After The Heartbreak

After The Heartbreak
Panas


__ADS_3

Zayra juga melirik Khanza yang terlihat santai saja menghabiskan pizzanya. Kemudian dia menatap Kendra. Tapi Kendra sedang menatap Kalil. Suasana terasa hening sesaat.


"Pizza buat gue mana, nih?" tanya Kalil memecah kesunyian yang tiba tiba menyelimuti mereka sambil melirik kotak pizza di samping Khanza yang masih menyisakan beberapa potong lagi.


Sebenarnya tujuan Kalil bukan itu, dia hanya ingin mendapatkan perhatian Khanza. Aneh, kan?


Dari malam tadi dia dicuekin. Makanya dia semangat banget ketemu Khanza. Mau konsolidasi.


Agnes menatapa kesal pada teman sejak kecil Kalil yang ternyata bernama Khanza. Dokter Khanza tepatnya. Apa lagi Agnes tau ke arah mana mata Kalil tertuju.


Kenapa Kalil ngga menyapa yang sakit, kesalnya dalam hati.


Tapi saat melihat perempuan yang sempat viral itu tersenyum padanya, Agnes juga membalas senyumnya.


"Ini pizza lo," sahut Kendra sambil mengulurkan sebuah kotak pizza yang masih tersegel pada Kalil.


Kalil tersenyum. Dia tau kalo Kendra ngga mungkin akan melupakan dirinya.


Tapi saat dia akan mengambil kotak pizza itu, Agnes menahan lengannya.


"Bukannya kamu sudah kenyang?"


Kalil merasa ngga enak kala menatap sahabat sahabatnya yang kini terfokus memandangnya karena ucapan Agnes.


Termasuk Khanza.


DEG


Tatapan Khanza sangat sinis padanya.


"Oh iya, kamu sudah makan ya?' ujar Kenan sambil menarik tangan yang mengulur pizza itu.


"Udah. Tapi pizza belum," jawab Kalil sambil mengambil pizza di tangan Kendra.


"Tadi bawain makan apa buat Kalil, nes?" tanya Aqil sok akrab.


"Nasi ayam hainam kesukaannya Kalil," jawab Agnes pede.


Uhuk uhuk uhuk


Netra semua yang ada di situ langsung menatap Khanza yang terbatuk batuk seolah olah ada potongan pizza yang nyangkut di tenggorokannya.


"Kamu kenapa, Khanza?" tanya Zayra langsung menuangkan air mineral dari dispenser.


"Nih, minum." Kalil sudah berada di depan Khanza dan menyodorkannya botol minuman yang sudah dia buka.


Entah kapan dia mellepaskan pegangan tangan kekasihnya.


Khanza menggeleng, dia menunggu dari Zayra.


Uhuk uhuk uhuk


"Sudah, minum aja, Za," bujuk Rakha yang kasian melihat wajah Khanza yang memerah menakan sakit.


Kalil pun memaksakan botolnya ke tangan Khanza agar menerimanya.


Uhuk uhuk uhuk


Akhirnya dengan berat hati Khanza menerimanya.


Khanza sangat terkejut mendengar makanan kesukaan Kalil. Maka nya dia sampai keselek Pizza. Kayaknya irisan jamur pada pizza nyangkut melintang hingga membuatnya jadi keselek dan akhirnya terbatuk batuk. Perih sekali rasanya. Apalagi tadi dia cukup banyak mencocol pizza tersebut dengan saos sambal. Matanya pun sampai mengeluarkan air mata.


Bukannya nasi ayam hainam itu kesukaannya. Karena itu dia suka makan di kafe depan rumah sakit, karena menyediakan menu favoritnya. Kenapa gadis ini malah mengatakan kalo itu makanan kesukaan Kalil. Ada ada saja. Khanza terus mengomel dalam hati.


Agnes menatap kesal ke arah Kalil dan Khanza.


Laki laki itu langsung melepaskan pegangannya begitu saja karena mendengar teman sejak kecilnya batuk batuk manja.

__ADS_1


"Bukannya itu kesukaannya Khanza," cetus Aqil mulai menyalakan kompor.


Kenan langsung menginjak kakinya, memberi isyarat agar diam.


"Iya iya," ringis Aqil kesal karena injakan Kenan cukuo kuat.


Tapi Agnes sempat mendengarnya. Hatinya pun bertambah kesal.


Jadi capek capek dia masak ngga ada gunanya. Ternyata itu makanan kesukaan **teman sejak kecilnya K**alil.


"Kalil," cicit Agnes pelan.


Kalil menoleh dan tersenyum.


"Sebentar," kata Kalil sambil mengulurkan tisu pada Khanza dan tanpa ragu menghapus air mata yang jatuh di pipinya.


"Cup cup, gitu aja nangjs," goda Kalil terkekeh.


"Ini keselek sama kepedesan tau," bantah Khanza judes sambil mengambil tisu di tangan Kalil. Apa lagi Khanza sudah merasakan panasnya tatapan pacar Kalil-Agnes padanya.


Khanza makin kesal melihat Kalil yang seperti ngga peduli keadaan sekitarnya, tetap saja tertawa sendirian dalam pengawasan sahabat sahabt mereka dan terutama Agnes.


Ini yang kadang membuat Kendra dan yang lainnya bingung akan hubungan Kalil dan Khanza. Perhatian Kalil melebihi dari sikap sahabat. Rakha saja masih tau batas kalo bersikap dengan Khanza, walaupun dia juga cukup dekat dengan Khanza.


Tapi perhatian mereka terpecah saat pintu ruangan terbuka.


Dokter Fadli tersenyum pada yang ada di ruangan sambil mencari keberadaan Khanza.


"Maaf mengganggu. Mau ngajak Khanza ke ruang operasi," ucapnya sopan setelah melihat keberadaan Khanza. Bibirnya mengulum senyum melihat laki laki yang dicuekin Khanza tadi malam ada di dekat gadis judes itu


Huuuh. Lega rasanya dada Khanza melihat kehadiran dokter Fadli.


"Sebentar," sahut Khanza yang diangguki dokter Fadli. Ini hari terakhir dia berdinas.


"Zay, aku ngga bisa ikut ngantar ya," katanya sambil berjalan ke arah Zayra, meninggalkan Kalil begitu saja


"Jaga Zayra baik baik, Ken. Awas kalo lecet," pamit Khanza setengah mengancam.pada Kendra yang terkekeh. Juga yang lainnya kecuali Agnes yang masih merengut kesal.


"Iya, ngga usah khawatir," balas Kendra ringan dengan tawa yang terus berderai.


"Aku antar?" canda Rakha sambil menjejjeri langkah Khanza.


"Aman sama dia," balas Khanza cuek. Rakha pun terkekeh.


"Bro, jangan sampai dia tergores pisau bedah, ya," pesan Kalil ketika Khanza sudah akan pergi bersama dokter Fadli.


Khanza hanya mencibir tanpa mau menatap Kalil.


Lagi lagi perhatian tertuju pada Kalil. Merasa aneh. Karena setau mereka, Kalil agak beda terhadap Agnes cara pendekatannya. Agnes terlihat spesial, lain dengan perempuan perempuan yang dulu di pacari Kalil.


Apa dia lupa bawa pacar? batin Kenan gemas.


Baru beberapa hari jadian udah berulah, Rakha juga membatin.


Kemarin kemarin getol banget ngejarnya, sampai nolak kumpul kumpul, batin Aqil gemas melihatnya.


Zayra jadi kasian melihat Agnes yang kini mematung menatap kesal ke arah Kalil.


"Cie cie....." sambar Aqil siap menyalakan kompor. Tapi kali ini dia lebih sigap mengelak ketika Kenan malah akan menendangnya.


"Ngga kena," cibir Aqil mengejek, tapi wajah Kenan tetap datar.


"Jangan khawatir," tukas dokter Fadli sambil melambaikan tangannya pergi.


'Maaf, saya juga pamit," kata Agnes yang sudah merasa malu luar dalam melihat kelakuan Kalil.


Ngga disangkanya, Kalil bisa mengacuhkannya seperti ini.

__ADS_1


Padahal selama seminggu kemarin dia diperlakukan seperti ratu. Tapi kini? Hanya karena dokter teman kecinya itu, Agnes merasa dibuang begitu saja.


"Kok, pulang?" tanya Kalil ngga peka.


Agnes ngga menjawab, tapi dia langsung beranjak pergi.


"Bentar, ya, gue antar Agnes dulu," pamit Kalil tetap santai sambil menyusul langkah Agnes.


"Kamu ngga mau ikut aku ngantar teman aku pulang?" tanya Kalil setelah berada di samping Agnes. Tapi saat itu matanya mencari keberadaan Khanza dengan dokter laki laki itu.


Agnes ngga menyahut malah mempercepat langkahnya. Dia sakit hati dan tersinggung dengan sikap Kalil.


Kalil ngga begitu memperhatikan sikap Agnes sampai akhirnya melihat Khanza dan dokter itu belok ke arah lorong yang membuat Kalil kehilangannya.


Ketika mendekati parkiran, di ujung lorong yang sepi, Agnes menghentikan langkahnya.


Kalil memperhatikan mata gadis itu yang basah.


"Kamu kenapa nangis?" tanyanya heran.


"Aku pikir, kamu beneran suka denganku. Tapi nyatanya enggak," sahut Agnes sambil mengusap kasar matanya yang basah.


Kalil masih bergeming menatap Agnes lekat.


Tiba tiba Agnes berjinjit, dan mengecup bibir Kalil. Dia mengalungkan tangannya di leher Kalil.


Baru kali ini Agnes merasa dia kalah dari seorang perempuan yang hanya berprofesi sebagai dokter.


Dia adalah Agnes, yang selalu diimpikan laki laki tampan dan kaya raya. Ngga seharusnya dia mendapat perlakuan begini dari Kalil. Tapi kini dia sudah jatuh sejatuh jatuhnya dengan Kalil.


"Ke apartemenku?" tanya Agnes dengan nafas mengengah karena Kalil membalas ciumannya.


"Besok besok ya, sekarang aku mau ngantar Kendra dulu," tolak Kalil sambil menjauhkan wajah Agnes yang sudah menatapnya sayu.


"Ya. Aku pulang dulu kalo gitu," kata Agnes sambil melepaskan kalungan tangannya di leher Kalil.


Kalil mengantarnya sampai ke mobilnya. Dia tadi mengemudikan mobil kekasihnya itu.


Agnes membuka pintu mobil dan menatap Kalil lagi.


Agnes tau Kalil tipe yang ngga bisa dilarang dan dikekang. Walau hatinya sakit dan ragu, dia akan tetap berusaha mempercayai Kalil.


"Aku pulang," katanya sambil masuk ke dalam mobil.


Kalil hanya menganggukkan kepalanya. Dia menatap sampai mobil Agnes menghilang dari parkiran rumah sakit.


Ketika dia berbalik dan baru berjalan dua langkah, kaki Kalil seakan dipaku. Kira kira tiga meteran di depannya ada Khanza yang sedang memeluk beberapa kantong darah di dadanya.


Tatapan Khanza terasa menusuk, tapi Kalil mencoba bersikap santai.


"Perlu bantuan?" senyum simpatiknya terkembang di bibirnya. Semyum yang selalu membuat para perempuan tergoda. Tapi ngga untuk Khanza.


"Di mulut kamu ada bekas lipstik."


Reflek Kalil menggerakkan tangannya untuk menghapus bekas lipstik itu dan melihat hasilnya.


Ngga ada!


Bego! makinya dalam hati. Tentu saja ngga ada. Kan, waterproof.


Khanza tersenyum sinis dan berbalik pergi.


DEG


Dia lihat?


Kalil tercenung. Dia ngga mengejar Khanza. Kakinya terasa berat.

__ADS_1


__ADS_2