After The Heartbreak

After The Heartbreak
Dua laki laki jomblo dengan tingkahnya


__ADS_3

Aqil yang sedang bosan sekarang berada di club sendirian. Sudah hampir.dua bulan, dia dan teman temannya ngga menginjakkan kakinya ke club ini.


Terlalu fokus pada kuliah sibuk mengurusi percintaan Kalil dan Khanza. Dia sendiri masih jomblo walau banyak yang ngantri untuk mendapat kesempatan agar bisa dilirik olehnya.


Dia terpaksa datang sendirian. Rakha katanya ada keperluan penting. Tapi ngga menjelaskannya, seakan ada rahasia yang dia simpan.


Aqil cuma berpikir kalo Rakha sedang mengejar perempuan itu lagi, yang sayangnya Aqil belum pernah melihatnya.


Sedangkan Kalil sibuk dengan Khanza dan orang tua mereka yang tengah merencanakan pernikahan mereka yang ngga akan lama lagi. Kendra pun sibuk dengan kehamilan Zayra. Kenan masih belum pulang. Hanya dia yang ngga punya kesibukan apa apa.


"Sendirian, bos?" tanya Roki sang bartender sambil membuat komposisi mimuman beralkohol yang benar untuk Aqil.


"Yang lain pada sibuk," ujar Aqil sambil menerimanya dan langsung meneguknya tuntas. Alkohol yang terkandung di dalamnya masih dalam persentasi kecil. Kemudian dia memberi isyarat agar Roki membuatkannya lagi.


Roki si bartemder tertawa mendengarnya. Dia pun membuatkan Aqil lagi minuman yang sama.


Mendadak pupil matanya membesar melihat seorang gadis yang hanya menggunakan bra dan cdnya yang sedang meliuk liuk kan tubuhnya di atas meja. Dan penontonnya sekitar sepuluh laki laki keren yang duduk di kursi sambil bersorak sorak. Mengagumi atau lebih tepatnya melecehkan gadis itu.


"Itu bachelor party. Pesta bujang," jelas Roki yang tau kemana arah mata Aqil bergerak.


"Ooo. Apa bisa ditidurin?" tanya Aqil penasaran karena gadis itu menggunakan topeng pada matanya.


Tapi melihat keseksiannya, Aqil jamin pasti wajahnya sangat cantik.


"Ngga bisa bos. Tapi gadis itu top banget minggu minggu ini," kata Roki lagi, kemudian memberikan minuman yang sudah diracik lagi untuk Aqil.


"Bentar lagi dia akan membuka branya. Widih, gunung kembarnya bagus banget," puji Roki yang juga mengarahkan matanya pada penari seksi itu.


"Sayang banget ngga bisa ditiduri," kata Aqil ngga minat.


"Apa dia ngga takut diperk*o*sa karena sudah hampir bugil gitu," decih Aqil lagi.


"Biasanya ada pengawalnya, bos."


"Oooh."


Aqil kembali menajamkan pandangannya pada sosok yang sudah toples itu tapi tetap saja bergerak sensual tanpa henti di atas meja.


Kadang dia tiduran, guling guling di atas meja, trus angkat satu kaki, bahkan dua kaki.


Entah apa maksudnya mau melakukan atraksi seperti itu jika ngga mau ditiduri.


Aqil yakin, calon pengantin dan teman temannya yang menonton pasti sudah pada naek. Dia pun merasakannya sendiri.

__ADS_1


Ini agak aneh, biasanya penari sewaan itu setelah melakukan tugas utamanya, pasti akan melanjutkan dengan serpihan tugas lain. Ditiduri oleh penyewanya.


Tapi gadis bertopeng itu malah menolak dan lebih suka memamerkan tubuhnya saja. Aneh.


Apa dia butuh pengakuan? Sarkas Aqil dalam hati.


Sekilas mumcul rencana gilanya untuk membuat bachelor party untuk Kalil dengan mengundang gadis itu.


Tapi kemudian dia mengumpat lagi, membenci isi otaknya yang suka membuat huru hara.


Kalo Khanza tau rencananya, pasti hidupnya akan segera diakhiri Khanza dengan sepenuh jiwanya. Dan pernikahanya dengan Kalil bisa bubar. Kalil pun pasti ngga akan segan segan memukulnya lagi. Mungkin lebih babak belur dari yang kemarin dia dapatkan.


"Gue pulang," pamitnya setelah menghabiskan tiga gelas kecil minum racikan sang bartender Roki.


"Oh, eh. Oke, bos, " sahut Roki tergagap. Karena pandangannya benar benar terfokus pada dada yang sudah ngga berpenutup itu. Bergoyang ke sana ke mari mengikuti gerak tubuhnya.


Aqil tertawa membuat Roki jadi salah tingkah cenderung malu.


Akhirnya Aqil pun memilih pergi.


Sebelum pergi, mata Aqil sempat bersitatap dengan mata yang berhiaskan topeng itu.


*


*


*


Rakha merasa heran dengan dirinya. Seharian ini dia jadi stalker gadis sombong yang bernama Fika.


Rakha jadi tau rumahnya yang hanya tipe dua satu. Sangat kecil. Dari luar saja Rakha bisa membandingkan kalo kamar mandinya lebih luas dari rumah kecil di depannya ini.


Setelah gadis itu pergi, Rakha pun memasuki klinik tersebut dan bertanya pada pegawai tentang apa yang dilakukan Fika.


"Neneknya sakit parah, mas," ucap salah satu pegawai bagian depan, tempat pendaftaran.


Mata para pegawai perempuan itu sama menatap penuh kagum dan damba pada ketampanan Rakha.


"Sakit apa?" tanya Rakha lagi tanpa mempedulikan kalo dia sudah menjadi santapan mahal para pegawai itu.


"Sebentar," kata pegawai itu sambil membuka berkas yang ada depanmya. Sepertinya gadis itu tadi sempat berurusan dengan para petugas di bagian pendaftaran yang sedang di datangi Rakha.


"Sebenarnya ngga boleh mas. Tolong dirahasiakan ya mas," pinta sang perawat juga sambil melirik teman temannya.

__ADS_1


"Oke," sahut Rakha udah ngga sabar.


"Nenek mba Fika terkena komplikasi asam lambung akut dan pembengkakan jantung. Harusnya dibawa ke rumah sakit besar yang sudah di rekomendasikan. Tapi mba Fika belum membayar sama sekali biaya perawatan neneknya selama satu minggu, mas."


Rakha tertegun sesaat. Teringat gadis itu yang beberapa kali bertanya tentang beasiswanya yang belum juga turun. Ternyata uang bea siswa itu akan digunakan untuk biaya perawatan neneknya


"Oke. Saya yang bayar. Dan bawakan pasien ke rumah sakit ini," tukas Rakha sambil mengeluarkan dompetnya dan menunjuk salah satu rumah sakit diantar tiga pilihan yang ada.


Tentu saja dia memilih rumah sakit tempat Khanza bekerja karena ada Mama Kendra. Mama Kendra-dokter Aruna adalah dokter spesialis jantung yang sudah sangat terkenal.


"Tapi harus dengan persetujuan nona Fika, mas," ucap perawat itu bingung.


"Saya calon suaminya. Bilang saja begitu kalo dia nanya. Bukankah nyawa pasien lebih penting?" tukas Rakha cepat.


Kalo klinik sudah mengajukan rekomendasi lanjutan untuk perawatan yang lebih intensif, artinya kondisi neneknya sudah cukup gawat


Karena melihat para perawat itu mulai ragu, Rakha langsung meminta dipanggilkan kepala klinik.


Tentu saja mereka pucat. Bisa dapat peringatan keras karena sudah membuka data pasien tanpa seijin keluarganya.


Tapi karena Rakha menjamin kalo mereka akan tetap baik baik saja, Rakha pun diantar ke ruang kepala klinik.


Tentu saja para perawat itu sempat mendapat teguran, tapi Rakha menjamin dia adalah calon suami Fika dan mengatakan kalo dirinya dan Fika sedang ada masalah.


"Masnya ngga bohong, kan? Klinik saya bisa mendapat masalah kalo mba Fika protes," kata kepala klinik yang umurnya sekitar tiga puluhan itu. Seorang wanita dewasa.


Rakha mengeluarkan kartu namanya.


"Kalo terjadi apa apa.dengan klinik ini, saya akan ganti rugi. Jangan khawatir," jawab Rakha tenang.


"Ini menyangkut nyawa pasien, bu. Kalo ada apa apa, saya juga bisa menuntut klinik ini karena mengabaikan nyawa pasiennya," ancam Rakha tenang.


Kepala klinik itu terdiam.


"Saya akan menelpon mba Fika untuk menanyakan persetujuannya," katanya akhirnya. Memilih penyelesaian teraman.


"Telpon setelah pemindahan pasien. Lupakan prosedur. Keselamatan pasien lebih utama," tegas Rakha membuat kepala rumah sakit itu ngga bisa berkutik lagi dan akhirnya menyetujuinya.


Gotcha.


Gadis itu sudah masuk ke dalam perangkapnya.


Saatnya membalas kesombongannya karena telah menolak seorang Rakha Setya Wijaya. Si tampan yang ngga pernah mendapat penolakan oleh perempuan mana pun.

__ADS_1


__ADS_2