
"Apa sebaiknya kita segera menikah saja?" canda Kendra setelah mereka sampai di halaman rumah Zayra.
Zayra yang akan melepas seat belt jadi tertahan tangannya. Dia menatap Kendra kaget, ngga nyangka Kendra akan bertanya begitu.
Kendra malah tersenyum melihat wajah gugup Zayra. Mata indahnya yang membesar seolah memanggil Kendra untuk dikecup.
"Aku serius," sambungnya lagi. Masih dengan tatapan menggodanya.
Aish, senang sekali melihat Zayra yang ngga bisa menyembunyikan perasaan malunya.
Zayra makin salah tingkah karena.tatapan Kendra seakan menghipnotisnya.
Uugghh..... Dalam hati Kendra mengeluh menyadari wajah Zayra yang sangat dekat dengannya. Dia teringat saat mencium Zayra dulu. Rasanya pengen mengulang lagi.
"Ehemn..., sebaiknya kita keluar. Om sama tante.di teras," kata Kendra berusaha tetap cool, padahal jantungnya berdebar sangat kencang.
"Eh, i iya," sahut Zayra gugup. Kembali rona merah mewarnai pipi Zayra.
Tahan, Ken. Tahan, batin Kendra berusaha agar dia nggak lost control terhadap Zayra.
Untungnya Kendra sempat melihat Om.Regan dan istrinya sedang berjalan ke arah mobil mereka.
Dia pun segera melepas seatbeltnya. Dalam hati bersyukur karena ngga menuruti keinginan alam liarnya.
"Ayo, keluar sekarang," katanya lembut yang hanya diangguki Zayra. Masih dengan tingkahnya yang malu malu. Kendra sangat gemas dibuatnya. Dia pun semakin ingin.
Aarrgh... keluhnya membatin.
Kendra lebih dulu keluar dari mobil disusul Zayra. Rasanya sulit juga menahannya dalam waktu lama jika dekat dengan Zayra.
Selama enam tahun perpisahan mereka, hanya foto Zayra lah yang selalu dia cium saat rasa rindunya sudah ngga tertahankan. Rindu dan marah jadi satu. Selama enam tahun menyalahkan kebodohannya dan menahan rindu.
Kini sekarang gadis itu sudah berada di dekatnya. Tapi dia masih saja menahannya. Kadang ada rasa takut di hati Kendra jika.dia nekat mencium Zayra. Takut gadis itu lari seperti dulu lagi. Karena itu Kendra menahannya agar Zayra tetap berada di sampingnya.
Regan dan Dinda menyambut keduanya dengan senyum lebar. Keduanya terlihat bahagia melihat wajah malu malu Zayra di dekat Kendra.
Wawancara Kendra tadi sudah ditayangkan di berbagai media online. Tanpa setahu Kendra dan Zayra, pencari berita yang mewawancarai mereka melakukanmya secara live.
"Om..... tante," ucap.Kendra sambil menyalim tangan kedua orang tua Zayra.
"Klarifikasi hubungan kalian sudah tayang dimana mana dari tadi," ucap Regan masih dengan senyum lebarnya.
"Kok, bisa, abi?" tanya Zayra heran. Padahal belum satu jam mereka meninggalkan hotel.
"Mereka melakukan secara live, sayang," jelas Regan .
Zayra saling tatap.dengan Kendra.
__ADS_1
"Malah bagus, kan," ucap Kendra ringan.
Iya, sih, batin Zayra. Hanya dia ngga nyangka sama sekali.
"Mungkin kalian memang harus cepat dinikahkan," kekeh Regan. Dinda dan Kendra pun ikut tertawa seakan setuju dengan kata kata Regan.
Zayra hanya menunduk malu.
Mengapa semua orang membicarakan pernikahan terus, sih.
"Bulan depan kalian menikah, ya," lanjut Dinda di sela.tawanya.
"Siap, tante," sahut Kendra cepat sambil mengedipkan sebelah matanya pada Zayra yang hanya bisa tertegun dengan jantung semakin cepat berpacu.
Dalam mode nakal begitu Kendra semakin tampan dan menarik, Zayra mengakui dalam hatinya.
"Kelamaan, sayang. Dua minggu lagi aja, gimana?" protes Regan sambil merangkul istri cantiknya.
'Yes, Om," sahut Kendra tegas menyambut tantangan calon mertuanya.
"Gimana, Zay? Kendra udah ngga tahan lagi mau halalin kamu," goda Regan kemudian tergelak saking senangnya.
"Kamu ini," cetus istrinya sambil mencubit pelan lengan Regan.
"Sakit, yang," ringis Regan manja.
Semoga aja Kendra bisa seperti abi... Eh, aku ngomong apa sih, batin.Zayra tersentak sendiri dengan kata kata yang keluar dari hati kecilnya.
Zayra semakin salah tingkah melihat Kendra yang tersenyum penuh makna padanya.
*
*
*
"Udah beres sekarang," kata Khanza lega. Khanza, dua adiknya dan csnya sedang berkumpul.di salah satu kamar hotel tempat Kendra dan Zayra tadi berada.
"Ngga nyangka responnya bakal secepat ini," ucap Shakila takjub.
Tanpa setau Kendra dan Zayra, Shakila bersembunyi di salah satu pojok root top itu untuk mengambil foto foto intim keduanya.
Shakila tentu saja ngga akan sulit untuk bersembunyi karena Aqil sudah membuatnya sedemikian rupa, hingga Shakila cukup nyaman mengabadikan momen momen itu.
"Foto foto yang kamu ambil bagus bagus dan bikin orang orang ngga sabar untuk tau berita keduanya," puji Rakha kagum.
"Kamu memang bakatnya di fotografi," puji Kalil menyambung ucapan Rakha.
__ADS_1
Shakila tersenyum senang.
Baguslah kalo begitu.
"Semoga Atifa nyerah setekah lihat video *li*ve ini," tukas Aqil ngga gitu yakin
"Bodoh berarti kalo dia masih mau mendekati Kendra," decih Khanza meremehkan.
"Kak, kamu sibuk banget ngurusin orang lain. Kamu kapan punya pacar," celutuk Dhafi membuat yang lainnya tertawa.
Khanza melototkan matanya pada Dhafi.
Adik kurang ajarnya, batinnya kesal.
"Tenang, Dhaf. Kalo ngga ada yang mau, gue akan nampung dia," sela Rakha kemudian tertawa berderai derai.
"Ngga perlu," ketus Khanza tambah membuat mereka tergelak. Bahkan Shakila juga ikut mengetawakan kakaknya.
Ngga mungkin Khanza menjatuhkan pilihannya pada Rakha atau yang lainnya
Mereka semua players dan tukang php perempuan. Teman dokter dan para suster di rumah sakit sudah sangat banyak menjadi korban php mereka.
Dan mereka melakukannya tanpa merasa bersalah padanya. Selama enam tahun Khanza harus berada di dekat mereka tanpa Zayra dengan perasaan tersiksa melihat kelakuan mereka. Kini Zayra sudah kembali dan rasanya sangat menyenangkan buatnya.
Khanza agak berbeda dengan Shakila yang supel. Khanza agak tertutup dan susah bergaul. Dia juga ngga suka dengan cewe cewe ribet yang selalu berada di sekitaran Rakha cs.
"Siapa tau, Khanza. Gue juga mau kok, sama lo kalo lo udah bosan dengan jarum suntik dan selang infus," kekeh Kalil yang kembali mendapatkan pelototan dari Zayra.
Tapi tawa yang lain kembali menguar tanpa henti. Seakan akan semuanya sangat senang mengetawai Khanza.
"Gue mau pulang," kesal Khanza sambil turun dari tempat tidur
"Oke, oke. Ayo, kita pulang," sahut Aqil tapi suara tawa dari mulutnya tetap saja terdengar. Begitu juga yang lainnya.
"Pulang. Bubar," tawa Kalil sambil mengikuti langkah Aqil dan Khanza.
Shakila masih ngga bisa meredakan tawanya melihat kakaknya merajuk.
Tapi dia tertegun mendapat kecupan lembut di pipinya dari kakaknya-Khanza.
CUP
"Kerjaan kamu bagus," puji Khanza sambil tersenyum manis.
"Adik siapa dulu, dong," kekeh Shakila senang. Pujian kakaknya membuatnya merasa excited, karena kakaknya menghargai apa yang sudah dia kerjakan.
"Gue juga mau, dong, dikecup, Zay," celutuk Kalil sambil mendekatkan pipinya ke arah Khanza.
__ADS_1
Tentu saja Khanza langsung mundur menjauh dari pipi tercemar yang sudah ngga terhitung lagi sudah dicium berapa banyak cewe.