After The Heartbreak

After The Heartbreak
Ketegasan Kalil


__ADS_3

Semua di luar dugaan Kalil. Awalnya ingin membalas Boby, tapi sekarang malah dia yang bertemu mantan.


Dunia begitu sempit. Dikiranya Evelin akan melanjutkan kuliahnya di negara itu, tempat mereka bertemu di Roma, Italia.


Dua tahun yang lalu Kalil dan Kenan melakukan perjalanan bisnis ke sana. Dan hanya dua kali mereka tidur bersama, setelah itu lost contact.


Kalil pun ngga memberitahukan siapa dirinya. Dulu waktu gadis itu bertanya kemana dia akan mengambil gelar masternya, Kalil hanya menyahut asal. Reflek aja menyebut Inggris, karena ingat Kenan akan kuliah ke sana.


Keduanya memesan spageti, sedangkan Boby hanya jus alpokad. Selera makannya hilang tiba tiba.


Dia memang belum terlalu dalam tertarik pada Khanza. Tapi sikap datar Khanza membuatnya penasaran. Ngga disangkanya gadis itu akan menikah. Yang Boby heran kenapa Aqil ngga bercerita apa apa. Bahkan Aqil dan ketiga sahabatnya seolah memberikannya kesempatan untuk menarik perhatian Khanza. Padahal kalo melihat sikap calon suami Khanza yang santai dan seolah sudah menyatu akrab, kelihatannya mereka satu circle dan memiliki kedekatan dalam waktu yang lama.


"Tadi gue ngirain kalian yang maen basket," komen Shania lagi. Dia tampak lahap menikmati spagetinya. Ngga peduli situasi canggung di sekitarnya.


Sedamgkan temannya Evelin nampak sedikit melamun. Pertemuan dengan Kalil yang awalnya menyenangkan dan sempat membangkitkan asanya kini mulai membuatnya merana.


Ada penyesalan karena ngga mencari tau Kalil sejak dua tahun yang lalu. Perkenalan mereka cukup singkat. Tapi Evelin mau mau saja mengajak Kalil tidur bersama dengannya.


Memang dia yang mengajaknya duluan, tapi Kalil ngga pernah menolaknya. Selama dua kali mereka melakukannya sebelum Kalil pamit untuk pulang ke negara mamanya.


Papa Evelin dari Jerman, sedangkan mamanya dari Sunda.


Waktu itu Evelin terlalu percaya diri kalo Kalil pasti akan menemuinya lagi. Dia memiliki segala yang laki laki sukai. Kecantikan, keseksian dan kekayaan. Hidup di negara bebas ngga membuatnya lupa untuk menjaga diri. Tapi begitu melihat Kalil pertahanannya goyah. Dia memberikan Kalil kunci segel berharganya secara suka rela, walaupun awalnya Kalil menolak.


Tapi nyatanya selama dua tahun, Kalil ngga pernah datang. Bodohnya lagi dia ngga pernah menanyakan dimana Kalil tinggal di negara ini. Nama lengkapnya pun Evelin ngga tau. Dia hanya mengenalkan padanya nama Kalil saja.


Saat memutuskan untuk melanjutkan kuliah di negari mamanya, besar harapannya untuk bertemu Kalil.


Keinginannya terkabul, tapi dia terlambat. Kalil akan menikah.


Evelin sangat penasaran siapa perempuan yang akan dinikahi Kalil. Tapi dia merasa laki laki yang juga baru sampai tadi memiliki ketertarikan khusus pada calon istri Kalil.


Mungkin mereka bisa kerja sama?


"Lagi bosan," jawab Rakha karena kasian. Satu orang pun ngga ada yang menanggapi ucapan Shania.


"Oooh."


"Kalian sudah lama berteman?" tanya Shania lagi.


"Begitulah." Masih Rakha yang menjawab.


"Kalil, lo kok, jadi bisu. Ngga kangen sama Evelin?"" sindir Shania.


Kalil menghembuskan nafas kasar. Dia menatap Khanza yang tampak mulai kesal.


"Ada saos di bibir kamu," kata Kalil sambil mengambil sehelai tisu dan menyentuh lembut sudut bibir Khanza.


Kalil menatapnya dengan tatapan permohonan maaf.

__ADS_1


Khanza hanya balas menatap dengan Kalil malas. Dia ingin segera pulang. Khanza sudah menduga seintim apa hubungan Kalil dengan gadis yang katanya mantan terindah Kalil itu.


Dia hanya mantan, Khanza. Hanya mantan, batinnya menguatkan.


"Kalil, spageti ini enak loh," kata Evelin sambil menyodorkan sumpit yang berisi spageti pada Kalil. Posisi Evelin tepat di samping Boby. Boby sampai memundurkan tubuhnya karena sumpit itu melewati dada bidangnya.


Kalil langsung berdiri dan menarik tangan Khanza agar ikut berdiri. Dia beneran sudah muak.


Khanza ngga menolak. Dia juga sudah ngga ingin berada di sini lagi.


"Gue duluan," pamitnya sambil merangkul bahu Khanza.


Khanza menatap Zayra dan menganggukkan kepalanya.


"Oke," sahut Kendra. Dia juga ingin pergi dari sini. Karena Kendra sadar, Shania dari tadi terus meliriknya.


"Kalil, bisa kita bicara sebentar?" Evelin ikut berdiri dan menghadang langkah Kalil dan Khanza.


"Berdua?" lanjutnya lagi. Agak memohon. Beberapa pengunjung kantin mulai ada yang melihat ke arah mereka.


Khanza yang sudah siap melepaskan rangkulan Kalil jadi tercekat mendengar kata kata dingin Kalil.


"Ngga ada yang perlu kita bicarakan. Hubungan kita juga ngga terlalu spesial."


Evelin tertegun mendengarnya. Rasanya sakit sekali.


Rakha dan Aqil saling pandang. Mereka pun pernah ditodong begini oleh para perempuan yang sudah mereka tiduri. Dan jawaban Kalil adalah jawaban mereka juga.


"I am ," jawab Kalil membenarkan.


Tanpa ingin melanjutkan obrolan yang ngga bermutu itu Kalil langsung pergi dengan tetap merangkul Khanza.


"Kita juga duluan," pamit Kendra sambil menggamit Zayra. Mereka mulai menjadi pusat perhatian. Apalagi tadi suara Shania cukup keras memaki Kalil.


"Boby, kita basket, yok," ajak Aqil juga ikut berdiri bersama Rakha.


"Oke."


Ketiganya pun pergi menyusul Kendra dan Kalil.


Boby sempat melihat kasian pada Evelin yang kini juga sudah melangkah pergi diikuti Shania. Sepasang mata gadis itu tampak berkaca kaca.


*


*


*


Dada Khanza bergemuruh. Juga sesak. Entah berapa perempuan yang sudah ditiduri Kalil.

__ADS_1


Kalil memasangkan helm pada Khanza yang hanya terdiam tanpa mau menatap Kalil yang nampak frustasi akan reaksi Khanza. Padahal dia baru saja dimaafkan.


"Percaya sama aku. Cuma kamu yang membuat aku berjuang," bujuk Kalil lembut.


Khanza menatap Kalil tajam.


"Apa aku yang terakhir?"


"Tentu, Khanza. Aku memang brengsek, laki laki bajingan. Tapi tiap aku tidur dengan mereka, aku selalu membayangkan jika itu kamu. Aneh, kan," kata Kalil sambil memijat kepalanya.


"Kamu gila. Bukan aneh," semprot Khanza terkejut sekaligus ngeri.


Dia jadi objek fantasi Kalil? Sejak kapan.


"I am," jawab Kalil sambil memakai helmnya sendiri.


"Huuuh," dengus Khanza kesal campur gemas. Laki laki ini kenapa ngga ingin tampak baik sedikitpun di depannya.


"Kamu perempuan yang aku sukai dan akan aku jaga baik baik. Karena kalo tiba waktunya, aku akan meniduri kamu di malam pertama pernikahan kita," kata Kalil dengan senyum miringnya. Helmnya sudah terpasang dengan baik kini.


BUK BUK BUK


Kalil tertawa lepas ketika Khanza memukul punggungnya dengan tasnya berkali kali dengan wajah merona.


"Aku benci sama kamu," kata Khanza tiada henti.


"Nanti lagi aja. Kamu ngga mau terlambat, kan?" kata Kalil mengingatkan. Dia pun meniringkan motornya.


"Eh, iya. Aku ada janji dengan dokter Niko dan dokter Muluk," seru Khanza baru ingat kalo siang ini akan ada operasi lagi. Dia pun langsung naek ke motor Kalil.


"Kalo kamu macam macam dengan si Niko sialan itu, aku akan mempercepat untuk meniduri kamu," ancam Kalil sungguh sungguh. Emosinya naek mendadak mendengar Khanza menyebut nama rekannya itu.


"Aaauuu, kamu kenapa kalo nyubit kejam banget. Kena tu ginjalku," ringis Kalil ketika cubitan Khanza mampir di pinggangnya.


"Rasain. Eh... Kaliill!" kaget Khanza sambil memeluknya erat ketika Kalil melajukan motormya.


Kalil terkekeh ketika merasakan jantung Khanza yang memukul keras punggungnya.


Ngga jauh dari situ, Boby, Rakha, Aqil, Kendra dan Zayra menatap tingkah keduanya sampai motor Kalil keluar dari parkiran kampus.


"Pasangan aneh. Gimana nanti rumah tangga mereka," komentar Rakha kemudian terkekeh.


"Pasti tiap hari runyamlah. Berantem terus," sahut Aqil juga terkekeh.


Kendra dan Zayra pun ngga dapat menahan tawa saat mendengarnya.


Melihat sikap Khanza, agaknya sahabatnya itu punya samudra maaf buat berjuta perbuatan buruk Kalil di masa lalu.


Boby masih mematung. Ngga nyangka, gadis yang selalu berwajah datar dan nampak kaku begitu luwes menampilkan ekspresinya saat bersama calon suaminya.

__ADS_1


Tanpa sadar dia tersenyum getir. Boby akui, dia sudah kalah telak.


__ADS_2