
Kendra dan teman temannya makan siang bersama di lokasi proyek. Setelahnya Kendra akan mengecek kembali pekerjaannya yang belum tuntas gara gara gangguan Atifa tadi.
Aqil, Kalil dan Rakha saling pandang melihat Kendra hanya diam saja sambil menikmati nasi kotaknya.
Walaupun mereka pewaris grup besar, tapi oleh para orang tuanya, mereka sama sekali ngga diberi keistimewaan. Mungkin karena itu para karyawan segan dan menghormati mereka.
Di lingkungan perusahaan pun, mereka datang tepat waktu dan bekerja dengan sungguh sungguh walaupun hanya menjadi karyawan saja, bukan langsung diangkat menjadi direktur. Mereka diminta bekerja dari bawah untuk mengenal situasi lingkungan perusahaan.
"Apa?" bisik Kenan ketika Kalil menyenggol bahunya.
"Dia kenapa?" tanya Kalil sambil memberi isyarat yang mengarah pada Kendra.Wajah Kendra terlihat masam.
"Udah lihat yang viral hari ini?" Kenan malah balik bertanya.
Kalil menggeleng kemudian meraih ponselnya dan membuka berita viral hari ini seperti kata Kenan.
"Apa lagi ini?! Buset dah," makinya kesal melihat empat foto Kendra dan Atifa yang sudah menunjukkan ratusan viewers dan like.
Aqil dan Rakha tertarik dengan respon heboh Kalil langsung mendekat. Mata keduanya melotot. Sama seperti Kalil, dari mulut Aqil dan Rakha keluar sumpah serapah penuh kejengkelan.
"Kenapa bisa ada foto ini?" geram Kalil berbisik.
"Kendra ngga menyangka karena itu sangat tiba tiba," jelas Kenan ketika kembarannya menunjukkan dua foto Kendra dan Atifa yang terlihat mesra. Kalo yang lainnya, Kalil tau itu hanya editan. Tapi dua foto terakhir cukup mengganggunya.
"Bisa jadi masalah kalo Zayra tau," desis Rakha setelah mendengar penjelasan Kenan.
"Nanti dia bisa kabur lagi." Aqil ikut menyahuti.
"Zayra udah tau. Kayaknya Zayra cemburu."
"Nah, kan," kesal Rakha dan Kalil yang merasa takut kalo Zayra salah mengambil keputusan karena masih sulit percaya sama Kendra.
"Tapi udah aku jelaskan situasinya. Zayra cukup mengerti," tukas Kenan tenang memutus pikiran Rakha yang sudah travelling cukup jauh.
Tetap aja pasti Zayra ngga tenang, batin Rakha yakin.
"Kenapa dia terlalu terobsesi pada Kendra, sih. Selama di luar negeri apa dia ngga naksir sama bule," cemooh Aqil gemas campur geram.
"Sudah jelas dari dulu pun Kendra menolaknya," decih Kalil ngga mau kalah. Dia merasa heran ada perempuan yang begitu ngga ngga malunya naksir tunangan orang lain. Bahkan milik temannya.Juga lebih parah lagi malah memviralkannya.
Kenan menghampiri Kendra yang sepertinya selesai makan.
"Lo mau ngecek ulang?" tanya Kenan langsung.
"Iyalah. Lo juga?"
__ADS_1
Kenan tertawa sambil menganggukkan kepalnya.
"Gue kawal lo. Kerjaan gue udah selesai," kata Aqil menimbrung. Di belakangnya Kalil dan Rakha juga sepertinya berkeinginan sama.
"Oke. Thank's." Wajah Kendra mulai sedikit tersenyum.
"Gue yang bakalan usir si gatal itu," tegas Kalil.
Kenan, Aqil dan Rakha terkekeh.
Sebenarnya juga ada dua orang perempuan dan dua orang laki laki juga yang ikut ke lokasi. Tapi Kendra dan teman temannya kurang suka berbaur di luar circle mereka.
*
*
*
Baru kali ini Khanza memilih makan siang di sekitaran perusahaan Zayra. Ada satu restoran yang cukup rame.
Hanya saja atmosfirnya agak berubah ketika keduanya masuk menuju ke meja reservasi mereka.
"Kurang ajar orang orang ini. Mereka gampang banget menelan gosip," omelnya marah.
"Sudahlah, sabar, ya," kata Zayra menenangkan.
Zayra mencoba tetap tenang walaupun risih karena banyak yang melirik liriknya antara kasian dan sinis.
Bahkan ada yang mulai mengambil foto foto mereka secara diam diam.
"Ngga bisa begini , Zay," marah Khanza ngga tahan lagi. Bahkan dia sempat bangun dari duduknya.
"Biarkan saja," ucap Zayra lembut sambil memegang lengan sahabatnya.
"Duduklah. Tambah kita marah, beritanya akan semakin viral," bujuk Zayra lagi.
Memangnya siapa yang bisa membungkan mulut para netizen? Makin dilayani maka beritanya akan semakin kencang.
Yang bisa dia lakukan hanya berdiam diri saja. Memang akan butuh waktu lama sampai gosip itu menghilang. Tepatnya ada hot viral lainnya yang bisa menyaingi beritanya.
"Kendra kenapa juga mau maunya pergi bareng ke lokasi dengan nenek lampir itu," omel Khanza mengalah.
Kini pesanan mereka pun datang.
Walau risih, Zayra berusaha tetap menikmati makan siangnya dengan nyaman.
__ADS_1
"Kendra sama Kenan terpaksa mengecek ulang pekerjaan mereka di lokasi. Untung kerjaan Aqil, Rakha sama Kalil udah selesai. Jadi mereka mengawal Kendra dari nenek lampir yang suka tiba tiba mendekati Kendra. Huuh," jelas Khanza panjang lebar dengan nada jengkel yang ngga bisa hilang.
"Oh iya," kata Zayra sambil melihat ke arah jendela luar. Siang ini panas cukup terik.
Kasian juga Kendra sama Kenan, batinnya.
"Mungkin besok Kendra minta dikawal biar si nenek lampir ngga bisa mendekat. Malu aku jadi perempuan melihat kelakuannya," gerutu Khaza setelah meneguk abis minumannya. Kerongkongannya terasa kering karena sedari tadi mengomel terus.
Zayra mengembangkan senyummya.
"Kita balik, ya. Aku ngga boleh telat nyampe di rumah sakit," kata Khanza sambil menatap Zayra yang juga udah selesai menghabiskan makan siangnya.
"Oke, ayuk," jawab Zayra yang juga sudah ngga betah berada di sana.
Bayangkan aja, di lirik lirik, bahkan di foto diam diam. Ngga nyaman banget rasanya. Besok besok Zayra akan memilih makan di ruangannya saja.
Kalo di perusahaan para karyawan ngga berani bertingkah ngga sopan seperti orang orang di restoran ini. Abinya sudah mewanti wanti mereka. Begitu juga para omnya.
Tentu saja para karyawannya memilih patuh dari pada di pecat.
Awalnya Zayra ngga nyaman dengan sikap otoriter yang diambil abi dan para omnya. Tapi melihat kenyataan di restoran, barulah Zayra sadar, efek positif tindakan mereka.
Sesekali kita memang perlu menunjukkan power kita pada para bawahan. Kalo tidak, bisa saja mereka akan bersikap kurang ajar seperti di restoran ini.
Keduanya melangkah tenang meninggalkan restoran. Tapi tiba tiba ada dua orang perempuan yang mendekat.
"Zayra yang tunangnya Kendra, ya?" tanya dua perempuan itu kompak dengan senyum yang agak sinis.
Melihat sekilas, Zayra menduga usianya sebaya dengan dua orang perempuan yang berpakaian modis itu.
"Lo kenapa kepo?" sarkas Khanza menyahut sinis.
"Temannya, ya," kekeh keduanya agak mengejek.
"Sudah jangan dipedulikan. Kita pergi," kata Zayra sambil menarik tangan Khanza agar mengikutinya melewati kedua perempuan itu.
"Kalo saya jadi kamu, udah nyerah aja, Zayra. Saingan kamu lebih segala galanya dari kamu," cicit salah satu perempuan itu kemudian tertawa sinis
"Zayra, kita harus balas," sentak Khanza mulai emosi.
"Percuma. Mungkin nanti ada rekaman kita yang sudah di edit. Nanti malah kita yang kelihatan marah marah ngga jelas," cegah Zayra lagi mencoba memberikan Khanza pengertian.
Bener juga, batinnya tersadar. Emosi Khanza mulai mengendur walau wajahnya masih mengeras karena masih tetap marah.
"Mereka akan terus mencoba buat kita marah. Jangan dilayani," kata Zayra lagi.
__ADS_1
Bukannya Zayra bisa seperti malaikat yang punya sifat sabar yang sangat luas. Tapi yang Zayra pikirkan adalah efek yang akan timbul nantinya lah jika dia mulai membalas perkataan nyinyir mereka. Pasti akan merugikan dirinya sendiri. Juga keluarganya.
Lagi pula Zayra yakin masih banyak netizen yang cerdas yang bisa mensikapi dengan baik masalah ini.