After The Heartbreak

After The Heartbreak
Menunggu


__ADS_3

Zayra langsung masuk ke dalam lift untuk petinggi perusahaan setelah Kendra mengantarkannya ke perusahaannya dengan perasaan ngga menentu.


Sengaja Zayra menolak untuk kembali ke perusahaan Kendra, karena mengingat apa yang sudah mereka lakukan di ruangan Kendra tadi.


Zayra takut nantinya mereka sama sama ngga bisa menahan diri, padahal pernikahan mereka sebentar lagi akan dilakukan.


Begitu pintu lift terbuka, Zayra menatap kasian pada seorang OB perempuan muda yang sepertinya orang baru itu, dan nampak sedang kerepotan di dekat tangga darurat.


"Kenapa ngga lewat lift aja, mbak?" tanya Zayra sambil membantu memegang sapu dan pengepel.


Niatnya mau membantu membawakannya ke lift karyawan.


"Jangan bu, biar saya aja," katanya seolah ingin mengambil sapu di tangan Zayra.


Yang ngga Zayra sadari, posisinya berada persis membelakangi tangga darurat itu.


"Ngga apa apa, mbak," sahut Zayra ramah dengan niat tetap mau membantu membawakan kedua alat kebersihan itu. Setidaknya dua tangan OB itu bisa membawa dua ember yang penuh dengan botol botol sabun cair pengepel, lap dan sulak.


Agak heran juga Zayra, kenapa OB lain ngga membantunya.


"Terima kasih bu," ucap OB itu dan dengan sengaja menendang salah satu ember itu ke arah Zayra.


Zayra yang terkejut ngga sempat menghindar.


"Aaaahhh," jeritnya kencang begitu tubuhnya terdorong ke belakang.


BUG BUG BUG


Kepalanya terasa nyeri karena membentur anak tangga beberapa kali. Sebelum Zayra memejamkan mata, Zayra sempat melihat OB yang akan dibantunya sedang tersenyum sinis padanya.


Mendengar teriakan Zayra, para staf yang sedang berkumpul ngga jauh dari lorong lift bergegas mendekat dengan langkah langkah cepat.


"Ibu Zayra!" pekik para staf yang shock melihat putri bos besar mereka sudah tergeletak di lantai tangga darurat paling dasar. Dari balik hijabnya ada darah yang mengalir.


*


*


*


Salma menekan kapas di siku depan kanannya. Darahnya baru saja di donorkan untuk kakak laki lakinya yang sedang di operasi. Begitu juga tunangannya.

__ADS_1


Dia berjalan pelan setelah cukup lama beristirahat. Tubuhnya terasa ringan.


"Salma? Kamu ngga apa apa?" tegur Dhafi yang baru saja datang ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari kakaknya


Kedua tangannya memegang bahu Salma yang nampak terhuyung.


Salma menepis kasar kedua tangan Dhafi. Dia bermaksud melangkah pergi meninggalkan laki laki yang sudah mengkhianatinya berkali kali.


"Tadi kamu abis donor darah? Sebaiknya kita makan di kantin," ajak Dhafi lembut. Berusaha mengerti keadaan Salma yang nampak lemah.


Salma ngga menyahut. Menoleh pun engga. Dia malah meneruskan langkahnya meninggalkan Dhafi.


Dhafi menghela nafas panjang melihat kekeras kepalaan gadis itu.


Karena takut terjadi sesuatu dengan Salma, Dhafi mengikutinya dari belakang sambil terus menatap tubuh jangkung dan ramping itu dalam diam.


Salma sangat tinggi untuk ukuran perempuan. Hampir seratus delapan puluh senti dengan berat sekitar enam puluh lima kilo. Merupakan atlet voli yang selalu di panggil Timnas.


Mereka sempat berpacaran backstreet di akhir Dhafi mau lulus SMA, dan Dhafi yang lebih tua setahun dari Salma adalah kakak tingkatnya. Beberapa kali putus nyambung dan akhirnya putus beneran saat Dhafi lulus kuliah. Dengan otak encernya, Dhafi hanya tiga tahun menyelesaikan dua jurusan kuliahnya, bisnis dan teknik informatika.


Sedangkan Salma yang selalu sibuk dengan pertandingan voli, masih belum menyelesaikan kuliah komunikasinya.


Salma tau kalo kakak laki lakinya akan menghajar Dhafi sampai bonyok kalo tau Dhafi sudah berkali kali menyakiti hati adiknya. Begitu kakaknya Dhafi, Khanza, yang ngga akan segan segan memukul kepala, punggung, tangan dan kakinya jika tau Dhafi membuat Salma menangis.


Karena Khanza sempat jadi atlet karate seperti Tamara. Khanza memutuskan pensiun jadi atlet karena ingin serius menjadi dokter.


Dhafi sama seperti teman teman Kendra yang lain. Player. Karena itu Kendra dan Khanza ngga akan pernah mengijinkannya pacaran dengan Salma.


Tapi tanpa setau kedua kakaun7


k mereka dan yang lainnya, mereka berdua pacaran dan selalu putus nyambung.


Seingat Salma, sudah terjadi tiga kali tanpa perubahan yang berarti dari Dhafi. Sebucin bucinnya Salma atau sebodoh bodohnya Salma, tapi kali ini, untuk yang ketiga kalinya, kesempatan Dhafi sudah abis. Apalagi Dhafi tetap dengan kebiasaan lamanya. Masih selalu menggandeng perempuan cantik dan seksi di saat mereka bertemu.


*


*


*


"Aku minta maaf," kata Alvaro yang dengan gentle menghampiri Kiano dan para sahabatnya lorong operasi.

__ADS_1


Dia merasa malu dan sangat bersalah atas perbutan istri dan anaknya.


Istrinya sudah menyiapkan paspor dan visa untuk keberangkatan mereka ke Singapura sore ini jika saja putrinya tidak tertangkap.


Alvaro membuang nafasnya dengan kasar.


Saat ini Kiano menatapnya ngga bersahabat. Juga teman temannya. Alvaro sangat mengerti situasi yang ngga mengenakkan ini


Anak anak mereka yang bentar lagi akan menikah malah sedang berada di meja operasi.


Sekarang nasib putrinya bergantung pada keselamatan keduanya, Kendra dan Zayra.


Putrinya sudah ditahan. Sementara itu karena belum ada bukti kuat, istrinya masih bebas dari hukuman atas ketetlibatannya dalam kejahatan putri mereka.


Istrinya sedang menemani putri mereka di kantor polisi. Dokter sudah mendiagnosa kalo putrinya mengalami gejala gangguan kejiwaan yang akut.


Tapi atas dasar pertanggungjawaban karena perbuatan salah putrinya, Alvaro membiarkan putrinya tetap berada dalam penjara dengan terus diawasi psikiater untuk mengontrol kejiwaannya.


Regan bangkit. Kedua tangannya mengepal kuat. Ingin rasanya menonjok Alvaro dengan keras.


Regan yakin jatuhnya Salma ada sangkut pautnya dengan putri Alvaro. Yang dia sesali, OB yang menyebabkan Zayra terjatuh sudah melarikan diri karena semuan terfokus untuk menyelamatkan Zayra.


Tapi Regan sudah mengutus anak buahnya untuk mencari OB yang wajahnya sudah terekam di cctv.


Arga menahan bahu Regan sambil menggelengkan kepalanya.


Regan mengalah, saat ini mereka tidak boleh membuat keributan yang dapat membahayakan putrinya dan Kendra.


Alvaro tau kalo kehadirannya sangat tidak diharapkan. Tapi dia ingin menunggu. Bersama orang orang yang sudah disakiti hatinya oleh anaknya.


Kiano menduga kalo Alvaro ngga tau apa apa akan perbuatan putrinya. Tapi tetap saja hal itu ngga bisa membuat hatinya menerima maaf Alvaro begitu saja.


Kiano hanya menganggguk ngga acuh. Saat ini konsentrasinya hanya pada Kendra dan Zayra. Bahkan sebelum Salma, Kiano jiga sudah mendonorkan darahnya untuk Kendra.


Alvaro bersyukur karena Kiano mau pun Regan bisa menahan diri hingga saat ini. Dia pun duduk agak menjauh.


Dalam hatinya ikut berdo'a agar pasangan yang akan menikah itu akan baik baik saja.


Hukuman putrinya tergantung pada nasib keduanya.


Sebelum menemui putrinya di penjara, dia pun sudah memarahi istrinya yang malah memberikan putri mereka jalan kemudahan untuk melakukan tindak kriminal ini.

__ADS_1


__ADS_2