
Setelah memikirkannya matang matang, Cyra akhirnya mau juga menemui Aqil di sebuah kafe ngga jauh dari kampus mereka. Cyra meminta Lala menemaninya tapi dengan jarak yang ngga mungkin bisa dilihat Aqil. Untungnya Lala menyanggupinya.
Tapi Aqil udah mengantisipasinya dengan mengajak Boby. Saat ini Boby sudah bersama Lala. Aqil tersenyum puas karena Boby berhasil mengalihkan perhatian Lala.
Temannya itu rupanya tertarik juga pada Lala. Begitu juga sepupunya.
Syukurlah, misi selesai, batinnya senang. Mereka berdua ngga akan dijodohkan lagi.
Aqil melirik Cyra yang tampak ngga tenang sambil dia meneguk minumannya.
Gadis itu terlihat gelisah sambil mengetuk gelas minumannya berulang kali.
"Cepat katakan, apa mau kamu," tukas Cyra begitu Aqil meletakkan gelasnya.
"Tidur denganku," jawab Aqil cepat.
Mata Cyra melotot
"Nggak! Nggak akan!' jawabnya kesal menahahan marah.
Aqil tersenyum smirk. Matanya melirik nakal pada tubuh yang hampir dia nikmati.
So seksi sekali.
Gadis itu sekarang mengenakan dres selutut dengan lengan yang pendek sekali.
"Videomu ada padaku--."
"Aku tau. Apa pun permintaanmu akan aku kabulkan. Tapi minta yang lain. Jangan yang tadi," potong Cyra geregetan.
Laki laki di depannya memang sempurna, tampan dan mapan. Tapi sayangnya sangat kurang ajar dan ngga sopan. Cyra menberi penilaian bintang satu dalam hatimya untuk sosok Aqil.
Aqil terkekeh. Dia senang, gadis ini berhasil masuk juga dalam perangkapnya.
"Jadi pacarku."
"Berapa lama?"
"Terserah. Sampai aku bosan."
Huuuffhhh, Cyra mendengus kesal.
Enak banget di dia, umpat Cyra dalam hati ngga terima. Dirinya adalah korban, tapi malah dimanfaatkan.
"Satu bulan." Cyra masih mencoba bernegosiasi dengan sabar.
Aqil menaikkan satu alisnya.
"Terlalu cepat."
"Ngapain lama lama," ketus Cyra mulai marah juga.
Aqil tersenyum miring.
"Oke, aku akan setuju kalo ada bonusnya."
Mata Cyra menyorot horor.
"Bonus apa?" kertak Cyra.
Aqil tersenyum smirk.
"Yang penting ngga tidur bareng, kan?"
"Ya!"
__ADS_1
"Pegang tangan sama cium bibir ngga dilarang, kan?" modus Aqil santai.
Cyra terdiam.
"Harus sejauh itu?" gumamnya agak ngeri.
"Namanya juga pacaran."
"Ngga boleh lebih dari itu," tegas Cyra membolehkan. Tapi dia ngga akan memberikan peluang lebih pada Aqil, si laki laki mesum.
"Oke, diterima. Satu lagi, kapan pun aku telpon, harus diangkat. Kapan pun aku ajak pergi, harus mau," seru Aqil dalam hati bersorak. Sudah banyak rencana jahat yang tersusun dalam otaknya.
Aqil akan buat gadis bachelor party ini takluk padanya.
Aqil sudah merasa mentok dengan petualangannya terhadap para perempuan di luar sana.
Kalil akan menikah, Rakha sudah direstui. Kabarnya Kenan pun akan menyusul karena sudah punya kekasih baru. Hanya tinggal dia yang jadi jomblo akut.
Cyra sudah sempurna untuknya yang brengsek ini. Masih virgiin, cantik dan seksi. Tidak akan memalukan dijadikan pacar. Malah dia sangat beruntung. Tinggal atur strategi agar gadis ini ngga bisa menolaknya.
"Satu bulan aja, kan?" Cyra berusaha menegaskan
"Tanpa minta eM-eL," sambungnya lagi. Menegaskan pada Aqil.
"Ya," sahut Aqil penuh arti. Di kepalanya sudah banyak tersusun rencana untuk menjebak Cyra.
"Kecuali kalo kamu yang minta."
"Ih, ngga mungkin lah," decih Cyra sombong.
Aqil tertawa.
Lihat aja nanti.
"Satu lagi, kamu harus berhenti jadi penari seksi. Kalo ketahuan, kamu akan langsung aku tiduri," kata Aqil mengancam. Tapi itu benar dari lubuk hatinya. Ngga rela dia kalo Cyra mempertontonkan keseksiannya setelah menjadi miliknya.
"Baguslah."
"Sebentar. Aku butuh bukti perjanjian di atas materai agar kamu ngga melanggarnya," kata Cyra sambil mengambil kertas yang sudah di tempeli dua materai sepuluh ribuan.
Aqil menahan tawanya saat membaca hanya satu pasal saja yang ditulis Cyra.
Tidak Ada Acara Tidur Bersama.
"Kamu bisa menambahkan pasal lain," kata Cyra sambil mengulurkan pulpennya
"Tidak perlu," tolak Aqil ringan.
Kemudian dia menghabiskan minumannya.
Ponselnya bergetar. Ternyata Boby mengirim pesan kalo dia akan pergi bersama Lala.
Oke. Gue restui, tapi lo ngga boleh macam macam sama sepupu gue.
Boby hanya membalas dengan emoji jempol.
"Habiskan minuman kamu. Temeni aku pergi," titah Aqil.
"Ohya, kamu ngga ingin nulis perjanjian ini berlaku sampai kapan?" sambung Aqil pura pura baik.
"Oh iya," seru Cyra hampir lupa.
Dia segera menulis tanggal hari ini sebagai awal mulai berlakunya dan berakhir tiga puluh hari kemudian. Kemudian langsung menandatanganinya.
Ngga disangka Aqil akan mengingatkannya.
__ADS_1
"Silakan," ucap Cyra sambil memberikan kertas perjanjian beserta pulpen.
Dengan perasaan senang yang dia tutupi, Aqil segera menandatanganinya.
"Sekarang ikut aku," kata Aqil sambil berdiri.
"Kemana?" tanya Cyra sambil melihat ke arah tempat Lala menunggu.
Kosong? Dia kemana? bati Cyra kesal. Tapi kemudian dia melihat ponselnya yang ternyata sudah terdapat pesan dari Lala.
Mama telpon aku. Maaf, aku kepaksa pergi.
Cyra menghela nafas. Mau gimana lagi.
"Kita kemana," tanya Cyra sambil menjejeri langkah Aqil.
"Ke rumah mamaku. Aku ingin ngenalin kamu ke mama," jawab Aqil tenang.
"Tap.... tapi kita hanya pacaran sebulan," tolak Cyra.
"Ngga apa apa. Biar mamaku tau kalo aku udah punya pacar. Oh iya, Dua hari lagi, aku jemput jam tujuh malam. Sahabatku mau nikah," jelas Aqil panjang lebar.
Harum nafas Aqil yang segar menghembus kulit wajah Cyra. Terasa hangat.
"Gimana?" tanya Aqil sambil mendekatkan wajahbya di pipi Cyra.
"I iya," gagap Cyra sambil bergegas masuk ke dalam mobil. Hampir saja kepalanya menyenggol pintu atas mobil. Tapi Aqil dengan cepat melindunginya.
Aqil tersenyum sarat makna. Dia ngga akan buru buru. Dia akan bermain pelan.
*
*
*
"Khanza, lama banget," keluh Kalil ketika melihat Khanza masih saja mencoba berbagai es krim buat dessert pernikahan mereka nanti.
"Ini enak Kalil," celotehnya sambil memyuapkan es krim itu ke mulutnya.
Kalil yang sudah lelah jadi punya ide setelah melihat bibir Khanza yang berlemotan es krim.
"Ini lebih enak," kata Kalil sambil menarik pinggang Khanza dan menghisap bibir yang penuh es krim itu.
"Kalil," desis Khanza kaget. Ciuman Kalil begitu menuntut membuat jantung Khanza berdebar cepat. Kedua tangannya ngga bisa mendorong tubuh Kalil karena sedang memegang mangkok es krim dan sendoknya.
Tanpa sadar Khanza membuka bibirnya, membiarkan Kalil mengkreasikan lidahnya.
Beberapa kali Khanza sudah membiarkan Kalil menciumnya. Ciuman Kalil memang memabukkan.
"Kalil, nanti ketahuan mama," desah Khanza memberi ingat. Sementara kedua tangannya sudah pegal karena memegang mangkok es krim dan sendoknya.
"Mama lagi di depan. Khanza, aku mau cium lehernu," pinta Khalil sambil menurunkan bibirnya ke leher Khanza. Mengecupnya lembut tanpa menghilangkan jejak.
Kalil membebaskan Khanza ketika mendengar tawa riang mama mama mereka.
Menatap penuh cinta pada mata sayu Khanza.
"Suka?' godanya membuat Khanza memanyunkan bibirnya. Kemudian mengalihkan tatapannya pada mama mama mereka yang masih cukup jauh.
Syukurlah, batin Khanza lega bisa lepas dari sentuhan gila Kalil.
Kalil selalu pintar mengambil kesempatan untuk menciumnya. Ciuman pertamanya pun begitu.
Kalil menciumnya saat dia akan membuatkan Kalil kopi di rumahnya.
__ADS_1
Kalil langsung memeluknya dari belakang. Dan saat Khanza menoleh, Kalil langsung mel*um*at bibirnya sangat lama. Sampai kopi panas yang diseduhnya menjadi hangat.
Khanza selalu mengingatnya. Karena itulah ciuman pertamanya. Hanya saja yang Khanza sesali, kenapa harus di dapur. Harusnya mereka melakukannya di tempat yang indah, kalo perlu yang banyak bunganya. Biar lebih berkesan.