
Khanza sampai juga di perusahaan Kalil. Gadis muda resepsionis menyapanya ramah, karena sudah beberapa kali ketemu Khanza.
Tanpa mengatakan apa apa dan hanya membalas sapaan itu dengan singkat, Khanza bergegas ke arah lift khusus petinggi perusahaan.
Khanza memang terburu buru. Dia ngga ingin terlambat mengikuti acara Zayra.
Beberapa pegawai baik perenpuan maupun laki laki yang belum pernah melihatnya, memperhatikan Khanza dengan heran.
"Itu siapa? Kok, berani beraninya naek lift bos," tanya salah satu rekan perempuannya. Beberapa temannya juga ikut mendekat.
"Sahabat bos," jelas gadis resepsionis itu singkat.
"Sahabatnya?" kaget mereka saling pandang.
"Iya. Sahabat bos Kenan juga," lanjutnya lagi.
Mereka makin terkejut. Memang perempuan itu sangat cantik, tapi penampilannya biasa saja. Jauh dari kesan glamour.
Setau mereka perempuan perenpuan yang dibawa bosnya selalu yang berpenanpulan 'wah'. Tidak hanya modal cantik saja.
"Kok, bisa ya?" tanya salah satu dari mereka lagi. Terdengar agak iri.
Perempuan biasa sepertinya bisa bersahabat dengan bos bos tajir? Pikir mereka dalam hati dengan perasaan ngga percaya.
Khanza pun sampai di lantai tempat ruangan Kalil berada. Para pegawai baik yang laki laki maupun wanita yang melihatnya mengangguk hormat. Sudah mengerti kalo.yang datang adalah sahabat bosnya.
Mata Khanza melirik sekilas pada perempuan seksi yang sudah Khanza duga adalah sekertaris barunya Kalil. Selama Khanza dan teman temannya mengunjungi Kalil, dia belum.pernah melihat perempuan itu. Setahunya sekertaris Kalil bukan perempuan ini yang yang pernah dia temui dulu.
"Nona mau ketemu siapa?' tanya sang sekertaris menahan langkah Khanza. Suaranya terdengar ramah. Dia menduga Khanza termasuk tanu penting karena resepsionis membiarkan nona ini naik ke lantai tempat bosnya berada.
"Aku ada urusan dengan Kalil, " kata Khanza sambil mengayunlan langkahnya ke arah ruangan Kalil.
"Maaf nona, tuan muda sedang ada tamu," cegat sang sekertaris membuat dia menoleh.
"Ya, aku tau," sahut Khanza terus melangkahkan kakinya.
Dalam pikirannya tamu yang dimaksud sekertaris itu adalah Dhafi. Khanza bersyukur karena adiknya Dhafi sudah berada di ruangan Kalil.
Rencana Khanza setelah menyerahkan laptop sialan ini, dia akan segera pergi. Khanza ngga mau kehilangan momen penting sahabatnya Zayra.
"Nona," tahan sekertaris itu akan menyusul Khanza. Tapi seorang pegawai perempuan tiba tiba menahannya sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya bingung dan juga takut. Bosnya Kalil pasti akan memarahinya karena membiarkan seorang perempuan masuk sementara bosnya juga sedang bersama tamu perempuan.
Tapi pegawai wanita itu tetap menggelengkan kepalanya sambil menahan tangannya agar ngga nekat pergi menyusul sahabat bosnya.
CEKLEK!
Khanza langsung saja membuka pintu ruangan Kalil dan melangkah masuk.
"Dhafi...." ucapnya mengambang. Tubuhnya mematung mematap jengah pemandangan di depannya.
Sepasang matanya menyorot aneh pada sepasang manusia.yang tampak terkejut dengan kehadirannya.
Keduanya langsung melepaskan ciuman mereka begitu mendengar pintu terbuka yang tanpa diawali dengan ketokan.
Kalil udah siap memaki sekertaris kurang ajarnya, tapi dia malah memjadi sangat terkejut melihat siapa yang memasuki ruangannya secara tiba tiba.
"Khanza!"
Khanza ngga menjawab. Dia masih terkejut, ternyata Dhafi ngga ada. Yang dilihatnya dua orang berlawanan jenis yang sedang berciuman sangat mesra dengan posisi si perempuan yang duduk di pangkuan Kalil.
Sekarang perempuan itu sedang memasang dua kancing atas blousenya dan Kalil sedang merapikan jasnya yang tampak kusut.
"Maaf, aku kira Dhafi udah datang. Aku nitip laptop sama kamu," ujar Khanza sambil menatap Kalil, berat lidahnya menyebut nama laki laki itu setelah melihat lagi perbuatan laki laki itu pada kekasihnya. Bahkan lebih panas dari pada yang di lorong rumah sakit.
Tadi hampir saja dia terjatuh karena keduanya sangat terkejut melihat pintu yang mendadak tetbuka. Dan Kalil yang tanpa sengaja mendorong tubuhnya.
Sementara Kalil berdiri tenang dengan netra membalas tatapan Khanza. Seakan akan perbuatannya tadi hal yang biasa saja.
Khanza ngga mempedulikan kekesalan Agnes. Dia melangkah mendekati meja Kalil dan meletakkan laptop Dhafi di sana dengan netra yang saling bertaut dengan Kalil.
"Nanti Dhafi bakal datang ngambil laptopnya," kata Khanza sambil meletakkan laptop itu di meja di depan Kalil.
Kalil ngga menyahut. Mereka masih saling bertatapan sampai akhirnya Khanza memutuskannya. Kemudian memutar tubuhnya dan berjalan pergi.
Agnes semakin kesal melihat tingkah Khanza yang ngga memandangnya sama sekali dan bersikap seenaknya saja di perusahaan Kalil. Seakan akan itu perusahaan nenek moyang. Bertambah kesal lagi karena Kalil.yang membiarkannya seolah Khanza bebas melakukan apa saja di perusahaannya.
Langkah Khanza tertahan ketika dia akan keluar dari ruangan Kalil, Dhafi muncul di depannya dengan nafas terengah engah.
"Laptop kamu di meja Kalil," tukas Khanza kesal. Gara gara adiknya baru datang, dia sampai melihat pemandangan yang menyesakkan hatinya.
"Makasih," jawab Dhafi merasa bersalah melihat kakaknya sudah datang lebih dulu. Ternyata kakaknya memang sangat baik, walaupun sambil ngomel tetap saja mau menolongnya.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Khanza melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan yang mulai terasa pengap itu. Dia butuh menghirup oksigen sebanyak banyaknya.
Dhafi merasa sikap kakaknya aneh. Dia pun segera masuk ke dalam ruangan Kalil setelah tubuh kakaknya melewatinya.
DEG
Dhafi seperti dejavu. Di depanya Kalil sedang menatap yang Dhafi yakin kakaknya dengan tatapan.aneh. Sementara di sampingnya berdiri pacar Kalil, juga sedang menatap kepergian kakaknya dengan kesal.
Dulu posisinya tertukar. Dia yang sedang bermesraan dengan seoramg model perempuan yang sangat cantik dan seksi. Dan Salma pacarnya memergokinya.
Suasana canggung ini rasanya sama, batin Dhafi sambil jalan mendekat.
"Laptopku ketinggalan di mobilnya. Makanya aku minta dia datang kemari," jelas Dhafi. Sengaja Dhafi ngga menyebut panggilan kakak dan nama Khanza di depan Kalil dan pacarmya. Karena Khanza sudah wanti wanti ngga ingin diexpose sebagai kakaknya.
Dhafi pun mengambil laptopnya
"Aku tunggu di ruang meeting, Kak Kalil" pamitnya sambil berjalan pergi.
Netra Agnes kembali menyorot kesal. Kali ini pada Kalil.
"Apa dia juga bersahabat dengan Dhafi hingga laptop Dhafi bisa ada di mobilnya," sinis Agnes setelah Dhafi menutup pintu ruangannya.
"Hemmm....," gumam Kalil pelan.
Sebenarnya dia masih shock karena sudah dua kali ke gap Khanza dalam kegiatan mesumnya. Apalagi yang barusan.
Jantungnya saja masih berdebar debar keras dan kencang.
Kalil merasa seperti kekasih yang ketahuan selingkuh. Padahal dia melakukannya dengan kekasihnya dan Khanza hanyalah sahabat yang memergokinya.
Harusnya dia biasa aja, kan? batin Kalil ngga tenang.
"Kaliiil," panggil Agnes jengkel karena Kalil mengacuhkamnya. Bahkan terkesan melamun.
Agnes merasa Kalil pasti sedang memikirkan Khanza. Hatinya jadi panas.
Dengan kesal Agnes mendekat dan bermaksud mencium bibir Kalil agar tetap fokus pada dirinya. Tapi Kalil menahan bahunya.
"Kamu istirahatlah. Aku mau meeting sama Dhafi dan beberapa klien," ucap Kalil sambil menatap jam di tangannya.
Masih sempat, batinnya ketika melihat sekarang belum jam sepuluh. Masih ada cukup waktu untuk mengejar Khanza di basemen.
__ADS_1
Agnes bengong melihat kepergian Kalil. Firasatnya mengatakan kalo Kalil membohonginya.