After The Heartbreak

After The Heartbreak
Indah pada waktunya


__ADS_3

Salma memang menuju kantin. Dia harus segera mengisi perutnya. Kehadirannya dan penampilannya yang istimewa mengundang decak kagum pengunjung kantin rumah sakit.


Tubuh tinggi ramping menjulang dan wajah yang sangat cantik tentu saja selalu menjadi pusat perhatian dimana pun Salma berada.


Ngga disangka gadis seperti bidadari ini bisa disia siakan oleh laki laki.


Dhafi duduk diam di kursi kantin yang ngga jauh dari Salma. Dhafi pun selalu bisa menarik perhatian karena ketampanannya.


Bahkan kini ada seorang dokter cantik.yang mendekatinya.


Salma yang tadi tanpa sengaja melirik Dhafi jadi sewot, karena laki laki itu kini sedang ngobrol asyik dengan seorang perempuan yang mengenakan jubah dokter.


Begitu pesanannya datang, Salma pun dengan cepat menghabiskannya. Karena dia akan segera kembali ke lorong ruang operasi kakaknya.


Bahkan ngga nyampe.dua menit. Hanya minumannya saja yang dia tenteng sambil berlalu meninggalkan kantin. Meninggalkan Dhafi dan dokter cantik itu yang sudah membuat hatinya geram.


Ngga tau sampai kapan hatinya akan biasa biasa saja melihat kelakuan Dhafi.


*


*


*


Kalil menatap punggung Khanza yang berdiri membelakanginya, sedang diam menatap jauh ke depan.


Perasaan lega menyelimutinya. Dari tadi Kalil dan yang lainnya mencari dimana Khanza berada. Karena mereka ngga menemukan gadis itu di ruang operasi.


Kalil akhirnya mencoba mencari gadis itu di root top. Dan ternyata dia benar. Khanza ada di sana.


Perlahan Kalil berjalan mendekati Khanza dan kini sudah berada di sampingnya.


Saat menyadari kehadiran Kalil, Khanza menghapus air matamya yang mengalir turun.


"Pasti Zayra sama Kendra bisa melewati semua ini," kata Kalil sambil menatap lurus ke depannya. Dia ngga tega melihat Khanza yang sedang menangis tanpa suara.


Baru kali ini melihar sisi lain dari Khanza. Biasanya Khanza akan marah marah jika ada yang ngga sesuai dengan hatinya. Bahkan dulu dia pun sempat diamuk Khanza karena memberikan ide gilanya pada Kendra.


Khanza menoleh sebentar kemudian mengalihkan lagi perhatiannya ke depannya.


Harapannya juga begitu. Semoga keduanya tetap baik baik saja.


Rasanya ingin sekali Khanza ke kantor polisi, menemui Atifa dan membuat keributan di sana. Dia rasanya ingin membelah otak Atifa, untuk mengetahui apalagi rencana rencana jahat yang disimpannya untuk mencelakai Zayra dan bahkan Kendra, yang katanya dia cintai.


Cinta tapi tetap mau dibunuh? Khanza ngga abis pikir, bisa bisanya Atifa menembak Kendra.


Gadis jahat itu pasti nantinya akan berpura pura sakit untuk menghindar dari hukuman. Khanza benar benar sangat geram.


"Zayra pernah meninggalkan aku sekali. Aku takut dia akan pergi lagi," ucap Khanza lirih.


Saat melihat keadaan sahabatnya yang berlumuran darah di bagian kepalanya, Khanza sudah sangat lemas. Wajah Zayra juga sudah pucat.


Ngga lama setelah itu Kendra pun datang dengan keadaan yang hampir sama parahnya.


Padahal sebentar lagi mereka akan menikah.


Khanza belum tau apa yang sudah terjadi saat itu pada Zayra dan Kendra. Dia sangat panik melihat darah yang ngga berhenti mengalir dari keduanya.


Harusnya dia tetap tenang, karena dia sudah sering melihat hal itu. Tapi kini menyangkut dua sahabatnya. Khanza benar benar ngga kuat.


"Zayra ngga akan pergi lagi. Juga Kendra. Mungkin aja mereka akan menikah di rumah sakit," tukas Kalil berusaha sedikit melucu agar kekhawatiran Zayra bisa berkurang.


Khanza sedikit menipiskan bibirnya. Kata kata Kalil cukup menghiburnya. Ngga disangka, teman yang sering menyebalkan ini ternyata bisa bersikap menyenangkan juga.


Dia juga ngga mau kehilangan Zayra dan Kendra. Mereka selalu bersama. Bahkan kata orang tua mereka, sejak mereka masih jadi bayi merah.

__ADS_1


Kini mereka berdiam diri sambil menatap jauh ke depan. Menunggu kabar dari ruang operasi sangat mendebarkan dan menakutkan.


Satu jam kemudian.


"Kalian di sini rupanya," seru Rakha dengan nafas ngos ngosan.


Kalil dan Khanza sama menoleh.


"Operasinya berhasil," kata Rakha kemudian mengembangkan senyumnya. Sangat lebar.


Khanza pun spontan membalas senyum Rakha sambil berlari lari kecil menghampirinya.


Kalil memghembuskan nafas lega kemudian berjalan santai di belakang Khanza.


Rakha pun merengkuh bahu Khanza dan mengajaknya turun. Mereka bergegas menuju ruang Kendra dan Zayra.


"Zayra masih tidur," kata Aruna yang baru saja keluar dari ruangan Zayra pada Khanza yabg barusan datang bersama Rakha dan Kalil.


"Zayra ngga apa apa, tante?' tanya Khanza sangat khawatir.


Aruna tersenyum lembut.


"Mungkin pernikahan mereka terpaksa ditunda," canda Aruna membuat Khanza, Kalil dan Rakha tersenyum lega.


Kalo mama Kendra sudah ngomong agak nyantai gitu, berarti kondisi keduanya sudah baik baik saja.


Syukurlah.


"Tante lihat Kendra dulu, ya," pamit Aruna sambil melangkah ke sebelah kamar Zayra.


"Ya, tante. Nanti kita ke sana," sahut Kalil yang dibalas senyum Mama Kendra.


Khanza pun langsung masuk untuk melihat keadaan Zayra.


Kalil dan Rakha juga melakukan hal yang sama.


"Zayra masih belum sadar. Mungkin bentar lagi pengaruh obat biusnya hilang," jelas Dinda lembut ketika melihat wajah khawatir Khanza.


"Ya, tante. Mama ngga di sini?" tanya Khanza heran karena hanya melihat orang tua Zayra saja.


"Tadi mereka sudah ke sini. Udah lama banget, sekarang gantian ke kamar Kendra," jelas Dinda lagi dengan senyum lembutnya.


"Oooh."


"Kalian tadi ke tempat Kendra dulu?" tanya Regan menebak.


"Ngga, tante. Nih, Rakha baru ngabarin kalo operasinya udah selesai," adu Khanza mulai kembali dengan watak juteknya. Mengomeli Rakha.


"Kok,, gue, sih, disalahin. Kalian, sih, pacarannya ngga ditempat biasa," cibir Rakha mengejek karena kesal. Dia ke sana ke mari nyari Khanza, eh, yang dicari malah lagi berduan dengan Kalil.


"Pacaran?" tanya Dinda dan Regan serentak, karena kaget mendengar isu yang diluncurka Rakha.


"Nggak!"


"Iya," sahut Khanza dan Kalil berbarengan. Kemudian keduanya saling menoleh dan menatap dengan pandangan berbeda.


Khanza dengan pandangan kesalnya, sedangkan Kalil dengan pandangan meledeknya.


"Ngga mungkin Khanza pacaran sama Kalil, tante, om," protes Khanza sebel.


Rakha tertawa mendengarnya.


"Ditolak lagi, ditolak lagi," cetus Kalil dengan ekspresi kecewa yang dibuat buat.


Rakha menutup mulutnya karena tawanya hampir pecah. Sedangkan Khanza melototkan matanya pada Kalil.

__ADS_1


Dinda dan Regan pun juga jadi tertawa perlahan.


Setelah hampir seperempat menit, Kalil dan Rakha pamit untuk menjenguk Kendra.


"Kamu di sini aja, Khan?" tanya Kallil ketika akan pergi.


"Iya, aku di sini aja," jawab Khanza. Dia ingin menunggu sampai Zayra sadar.


"Khanza, kamu di sini, sayang, sapa Tamara. Dia baru saja dari ruangan Kendra. Alva juga ikut di belakangnya bersama Arga dan Qonita.


"Iya, tante," ucap Khanza kemudian menyalim sahabat sahabat orang tuanya.


"Kalil, kamu dicari Kendra," tegur Alva pada anak bengalnya.


"Kendra udah sadar, pap?' seru Kalil senang.


Begitu juga Rakha.


"Kita ke Kendra dulu, Om, Tante," pamit Rakha setelah menyalim tangan sahabat orang tuanya. Begitu juga Kalil.


"Sudah. Sana temuin," usir Alva sambil menggoyangkan tangannya.


Tanpa menjawab, keduanya pergi ke kamar Kendra.


"Anak anak itu," komentar Arga dengan senyum terkembang di bibirnya.


"Jadi ingat kita dulu," balas Alva sambil melihat kepergian Rakha dan Kalil dengan senyum sumringah.


"Tetap aja berbeda. Mereka lebih rajin belajarnya dari seseorang," timpal Regan terkekeh.


Yang mendengarnya pun terkekeh mengerti ke arah mana omongan Regan mendarat. Hanya Qonita yang masih belum paham.


Alva yang kesindir tetap aja dengan cueknya ikur terkekeh.


Tentu dia bangga dengan kedua putra kembarnya yang sangat mempedulikan pendidikan. Bahkan Kalil yang tengil begitu juga rajin belajar. Sangat jauh berbeda dengan dirinya yang ngga mempedulilan nilai akedemis. Tentu saja Tamara mempunyai andil yang sangat besar membuat anak anak mereka menjauhi sifat negatif papinya.


*


*


*


"Dari mana aja kalian," sambut Aqil begitu melihat kedatangan Kalil dan Rakha.


"Dari nengokin Zayra," tukas Kalil dengan senyum terkembang ketika melihat Kendra yang sedang menatapnya.


"Oooh."


"Syukurlah lo udah melek lagi, Ken," seru Kalil senang.


Rakha juga ikut mengembangkan senyum harunya.


"Zayra.... gimana?" tanya Kendra agak terbata. Dia mulai teringat percakapan papi maminya waktu di helikopter dan mulai khawatir.


"Tenang, baginda. Calon permaisuri bentar lagi juga bangun," canda Kalil membuat yang ada di ruangan jadi tergelak.


Kendra tersenyum lega.


Syukurlah.


"Lo nikahnya diundur atau di rumah sakit aja, Ken?' canda Rakha meledek. Kembali tawa terdengar berderai derai.


Kendra hanya tersenyum simpul.


Harapannya mereka berdua cepat sembuh dan segera melangsungkan akad.

__ADS_1


__ADS_2