
Beberapa hari kemudian.
Kendra duduk di samping Zayra di taman rumah sakit. Keadaan mereka sudah cukup membaik.
"Kepala kamu masih sering pusing?" tanya Kendra sambil menatap lekat wajah Zayra.
Zayra menggeleng.
"Punggung kamu gimana?" Zayra balik bertanya.
"Sudah lumayan lah."
Syukurlah."
Keduanya saling melemparkan senyum.
"Kata papi pernikahan ngga akn diundur," ucap Kendra dengan semyum hangatnya.
"Tapi kita mungkin akan lebih banyak duduk," sambungnya lagi.
Zayra tersenyum tipis sekaligus malu. Dia menunduk.
Kendra mengenggam lembut jemari Zayra membuat Zayra mengangkat kepalanya menatap Kendra. Debaran jantungnya bertalu talu.
"Waktu Atifa menembakku, aku sudah melepaskan peganganku pada tangga tali. Untunglah papi cepat menangkapku," cerita Kemdra membuat mata Zayra beriak. Papanya sudah menceritakannya. Saat itu Zayra menangis mendengarnya. Tapi tetap saja dia masih merasa shock saat Kendra sendiri yang mengatakan padanya tentang kejadian mengerikan itu.
Kendra meremas lembut tangan Zayra.
"Saat itu yang terbayang hanya wajah kamu. Senyum kamu. Aku takut sekali pergi tanpa pamit sama kamu."
"Kendra," lirih Zayra berucap. Nafasnya sesak membayangkan jika Kendra benar benar meninggalkannya. Takut.
"Tapi untunglah kita berdua udah ngga apa apa. Zayra, aku saat itu juga mengkhawatirkanmu," sambung Kendra demgan sorot teduhnya.
Zayra mengatur jalan nafasnya agar lebih tenang sebelum menjawab.
"Kejadiannya begitu tiba tiba," ucap Zayra pelan. Dia juga ngga menyangka jika niat baiknya dibalas dengan jahat.
"Ya, kita bisa lega karena sekarang Atifa di kantor polisi. Prosesnya sedang berjalan. Pemgacara papi sedang menyiapkan tuntutan hukum yang lama," kata Kemdra dengan nada menahan marah.
Bayangin saja, bisa bisanya gadis itu memberikannya obat perangsang agar bisa tidur dengannya.
Saat itu Kendra langsung menelpon papinya dan menceritakan secara singkat keadaannya. Untungnya papinya sudah mengantisipasi dengan menunggangi helinya untuk menyelamatkannya.
Sayangnya dia tertembak.
Gadis itu sangat mengerikan.
Dalam kondisi terbatas, Kendra berhasil mengelakkan peluru itu sehingga ngga menembus jantungnya.
Atifa juga menyuruh orangnya untuk mencelakai Zayra. Hingga membuat Zayra jatuh dari tangga darurat yang menyebabkannya pingsan.
__ADS_1
Semoga pengacara papinya berhasil memberikan hukuman yang berat untuk gadis gila itu.
"Aku rasa Om Alvaro akan mencari kita untuk meminta pengurangan hukuman buat Atifa," jelas Kendra yakin. Pasti Om Alvaro akan berusaha keras agar putri satu satunya tidak mendapatkan hukuman yang berat.
"Jangan menemuinya jika sendiri. Om Alvaro dan istrinya pasti akan mencari kamu," tegas Kendra melanjutkan omongannya. Dia agak khawatir karena Zayra berhati baik dan ngga tegaan.
Zayra menganggukkan kepalanya. Ngga yakin bisa tegas menolak karena perasaan kasian.
"Dia harus dihukum berat. Jika saja papi ngga cepat datang, dia pasti bisa mencari momen dan menguploadmya," tambah Kendra lagi. Hatinya tentu sangat mangkel.
Seingatnya selama di sekolah dulu, Kendra bersikap biasa aja pada Atifa. Sama seperti dengan teman teman pereampuan dan laki laki yang lain. Sangat biasa. Bahkan Kendra pernah menolak Atifa. Tapi kenapa gadis gila itu malah melakukan hal yang membahayakan dia dan Zayra?
Zayra tentu sangat mengerti, jika ada foto atau video Kendra bermesraan dengan Atifa yang yang berhasil diupload, rumor akan tambah berkembang. Acara pernikahan mereka bisa ternistakan, bahkan mungkin terancam gagal.
Tapi syukurlah semuanya ngga terjadi. Keadaannya dan Kendra sudah membaik. Rasanya Zayra semakin plong dan yakin kalo Kendra ngga menyukai Atifa. Tanpa sadar bibirnya tersenyum.
"Kenapa senyum senyum?" tamya Kendra yang ternyata mengamati wajah Zayra sedari tadi
"Ngga pa pa," elak Zayra jadi salah tingkah.
Kendra kini malah semakin nakal menatapnya. Bahkan bibirnya sedikit melengkung ke atas.
Dia suka melihat Zayra seperti itu. Kalo saja sudah halal, Kendra ngga akan terbeban untuk mengecup pipi merah Zayra.
Kalo pun dulu dulu dia pernah melakukannya, itu karena ada waktu dan kesempatan. Jika sekarang, banyak orang yang bisa melihat mereka. Zayra pasti akan semakin malu.
"Kamu semakin cantik kalo malu malu," kekeh Kendra pelan kemudian mengarahkan tatapannya ke arah lain. Tapi genggamannya semakin erat.
"Apa, sih," sanggah Zayra semakin malu.
"Kamu tau Zay, waktu enam tahun kamu pergi ninggalin aku, aku sempat terpuruk," jujur Kendra setelah tawanya reda.
Dada Zayra berdebar mendengarnya. Selama enam tahun mereka tanpa kabar. Zayra sudah putus asa dan memilih ngga melupakan Kendra. Tapi saat bertemu, rasa itu hadir lagi.
"Tapi untunglah setelah kamu kembali, kita langsung ditunangkan. Aku pikir kamu membenciku selama itu dan bakal menolak."
Kali ini tatap mata Kendra beralih pada Zayra yang ternyata sedang menatapnya.
Keduanya bersitatap cukup lama sebelum Zayra menunduk.
"Aku mengira kamu udah jadian sama Atifa," aku Zayra jujur.
Segala apa yang dia lihat tentu saja membuatnya berpikiran ke sana.
Kendra tersenyum tipis.
"Taktik Kalil memang tokcer. Dia berhasil membuat kamu cemburu," tukas Kendra senang.
"Aku ngga cemburu," bantah Zayra cepat dan sedikit manyun. Juga kesal karena rahasia hatinya bisanya bisa ditebak dengan mudah.
"Iya, iya. Kamu ngga cemburu. Tapi kamu langsung hilang," goda Kendra semakin membuat wajah cantik itu manyun.
__ADS_1
Sh*iith. Rasanya Kendra ingin mengecup bibir itu dan membuatnya tersenyum manis lagi.
"Aku ragu dengan perasaan kamu. Kita yang bersahabat dari kecil tiba tiba saja akan ditunangkan."
"Kamu malah bilang ke Kalil dan Rakha kalo biasa aja sama aku," cetus Zayra kesal.
"Kamu dengar rupanya, ya," respon Kendra agak menyesal.
"Hemm...."
"Kamunya juga biasa aja. Makanya aku nyium kamu waktu itu untuk tau perasaanku. Juga perasaan kamu. Eh, kamu malah lari," tegas Kendra.
Wajah Zayra kembali merona mengingat ciuman pertama mereka.
Wajarlah dia langsung lari. Zayra bingung harus bersikap seperti apa setelah Kendra menciumnya. Itu pertama buatnya.
"Kan, aku bingung. Malahan papi dan mami sudah mutusin tanggal pertunangan kita."
Zayra kembali menatap Kendra yang juga sedang menatapnya.
Dia pun bingung saat itu. Tapi setelah mendengar kata kata Kendra dan sikapnya yang membalas perlakuan Atifa, dia hopeless. Sakit hati.
"Setelah aku yakin dengan perasaanku, kamu malah pergi, ngilang gitu aja."
Kali ini suara Kendra agak kesal.
Zayra menatapnya heran.
Harusnya aku, kan, yang marah?
"Kamu ngga pacaran sama Atifa setelah aku pergi?" Zayra memberanikan diri menanyakan pertanyaaan sensitif yang selalu mengganggunya setelah pergi meninggalkan Kendra.
"Enggak. Aku bahkan menolak dia. Aku patah hati Zayra. Itu Karena kamu."
DEG
DEG
DEG
Jantung Zayra seakan sedang melakukan sprint. Duduknya mulai ngga tenang. Tatapan Kendra sangat mengintimidasinya.
"Emm... Boleh nyium kamu ngga sekarang?" tanya Kendra serius. Dia semakin mendekatkan wajahnya ke Zayra. Lupa situasi di sekitar mereka. Lupa dimana dia berada. Kendra lagi gemas dan sulit untuk menahannya.
"Nggak!" tolak Zayra panik sambil menggunakan satu tangannya yang lain untuk menahan wajah Kendra.
Tangan Zayra tepat menyentuh bibir dan hidung Kendra.
Laki laki ini tersenyum, kemudian dengan nakal bibirnya mengecup telapak tangan itu.
"Iiih......" Reflek Zayra menarik tangannya dengan wajah semakin merah, seperti udang yang sedang digoreng.
__ADS_1
Rasa kecupan bibir Kendra di tangannya menimbulkan sensasi aneh di tubuhnya.
Kendra melebarkan senyumnya melihat kegugupan Zayra.