
Aqil menatap si kucel itu ngga percaya. Memang dia sudah berubah. Menjadi cantik dan wangi.
"Bisa juga lo jadi cantik gini. Lagi naksir cowo?" ejek Aqil.
"Kalo iya pastinya cowo baik baiklah. Ngga model kayak lo," sarkas adik Zizi, Lala galak.
Arik dan Arga tergelak melihatnya.
"Bisa cepat cere nih bang kalo dinikahin," kekeh Arga.
"Bener, bener," sambut Arik setuju dan ngga kalah kerasnya tertawanya.
"Pa, kenapa aku dibawa ke sini. Aku mesti ke kampus," protes Lala pada papanya yang masih saja tertawa.
"Ya udah. Sana kampus bareng Aqil. Papa ada urusan lain," jawab Arik santai membuat Lala meliriknya kesal. Selalu saja menyuruhnya dekat dekat dengan laki laki menyebalkan ini.
"Aqil juga mau ke kampus," sahut Arga sambil memberi isyarat agar menurut saat melihat anaknya akan protes.
"Aku naek taksi online aja, Om," tolak Lala berusaha tetap sopan.
"Nggak! Kamu bareng Aqil. Kalo kamu ngga nurut, papa ngga akan biayai pagelaran fashion kamu," ancam Arik tenang.
Waduh, kenapa, sih, jadi merembet ke soal materi, sungut Lala mulai kelabakan.
"Jangan gitu, dong, pa. Lala bisa malu ntar," protesnya panik.
Vendor dan model modelnya gimana bayarnya. Kalo pun pakaiannya laku semua, dia cuma dapat keringat doang dong.
Andai saja dia sudah sangat terkenal. Ngga mau dia pake uang papanya yang suka mencampur adukkan masalah bisnis dengan masalah si petakilan ini.
"Aqil, ayo antar Lala. Ingat, black card, Aventador," kata Arga penuh arti.
Aqil menghembuskan nafas kesal. Tentu saja dia ngga mau jadi gelandangan
"Ayo, cepat," sergahnya kesal.
"Huuh."
Walau keduanya menampilkan wajah kesal, tetap saja berpamitan dengan sopan dengan papa dan daddynya.
"Kenapa, sih, lo mau aja ditekan daddy lo," kesal Lala saat mengikuti langkah Aqil yang sangat panjang panjang.
"Lo mau gantiin kartu kredit sama gerobak gue?" tantang Aqil juga ngga kalah kesalnya.
"Cuma itu aja lo nyerah. Dasar lemah," caci Lala meremehkan.
"Dari pada lo, cuma pagelaran baju jelek gitu aja, ngutang. Sudah gue bilang, bikin pagelaran baju daleman aja, seperti victory secret. Pasti lo ngga bakal butuh uang papa lo lagi. Langsung habis terjual dalam waktu cepat. Yang nonton juga bejibun. Teman teman gue pasti mau bantuin promo gratis. Dan yang inden pasti banyak banget. Lo pasti cepat jadi konglomerat termuda," ceramah Aqil sewot karena sepupu bebalnya ngga mau menuruti sarannya dari dulu. Kenan, Kalil, Kendra, dan Rakha pasti dengan suka rela mau bantu promosi gratis yang ngga kaleng kaleng.
PLETAK!
Dengan kejam Lala memukulkan penggaris yang dipegangnya ke kepala Aqil.
__ADS_1
Aqil hanya menyeringai.
Dalam hati terbersit keinginan untuk meminta Lala mencoba kesaktian senjatanya, apakah sudah kembali sempurna. Tapi membayangkan barang barang yang biasa dibawanya, malah senjatanya akan menerima nasib mengenaskan.
Sekarang penggaris besi yang dipegangnya. Tapi di dalam tas kecil yang dibawanya, ada gunting, jarum, pentul, pensil dengan ujung runcing, membuat senjatanya mendadak jadi ngilu.
Sialan, gerutunya dalam hati.
"Kok, gue ngga pernah lihat lo di kampus?" tanya Aqil ketika keduanya sudah berada dalam mobil.
"Emang lo, norak, suka cari perhatian," caci Lala lagi. Dia pun kaget begitu tau Aqil satu kampus dengannya. Dikiranya Aqil akan melanjutkan kuliahnya ke luar negeri.
Tapi saat melewati lapangan basket, dia terkejut melihat Aqil ada di situ bersama teman temannya yang sedang memamerkan kehebatan mereka mengolah bola basket di hadapan banyak mahasiswi yang menonton sambil teriak teriak histeris.
Tapi dia sudah telanjur. Dan sebisa mungkin menghindari Aqil dan teman temannya. Kalo Zayra dan Khanza, Lala masih bisa berteman. Tapi yang lainnya, NO!
Tipikal sama brengseknya.
Cuma anehnya Khanza dan Zayra bisa akrab. Bahkan Zayra si gadis alim menikah dengan Kendra. Dan Khanza yang paling fenomenal bentar lagi akan menikah dengan Kalil yang senjatanya selalu ditancapkan ke sembarang tempat.
"Kenapa lo ngga kuliah ke luar negeri aja, sih," keluh Aqil frustasi sambil menjalankan mobilnya keluar dari basemen perusahaan daddynya.
Kemunculannya semakin mendekatkan isu perjodohan mereka semakin nyata.
Mereka masih sepupu, walau hubungan darah itu ngga terlalu dekat. Tapi papa Lala dan daddynya terobsesi menjodohkan mereka. Sedang mama dan maminya terserah mereka aja.
Bagi Aqil, Lala tetap sama. Mau kucel seperti dulu atau udah cantik seperti sekarang, dia ngga bisa menerima perjodohan ini. Lala juga membencinya.
"Lo cari pacar sana. Atau mau gue kenalin sama Boby teman gue? Lo pasti suka." Tiba tiba dia teringat Boby. Siapa tau berhasil. Jika Lala sudah punya pacar, papa dan daddy nya akan membatalkan perjodohan mereka.
"Kenapa harus gue," bantanya galak.
"Ya lo aja. Dari pada lo selalu buang buang sp*e*rma lo ke tempat ngga jelas, memding lo fokus ke satu tempat," sarkas Lala melanjutkan.
Aqil tambah frustasi.
Apa ada laki laki yang bisa bertahan dengan sepupunya yang bermulut sangat pedas ini, gerutunya lagi dalam hati. Sangat kesal.
Boby yang cukup sabar gitu pasti juga nyerah.
Aqil menghembuskan nafasnya panjang panjang. Akhirnya mobilnya pun memasuki parkiran kampus.
"Gue pulang sendiri aja," ketus Lala saat akan keluar dari pintu mobil.
"Hemm...."
BRAK!
Aqil sampai kaget mendengar bantingan pintu pada Aventador kesayangannya.
Sialan! Jantung gue! umpatnya dalam hati. Dan ketika dia akan menyusul keluar untuk memarahi sepupu kurang ajar yang ngga tau terima kasih itu, dia terdiam melihat Lala berinteraksi dengan gadis yang selama tiga hari ini memenuhi otaknya.
__ADS_1
Hari mendungnya berubah terang benderang. Aqil tersenyum miring.
Ngga nyangka sepupunya mengenalnya. Kalo tau dari dulu akan dibaik baikin, disabar sabarin agar tujuannya lebih cepat tercapai.
Sama seperi Aqil, wajah penuh badai petir milik Lala langsung berubah secerah mentari pagi ketika melihat sahabatnya.
"Cyra!" serunya saat mengenali gadis yang baru juga keluar dari mobilnya.
"Lala?!" Ngga kalah heboh Cyra, bachelor party girl membalas sapaannya.
"Tumben lo ngga dandan seperti orang gila," tawa Lala berderai derai.
"Enak aja orang gila," balas Cyra juga ikut tergelak.
"Syukurlah lo udah bosan," ejek Lala masih dalam tawa bahagianya.
Cyra ngga balas menyahut, tapi tawanya saja yang berderai derai sebagai jawabannya.
"Gue ada desain baru buat lo," kata Lala.setelah tawa keduanya mereda.
"Gue udah berenti," tolak Cyra jujur.
"What? Tapi syukurlah. Pasti ada sesuatu ya yang buat lo berhenti," tukas Lala curiga. Dia hapal sekali karakter sahabatnya. Susah dikasih taunya. Dia berhenti dari kegiatan gilanya pasti ada sesuatu. Ngga mungkin dapat hidayah.
"Lo tau aja," kata Cyra kesal. Sahabatnya selalu bisa membaca isi pikirannya.
"Eh," kaget Cyra ketika tangannya digenggam seseorang. Wajahnya langsung pucat.
Laki laki gila ini!
"Aqil! Lo mau apa sama teman gue, hah?" seru Lala kesal sambil menepis kasar tangan sepupunya hingga cekalannya terlepas.
Tapi dengan lebih cepat lagi, Aqil menarik Cyra dengan tangannya yang lain hingga tubuh gadis itu membentur dadanya.
"Mau rahasia lo, gue bongkar di kampus ini?" ancam Aqil berbisik di dekat telinga Cyra, membuat wajah cantiknya semakin pucat.
Lala ngga membiarkannya Dengan sekuat tenaganya dia mencubit tangan kurang ajar Aqil hingga berdarah, karena saking dalamnya cubitan itu.
Aqil reflek melepaskan pegangannya sambil meringis.
"Lo gila, La. Gimana kalo gue kena tetanus," bentak Aqil super duper jengkel.
"Biarin. Malah bagus." Lala malah balas menyumpah.
Aqil menatap Lala jengkel. Jika saja ngga takut terinfeksi, Aqil akan melanjutkan niatmya untuk berdebat dengan sepupunya.
"Tanya nomer hp gue sama dia. Ancaman gue ngga main main," seru Aqil lantang sebelum bergegas pergi mencari kran air untuk membersihkan bekas cubitan ini.
Lala mengerutkan keningnya. Dia tau banget siapa Aqil. Apa yang dia katakan pasti akan dia wujudkan.
Lala merasa semakin aneh karena melihat wajah Cyra yang pucat seperti ngga ada darahnya.
__ADS_1
"Lo kenal dimana sepupu gue?"