After The Heartbreak

After The Heartbreak
Memaksa Khanza


__ADS_3

Walaupun Khanza mengatakan ngga ingin menemui Kalil di bandara, tapi tetap aja dia merasa resah


Tadi Rakha sudah mengirim foto gimana bentuk wajah Aqil yang penuh bilur dan luka karena berantem dengan Kalil.


Apa wajah Kalil juga begitu? batinnya sedikit khawatir. Kalo menurut Rakha kurang lebih sama aja.


Khanza menghembuskan nafas panjang.


Dia menatap jam di ponselnya. Tersisa satu jam lagi. Sudah ngga mungkin ke bandara.


Biar aja. Biar aja begini, kesalnya dalam hati.


Dikiranya aku akan menunggu sampai dia tobat? batin Khanza geram.


Khanza membuka buka ponselnya dan melihat sosial media Kalil


Lho? Sudah dihapus?


Khanza mencoba menscrol, tapi kini ngga ada satu pun foto Kalil dengan cewe cewenya yang terlihat.


Hanya yang tersisa adalah foto foto kebersamaan mereka saja.


Khanza melewatkannya. Ada satu foto terbaru yang Kalil expose. Foto dirinya yang mengenakan jas dokternya. Seperti foto candid karena Khanza sendiri ngga tau kapan Kalil menganbil foto itu.


Bibirnya langsung mengembangkan senyum ketika membaca captionnya.


Maaf


Dada Khanza berdesir. Kalil selalu saja bisa mengobrak abrik pertahanan hatinya.


Kemarin malam laki laki itu sudah datang untuk minta maaf padanya.


Siang ini malah berkelahi dengan Aqil.


Apa dia sebaiknya mengalah saja dan memaafkan ucapan menyakitkannya kemaren?


Khanza menatap jam di ponselmya. Dia menghela nafas. Sudah ngga mungkin menemui Kalil.


Saat ini dia sedang ngga ada jadwal apa pun. Apa ini kebetulan saja. Tapi Khanza merasa kalo tante Aruna yang sudah mengaturnya.


CEKLEK!


"Aqil?" kaget Khanza saat melihat wajah yang muncul di balik pintu yang terbuka.


Agak kasian tapi lucu juga melihat wajah Aqil yang cukup bengkak dengan bilur bilur begitu.


Tanpa.menjawab, Aqil meraih tas selempamg Khanza dan menariknya keluar dari ruangannya.


"Masih sempat," gumamnya sambil menatap jam tangannya.


"Mau kemana, sih. Aku belum boleh pulang," omel Khanza, tapi kakinya tetap mengikuti langkah Aqil.


"Sesekali ngga apa kali, Khaza, kamu bolos," balas Aqil cuek


"Emang kita anak SMA? Kita udah kerja," kesel Khanza lagi.


"Iya, Khanza," kekeh Aqil sambil terus membawa Khanza pergi.


"Kita mau kemana?" Khanza kembali mengulang pertanyaannya saat mereka sudah sampai di parkiran motor.


"Bawa kamu ke Kalil,' jelas Aqil sambil memberikan helm pada Khanza.


Khanza terdiam, kemudian menolak helm dari Aqil.

__ADS_1


"Kenapa lagi, Khanza? Kita harus cepat cepat, nih," seru Aqil ngga sabar.


"Nggak," tolak Khanza tegas. Tetap rasa enggan memenuhi rongga dadanya.


Aqil menghela nafas panjang.


"Kamu lihat, kan, muka aku bemgkak gini. Kalil juga sama, Khanza."


"Trus kenapa? Emang salah gue?" tanya Khanza cuek sambil melafalkan dialog yang dulu cukup terkenal.


"Jadi salah teman teman gue?" kekeh Aqil melanjutkan.


Khanza mendengus kesal.


"Aku ngga tau kamu sama Kalil ada masalah apa. Tapi yang jelas Kalil lagi kacau berat pikirannya. Cuma kamu yang bisa nenangi dia, Khanza."


"Kenapa aku, sih. Dia pasti bakal baik baik aja."


Aqil mencoba sabar padahal dia sudah geregetan karena tiap detik itu berharga. Belum lagi macet di jalan.


"Dia ngga mungkin baik baik aja, Khanza. Tapi mungkin beda kalo udah ketemu kamu," bujuk Aqil.


Khanza masih diam.


"Ya....? Ikut ya....," bujuk Kalil lagi.


Khanza menatap jauh ke atas langit.


"Oke."


"Gitu, dong," seru Aqil senang. Dia pun memakaikan helm di kepala Khanza. Kemudian menstarter motornya.


'Naik," perintah Aqil sambil memiringkan motornya.


"Let's go, baby." Motor Aqil pun melaju kencang, meliuk liu .di tengah kemancetan ibu kota.


*


*


*


Kalil menatap jam di tangannya dengan resah. Mami dan daddynya saking khawatir ikut mengantar sampai ke Inggris.


Glen, Arga, Kiano, dan Reno sudah ada di sana. Begitu juga Kendra dan Rakha.


"Zayra ngga ikut?" tanya Rakha heran karena ngga melihat istri Kendra.


"Katanya pusing. Tadi gue antar pulang ke rumah umi Dinda minta tolong ditemani."


Rakha mengerutkan alisnya.


"Aruna hamil?"


Kendra terdiam, mikir sebentar.


"Belum cek, sih."


"Di cek bro, siapa tau gue mau dapat ponakan," kekeh Rakha.


Kendra pun tersenyum lebar. Harapannya pun begitu. Dia sudah ngga sabar menunggu calon benih unggulnya berhasil diproses di rahim Zayra.


Agar usahanya setiap hari ngga sia sia membuat Zayra kelelahan.

__ADS_1


Ingat permintaannya pada abi Regan agar Zayra menemaninya di perusahaannya dulu yang langsung saja disetujui.


Kendra pun ngga pernah membuang kesempatan untuk menjalani tugasnya sebagai suami yang sangat bertanggungjawab.


Zayra selalu saja dibuatnya kelelahan dan berbaring saja di ruangan khususnya.


Harusnya, sih, berhasil. Semoga umi Dinda memberikan kabar baik untuknya.


Zayra sangat istimewa untuknya. Berhijab sejak kecil hingga sekarang. Dan hanya dia saja yang bisa menikmati keindahannya. Kendra sangat bersyukur untuk itu.


"Mana, ya, Aqil? Apa dia gagal membawa Khanza?" tanya Rakha membuyarkan lamunan Kendra.


Kendra pun melirik jam.di tangannya, kemudian beralih menatap Kalil yang gelisah.


"Ngga mungkin, kan, Khanza tega ngga ke sini setelah melihat betapa parahnya wajah Aqil," kekeh Rakha.


Kendra pun terkekeh.


"Lo udah lihat sosmednya Kalil?" tanya Kendra mengalihkan topik dengan mengulas senyum miring.


"Sudah. Dia memang alay," cela Rakha yang masih saja tertawa.


"Baru kali ini Kalil lost control," kekeh Kendra ngga abis pikir. Dan korbannya Aqil malah merasa jadi pahlawan karena sudah berhasil membuat Kalil oleng. Dengan luka lukanya tentu saja.


"Bentar lagi, nih, masuk ke ruang boarding," cemas Rakha.


"Tenang, percaya sama Aqil."


"Harus percayalah," sergah Rakha walau ngga pasti.


Di bagian para orang tua juga sama ngga tenangnya dengan Rakha.


"Kalo dari lokasi yang dikirim Aqil, kelihatannya sudah mau nyampe, nih," kata Arga memberitau.


"Aqil bilang udah bawa Khanza?' tanya Glen ingin tau. Khanza ngga bisa dihubungi membuat Glen gelisah juga.


Dia tau banget kalo putrinya itu marah bisa berhari hari lamanya.


"Aqil hanya *shar*e lokasinya saja," jelas Arga.


"Gue yakin, pasti Aqil sudah bersama Khanza," kata Kiano tenang.


Alva manggut manggut.


Semoga, batinnya. Biasanya kalo sudah berbaikan dengan Khanza, Kalil akan normal lagi menjalani hidupnya.


"Regan mana? Aruna juga ngga kelihatan," tanya Reno mengalihkan topik.


'Regan sama Dinda lagi bawa Zayra ke rumah sakit Aruna. Kata Kendra, beberapa hari ini Zayra sering pusing.'


'Wah wah... bentar lagi kita dapar cucu pertama, nih," kekeh Glen menimbrung.


"Semoga," kekeh Kiano juga berharap. Harusnya berhasil, karena kata Regan, sejak mereka mulai bekerja sehabis bulan madu, Kendra meminta ijin dirinya agar Zayra menemaninya di perusahaan.


Pasti Kendra sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik.


Tamara yang sempat mendengar bisik bisik para lelaki itu tersenyum dan juga memiliki harapan yang sama dengan mereka.


Kemudian dia menatap punggung putranya yang membelakanginya, karena fokusnya ke arah pintu masuk bandara.


Kalil, segitunya kamu ngarapin Khanza datang. Hati kamu sebenarnya sudah buat Khanza atau masih diberikan juga pada yang lain, sih? batin Tamara lelah.


Entah kapan dia bisa melihat putra kembarnya menikah.

__ADS_1


__ADS_2