After The Heartbreak

After The Heartbreak
Masih tingkah dua jomblo


__ADS_3

Aqil buru buru berjalan di lorong kampus karena bentar lagi kuliah akan segera di mulai. Dia menyesali efek alkoholnya tadi malam, walau ngga memabukkan tapi malah membuat dia tertidur sangat pulas.


Ngga ada yang membangunkannya karena orang tuanya sedang menginap di tempat adiknya


Aqil mempercepat langkahnya di persimpangan lorong kampus sambil mengangkat ponselnya ke telinganya


"Ya, gue hampir sampai," serunya menjawab panggilan Rakha yang heran karena belum melihatnya di kelas.


BUGH


"Aaww!" seru seorang gadis kaget, tubuhnya seperti menabrak tembok kokoh. Tapi ketika dia hampir jatuh, pinggangnya malah diraih sangat cepat dan kembali menabrak tubuh kokoh itu dengan sekali hentak yang keras.


BRAKK


"Siaaaal!" seru Aqil yang melihat ponselnya sudah tergeletak di tanah dengan layar yang retak


Ya, sudah saatnya diganti dengan seri terbaru, batinnya sambil menatap ngga acuh pada iphone 13 pro maxnya.


Kemudian tanpa peduli apa pun yang dia lakukan pada perempuan yang jantungnya hampir copot karena ulahnya, Aqil melepaskannya dan mengambil ponselnya.


Ada beberapa file yang harus dia selamatkan sebelum memberikannya pada tukang rongsok.


Iphone itu masih menyala dan berfungsi normal.


Memang harga ngga mengkhianati rupa. Cuma sedikit saja rupa yang dikhianati, retak pada anti gores premiumnya saja.


Saat akan pergi dia baru tersadar melihat seorang gadis yang berdiri mematung menatapnya.


Gadis nerd. Kaos gombrong, kulot, rambut di cepol dan kaca mata tebal.


Tampilan yang pantas untuk di bully.


Tapi saat menatap tajam sepasang mata itu membuat Aqil merasa pernah melihatnya.


Dibalik baju dan kulot yang kebesaran, rasanya Aqil memeluk pinggang yang pas dan perut yang rata. Juga sesuatu yang sangat menonjol sekali dan lunak.


"Sebentar," tegasnya ketika melihat gadis itu akan berbalik pergi dengan kegugupan yang nyata.


Seolah sudah ketahuan akan sesuatu


Dengan.lancang Aqil membuka cepolan yang dilakukan asal asalan itu.


Dan rambut indah yang menguar bau harum.tergerai. Bergelombang dan panjang se pinggang.


Aqil sempat terpana.


Cantik sekali, batinnya terpesona.


Gadis itu seakan tersadar dari hipnotisnya, Dia pun meraih rambutnya dan mencepol lagi sekenanya.


Kemudian dia pun berbalik. Tapi lagi lagi tertahan karena tangannya di raih laki laki di depannya itu.


"Lepas," sentaknya tapi gagal karena cekalan laki laki itu cukup keras.


"Bentar," tukas Kalil sambil menatap lama lagi ke dalam mata gadis itu.

__ADS_1


Sebelah tangannya meraba kaca mata tebal dengan gagang kusam milik gadis itu.


Dia menatap lekat sampai kemudian seringai miring, mengulas di bibirnya.


Jantung gadis itu berdetakan tiada henti, apalagi tatapan laki laki ini terasa sangat kurang ajar di matanya.


Kemudian dengan dengan kesal dia menghentakkan keras tangan Aqil dan bergegas pergi diiringi tatapan dan senyum miring Aqil.


Aqil mengusap layar ponselnya, dan segera menelpon Roki.


"Hoaaahh... Iya bos," suara Roki terdengar seperti habis bangun tidur.


"Malam ini ada bachelor party lagi?" tanya Aqil sambil menatap kepergian gadis itu.


"Ada bos," jawab Roki. Dia baru tersadar sesadar sadarnya.


"Datang bos, ntar," ucapnya lagi.


"Pasti," senyum Aqil sangat miring.


Gadis itu memang pintar sekali menyembunyikan jati dirinya.


Aqil sudah ngga sabar menunggu datangnya malam.


*


*


*


"Kamu maunya apa!" sentak Fika sangat emosi.


Gimana dia ngga kaget, saat kembali lagi ke rumah sakit, neneknya sudah dipindahkan ke rumah sakit lain dan administrasinya sudah diselesaikan.


Betapa terkejutnya Fika ketika melihat foto laki laki yang melakukannya.


Tentu saja Fika sangat mengenalnya. Dan yang ngga pernah disangkanya adalah kalo penolongnya itu laki laki yang kuliah di kampus yang sama dengannya. Hanya beda fakultas. Laki laki yang beberapa kali sempat mengganggunya dan maen ke fakultasnya. Juga pernah menolong sekaligus melecehkannya.


"Ngga mau apa apa. Cuma beramal saja sama orang miskin," jawab Rakha santai. Aqil yang baru sampai di belakangnya menatapnya heran. Baru kali ini dia melihat Rakha dilabrak seorang perempuan yang cantik walau nampak sederhana.


Tanpa merk apa pun yang nyantel di tubuhnya. Aqil sedikit heran kenapa Rakha berhubungan dengan perempuan biasa saja. Bahkan sampai dimarah marah.


Tapi dia tersenyum miring mendengar jawaban cuek Rakha.


"Akan aku ganti! Aku ngga butuh sedekah kamu," sentak Fika dengan memelankan suaranya, karena beberapa mahasiswa dan mahasiswi menatap ke arahnya.


Rakha tersenyum meremehkan.


Sudah turun bea siswa lo? batinnya mengejak.


"Mana?" tanya Rakha sambil mengulurkan tangannya. Seakan meminta.


Fika yang tadi emosinya berapi api tercekat. Ngga menyangka secepat itu akan ditagih.


Aqil yang berada di sebelahnya mengulum senyum. Dia mendengar cukup jelas perdebatan mereka.

__ADS_1


"Ngga bisa bayar aja sombong," ejek Rakha sinis.


Aqil hampir saja tergelak mendengarnya. Apalagi melihat raut wajah gadis itu yang tampak mengeras lagi.


"Pasti aku bayar!" sentaknya lagi.


"Mana? Atau mau cara pembayaran yang lain?" godanya dengan tatapan nakalnya.


Wajah Fika merah membara, karena malu dan juga emosi yang memuncak. Apalagi teman laki laki itu tampak senang melihat dan mendengar perdebatan mereka.


Salahmya langsung mencari laki laki itu dalam keadaan marah. Harusnya dia mengajak laki laki itu pergi dengan cara baik baik.


Apalagi laki laki mesum ini sudah menolongnya walaupun dengan membuatnya panik dan geram.


"Mana ponsel kamu," pinta Rakha dengan senyum miringnya karena ngga kunjung mendapatkan jawaban.


"Buat apa?" tanyanya sambil mengeluarkan ponselnya.


"Aku butuh nomer kamu, kan, supaya kamu gampang dihubungi dan ngga bisa melarikan diri," ucap Rakha dengan smirkmya.


"Aku ngga bakalan melarikan diri. Aku akan bayar!" ketus Fika frustasi. Apalagi tatapan dan senyum Rakha yang sangat meremehkannya. Seakan akan dia adalah tukang hutang yang sudah diblack list oleh semua bank dan sedang dikejar kejar puluhan rentenir.


Aqil menyimpan tawanya kuat kuat. Dia sudah tau trik selanjutnya dari sahabat satu frekuensi dengannya. Pasti nantinya akan ditiduri. Sudah sangat jelas modusnya.


Rakha ngga menanggapi, tapi tangannya meraih ponsel yang sudah lama ngga diupdate itu dan mengetikkan sejumlah angka di sana. Nomernya.


Dia pun menekan nomer itu dan tersambung ke ponselnya.


Dengan cepat, Rakha mengetikkan namanya pada contact name itu.


Makhluk paling tampan, decih Fika ngga percaya akan senarsis itu laki laki di depannya ini.


Apakah dia masih kurang pe de hingga perlu menamainya begitu?


"Jangan pernah diganti," katanya sambil mengembalikan ponsel ke tangan Fika.


"Aku kasih kamu waktu tiga hari. Di hari keempat jika kamu ngga bisa bayar, kamu tau, kan, apa yang bisa kamu lakukan untuk melunasinya?" kata Rakha dengan kemesuman tingkat dewanya.


Gadis itu mematung dengan wajah pucat.


Tiga hari? Ngga mungkin.


Apalagi laki laki itu memperlakukan neneknya dengan perawatan yang sangat istimewa. Ngga mungkin dia akan sanggup membayarnya.


Laki laki ini sudah menjebaknya! Dan dia sudah masuk dalam perangkapnya.


"Gue pergi," katanya sambil menyeret Aqil yang sudah ngga bisa lagi menyimpan tawanya ketika melihat lambaian tangan Boby yang berdiri ngga jauh dari sana.


Mereka akan bermain basket.


Dan Aqil pun benar benar tergelak. Sedangkan Rakha hanya mengembangkan senyumnya.


Ngga peduli nanti Aqil akan mengolok olok dirinya.


Saat ini hatinya sudah puas, karena gadis itu sudah mati kutu di hadapannya.

__ADS_1


Tinggal bersabar menunggu di hari keempat di apartemennya.


__ADS_2