah satu pengawal itu merampas ponsel Ana dan membantingnya.


"Buka paksa pintunya!" seru Atifa ngga sabar. Dia yakin obat perangsangnya sudah bereaksi pada Kendra.


Keributan itu memancing staf star yang berada di situ dan segera mendatangi Ana.


"Tolonggg!" jerit Ana pada temen temannya.


Para staf lelaki berusaha mencegah keemoat laki laki itu yang sedang mendobrak paksa pintu ruangan Kendra.


BUGH


BUGH


BUGH


Terjadi dorongan keras beberapa kali ke arah pintu.


Para staf laki laki itu bukan lawannya para pengawal Atifa, mereka jatuh bergelimpamgan dalam waktu cepat.


Para staf perempuan dan Ana pun menjerit jerit ketakutan. Beberapa di antaranya menelpon teman teman mereka yang ada di lantai bawah meminta bantuan.


Tiga orang sekuriti yang datang menatap ngga percaya apa yang terjadi di depan mereka.


Salah satunya berinisiatif menelpon bos besar mereka, Kiano yang berada di gedung sebelahnya. Sementara dua yang lainnya langsung membantu para staf yang lain.


BRAK!!


Pintu ruangan Kiano berhasil di buka paksa.


Atifa segera masuk dan ruangan itu kosong. Dia tau pasti Kendra sedang bersembunyi di ruang pribadinya sambil menahan rangsangan hebatnya. Itu obat perangsang dosis tinggi. Kendra ngga mungkin bisa menahannya, walaupun hanya setengah yang masuk ke dalam jalan darahnya.


Senyum sinisnya terbit. Dia bisa bebas bercin*ta dengan Kendra sekarang.


Jika saja tadi dia bisa cepat menyusul Kendra ke dalam ruangannya tadi, pasti keributan ini ngga akan terjadi.


Atifa sudah mengamankan lokasi lantai ruangan Kendra. Beberapa pengawalnya sudah datang lagi. Ketiga sekuriti dan para staf laki laki itu sudah tergeletak ngga berdaya di lantai.

__ADS_1


__ADS_2