
"Niko, maaf, ya, kemaren," ucap Zayra ngga enak ketika melihat dokter Niko di parkiran. Mereka secara ngga sengaja datang ke rumah sakit dalam waktu yang sama.
Dokter Niko tersenyum maklum.
"Ngga pa pa, Khanza."
Khanza pun tersenyum lega. Kemudian keduanya beriringan berjalan ke ruang ibu dan anak. Untuk mengecek kesehatan ibu ibu yang baru melahirkan dan bayi bayi mereka.
"Yang tadi malam itu pacar kamu?" tanya dokter Niko setelah lama mereka berdiam diri. Dia sangat penasaran akan hubungan Khanza dengan laki laki itu.
"Bukan. Cuma teman," jawab Khanza malas. Diingatkan soal Kalil membuat hatinya jadi kesal.
"Sorry, kepo." Ganti dokter Niko yang ngga enak karena melihat raut wajah Khanza yang berubah kesal.
Khanza hanya tersenyum tipis.
Ponselnya bergetar dan ternyata Rakha menelponnya.
"Aku terima telpon dulu, ya," ucap Khanza sambil menjauh.
"Oke."
Setelah berjalan agak cukup jauh, Khanza pun mengangkat ponselnya.
"Za, nanti siang Boby ngajak makan siang di rumahnya. Mamanya mau masakin kamu sup kimlo."
Khanza menghembuskan nafas kesal.
"Aku ngga ikut," tolaknya cepat. Moodnya beneran jelek sekarang. Dia ngga mau seseorang yang ngga bersalah menjadi tempat pelampiasan kemarahannya.
"No, kamu harus ikut. Sup Kimlonya khusus dimasakin buat kamu," ngotot Rakha.
"Hemm...," dengus Khanza mulai kesal. Mereka yang mancing mancing Boby buat ngundang ke rumah. Sekarang dia pula yang dipaksa paksa. Kekesalan Khanza rasanya sudah hampir sampai ke puncak.
Khanza menduga ini bukan undangan biasa. Rakha dan Aqil lagi berusaha keras menjodohkannnya dengan Boby.
Walau Boby ganteng, kaya, pintar basket dan bla bla lainnya yang membuat banyak nilai plus untuknya, tapi ngga semudah itu Khanza memberikan hatinya.
Kalil yang sudah sangat dekat dengannya sejak kecil saja bisa menyakitinya seperti itu. Apa lagi Boby yang baru dikenalnya ngga nyampe tiga minggu.
Khanza belum mau serius sampai harus main ke rumah Boby, walaupun nantinya akan rame rame. Apalagi ntar bertemu dengan orang tua Boby yang pastinya sudah mengenal orang tuanya. Kedepannya pasti akan runyam hari harinya dengan masalah perjodohan, mungkin.
Dia ngga akan bisa se enjoy ini lagi menikmati hidupnya.
"Kamu udah ketemu Kalil?" tanya Rakha setelah ngga terdengar suara Khanza.
"Sudah."
__ADS_1
"Nanti sore dia mau balik lagi ke Inggris."
"Hemm..."
Khanza semakin malas melanjutkan percakapan ini.
"Aku tutup, ya. Lagi sibuk," kata Khanza langsung saja menutup telponnya. Bahkan langsung menoff kan agar Rakha ngga bisa menghubunginya lagi.
Khanza melangkah cepat menyusul dokter Niko yang seperti menunggunya, terlihat dari jaraknya yang ngga gitu jauh.
Dokter muda itu hanya tersenyum kecut tanpa berani bertanya apa pun lagi karena melihat raut wajah Khanza yang kembali tampak kesal.
*
*
*
Khanza menghembuskan nafas lega. Kedua tangannya pun diangkat ke atas sebagai efek untuk menghilangkan rasa pegal dan jenuh.
Tapi dia terkejut melihat Boby yang ternyata memperhatikan aktivitasnya sambil tersenyum.
Laki laki itu menenteng paper bag dan kini melangkah menghampirinya.
"Ternyata kamu beneran sibuk. Aku sempat berpikir kamu sengaja menolak," senyumnya membuat Khanza agak salting.
Tapi kenapa laki laki ini nekat menemuinya? Bukannya dia selalu memberi sinyal enggan?
Khanza menghela.nafas panjang. Akhir akhir ini entah kenapa banyak laki laki yang memberi perhatian lebih padanya.
"Di mana ya, kita bisa menikmati ini?' tanya Boby sambil menunjukkan paper bag yang dibawanya.
"Emm... di halaman samping aja, ya," usul Khanza setelah cukup lama berpikir. Dia ngga mungkin membawa Boby ke ruangan pribadinya.
Halaman samping rumah sakit cukup luas, banyak juga keluarga pasien beristirahat menikmati bunga bunga di sana. Juga pohon pohon rindang yang menaungi dan melindungi dari teriknya simar matahari.
"Oke."
Keduanya pun berjalan beriringan dan mendapat perhatian dari tenaga medis dan juga keluarga pasien di sekitarnya.
Sebagian sudah biasa melihat dokter Khanza berjalan bersama laki laki tampan, tapi Boby menjadi topik baru. Karena laki laki ini berbeda dari yang biasa bersama dokter Khanza. Dan mereka baru melihatnya.
Laki laki ini juga ngga kalah tampan dan kerennya.
Dokter Khanza selalu saja membuat iri teman temannya karena yang mendampinginya pasti yang high quality.
Dokter Verli yang berada ngga jauh dari situ sampai mencelos hatinya. Mengingat Rakha ngga pernah lagi menghubungi hingga kini. Walau kecewa tapi dokter Verli ngga menyalahkan dokter Khanza. Dia hanya menghindar, agar ngga lagi bersinggungan dengan teman teman dokter Khanza.
__ADS_1
Khanza pun menemukan tempat yang tepat.
"Di sini ngga apa, kan?" tanyanya sambil duduk.
"Malah bagus," sahut Boby kagum dengan pemandangan sekitarnya.
"Kelihatannya bunga bunga itu baru, ya," tunjuk Boby pada kumpulan bunga matahari yang sedang bermekaran. Seingatnya tiga tahun yang lalu belum ada. Dia pun meletakan paper bagnya di atas meja kecik di depan mereka.
'Kayaknya, sih. Pernah dirawat di sini?" senyum Khanza sambil melihat Boby yang sedang mengeluarkan isi paper bagnya.
"Temanku dulu, dia kecelakaan dan dirawat di sini," senyum Boby sambil.mengulurkan piring plastik merk yang garansinya seumur hidup pada Khanza.
"Kenapa repot repot. Aku jadi ngga enak," jujur Khanza.
Boby tertawa perlahan.
"Hari ini mama lagi masak sup kimlo. Aku jadi ingat kalian."
"Oooh." Ternyata Khanza sudah menduga yang ngga ngga. Kirain Boby meminta mamanya masak sup kimlo sebagai alasan untuk mengajaknya dan teman temannya ke rumahnya.
"Tapi kata Rakha kamu lagi sibuk. Makanya aku ke sini, biar kamu bisa bandingin mana yang lebih enak," kekeh Boby santai.
Khanza jadi melebarkan senyumnya. Dia sudah mulai ngga kaku lagi ngadepin Boby yang bersikap santai.
"Gimana?" tanya Boby ngga sabar setelah Khanza menyuap sup kimlo itu.
Khanza ngga menjawab tapi memberi isyarat dengan tangannya, seolah berkata nanti.
"Maaf," kekeh Boby.
Setelah menelannya Khanza mengambil lagi sup kimlo itu bersama nasi.
"Gimana?" tanya Boby lagi
"Bentar, dong. Kalo baru sesendok belum kerasa," tawa Khanza membuat Boby juga tergelak.
Dia akui mulai menyukai Khanza yang apa adanya. Tidak ja-im seperti gadis gadis lain yang pasti akan langsung bilang enak jika dia bertanya.
"Ya udah. Habisin aja, nanti baru kasih bintang lima," tukasnya dalam tawanya yang berderai derai.
Khanza ngga menjawab tapi tawanya semakin panjang.
Tanpa setau Khanza, Kalil yang dari tadi mengikutinya, berdiri mematung dengan tatapan nanar.
Ingin rasanya menarik Khanza menjauh dari laki laki itu. Tapi dia takut akan membuat Khanza semakin marah dan benci padanya. Dengan langkah lunglai bak prajurid yang kalah perang, dia beranjak pergi.
Apa dia terlalu menganggap remeh perasaan Khanza selama ini?
__ADS_1
Kalil terus melangkah tanpa menoleh lagi