
Kalil mengutuki diirnya abis abisan. Mengapa dia bisa mengucapkan kalimat kalimat bodoh selantang itu. Tentu Khanza sangat tersinggung dan merasa sakit hati.
Kalil benci dengan lemahnya pengendalian diirinya. Harusnya dia lebih tenang dan sabar menghadapi Khanza.
Tapi rasanya susah menahan kemarahannya begitu tau ada laki laki yang serius mendekati Khanza.
Semua gara gara Aqil! Geramnya membatin.
Gimana dia bisa tahan jika dalam sehari, sebanyak tiga kali Aqil mengirimkan foto kebersamaan mereka bersama laki laki itu. Walau beberapa foto memiliki momen yang sama, tapi sudut pengambilannya berbeda beda.
Memang Khanza ngga pergi berdua saja, tapi caption yang mengiringi foto foto itu membuat hatinya panas dan mendidih.
Keren, kan. Namanya Boby.
Anak konglo kayak kita juga.
Boby - Khanza kayaknya adem banget.
Gila wooii, Khanza terkesan dengan long shoot Boby. Masuk! Yes!
Khanza jadi banyak senyumnya sejak dikenalin sama Boby.
Mereka kelihatan cocok. Menurut lo gimana, Lil?
Apa? Surprise banget Khanza mau lanjutin kuliah spesialisnya di sini. Bareng kita dan Boby.
Ntar lagi pasti jadian, nih. Lo setuju, kan, Lil?
Itu bariu sebagian, masih banyak lagi caption yang membuat otaknya mendidih.
Gimana Kalil ngga memutuskan untuk pulang hanya demi memastikan hati Khanza.
Tapi yang dia dapatkan hanya tamparan. Bahkan dua kali, lebih bamyak dari Agnes yang hanya sekali.
Malah kini hubungannya sangat memburuk. Situasi ini lebih buruk dari pada saat Zayra pergi ke Turki.
Saat itu Kalil ngga mengucapkan kata kata penuh penghinaan pada Khanza. Tapi tadi Kalil sudah benar benar melakukannya dan menyakiti hati Khanza.
Mobil Khanza sudah ngga terlihat. Kalo tau akan jadi begini dia akan mengendarai motornya. Pasti lebih mudah menyusul Khanza.
Kalil bingung apa maunya sebenarnya. Kenapa dia jadi marah ketika Aqil mengomporinya. Padahal selama ini dia fine fine saja. Tapi Aqil memang minta ditonjok. Hubungannya dengan Khanza rusak karena pesan pesan ngga mutu itu.
Kalil terus mengumpat dalam hati.
Sampai juga Kalil di rumah Khanza. Lega melihat mobilnya sudah terparkir di sana. Dengan ragu Kalil memarkirkan mobilnya. Dulu dia dan Rakha pernah lama ngga mau ditemui Khanza. Apa.sekarang juga akan begitu?
"Kalil?" sapa Glen-papa Khanza padanya dengan suara agak terkejut melihat kehadirannya.
Bukannya lagi di Inggris? batinnya mulai mengerti kenapa putri sulungnya tampak marah dan ngga ingin diganggu siapa siapa. Dia pun tersenyum miring.
Dari dulu kelakuan mereka berdua sudah seperti pasangan kekasih saja. Kalo yang satu ngambek, yang laimnya bakal datang membujuk. Dan biasanya Khanza yang bakal susah untuk dibujuk. Dan dulu Kali akan databg berkali kali untuk melumerkan kemarahan Khanza.
Apa mereka ngga sadar? batin Glen ngga habis pikir.
Kalil pun menghampiri Glen dan langsung menyalim tangan beliau.
__ADS_1
"Daddymu ngga bilang kalo kamu pulang," katanya sambil meramgkul pundak Kalil, mengajaknya duduk di halaman depan.
"Pulang dadakan, Om. Cuma sebentar aja. Besok Kalil udah terbang lagi ke Inggris," kekehnya agak kering.
"Ngga capek?" Glen menggelengkan kepalanya.
"Pusing aja Om," nyengir Kalil membuat Glen terkekeh.
"Ada apa kamu ke sini?"
"Mau nemui Khanza, Om."
Glen menghela nafas.
"Kalian bertengkar lagi?"
"Iya, Om. Kalil mau minta maaf sama Khanza," jujur Kalil mengaku.
"Sayangnya Khanza ngga mau ditemui siapa siapa. Moodnya lagi jelek banget," kata Glen sambil menepuk lembut pundak Kalil.
Tuh, kan. Kalil sudah menebak.
"Besok Kalil pulang ke inggris, om," keluhnya agak frustasi. Belum lega hatinya kalo Khanza ngga memaafkannya. Rasanya baru kali ini dia sekasar itu dengan Khanza.
"Nanti Om akan sampaikan. Semoga besok dia mau nemuin kamu di bandara," kata Glen mencoba memberikan alternatif.
Kalil mengangguk mengerti. Dia paham gimana kerasnya watak Khanza Tapi Kalil ngga yakin Khanza akan nemuin dia di bandara.
"Gimana hubungan kamu dengan si bule?" pancing Glen terkekeh.
"Hanya teman, om," kekehnya ringan.
"Siapa tau mau dinikahin,""tawa Glen ngakak.
"Nggak lah, Om. Just fun aja," tawanya santai.
Dalam hati Glen bisa melihat kebrengsekan dirinya, Alva dan Reno tergambar jelas dalam diri Kalil.
Selagi belum serius, mereka akan terus bermain.
"Kuliah yang benar. Bantu dady kamu di perusahaan," nasehat Glen. Tapi dalam hati dia tertawa. Kadang Glen merasa ngga pantas menasehati anak anaknya dan anak anak.sahabatnya, mengingat kelakuannya dulu yang sama saja dengan mereka.
"Iya, Om," jawab Kalil patuh.
Glen menepuk nepuk lagi bahu Kalil. Dia dapat merasakan keresahan Kalil.
"Aku pulang dulu, Om. Tolong sampaikan sama Khanza, Om, aku beneran nyesal," pamit Kalil sambil bangkit dari duduknya.
"Ya, nanti Om sampaikan," janji Glen
"Kalil terbang jam lima sorean, Om," kata Kalil lagi sebelum benar benar beranjak pergi. Hatinya masih terasa berat.
"Pasti Om sampaikan," sahut Glen lagi.
Melihat sikap resah Kalil, Glen merasa pasti masalah diantara Kalil dan putrinya cukup ruwet.
__ADS_1
Untuk bertanya Glen segan. Dia kurang suka ikut campur masalah putra putrinya.
Sebelum memasuki mobilnya, Kalil menatap jendela kamar Khanza yang sudah gelap.
Dia sudah tidur?
Setelah menghela nafas panjang, Kalil pun melajukan mobilnya diiringi tatap lekat Glen.
*
*
*
"Tadi malam Kalil datang. Tapi kami bilang ngga mau nemuin siapa siapa," ucap Glen lembut saat mereka sekeluarga sedang sarapan.
"Anak itu pulang?" tanya Armita heran.
"Iya. Kemarin."
Dhafi dan Shakila menatap raut datar dan kaku kakaknya.
Sudah bisa mereka tebak, pasti abis bertengkar.
Kak Khanza marah karena pacar baru Kak Kalil? Shakila menebak dalam hati. Soalnya foto foto Kak Kalil dan Kak Kenan cukup hot.
Dhafi ngga berkata apa apa. Tapi dia berharap kakaknya ngga pacaran dengan Kak Kalil. Karena sesama player, dia ngga mau kakaknya dipermainkan.
"Kalian marahan lagi?" tanya Armita sambil tersenyum. Sudah kebiasaaan dari dulu.
Khanza ngga menyahut. Dia meneguk susu vanilanya.
"Khanza berangkat dulu, Mam," katanya sambil bangkit dari duduknya.
"Kalil jam lima sore balik lagi ke Inggris," kata Glen memberikan informasi.
Huuh, dengus Khanza kesal. Pasti udah ngga tahan ketemu bulenya, batin Khanza ngga mau peduli.
Sementara Dhafi menatap daddynya lekat.
Serius nih pp Jakarta Inggris hanya sehari?
"Nanti kamu mau temuin dia?" tanya Glen membuat langkah Khanza terhenti.
Ngapain.
"Nggak, dad," jawabnya tegas, kemudian menyalim tangan daddynya setelah tadi tangan maminya.
"Dia mau minta maaf sama kamu tadi malam, Khanza," bujuk Glen.
Dhafi dan Shakila hanya diam mendengarkan. Tapi keduanya merasa masalah kali ini cukup serius. Apalagi wajah kakaknya nampak ngga peduli.
"Jadi Kak Kalil mau berangkat ke Inggris lagi? Apa ngga masih jetflag?" tanya Shakila juga berusaha mengademkan hati kakaknya.
"Aku pergi dulu," pamitnya tanpa mau menjawab pertanyaan adiknya.
__ADS_1
Sempat terganggu dan khawatir juga sebenarnya Khanza, tapi kata kata Kalil tadi malam padanya sudah ngga termaafkan.