
Sepanjang jalan menuju ke perusahaannya, Kendra melihat beberapa baliho dengan foto saat dia bersama Atifa. Foto itu diambil waktu Kendra bermain piano waktu SMA.
Rasanya emosi sekali melihatnya.
Tapi Kendra terus melajukan mobilnya dan parkir di perusahaannya.
Sebelum masuk ke perusahaannya, Kendra menyempatkan dirimya menelpon Om Aries.
"Ada apa, Kendra?" Terdengar suara Aris menyahut santai.
"Om, aku mau minta tolong," kata kendra sambil melirik jam tangannya.
"Ya, ngomong aja."
"Om, baliho sepanjang jalan ke perusahaan papi bisa diturunkan, ngga, ya?"
Terdengar suara tawa berderai.
"Oke, nanti Kevin yang akan kerjain. Dia sama teman temannya lagi nurunin baliho foto kamu sama cewe itu juga di sepanjang jalan ke arah perusahaan kakek kamu," jelas Om Aris.
Kendra sempat terdiam. Ngga nyangka masih ada baliho di jalan yang lain. Niat banget Atifa rupanya mengekspose kedekatan semu mereka. Rasa geram memenuhi hatinya.
Kendra hanya bingung, selama ini dia ngga pernah memberi harapan pada Atifa atau perempuan lainnya. Dia hanya berbuat baik saja. Tapi mereka menyalah artikannya.
Kevin anak pertama Om Aris yang umurnya sebaya dengan Salma.
Jadi Kevin sudah bergerak dengan teman teman kuliahnya atas perintah Om Aris?
Jadi Om Aris sudah tau apa yang akan terjadi?
"Tenanglah, Ken. Kamu fokus kerja dan hari pernikahan kamu saja," ucap Om Aris tulus.
"Makasih, Om," balas Kendra terharu.
Sambungan telpon pun diputus Om Aris.
Kendra pun melangkah memasuki perusahaannya. Dia tau saat ini para karyawan bersikap aneh. Walau sikap mereka tanpak tetap masih menghormatinya, namun tatapan mereka agak aneh.
Kendra tau, rumor hubungannya dengan Atifa sudah tersebar. Rasanya benar benar ngga nyaman.
Bahkan Kendra kini terdiam ketika melihat Atifa ada di perusahaan papanya. Rupanya dia ikut bersama papinya dalam meeting kali ini. Tapi Kendra tetap bersikap biasa saja menahan perasaan ngga sukanya.
Om Alvaro sepertinya sudah melupakan kejadian semalam. Bahkan dia bersilap biasa saja ketika bertemu Kendra. Bersikap layaknya profesional karena pekerjaan mereka.
Aqil dan si kembar bersama Rakha juga tampak tenang.
Mereka tetap bersama selama meeting berlangsung.
Sudah diputuskan lingkup pekerjaan besar ini. Mereka akan membuat lima tanki baru juga perawatan terhadap tujuh tangki yang lama.
__ADS_1
Pekerjaan ini ngga akan memakan waktu lama, karena banyak perusahaan besar yabgbterlibat dalam kerja sama ini.
Kendra cs akan melakukan survey tempat yang akan menjadin lokasi proyek.
Yang menjadi ganjalan Kendra, karena Atifa juga akan ikut. Apalagi pesan dari Om Alvaro agar menjaga Atifa baik baik.
Tapi Aqil yang langsung menyahut.
"Siap Om."
Sedangkan Om Alvaro, dan papi mereka akan melanjutkan meeting untuk anggaran biaya, mainpower dan skejul kerja.
"Hati hati, ya, di lokasi proyek," pesan Om Arga.
"Siap papi," sahut Aqil pada papinya.
Mereka pun berangkat dengan dua mobil.
Saat Atifa akan memasuki mobilnya, Aqil langsung menarik tangannya agar ikut mobilnya.
"Gue udah diamanatkan buat jagain lo," kata Aqil tanpa memperdulikan protes Atifa.
Dia pun membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Atifa. Kalil juga ikut masuk dan duduk di samping Aqil.
Atifa hanya diam. Dia tau seakrab apa mereka. Pasti akan selalu melindungi hubungan Kendra dan Zayra.
Padahal dia berharap akan bisa satu mobil dengan Kendra. Karena ada kejutan yang akan ada di sana. Mamanya sudah mengkoordinir netizen dan pencari berita bayaran untuk membantunya memuluskan jalan bersama Kendra.
Dan benar saja, ketika sampai di lokasi, mobil mereka tertahan ngga bisa masuk. Cukup banyak sekali orang orang yang berdiri menghalangi pintu masuk.
Bahkan para sekuriti seakan kewalahan menghadapinya.
"Menurutmu apa ini sudah direncanakan?" tanya Kenan curiga.
"Lihat spanduk yang mereka pasang. Foto lo dan Atifa yang sudah diedit," tambah Rakha lagi.
Kendra ngga menjawab. Mengingat soal baliho dia pun sangat yakin kalo semua ini sudah disetting.
"Kevin dan teman temannya sedang menurunkan baliho yang ada foto gue sama Atifa. Padahal itu foto SMA," cerita Kendra gusar.
"Tadi gue juga sempat lihat ada baliho foto lo berdua," kata Rakha.
"Om Aris agak keteteran karena balihonya ada dimana mana," sambung Kenan.
"Bahaya juga buat gue sama Zayra kalo kemana mana," kata Kendra gusar.
"Ya, gue pikir begitu," lanjut Rakha juga mulai kesal.
Apalagi mereka bertiga melihat bahkan beberapa orang itu mengarahkan kamera di kaca depan mobil.
__ADS_1
"Aqil pintar juga langsung bawa Atifa di mobil dia," kekeh Kalil sambil menggelengkan kepalanya.
Jika saja Atifa ikut dengan mobilnya, pasti mereka akan dapat foto foto yang seru buat dipublish
Ngga lama kemudian mobil mereka pun bisa masuk karena ada beberapa sekuriti tambahan yang didatangkan sehingga bisa mengusir orang orang itu.
Setelah sampai di lokasi, mereka mulai menyisirnya. Mereka pun mulai memeriksa material yang datang. Terik matahari yang menyapa ngga dirasakannya. Kendra ingin sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaannya.
Tiba tiba Atifa mengulurkan sebotol minuman padanya.
"Minum, Ken," ucapnya lembut
"Tidak, terimakasih," tolaknya tanpa menoleh. Tatapannya masih tertuju pada tabletnya.
Tapi yang ngga disangka sangkanya Atifa langsung mengelap keringat di wajahnya.
Kendra langsung menjauhkan wajahnya dengan memundurkan tubuhnya sampai hampir menabrak Rakha yang berada di dekatnya.
"Kening kamu berkeringat. Maaf, aku reflek," katanya dengan tatapan sendu.
Kendra ngga menjawab, tapi dia langsung pergi. Moodnya langsung berubah. Rasanya sangat jengkel. Karena kalo selalu diganggu begini, kerjaannya bisa ngga beres dan selesai dengan lambat.
Kendra tau ada beberapa orang yang mengawasi Atifa, karena ngga mungkin Om Alvaro akan melepasnya begitu saja. Dan yang Kendra takutkan mereka sempat mengambil fotonya tadi.
Rakha dan Kenan menatap kasian pada Kendra yang terlihat ngga bisa konsentrasi. Berusaha menjauh dri Atifa setiap saat yang dia bisa.
Susahnya Rakha dan Kenan mendekat untuk membantu, karena mereka pun memiliki tugas yang harus.segera diselesaikan.
Ketika Kendra merasa sudah cukup jauh dari Atifa, dia kembali sibuk mencocokkan material ke dalam cheklist tabletnya.
"Kendra, ya?" sapa lelaki yang sebaya papinya dan juga masih terlihat gagah. Kendra tau, laki laki ini yang menjadi direktur utama perusahaan minyak dan gas yang telah mereka menangkan tendernya.
"Iya, pak," sahut Kendra sambil menyambut uluran tangan itu.
"Kalian pasangan yang manis ya," pujinya sambil melihat Atifa yang berada ngga jauh darinya, juga serius mencheklis tabletnya.
Kendra tersenyum masam.
"Memang cinta pertama susah dilupakan," kata beliau agak sok tau di telinga Kendra.
"Bapak.salah paham. Itu hanya gosip. Cinta pertama saya, tunangan saya," jawab Kendra tegas
Pak Husni- sang direktur utana terpegun mendengarnya.
Tadi dia melihat dengan jelas ketika Atifa mengelap kening Kendra dengan sapu tangannya. Terlihat lembut dan mesra.
Hati Atifa merasa sakit ketika mendengar kata kata penyangkalan Kendra pada Omnya.
Aku ngga akan biarkan kalian bersama dengan mudah, batin Atifa marah
__ADS_1